
Alis tampak duduk melamun dibangku sekolahnya. Jam pelajaran terakhir telah usai, semua siswa-siswi sekelasnya sudah bubar semua, hanya tertinggal dia dan juga Liza.
"Lis, akhir-akhir ini aku lihat kamu sering melamun. Apa ada masalah?" tanya Liza dengan hati-hati.
Alis tidak bergeming sedikitpun, ia hanyut dalam lamunannya. Rasanya ia ingin melarikan diri saja dari perjodohan ini, ia tidak bisa menghadapinya.
"Pasti mengenai perjodohan lagi." gumam Liza. "Sabar dong Lis, semua akan indah pada waktunya, coba aja kamu lihat dulu orangnya, siapa tahu bukan si Naufal yang kita lihat semalam." ucap Liza menyemangati.
Alis menatap kearah Liza dan ia menganggukkan kepalanya. "Kamu benar, tapi Za rasanya aku tetap sulit menerima kenyataan ini. Hidupku rasanya terus dikekang. Aku belum sepenuhnya merasa bahagia karena bertemu mereka, tapi mereka memberikan kungkungan baru dalam hidupku. Apa aku sesial ini?" tanya Alis yang terdengar sedikit putus asa.
"Lis, kamu tidak boleh ngomong kayak gitu. Mereka sayang sama kamu, mereka perhatian sama kamu tapi cara mereka yang cukup keras dalam memperlakukan kamu. Coba kamu pahami mereka Lis, siapa tahu semua ini adalah memang sesuatu cara terbaik dalam menjagamu." ucap Liza sambil memeluk Alis.
"Woy...! lama amat. Alis! ada yang nungguin tuh!" Alex yang berada diluar kelas tampak berteriak. Ia tidak sabar lagi melihat Liza dan Alis yang dari tadi hanya diam dan terlihat sedih. "Cepetan woy!" teriaknya lagi.
Liza memutar bola matanya dengan malas kemudian melototkan matanya pada Alex saat mereka sudah tiba didepan Alex. "Ih ganggu orang aja." ucap Liza membarengut kesal.
"Yank, jangan gitu dong. Aku cuma ingin pulang bareng." ucap Alex sambil mengejar Liza yang sudah merajuk.
Alis terkekeh melihat semua itu.Ia tidak menyadari ada seseorang disampingnya.
"Alis, pulang bareng yuk." ajak Al
Alis menoleh dan melihat keberadaan Al disitu, tepat dihadapannya. "Al." Lirih Alis sambil tersenyum manis. Ia menganggukan kepalanya, Al menggandeng tangan Alis dengan lembut.
"Lis, kamu sore ini sibuk tidak?" tanya Al.
Alis menatap kearah Al sesaat kemudian ia menggeleng. Tadi, ia sudah menghubungi Januar dan mengatakan tidak akan pergi kekantor hari ini, apalagi Januar juga tadi mengatakan bahwa dikantor juga tidak ada pertemuan penting atau rapat dan juga bertemu klien.
"Tidak. Aku hari ini bebas. Memangnya kita mau kemana?" tanya Alis sambil menatap pegangan tangan Al pada tangannya. Ia merasakan perasaan hangat saat bersama Al dan juga merasakan kenyamanan.
"Sesuai dengan janjimu kemarin." ucap Al sambil tersenyum. Ia membukakan pintu mobil untuk Alis saat mereka sudah tiba diparkiran sekolah.
"Memangnya kemana Al?"
"Rahasia dong, kejutan buat kamu." ucap Al. 'Dan juga buat seseorang.' ucapnya kemudian didalam hati. Ia sudah memposisikan dirinya duduk dibalik kemudi.
Mobil mereka berjalan dengan kecepatan normal saat sudah keluar dari lingkungan sekolah. Alis menatap kearah jalanan yang terlihat ramai, ia melupakan keberadaan Al sesaat dan kembali hanyut dalam lamunannya. Sedangkan Al sesekali melirik kearah Alis yang terlihat berbeda dari biasanya, seperti dihinggapi oleh seribu masalah.
__ADS_1
"Lis, apa kamu ada masalah?" tanya Al dengan hati-hati.
Alis menatap kearah Al dan bersikap kembali seperti biasa. Kali ini ia kecolongan lagi sedang melamun tapikan biasanya si Al yang selalu ada untuknya disaat dirinya sedang dalam masa krisis. Alis meringis memgingat itu semua. "Ada,sedikit." ucap Alis dengan senyum tipisnya.
"Apa?" tanya Al yang juga tersenyum karena tertular dari senyum Alis.
"Aku lapar Al." ucap Alis tanpa basa-basi.
"Oh itu masalahnya, kamu tenang aja, sebentar lagi kita akan sampai kok." ucap Al tanpa menoleh kearah Alis lagi.
Alis menatap kearah depan, mereka sedang berada didepan rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi. Bahkan pagar itu membuka secara otomatis. "Ini rumah keluarga kamu Al?" tanya Alis sambil menatap kearah taman bunga milik mamanya Al, Harwinda.
Al mengangguk, ia turun dari mobil dengan diikuti oleh Alis.
Belum sempat Al mengetok pintu, pintunya sudah terbuka terlebih dahulu.
"Eh den Al." ucap asisten rumah tangga mereka. Ia menatap kearah Alis dan tersenyum manis. Baru pertama kali ini ia melihat majikannya membawa seorang perempuan kerumahnya.
"Mama ada, Bi?"
Al mengangguk dan mengajak Alis memasuki rumah mereka, ia berjalan melewati ruang tamu menuju kearah ruang keluarga. Pasti mamanya sedang berada disana, sekedar merajut atau juga menyulam.
"Mama, Al pulang." ucap Al dengan sedikit berteriak setelah melihat mamanya didepannya.
"Al, jangan teriak-teriak Al, ini bukan hutan loh." ucap Harwinda masih tetap fokus dengan kain dan jarum ditangannya.
"Mama ada-ada aja eh, aku bukan hewan liar loh." ucap Al sambil menyodorkan tangannya pada ibunya, yang disambut oleh Harwinda.
Harwinda mendongakkan kepalanya saat ada sebuah tangan lagi yang disodorkan dihadapannya. Ia terperanjat menatap gadis yang sudah lama tidak ia temui. Harwinda dengan segera berdiri dan langsung memeluk Alis. "Alis, kamu apa kabar sayang? Sudah lama tante tidak melihatmu." ucap Harwinda sambil melepaskan pelukannya. "Kita kedapur yuk, kamu pasti lapar." ucapnya lagi sambil menarik Alis kearah dapur.
"Yah cuma Alis yang digituin ma. Al kan yang anak mama." ucap Al mendramatisir, namun ia begitu senang melihat semua itu. Mereka tampak seperti ibu dan anak yang lama tidak bertemu. Al tersenyum dan menggeleng untuk mengusir pikirannya tersebut. Ia segera menyusul mereka yang sudah menghilang dibalik tembok dapur.
Alis dan Al duduk dimeja makan, sedangkan Harwinda kembali keruang keluarga setelah ia menyiapkan untuk anaknya dan juga Alis. Ia kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Al dan Alis makan dalam diam, bahkan kali ini Al terlihat lebih lahap dari biasanya. Ia selalu saja memandang kearah Alis, hatinya selalu berdebar saat matanya dan mata Alis bertemu.
Setelah selesai makan, dengan segera Alis membereskan meja makan dan juga memcuci bekas peralatan mereka makan, sedangkan Al hanya mengikuti dan melihat dari belakang.
__ADS_1
"Duh, Alis. Tidak usah dicuci piringnya, biar bibi aja.nanti yang mencucinya." ucap Harwinda yang sudah berada dibelakangnya.
"Tidak apa-apa kok tante, ini juga sudah selesai." ucap Alis sambil meletakkan piring terakhir pada tirisan piring.
"Ya udah, sekarang kamu ganti baju ya. Kebetulan tante ada baju yang tidak dipakai dikamar tante." ucap Harwinda sambil menggiring Alis menuju kearah kamarnya.
Alis segera membersihkan dirinya dan memakai dress berwarna biru dibawah lutut dan berlengan seperempat. Ia tampak cantik dengan dress tersebut, Harwinda berdecak melihatnya.
"Udah, kita keluar yuk. Kamu dan Al ingin kencankan?" tanya Harwinda pada Alis.
Alis yang mendengar itu tampak merasa malu, pipinya tampak memerah.
"Udah-udah, ga usah malu. Tante juga pernah muda loh." ucap Harwinda kembali menggiring Alis kelantai bawah.
Al terperangah melihat Alis yang tampak sangat cantik dimatanya, ia begitu manis apalagi dengan dress yang terlihat sangat cocok ditubuhnya. Bahkan, ini yang pertama kalinya Al melihat Alis memakai pakaian seperti ini, biasanya is selalu melihat Alis yang dibalut dengan jeans dan juga baju kaos berlengan panjang.
"Kamu cantik Lis." ucap Al dengan jujur.
Alis kembali merona mendengar pujian itu, ia berusaha menormalkan debar jantungnya yang menggila. 'Kenapa jantungku tiba-tiba sakit.' gumam Alis dalam hatinya sambil mengepalkan kedua belah tangannya.
"Dia memang cantik Al, kamu beruntung mendapatkan pacar seperti Alis." ucap Harwinda. "Sudah, sana kalian pergi kencan. Ini kencan pertama kaliankan?" ucapnya lagi.
Al menganga mendengar penuturan ibunya yang salah paham dengan semua ini, ia menggaruk kepalanya dan tersenyum nyengir.
"Ma, Alis bukan pacar Al ma. Dia cuma teman Al kok." ucap Al. Namun didalam hati ia mengaamiinkan ucapan ibunya dan berharap lebih daripada ucapannya.
"Memang belum Al, tapi akan. Oke!" Harwinda mengacungkan jempolnya. "Udah, sana kalian jalan-jalan berdua." usirnya.
Al dan Alis berjalan keluar rumah dan berpamitan pada ibunya. Ia bermaksud untuk memberi kejutan pada ibunya, namun malah ibunya yang memberinya sedikit kode. Ia tersenyum senang sambil melirik kearah Alis yang bersikap seperti biasa. Ia juga tidak tahu akan pergi kemana.
"Lis, kamu ingin pergi kemana?" tanya Al.
Alis menatap kearah Al dan tersenyum manis. Ia ada ide kali ini, ia juga sudah lama tidak melakukannya. "Ikuti saja intruksiku." ucap Alis yang diangguki oleh Al.
Al menghidupkan starter mobilnya dan melaju membelah jalanan kota tempat tinggal mereka.
💦💦💦
__ADS_1