Layangan Kertas

Layangan Kertas
Ajakan Kekantor


__ADS_3

Rafael menginjakkan kakinya dengan perlahan, ia membuka pintu kamar yang ditempati oleh Alis. Pintu yang sama sekali tidak dikunci oleh penghuninya tersebut sehingga dapat terbuka dengan mudahnya. Ia kembali berdecak saat melihat Alis tertidur dengan memeluk sebuah buku tebal yang ada dipangkuannya, sambil bersandar pada kursi sofa single yang menghadap kaca besar dikamarnya. Jemarinya bergerak dengan perlahan meraih buku yang ada digenggaman gadis manis tersebut dan meletakkannya diatas nakas.


Matanya menatap intens wajah Alis yang tertutupi surai hitamnya yang menjuntai kedepan. Tangannya kembali bergerak meletakkan helaian rambut hitam tersebut kebelakang telinga Alis. Senyum samarnya terbit saat melihat tingkah lucu Alis saat tidur, beberapa kali ia tampak bergumam dalam tidurnya.


Tangan yang kekar dan besar tersebut meraih tubuh Alis dan mendekapnya didalam gendongannya. Dengan gerakan perlahan ia membawa Alis kearah ranjang yang ada dihadapannya. Bahkan gadis manis tersebut tampak tidak terganggu sama sekali dengan gerakan Rafael yang meletakkan tubuh Alis dengan perlahan diranjangnya.


Saat Rafael ingin melepaskan tubuh Alis ketempat tidur dan bermaksud untuk menarik tangannya. Gerakan refleks gadis tersebut yang menariknya dengan tiba-tiba, membuatnya mendekap tubuh Alis. Sekuat tenaga ia menahan napasnya saat dirinya terkungkung dalam dekapan Alis. Ia terjatuh tepat dihadapan Alis dan sangat dekat dengan dirinya hingga membuatnya tidak berdaya.


Wangi tubuh gadis itu tercium di indra penciumannya seakan memabukkan dirinya. Ia merasakan perasaan yang hangat. Tanpa ia sadari, sesuatu dibawah sana tampak bergerak. Sebisa mungkin ia menahan sensasi yang berbeda dari tubuhnya disetiap ia berdekatan dengan Alis.


Gadis mungil tersebut benar-benar erat memeluknya hingga hidungnya tepat berada dipipi Alis yang terasa halus. Sebisa mungkin Rafael mengendalikan dirinya agar ia tidak kembali menerkam Alis seperti malam itu.


Gerakan Alis tampak merenggang, dengan secepat kilat Rafael memindahkan tangan dan kaki Alis yang mengungkung tubuhnya. Rasanya ia sudah tidak mampu bernapas lagi dan kembali lega setelah ia berhasil melepaskan diri. Jika tidak, entah apa yang akan dikatakannya pada gadis tersebut keesokan paginya.


Bergegas Rafael meninggalkan Alis yang tertidur nyenyak diatas kasurnya, ia mengecup dahinya terlebih dahulu sebagai ucapan selamat malam dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Hanya itu yang bisa diberikannya setelah ia tidak melihat Alis selama beberapa jam yang lalu. Ia tidak mampu untuk bertatap muka dengan Alis secara langsung. Karena ia tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Alis padanya, bahkan ia juga tidak mampu untuk mengizinkan Alis pulang ke negara asalnya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan ia menahan gadis itu agar selalu berada dimansionnya.


Langkahnya sudah menggiringnya memasuki kamarnya yang bernuansa gelap dengan warna dinding kamar yang dominan berwarna hitam. Ia segera melepas semua pakaiannya dan menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sejak siang tadi belum menyentuh air sama sekali.


Hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit, Rafael mengakhiri ritual mandinya. Dengan gerakan cepat ia meraih handuk dan mengeringkan seluruh tubuhnya. Kemudian ia keluar kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian tidurnya.


Rafael merebahkan dirinya dengan perlahan diatas tempat tidurnya, ia mengingat kejadian tadi siang saat ia bertemu dengan dokter Marcel. Benaknya kembali dikuasai oleh perasaan kacau. Bagaimana tidak, ia pikir Alis diberikan obat penghilang sebagian memori oleh Marcel sehingga membuatnya melupakan kejadian malam itu. Bahkan ia sangat lega saat gadis itu sama sekali tidak mengingat kejadian malam itu sedetikpun.


"Obat seperti itu tidak ada didunia ini, kalaupun ada maka akan sangat laku keras. Karena tidak akan ada lagi orang yang merasa sakit hati saat mereka putus cinta, saat bisnis bangkrut dan juga tidak akan ada orang bunuh diri. Kamu jangan berpikir konyol seperti itu," ucap Marcel di iringi dengan kekehannya. Ia merasa lucu dengan ucapan pria kelas atas tersebut.


"Lalu, apa yang membuatnya tidak mengingat apapun?" tanya Rafel.


"Dia dalam pengaruh obat bius dosis tinggi. Sepertinya ia diculik dan dijual oleh sindikat perdagangan manusia sehingga ia berada di club waktu itu." Rafael cukup terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka gadis itu mengalami hal seburuk itu. Beruntunglah dia yang sudah menemukannya, kalaupun orang lain, entah apa yang akan terjadi padanya kedepan.

__ADS_1


"Yaska, kamu telusuri kejadian ini dan apa hubungannya dengan mereka yang menjebakku." Rafael berucap dengan dingin bahkan sorot matanya menggambarkan kemarahan.


Rafael menyugar rambutnya saat ingatannya kembali mengingat Alis yang tertidur dan melupakan percakapan mereka tadi siang.


"Konyol," gumamnya sambil membayangkan ekspresi Alis yang sedang tertidur. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu? aku harus menanyakannya pada Yaska, mungkin dia sudah mengetahui kebenarannya," gumam Rafael lagi sambil meraih handphone yang ada diatas nakasnya. Namun ia urungkan setelah melihat jam pada layar handphonenya. Sudah lewat tengah malam, pasti Yaska sudah tertidur. Ia terlalu lelah karena banyaknya hal yang diurusnya hari ini. Rafael mencoba memejamkan matanya dan menepis semua teka-teki yang ada.


💦💦💦


Alis sudah duduk dimeja makan, ia hanya diam saja sambil menatap makanan yang terhidang disana. Sesekali matanya melirik kearah lorong yang terlihat sepi, tidak tampak batang hidung Rafael. Ia kembali melirik kearah beberapa bodyguar yang berada disekelilingnya, Alis membuang napas dengan gusar sambil memejamkan matanya. Ia benar-benar bosan diperlakukan seperti anak emas.


"Cepat makan sarapanmu, setelah ini kamu akan ikut aku kekantor!" ucap Rafael yang sudah duduk dihadapan Alis. Sontak Alis membuka matanya, ia menatap kearah mata biru tersebut. Kontak mata mereka terhubung selama beberapa detik, Alis memutusnya dan menatap kearah hidangan didepannya.


Rafael sedikit menyunggingkan senyumnya saat melihat Alis yang terlihat malas untuk sarapan. Ia mengisi piringnya dengan sedikit nasi dan lauk-pauk serta sayur. Ia berdiri dan berjalan kesamping Alis. Ia tahu orang Indonesia mempunyai kebiasaan yang selalu makan nasi dalam 3 kali sehari.


Dengan gerakan cepat ia duduk disamping Alis. Itu semua membuat Alis mendelik kearahnya dengan heran, namun ia berusaha untuk bersikap acuh saja.


"Sekarang buka mulutmu, aku lihat sejak kemarin kamu tidak pernah makan banyak," ucap Rafael sambil menyodorkan sendok makan yang sudah terisi makanan.


Rafael tersenyum tipis sambil meraih segelas air putih saat melihat Alis yang terlihat kesusahan meneguk makanannya.


Alis meraih gelas tersebut dan meneguk airnya dengan tidak sabar sehingga membuatnya tersedak. Bergegas Rafael berdiri dan menepuk-nepuk belakang Alis dengan perlahan. Setelah Alis mereda, ia kembali duduk disamping Alis. Tangannya kembali terulur ingin menyuapi Alis.


"Aku bisa sendiri, kamu makanlah. Nanti kamu terlambat pergi kekantor," ucap Alis sambil meraih sendok dan juga piring yang ada ditangan Rafael dan meletakkannya dihadapannya. Alis mengambil beberapa roti dan mengisinya dengan racikan daging yang sudah dimasak dengan beberapa bumbu, ia menyodorkan kearah Rafael.


Senyum tipis Rafael kembali terbit, Alis terlihat manis didepannya. Ia seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya. Rafael merubah raut wajahnya saat ia menyadari beberapa bodyguard dan maid yang ada disana menatapnya dengan tatapan keheranan.


Mereka kembali makan dalam diam, mengunyah makanan masing-masing hingga habis tidak bersisa.

__ADS_1


"Ayo! kita berangkat sekarang!" ajak Rafael pada Alis. Ia tidak main-main dengan ucapannya tadi.


Alis melirik sesaat kearahnya kemudian ia mengangguk dan segera berdiri. Dengan gerakan cepat ia mengikuti langkah Rafael yang sudah berada dilorong mansion tersebut.


💦💦💦


Mata Alis sedari tadi tidak pernah lepas dari pemandangan yang ada didepannya. Baru kali ini ia melihat suasana diluar negri. Gedung-gedung tampak tertata dengan susunan yang indah dan menjulang tinggi. Jalanan tampak sangat bersih, banyak orang yang terlihat berjalan kaki pada jalurnya, jalanan juga tidak pernah macet seperti dinegaranya. Walaupun ia orang yang berada, ia tidak pernah liburan sedikitpun. Tidak ada yang bisa diajaknya untuk itu, lagi pula ia juga tidak tertarik dengan hal seperti itu.


Deheman Rafael membuatnya tersadar bahwa dirinya masih bersama seseorang yang sudah menganggapnya tawanan selama ini. Lihatlah mobil dibelakang mereka dan didepan mereka, ia merasa tidak suka karena selalu dikawal dengan ketatnya.


"Alis, apa yang membuatmu hingga berada dinegara ini? Apa kamu sedang melakukan perjalanan bisnis ataukah sedang liburan?" tanya Rafael menanyakan rasa penasarannya. Ia ingin langsung mendengar penuturan dari orangnya langsung.


Alis melirik kearah Rafael, ia kembali menatap kearah jendela mobil yang mereka tumpangi. Sebisa mungkin ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Aku tidak tahu kenapa aku sampai berada dinegara ini, yang jelas aku tidak melakukan keduanya. Aku masih ingat, saat itu aku masih berada dirumahku dan kami baru saja selesai memetik buah-buahan. Tapi," Alis menjeda kalimatnya. Ia berusaha kembali menggali ingatannya namun ia tidak dapat mengingatnya lagi hingga ia berada dikamar asing milik Rafael waktu itu.


"Tapi apa?" tanya Yaska yang sudah memalingkan wajahnya kearah mereka berdua. Ia begitu penasaran dengan kelanjutan cerita Alis. Mungkin saja ada petunjuk mengenai pencarian mereka.


"Tapi aku tidak mengingat semuanya lagi hingga aku terbangun dikamarmu waktu itu," gumam Alis sambil menunduk. "Tapi bolehkah aku pulang kenegaraku atau menghubungi keluargaku, aku ingin mereka tahu bahwa aku baik-baik saja disini dan mereka tidak mengkhawatirkanku."


Seketika raut muka Rafael berubah sangat dingin, ia menatap tajam kearah Alis, ia tidak suka saat Alis mengulang permintaannya yang sama seperti waktu itu.


"Emm, sebaiknya kamu tunda dulu keinginanmu itu. Kamu tidak tahukan apa yang membuatmu sampai kenegara ini, tidak mungkinkan kamu bisa menghilang dengan sendirinya. Lebih baik kita selidiki dahulu kejadian ini, siapa tahu ada seseorang yang dengan sengaja membawamu saat kamu tidak sadar," bujuk Yaska saat ia melihat perubahan raut wajah Rafael. Ia tahu Rafael sangat tidak menyukai ucapan Alis seperti itu.


"Aku pikir itu memang terjadi padaku walaupun sebenarnya itu mustahil. Karena selama ini aku tidak memiliki musuh seorangpun. Tapi bisakah kalian menceritakan padaku, bagaimana kalian bisa menemukanku?" tanya Alis sambil menatap kearah Rafael dan Yaska bergantian.


Rafael kembali menyorotnya dengan tajam seolah-olah menyuruhnya untuk diam. Sedangkan Yaska hanya menatap kearah Rafael. Dengan gestur tubuhnya, ia menyerahkan pembicaraan pada Rafael.

__ADS_1


Alis merasa tidak nyaman dengan suasana yang membuatnya canggung. Ia merasa bersalah karena menanyakan hal ini hampir setiap hari. Dengan gerakan lambat ia meraih buku yang ada dikantong kursi mobil, membukanya dan mulai fokus dengan bacaannya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman.


💦💦💦


__ADS_2