Layangan Kertas

Layangan Kertas
Ingin Pulang


__ADS_3

Yaska mengangguk dan bergegas secepatnya melaksanakan perintah dari Marcel. Ia juga sangat khawatir pada Alis setelah mendengar penjelasan dari dokter Marcel tadi.


Rafael tampak duduk dengan tenang dikursi single yang tidak jauh dari ranjang yang ditempati oleh Alis. Ia memejamkan matanya sesaat sambil berusaha untuk mengingat-ingat kejadian tadi malam yang sudah dialaminya. Sekuat apapun ia memaksanya, tidak ada satupun kejadian yang bisa di ingatnya. Ia hanya mengingat saat ia menerkam Alis dengan sangat buas karena libidonya naik.


"Apa kamu melakukannya terlalu kasar padanya tadi malam?" tanya Marcel prontal saat sudah duduk dihadapan Rafael, ia menatap Rafael dengan fokus.


"Hmm aku tidak mengingat semuanya, hanya sebagian saja yang aku ingat," jawab Rafel sambil memijat kepalanya.


"Sebaiknya kamu obati dahulu memar yang ada diwajahmu. Sepertinya kamu benar-benar kasar dalam melakukannya sehingga mendapat memar seperti itu. Padahal ini yang pertamakan untukmu?" ucap Marcel perhatian namun dibumbui dengan sedikit ledekan dan ia tampak terkekeh setelahnya.


"Sialan," desis Rafael menanggapi kekehan Marcel dengan disertai delikan yang tajam. Rafael meraba pipinya, pantas saja ia merasakan sedikit nyeri pada bagian wajahnya kalau ternyata ia mendapatkan memar juga.


Yaska tampak muncul dibalik pintu kamar yang mereka tempati, ia menenteng sebuah plastik berukuran sedang yang didalamnya terdapat obat yang sesuai dengan resep yang diminta oleh Marcel.


Dengan gerakan cepat Marcel meraih obat tersebut, ia langsung memasang infus pada tangan kiri Alis. Setelah selesai, ia memeriksa laju cairan infus dan menyesuaikannya dengan kondisi Alis.


Kemudian Marcel mendekat kearah Rafel serta mengobati memar yang ad diwajahnya. Yaska mengerutkan dahinya, ia baru menyadari bahwa Rafael juga mengalami luka-luka memar pada wajahnya, mungkin karena aksi mereka tadi malam hingga sampai terjatuh kelantai. Tapi ada yang janggal disini, bukankah Alis dalam pengaruh bius, lalu sebenarnya apa yang terjadi?


"Yaska!" panggil Rafael pada Yaska yang tampak sibuk berpikir. "Kamu cari tahu siapa yang sudah menjebakku seperti ini dan apa tujuannya berbuat securang ini padaku!" perintah Rafael.


"Baik. Aku akan segera mendapatkan informasinya untukmu," jawab Rafael sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau kamu sudah menemukannya, tangkap dia untukku!" perintahnya lagi dengan nada dingin.


Yaska kembali mengangguk, ia sangat hapal dengan tabiat Rafael yang tidak suka mendapati kecurangan apalagi kecurangan tersebut sudah menyangkut dirinya dan ditujukan padanya.

__ADS_1


"Aku akan tinggal disini untuk sementara, hanya beberapa jam saja untuk memantau keadaan gadis tersebut!" ucap Marcel tiba-tiba.


"Baiklah kalau begitu, aku ingin istirahat kekamarku terlebih dahulu." Rafael melirik kearah Alis yang masih pada posisinya tersebut, benar-benar putri tidur dalam dongeng. "Oh iya, namanya Alisya kalau kamu ingin tahu," ucap Rafael setelah ia kembali menatap kearah Marcel.


Marcel mengangguk sambil melirik kearah Alis. "Sepertinya komunikasi yang terjalin diantara kalian berjalan sangat baik."


"Tidak. Tidak ada komunikasi diantara kami tadi malam. Ia tetap seperti itu saat aku pertama kali melihatnya dan menghampirinya. Diantara kami hanya terjalin kerjasama bisnis sebelumnya," ucap Rafael membenarkan yang diangguki oleh Marcel.


"Oh iya, kalau bisa, tolong kamu hapus sebagian ingatannya mengenai kejadian tadi malam," pinta Rafael sambil menatap fokus kearah Marcel.


Marcel menatap balik Rafael dengan tatapan dalam. Ia tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng, ia hanya diam saja hingga Rafael pergi meninggalkan dirinya.


Flashback off


💦💦💦


Alis tampak menyuap makanannya tanpa menatap sedikitpun padanya. Gadis itu terlalu banyak diam dan tidak mudah ditebak. Rafael menatap kearah leher Alis yang putih mulus, hatinya berdesir. Ia berdehem dan berusaha mengalihkan fokus matanya saat bayangan malam itu melintas dibenaknya.


Alis tetap tidak mau menatap kearahnya sedikitpun. Bahkan gadis itu terlihat sangat lamban menyuap makanannya dan itu membuat Rafael kembali menatapnya.


"Ada apa?" tanya Rafael memecahkan keheningan. Ia mendudukkan dirinya tepat dihadapan Alis.


Alis melirik kearahnya dengan gerakan lambat, ia kembali pada posisi awalnya setelah ia mengedikkan sedikit bahunya. Alis benar-benar acuh pada lelaki dihadapannya ini. Alis merasa kecewa karena lelaki didepannya ini terlalu mengekangnya, bagaimana tidak. Hampir disetiap sudut ruangan diletakkannya bodyguar untuk menjaga Alis seperti sekarang ini. Alis semakin merasa resah dan tidak betah, ia jengah menatap Rafael yang selalu menatapnya tajam.


"Aku dengar kamu ingin keluar mansion. Apa kamu bosan dengan keadaan didalam mansion, padahal aku sudah memberikanmu seorang maid yang bisa menemanimu kapanpun kamu mau," ucapnya tenang sambil menyuap makanan kemulutnya.

__ADS_1


Alis menghentikan kunyahannya, ia meraih gelas yang ada didepannya dan meneguk airnya untuk membasahi tenggorokannya. Ia menatap kearah Rafael dengan sorot tak terbaca.


"Aku ingin pulang ke Indonesia!"


Rafael seketika menghentikan makannya, ia menatap Alis dengan sorot tajam. Entah kenapa ia sedikit emosi setelah mendengar keinginan Alis yang baru saja diucapkannya.


"Kamu tidak bisa pulang ke Indonesia!" ucap Rafael masih bersikap tenang. Ia menyorot Alis dengan tajam.


"Kenapa? Berikan salah satu alasan kenapa aku harus tetap disini, padahal aku sudah merasa sepenuhnya sembuh."


Rafael terdiam mendengar pertanyaan Alis yang terdengar sangat tenang. Ia tidak bisa menjawabnya. Rafael melirik segelas air yang ada didepannya. Ia meraihnya dan meneguknya sampai tandas. "Aku tidak mengizinkanmu!" jawabnya sambil berdiri dan berlalu setelah mengusap bibirnya dengan tisu.


Alis terpaku mendengarnya, ia kecewa dengan keputusan Rafael yang terus menahannya tanpa alasan yang kuat. Haruskah ia pergi dari mansion ini dan melumpuhkan seluruh anak buah Rafael yang berjaga disekitar mansion ini. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, itu sangat tidak terhormat baginya. Bahkan ia seperti seorang borunan yang sedang kabur dari tahanan.


Rafael meninggalkan Alis dengan perasaan sesak yang bersarang dihatinya. Ia berjalan keluar mansion dengan kesal, semua penjaga tampak menunduk hormat padanya.


"Perketat penjagaan, jangan sampai gadis itu keluar mansion!!" perintah Rafael pada seluruh anak buahnya. Mereka menunduk hormat dan mengangguk serentak.


Rafael berjalan kearah mobilnya, ia ingin pergi kesuatu tempat. Yaska tampak membukakan pintu mobil untuknya. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya mengenai informasi terbaru kepada Rafael.


"Dani sudah berhasil menemukan orang yang waktu itu menyuruhnya untuk memasukkan obat itu kedalam minumanmu," ucap Yaska menatap kearah Rafael yang semula fokus menatap kearah jalanan tampak mengalihkan tatapannya kearah Yaska.


Namun semua informasi itu tetap membuat wajah Rafael tetap terlihat dingin. Ia masih memikirkan keinginan Alis yang menginginkan pulang kenegaranya. Haruskah ia kabulkan, tapi ia merasa bahwa Alis masih dalam bahaya. Ia juga tidak tahu harus seperti apa memperlakukan gadis dingin dan pendiam tersebut. Ia merasa nyaman saat Alis berada dimansionnya, setidaknya waktu yang dihabiskannya tidak hanya melulu soal pekerjaan, ada sesekali waktu yang diluangkannya untuk mengintip Alis saat sedang membaca atau saat sedang tertidur dengan buku ditangannya. Ia sangat menyukai ekspresi gadis tersebut, dia terlihat tenang dan damai apalagi saat ia tidur.


Rafael mendesah saat kembali mengingat lekuk tubuh Alis saat malam itu. Ia memejamkan matanya sesaat sambil menarik napas pendek. Ia berusaha mengusir pikiran liar yang berkeliaran dibenaknya dan kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Kita ketempat dokter Marcel!" perintahnya pada sopir yang sejak tadi hanya diam saja dan fokus dengan jalanan didepannya.


💦💦💦


__ADS_2