
Seluruh siswa-siswi tampak heboh dengan kedatangan Alis yang diantar oleh seseorang dengan mobil mewah yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Siapa lagi cowok yang mengantar si Alis sih, kok ganti-ganti ya."
"Iya, bahkan semuanya pakai mobil mewah."
"Apa jangan-jangan benar lagi ya gosip yang dulu itu?"
"Iya ya kalau dipikir-pikir."
Beberapa siswi tampak bergosip mengenai Alis pagi ini diparkiran sekolah dan semua itu tidak pernah luput dari pendengaran Al. Ia juga menyaksikan Alis yang keluar dari dalam mobil mewah tersebut.
"Akhir-akhir ini, si Alis jadi trending topik disekolah. Bahkan selalu mengenai kabar yang membuat kuping jadi sakit." Irfan ikut berkomentar sambil menatap Alis yang berjalan kearah taman.
"Itu hanya rumor kok, kitakan memang tidak tahu seperti apa kehidupannya yang sebenarnya." Al berusaha menghibur hatinya dengan menyangkal semua gosip yang pernah beredar. "Aku yakin, dia gadis yang baik dan tidak seperti yang kita lihat."
"Aku tidak yakin Al kecuali kita tahu lebih dalam mengenai Alis." kata Andra yang menatap prihatin kearah Al.
"Jangan terlalu yakin Al, takut nanti akan jadi bomerang bagi diri-sendiri." Irfan kembali menimpali.
Sedangkan Aldo hanya bungkam saja sejak tadi, ia hanya memandang Alis yang terus berjalan kearah lorong sekolah, dengan pandangan tajam. Entah kenapa, setelah mendengar gosip seperti itu hati Aldo terasa panas, ia menggenggam tangannya kuat. Tanpa menghiraukan teman-temannya, ia berlalu darisana menuju kearah kelas Alis.
"Kenapa tuh anak, sepertinya dia sedang emosi?" tanya Irfan sambil menganga melihat Aldo.
"Iya." jawab Andra.
"Mungkin karena masalah perjodohan lagi." jawab Al sambil melenggang santai meninggalkan kedua sahabatnya.
"Eh, kita ditinggal." Andra dan Irfan bergegas berjalan menyusul Al yang cukup jauh dari mereka.
Langkah Al terhenti saat menatap Aldo yang menarik tangan Alis kearah taman sekolah yang agak sepi. Al mencoba menguping, apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, ia tidak mendengar apapun karena suara siswa-siswi yang berisik saat berlalu lalang dibelakangnya.
"Al, sedang apa?" tanya Irfan sambil menatap kearah taman.
"Itu..." tunjuk Al pada taman, saat ia melihat kearah taman, Aldo dan Alis sudah tidak ada disana lagi. "Bukan apa-apa." Al tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya, namun nihil.
Sementara itu, Aldo kembali menarik tangan Alis menuju kearah taman belakang sekolah.
"Aku tanya sekali lagi, siapa kamu?" tanya Alis yang tampak geram dengan perlakuan Aldo tersebut.
Aldo menatap tajam Alis dan melepaskan genggaman tangannya. "Aku Aldo, sahabatnya Al." jawab Aldo dengan tidak bersahabat, ia masih menatap Alis dengan tajam.
Alis mencoba mengingat-ingat lelaki dihadapannya ini. Ya, dia ingat, lelaki ini adalah lelaki yang pendiam dan dingin. "Apa maumu?" tanya Alis dengan nada ketus. Ia tidak suka dengan lelaki yang tidak tahu sopan-santun didepannya ini.
"Hanya jawab saja pertanyaanku." Aldo menatap dingin gadis yang disukai sahabatnya ini. "Siapa lelaki yang ada didalam mobil pagi tadi?" tanyanya dengan nada dingin.
"Bukan urusanmu." jawab Alis, ia ingin melangkah meninggalkan Aldo ditaman itu. Ia tidak suka, ditanyai seperti itu seolah-olah dia adalah seorang borunan yang tertangkap polisi.
"Itu akan jadi urusanku, Syaiba." Aldo tersenyum miring saat melihat Alis yang menghentikan langkahnya. "Benarkan namamu Syaiba." Aldo menghampiri Alis dan tersenyum meremehkan.
Alis bungkam setelah mendengar nama panggilannya yang lain disebutkan. Nama itu digunakannya hanya untuk orang-orang asing dalam jalur hidupnya.
__ADS_1
"Gadis aneh yang penuh dengan teka-teki, tapi dibalik semua itu kamu menyimpan rahasia." Aldo berkata dengan sombong, ia merasa menang karena sudah menemukan orang yang dicarinya.
"Apa urusanmu?" tanya Alis dengan berdesis.
"Aku hanya memperingatkanmu. Jangan pernah dekat-dekat dengan semua lelaki yang mendekatimu. Karena kamu akan menjadi tunanganku sebentar lagi.
Alis tampak melotot mendengarnya. "Jadi, kamu adalah Naufal?" Alis menatap tidak percaya pada Aldo yang berada didepannya.
"Ya, kamu benar. Hahahaha..." Aldo tertawa melihat ekspresi Alis yang terlihat bodoh dimatanya.
________________
"Do, Aldo, sadar woy... sadar Do!" Irfan mengguncang bahu Aldo dengan keras, ia bergidik ngeri melihat Aldo yang tertawa secara tiba-tiba.
Sejak Aldo menatap Alis diparkiran tadi, ia tidak menemuinya sama sekali. Ia bahkan langsung menuju kearah kelasnya, tidak mungkin lah ia akan menyeret Alis dan mempermalukan dirinya sendiri.
Aldo kaget setelah Irfan kembali berteriak ditelinganya. Ia melotot kearah Irfan dan menggosok telinganya yang berdenging. "Apa-apaan sih kamu."
"Itu, ada bu Marni didepan kelas." tunjuk Irfan kearah luar kelas. "Lagian, kamu ngelamun aja, sepertinya sedang kerasukan roh halus hingga tertawa seperti mba kuntil."
Aldo kembali melotot, ia tidak percaya kalau sudah berbuat konyol seperti itu.
💦💦💦
Jam pelajaran pertama sudah berlalu, Alis dan Liza masih duduk dibangku mereka. Sepertinya mereka enggan untuk keluar kelas kali ini.
"Jadi, bisakan kamu jelaskan padaku rumor pagi tadi." Liza menatap serius Alis yang hanya menatap kearah buku yang ada ditangannya.
"Dia ayahku." jawab Alis dengan santai.
Alis meringis menatap Liza yang tampak brutal dan bahkan berbicara dengan setengah berteriak. Untung dikelas hanya ada mereka berdua.
"Sebenarnya aku bertemu ayahku sejak kemarin sore. Jadi, aku tidak sempat mengabarimu."
Liza mengangguk paham, mungkin mereka sedang memainkan drama pada malam harinya karena sekian lama tidak bertemu.
"Aku dijodohkan Za sama orang tuaku." kata Alis dengan lirih.
"Apa? dijodohkan? bagaimana orangnya, tampan tidak? namanya siapa Lis?" tanya Liza dengan antusias.
Alis kembali meringis melihat Liza yang tampak berbinar seolah-olah senang mendengar kabar tersebut.
"Hidupmu memang selalu penuh kejutan Lis." katanya kemudian.
"Yang jelas, aku tidak tahu seperti apa orangnya, karena aku belum pernah bertemu dengannya."
"Lalu, yang kamu tahu apa?" tanya Liza dengan agak kecewa sekaligus penasaran.
"Hanya namanya. Naufal." jawab Alis yang terdengar agak ragu.
"Apa!!? Naufal!!?" Liza kembali melengking bahkan lebih keras dari yang pertama dan kedua tadi. "Anak Ips yang gendut itu, jelek lagi." kata Liza menatap kearah Alis.
__ADS_1
Alis melotot mendengar kata gendut dan jelek. Ia kembali diam dan segera berdiri dari sana.
"Lis, mau kemana?" tanya Liza dengan heran.
"Kantin." jawab Alis sambil menatap Liza yang kembali melongo. "Ayo Za." ajak Alis.
"Ngapain?" tanya Liza dengan agak bodoh.
Alis memutar kedua bola matanya. Ia jengah dengan sikap lamban Liza. "Ingin melihat yang namanya Naufal." jawab Alis.
"Ayo." Liza menarik tangan Alis dan berjalan cepat setelahnya.
Sesampainya dikantin, suasana yang tadinya riuh tampak senyap setelah kemunculan Alis dan juga Liza. Cibiran langsung memenuhi atmosfer kantin, namun Liza tetap menarik tangan Alis untuk masuk dan mencari tempat duduk.
Alis mengedarkan pandangannya keseluruh kantin. "Yang mana Za yang bernama Naufal?" tanya Alis dengan pandangan penasarannya.
"Itu, yang duduk bersama laki-laki yang memakai kacamata. Bangku ketiga dari depan dan tepat disamping dinding." tunjuk Liza dengan dagunya.
Alis mengedarkan pandangannya mencari tempat yang dimaksud oleh Liza tersebut. Ia tampak menciut setelah melihat siswa yang bernama Naufal. Dengan bobot 100 kg, bukanlah tipe lelaki seorang Alis.
"Za, kamu tidak bohongkan?" tanya Alis yang terlihat sangat kecewa. Lelaki itu sangat jauh dari ekspetasinya.
"Coba kamu pesan makanan kedepan dan berjalanlah melewatinya. Lihat nametagnya." usul Liza yang langsung disetujui oleh Alis.
Alis berjalan kedepan dan memesan makanan dan minuman. Cukup lama ia mengantri, hingga tiba gilirannya untuk membawa pesanan mereka yang sudah dibuat.
Alis melewati meja mereka dan sedikit melirik kearah siswa gendut tersebut. Namun hal yang tak terduga dialaminya, siswa tersebut memberikan senyumnya dan menggoda Alis yang lewat.
"Za, benar kok kalau namanya Naufal. Ih aku tidak mau dijodohkan dengan orang seperti itu." kata Alis yang kembali membayangkan tingkah Naufal yang tidak sopan tadi.
"Memangnya kenapa?" tanya Liza.
"Kelakuannya kurang sopan." jawab Alis dengan berbisik.
"Hayo... sedang ngomongin apa pakai acara bisik-bisik segala." Alex sudah ada diantara mereka bersama Angga dan juga Nando.
"Bukan apa-apa kok." kata Liza dengan pipi yang memerah.
Alis menatap bingung dengan perubahan raut wajah Liza. "Za, kamu kepedasan ya?" tanya Alis.
"Engga kok engga." jawab Liza dengan tangannya yang ikut bergerak melambai.
"Lis, yang pagi tadi itu siapa?" tanya Angga.
"Itu ayahnya Alis, dia sudah kembali dari luar negeri." jawab Liza.
"Benar Lis?" tanya Angga kemudian.
Alis menganggukan kepalanya membenarkan yang diucapkan oleh Liza.
"Kupikir orang lain yang bakalan menjadi imammu." kata Alex dengan sedikit gurauan.
__ADS_1
Alis mendelik sebal kearah Alex. Kata-kata Alex kembali mengingatkannya pada sosok Naufal yang bakalan menjadi tunangannya. Alis tampak lemas karena mengingatnya.
💦💦💦