
"Rafael, kenapa kamu melakukannya padaku?" tuntut Alis saat mereka sudah berada dihadapan mobil milik Rafael.
Ia menghentakkan pegangan tangan Rafael di pergelangan tangannya hingga terlepas. Matanya menatap mata biru Rafael dengan sorot terluka dan kecewa.
"Aku terpaksa melakukannya karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Hanya itu yang sempat aku pikirkan!" Rafael berusaha menjangkau Alis namun langkah Alis justru mundur satu langkah kebelakang.
"Tidakkah kamu mengucapkan terima kasih padaku karena aku sudah menolongmu?" Menatap Alis dengan sorot dalam.
Alis menggeleng, menatap kecewa pada sosok tampan didepannya. Lelaki bermata biru yang mampu menenggelamkan siapa saja yang melihatnya, namun ia tetap akan tenggelam di mata gelap milik Al.
"Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan selain mengatakan tentang pernikahan. Setidaknya, biarkan Januar mengklarifikasinya, tanpa menambah-nambahkan bumbu didalamnya." Alis menjeda sesaat.
"Apakah kamu sudah memikirkan resiko terbesar atas kebohonganmu itu. Berita itu tidak hanya sampai disini saja, pasti akan merebak hingga ke penjuru dunia. Dan yang paling berpengaruh, terletak pada nilai saham milikmu!"
Rafael hanya diam saja. Ia sudah memikirkan resikonya masak-masak. Ia tidak perduli kalau nilai saham mereka akan anjlok. Semua itu masih bisa ia perbaiki. Ia hanya tidak rela kalau Alis akan menjadi milik Al malam ini. Ia sudah tahu rencana Al yang disusunnya jauh-jauh hari melalui detektifnya, yang akan menyatakan cintanya pada Alis. Sekaligus pengumuman pertunangan mereka.
Hatinya terasa dicabik-cabik saat mendengar penolakan yang diberikan oleh Alis secara langsung. Padahal sudah banyak usaha yang dilakukannya agar Alis mau membuka hati dan menerima dirinya. Namun gadis mungil itu sepertinya terlalu beku dan dingin. Dan pantang baginya untuk mendapatkan kegagalan.
"Aku tidak perduli, asal aku bisa bersamamu maka aku akan bahagia," sahut Rafael datar. Biarlah kali ini ia terdengar sangat egois. Ia tidak ingin kehilangan orang yang sudah membuat hidupnya berubah. Ia yang awalnya membenci wanita, kini percaya bahwa wanita tidak seburuk yang ia kira.
"Kamu hanya terobsesi padaku karena selama kamu hidup, kamu tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain ibumu!"
Deg.
Rafael menggenggam tangannya erat saat Alis menyindir sosok ibu baginya. Matanya seketika berubah menatap Alis dengan tajam.
"Tau apa kamu tentang dia. Dan jangan sekali-kali kamu menyebut nama dia dihadapanku lagi!"
__ADS_1
Alis melebarkan matanya tapi hanya sedetik daja dan ia yakin kalau Rafael pasti tidak akan melihat semua itu karena mereka masih berada di cahaya remang-remang.
"Tapi apa yang aku bilang benarkan?" Sahut Alis lagi berusaha memancing emosi Rafael.
"Terserah kau sajalah, yang pasti pernyataanku di depan umum tadi, kalau kita sudah menikah itu adalah benar. Aku bisa membuktikannya padamu!" Rafael terkesan tidak perduli dengan ucapan Alis.
Kali ini Alis yang mulai terkecoh dengan Rafael. Alis menatap Rafael dengan datar, ia yakin kalau data yang diberikan oleh Rafael adalah palsu.
"Kamu meragukanku, mengatakan kalau aku pembohong!" ucap Rafael dengan senyum miringnya, menatap Alis yang terlihat tidak mempercayainya.
"Coba kamu lihat jari manis sebelah kananmu dan lihat jari manis sebelah kananku!" tunjuknya pada cincin yang tersemat di jari masing-masing dengan desain yang indah dan sama persis.
Alis terperanjat, ia tidak menyadari kalau ada cincin di jarinya. Pantas saja ia merasa aneh.
"Kapan kamu melakukannya padaku!?" Alis tersenyum kearah Rafael, senyum kecut lebih tepatnya. Ia tidak menyangka bisa berhadapan dengan lelaki selicik Rafael.
Alis mengalihkan tatapannya, ia merasa malu mendengar keterangan langsung dari lelaki dihadapannya ini, mengatakan seolah-olah dirinyalah yang paling agresif disini.
"Apalagi setelah aku mengenalimu. Aku tahu kalau kamu sosok seperti apa. Ditambah dengan kebudayaan bangsa timur sangatlah terjaga. Sebab itu aku melangsungkannya denganmu."
"Kamu__." Alis sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Jari telunjuknya tepat berada diwajah Rafael. Rasanya ia sangat ingin menghajar lelaki sombong yang ada dihadapannya. Dia pikir hati wanita bisa dimainkan begitu saja dengan semaunya.
Rafael tertunduk, kesombongan yang selalu dijaganya selama ini hilang sudah.
"Ma'af kalau aku terlalu lancang dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan mengenai hidupmu dan juga melibatkanmu dalam segala kesusahan."
Alis menurunkan telunjuknya. Keinginannya untuk memaki Rafael di urungkannya. Rasa kesal seketika meluap. Mungkin apa yang di ucapkannya adalah separu benar dan separu masih salah. Namun ia berusaha untuk memperbaiki kesalahan ini agar tidak ada hati yang terluka.
__ADS_1
"Dasar om genit!" umpat Alis sambil membuka pintu mobil milik Rafael dan duduk dengan tenang. Ia benar-benar tidak bisa melawan Rafael kali ini.
Mata Rafael langsung melotot saat mendengar kata panggilan yang tersemat pada dirinya. Ingin rasanya ia balas menjahili Alis namun tidak tega saat menatap Alis yang memejamkan matanya dan bersandar pada jok kursi mobil miliknya.
Ia berjalan memutar kedepan dan membuka pintu disebelahnya. Memasang sealbeth pada dirinya. Matanya sejak tadi memperhatikan Alis, senyumnya mengembang saat mendapati Alis yang benar-benar tertidur karena kelelahan.
Rafael memacu mobil miliknya kearah rumah milik Alis.
Sesampainya disana, ia mengangkat Alis dengan perlahan. Seseorang yang ditugaskannya untuk menjaga kediaman Alis segera membukakan pintu untuk tuannya. Keadaan rumah juga sangat terang.
Dengan langkah tergesa ia membawa Alis kearah kamarnya dan merebahkannya pada ranjang yang ada disana dengan hati-hati.
Ia memperhatikan wajah Alis dengan seksama. Dari mata, hidung, pipi hingga bibirnya. Tangannya terulur membelai wajah Alis. Kemudian bergerak perlahan kearah belakang kepala Alis. Dengan sekali tarik, maka lepaslah sanggul yang ada di kepala Alis.
Rafael membenahi rambut Alis, agar tidak membuatnya kesakitan saat tidur.
"Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu. Tapi yang pasti kamu tidak akan aku lepaskan begitu saja. Biarkan aku egois kali ini untuk memilikimu."
Senyumnya mengembang. Dengan gerakan perlahan ia mengecup dahi Alis dengan sayang sebagai pengantar tidur dan pengobat kerinduannya.
Ia bergegas keluar kamar Alis untuk menuju kamar yang tepat berada disisi kamar yang di tempati oleh Alis.
Ia berdiri didepan pintu balkon kamarnya sambil menatap pemandangan gelap didepannya. Meraih handphone yang ada disaku celananya.
"Yaska! kirim seorang pelayan wanita kesini, malam ini juga!" Rafael mengakhiri telponnya.
Matanya masih menatap kearah luar. Tangannya bergerak melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Melepaskan seluruh pakaian miliknya. Dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sambil menunggu wanita yang sedang di minta olehnya dari Yaska.
__ADS_1