
"Anak-anak, selepas kita menyelenggarakan kelulusan ini. Bapak harap pada kalian semua untuk tidak mencorat-coret ataupun menyemprot baju yang kalian pakai sekarang menggunakan bahan pewarna. Lebih baik kalian mengumpulkannya dan menyumbangkannya untuk anak-anak panti yang membutuhkan!"
Tepuk tangan membahana setelah pak Siswanto selaku kepala sekolah Alisya memberikan pidato kelulusannya.
Dari pengumuman yang didapat bahwa seluruh murid kelas 12 dinyatakan lulus 100%.
"Selamat ya Al kamu menjadi murid dengan nilai tertinggi dan juga murid teladan," Bastian mengulurkan tangannya kearah Al.
"Terima kasih, om," jawab Al menyambut tangan Bastian.
"Dan kamu juga Alis, luar biasa. Menduduki peringkat ke-2 di sekolahmu," ucap Arya.
Alis hanya mengangguk saja di iringi dengan senyum tipis.
"Baiklah kalau begitu. Ajak teman-temanmu untuk berkumpul di rumahmu, sekaligus kita pesta bakar jagung di kebunmu," ucap Bastian.
Alis menatap ayahnya dengan kening berkerut.
"Ayah juga ikut merayakan kelulusan bersama kalian, sekaligus ada hal penting yang harus kita bicarakan!" tambah Bastian.
"Kamu, jangan lupa untuk ikut, kita bisa mengobrol di tempat Alisya. Sudah lama sekali aku tidak pernah melihat rumah dan kebunnya," ucap Bastian pada Arya.
"Jadi benar kalau Alis memiliki banyak kebun? Katanya Al tidak hanya kebun buah tapi juga kebun bunga," ucap Harwinda.
"Kalau begitu aku akan membawa mobil truk saja untuk memborong bunga milik Alis!"
"Ma. Jangan bicara seperti itu ma," timpal Al.
"Hahaha... mama hanya bercanda, sayang," sahut Harwinda.
"Tidak apa-apa tante, tante boleh meminta bunga yang tante suka nantinya. Alis mengizinkan saja," sahut Alis datar.
"Sayang, kalau bicara sama orang tua itu senyum dong, rileks. Jangan dengan raut datar seperti itu. Kesannya seperti tidak ikhlas." Shakila menimpali.
"Hahaha... tidak apa-apa Shakila. Dia sangat kaku pada siapa saja. Aku menyukainya, aku menyukainya," sahut Harwinda.
"Jadi nanti sore kita mengadakan party garden?" tanya Harwinda.
"Bagaimana kalau langsung di isi saja dengan pengumuman pertunangan kalian berdua?" usul Harwinda.
Mata Al memindai kearah Alis yang menunduk dan salah tingkah. Bahkan pipinya merona.
"Duh... gadis kaku ternyata bisa malu juga," ledek Harwinda lagi.
Semua yang ada disana tertawa bersamaan.
"Alis. Ayo ikut denganku," bisik Al.
Alis diam saja sambil menatap Al dengan tatapan penuh tanya. Dengan gerakan cepat Al menarik tangan Alis membawanya menjauh dari para orang tua yang sedang bergosip.
Al membawa Alis menaiki mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Alis.
__ADS_1
"Kamu diam saja dan ikuti saja aku!" sahut Al.
Sesuai dengan permintaan Al, Alis benar-benar diam. Dia hanya membuka buku yang dibawanya tadi.
"Kenapa kamu diam saja sejak tadi, apa kamu pikir aku patung?" tanya Al di sela kebosanannya.
Alis menatap Al heran. "Bukankah tadi kamu yang memintaku untuk diam saja," sahut Alis.
"Tapi bukan diam seperti patung juga Alis. Maksudku itu jangan menanyakan tujuan kita, tinggal ikuti aku saja," sahut Al.
"Kamu boleh membicarakan hal yang lainnya asal jangan tempat tujuan kita," tambah Al.
Alis mengangguk. "Tapi aku suka membaca," sahut Alis.
Al meraih buku yang di pegang Alis dengan sebelah tangannya. Menutupnya dan meletakkannya di dasboard mobil.
"Kita bicarakan hubungan kita saja!" ucap Al tiba-tiba.
"Dan aku tidak mau di acuhkan oleh sebuah buku!" sahut Al merasa cemburu.
Alis mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil. Ia merasakan laju detak jantungnya, bahkan dadanya terasa berat saat menarik napas karena saking gugupnya.
"Jangan gugup seperti itu. Kamu terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mataku."
Tangan Al meraih sebelah tangan Alis dan menggenggamnya. Membuat Alis berpaling dan menatap tautan tangan mereka.
"Bagaimana menurutmu pendapat orang tua kita tadi tentang rencana pertunangan kita?" tanya Al.
Alis tampak berpikir sesaat, entah kenapa ia merasa linglung saat bersama Al.
"Semua itu terserah kamu saja, sayang. Aku selalu setuju dengan pilihanmu."
Wajah Alis kembali merona setelah mendengar panggilan sayang dari Al.
"Kita sudah sampai," ucap Al tiba-tiba.
Mata Alis menatap hamparan pantai yang ada di depan mereka.
"Jadi kamu membawaku kesini?" senyum manis terbit di bibir Alis.
"Iya. Saat pertama kalinya aku menyatakan cinta tidak romantisku padamu," sahut Al.
"Ayo keluar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Alis mengikuti langkah Al. Di depan mereka ada sebuah meja dan dua buah kursi. Alis kembali mengerutkan dahinya heran. Ia menatap sekitarnya, suasana tampak lengang.
"Ayo kita duduk disana!" ajak Al.
Setelah mereka duduk, tampak seorang pelayan restoran datang menghampiri mereka dengan membawakan makanan yang sudah di pesan oleh Al sebelumnya.
"Bagaimana bisa ada seorang pelayan restoran disini, sedangkan di sekitar sini tidak ada restoran?" tanya Alis heran setelah kepergian pelayan tadi.
Al tersenyum. Ia meraih tangan Alis dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Apapun bisa aku lakukan untukmu, sayang!" sahut Al.
Pipi Alis kembali merona tapi sebisa mungkin ia bertahan dengan wajah kakunya.
"Alis, aku senang bisa jatuh cinta padamu. Bahkan aku juga dapat menggapai hatimu. Walaupun perjalanan yang kita lalui cukup sulit. Tapi aku berharap kita tetap akan seperti ini hingga menua nanti."
Al mengecup tangan Alis.
"Aduh!! Kalian disini sedang apa? Pacaran ya?"
Tiba-tiba seorang nenek sudah berdiri di dekat meja mereka menatap horor kearah Al dan Alis.
"Anak-anak zaman sekarang masih pakai baju seragam, badan masih bau kencur, sudah tahu pacaran dan masa depan yang di bicarakan," berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Seharusnya kalian itu belajar di sekolahan bukan malah keluyuran seperti ini. Untung kalian hidup zaman sekarang, coba zaman nenek dulu tidak ada yang namanya sekolah. Kalaupun ada, sangat sulit untuk bersekolah karena terkendala kebebasan."
Al meringis saat mendengar ceramah nenek-nenek yang entah darimana datangnya. Dan menghancurkan momen romantis yang baru saja ia bangun.
Sedangkan Alis ia hanya bermuka datar saja sambil sesekali mengangguk kaku.
Dan Al merasa kalau kupingnya sekarang benar-benar ingin lepas.
***
Malam harinya suasana di sekitar rumah Alis terlihat terang-benderang bahkan sudah banyak teman-teman Alis yang terkumpul disana. Beruntungnya malam ini udara malam terasa segar menghembus bahkan bintang juga bertaburan walaupun tanpa sang rembulan.
"Sayang! Adikku sayang, apa kabar!!?"
Teriakan Riyan membahana membuat seluruh mata menatap kearahnya. Alis hanya menggeleng samar melihat kelakuannya.
"Halo kakak Riyan, apa kabar?" Liza berlari menghampiri lelaki tampan tersebut membuat kekasihnya cemburu.
"Sayang! kamu ingin menyelingkuhi aku di depan mata nih?" tanya Alex dengan wajah cemberut.
"Tidak sayang. Aku hanya menyapanya saja," sahut Liza.
Alex segera menarik tangan gadis tersebut dan berjalan ke taman yang ada disana.
"Sahabat kamu lucu juga ya, bisa bertingkah seperti itu di depan kekasihnya sendiri," ucap Al.
Alis hanya berdehem saja.
"Sayang. Jangan hanya berdehem seperti itu dong. Rasanya aku seperti berbicara dengan patung!"
Alis merona saat Al kembali memanggilnya dengan embel-embel sayang. Ia kembali berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.
"Cie... yang biasanya diam saja dan kaku, sekarang bisa mekar ya wajahnya!" ledek Andra.
Jessica selalu menempeli dirinya.
"Jangan di goda dong dia, tuhkan dia pergi," ucap Al setelah melihat kepergian Alis.
Malam ini mereka jadikan sebagai momen kenang-kenangan kebersamaan mereka.
__ADS_1
💦💦💦
.