
Selesai makan, Alis bergegas berdiri. Ia melangkah meninggalkan ruang makan, namun langkahnya terhenti saat suara menggelegar dari ayahnya kembali terdengar.
"Jangan menghindar lagi Alis, semua sudah ada didepan mata. Papa tidak mau kamu membuat papa kecewa!!" ucap Bastian dengan tegas.
Alis hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya. Rasanya ia begitu tersiksa dengan keputusan ayahnya yang sepihak, tanpa meminta pendapat pada dirinya terlebih dahulu.
Derap langkah terdengar dibelakangnya menyusul kearahnya. Alis menghentikan langkahnya lagi tanpa membalik badan. Ia hanya melirik dengan ekor matanya, Riyan yang sudah berada disampingnya.
"Kakak tahu kalau kamu ingin menenangkan diri. Kamu pasti sangat merindukan rumahmu kan?" tanya Riyan.
Alis menatap Riyan dalam, ia mengangguk samar. Hatinya menghangat, ternyata kakaknya sangat pengertian padanya.
"Baiklah, sekarang kakak yang akan menjadi sopirmu! Ayo berangkat!" ajak Riyan sambil menarik bahu Alis.
Setelah sampai didepan rumahnya, rahang Alis rasanya ingin jatuh saja. Bagaimana tidak, ada beberapa bodyguard yang sedang berdiri disana dan menunduk hormat padanya. "Apa-apaan ini, kenapa mereka bisa ada disini," kesal Alis dalam hatinya. Ia melirik kearah Riyan yang mengedikkan bahunya pertanda ia tidak tahu.
"Ma'af nona, nona mau kemana? Kami di perintahkan tuan Rafael untuk menjaga nona karena keamanan nona masih belum terjamin!" ucap salah satu dari mereka.
Alis mendesah beberapa kali, ia benar-benar tidak suka dengan keberadaan para bodyguard yang ada dihadapannya sekarang. Bagaimana ia bisa bebas bergerak kalau mereka selalu mengikuti dirinya. Rafael juga tidak tanggung-tanggung dalam mengirim mereka, mereka berjumlah 10 orang.
Akh. Rasanya Alis kesal sekali, dia bukan anak presiden, dia juga bukan putri raja. Ia hanya orang biasa, yang kebetulan merasa beruntung karena bertemu dengan orang sekaya Rafael. Hidupnya begitu terjamin.
"Alis, terima saja mereka. Tidak ada salahnya kan? Kalau ada apa-apa, biar mereka saja yang menghadapinya, kamu tidak perlu buang-buang tenaga," sahut Riyan disela keterdiaman Alis.
Alis mendelik tajam kearah Riyan. Ia benar-benar tidsk bisa dikawal seperti ini. Rasanya sangat risih. Ingatkan dia untuk menghajar Rafael nanti saat mereka bertemu karena Rafael sudah merenggut kebebasannya.
__ADS_1
Dengan wajah cemberut, Rika masuk kedalam mobil yang sudah disediakan oleh Rafael untuk mengantarkan kemanapun tujuan dirinya, ia masuk bersama Riyan.
"Enaknya jadi tuan putri, mau kemana saja selalu dikawal. Bahkan apapun selalu disediakan, tinggal naik saja," ucap Riyan melirik kearah Alis.
Alis hanya diam saja, tidak menanggapi celotehan Riyan. Perasaannya semakin tidak menentu, bahkan ia sedikit dongkol. Matanya menatap kearah tepi jalan namun tidak ada yang menarik perhatiannya. Ia beralih menatap kearah depan, hingga matanya tidak.sengaja menatap buku yang tergeletak.di dalam kantong kursi mobil. Dengan perlahan ia meraihnya dan melirik sesaat kearah Riyan yanh tampak sibuk dengan handphonenya.
"Kak, tolong hubungi Januar, katakan padanya aku ingin bertemu dengannya.di rumahku," pinta Alis pada Riyan namun matanya sibuk menatap kearah buku yang ada di tangannya. Buku itu sudah dibukanya dari halaman kehalaman berikutnya. Ia hanyut dalam bacaannya. Sedangkan Riyan tampak melirik kearahnya sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka sudah sampai didepan rumahnya. Alis turun dari mobilnya dengan dibukakan oleh salah seorang bodyguardnya. Dahinya mengernyit bingung saat menatap sebuah mobil sudah terparkir dihalamannya. Mobil tersebut terasa asing dimatanya. Ia memindai kesegala penjuru halamannya untuk mencari keberadaan pemilik mobil tersebut.
"Kamu sedang mencari siapa?" tanya Riyan sambil menatap bingung kearah Alis. Matanya ikut mengedar memindai halaman Alis dan kembali menatap kearah Alis yang sudah sibuk dengan buku ditangannya.
"Kalau kakak bertanya itu dijawab dong lis, jangan cuma diam seperti itu," gerutu Riyan sambil merogoh kantong celananya. Ia mengambil kunci rumah Alis dan menyerahkannya pada Alis yang masih berdiri pada posisinya.
Dengam cepat ia meraih kunci tersebut dan berjalan kearah pintu yang ada dihadapannya. Dengan gerakan cepat ia memasukkan anak kunci kedalam lubang kunci, namun tidak bisa masuk. Ia menatap kearah Riyan dengan bingung, memperhatikan kunci drngan seksama. Tidak ada yang salah dengan kuncinya, masih sama dengan yang dulu. Tapi kenapa tidak bisa.
"Kamu dibelakang kakak, biar kakak yang masuk duluan," bisik Riyan didekat telinga Alis.
Alis menatap tidak setuju dengan usul kakaknya tersebut. Ia sangat pandai beladiri, kenapa harus dibelakang?
Tangan Riyan terulur membuka pintu dengan perlahan. Ia berjingkat dengan perlahan saat masuk kedalam sedangkan Alis berjalan biasa saja dibelakangnya..
"Nona, ada apa? Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya salah satu bodyguard yang berada dibelakang Alis. Sejak tadi mereka melihat gerak-gerik Riyan dan Alis yang terlihat aneh.
Riyan berbalik dan seketika melotot. Ia meletakkan jari telunjuknya tepat berada di hidungnya, pertanda menyuruh mereka untuk diam. Mereka mengangguk dan mengikuti pergerakan Riyan yang berjalan dengan perlahan.
__ADS_1
"Siapa disana?" tanya Riyan yang melihat seluit seseorang yang berada di depan kaca. Ia terlihat sedang menatap kearah kebun belakang rumah Alis. Sosok tersebut berbalik, seketika mata Alis tampak membola. Ia akan memenuhi keinginannya tadi untuk menghajar Rafael kalau mereka bertemu.
Dengan gerakan cepat Alis menyerang Rafael. Bukannya kena, justru Alis yang dibuatnya gelabakan karena Rafael menangkap tangannya dan memeluk dirinya erat. Alis tampak merasa malu, ia merasa sangat direndahkan. Dengan kakinya, ia ingin menendang kaki Rafael yang berada dibelakangnya, bukannya kena, Rafael justru membanting Alis keatas sofa dan menindihnya.
"Ya ampun kalian! Aku masih dibawah umur!" ucap Riyan sambil menutup kedua belah matanya. Ia merasa hawa di ruangan ini tampak menyesak, bahkan ia merasa berada di waktu yang tidak tepat. Bagaimana tidak, mereka dalam posisi seperti itu dihadapannya yang sialnya masih jomblo.
Alis terkejut dan seketika ia menendang Rafael, tendangan yang tidak begitu kuat sehingga membuat Rafael hanya tergeser sedikit saja tanpa terjatuh.
"Apa-apaan kalian, belum sah menjadi pasangan suami istri tapi tingkah kalian sudah seperti pasangan yang beranak banyak saja," cibir Riyan jengkel. Ia mendengus dan melirik kearah Alis dengan lirikan peringatan dan berjalan kearah tangga meninggalkan mereka berdua.
Sedangkan Alis langsung melotot kearah Rafael, rasanya ia begitu kesal dibuat oleh lelaki bermata biru tersebut. Datang tanpa pemberitahuan dan masuk tanpa izin, sungguh seenaknya sendiri.
"Hah... bagaimana bisa kamu hidup di rumah yang sempit ini, bahkan rumahnya tidak bisa dikatakan sebagai rumah. Karena ini lebih tepatnya dikatakan sebagai pondok. Karena letaknya di perkebunan dan juga wilayah yang sepi," ucap Rafael mencibir.
Alis kembali mendelik kearahnya, ia tidak suka dengan sikap sombong yang ditunjukkan oleh Rafael tersebut.
"Aku juga sudah berkeliling perkebunan milikmu. Perawatannya lumayan bagus, walaupun masih ada sedikit kekurangan."
"Sejak kapan kamu berada di rumahku ini?" tanya Alis tanpa menghiraukan ucapan Rafael barusan, matanya kembali menatap buku yang sudah terbuka di tangannya.
"Sejak tadi saat aku mengatakan pada keluargamu untuk pulang. Aku kemari setelahnya, tidak ke hotel," sahutnya santai. Ia memgambil buku yang dipegang oleh Alis.
"Aku tidak suka pada orang yang perhatiannya terbagi disaat aku berbicara padanya," gumam Rafael penuh tekanan.
"Darimana kamu tahu rumahku?" tanya Alis yang tidak menghiraukan pernyataan dari Rafael. Dirinya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia menantikan jawaban dari Rafael.
__ADS_1
"Itu perkara yang sangat gampang bagiku. Tenang saja, semua informasi apapun juga yang ingin kamu pinta maka kamu juga akan melihatnya dengan seksama.
💦💦💦