
Al menyetir mobilnya dengan tenang, namun berbeda dengan jantungnya. Sejak Alis duduk disampingnya, ia hanya merasakan ritme debaran yang semakin lama semakin membuatnya ingin mengeluarkan jantungnya dari tubuhnya karena semakin kerasnya berdetak. Sesekali ia melirik kearah Alis yang sejak tadi tidak bergeming dengan bukunya. Sepertinya ia tidak perduli dengan jalan yang mereka lalui karena sejak pertama masuk mobil tadi tidak ada percakapan diantara mereka bahkan Alis sibuk tenggelam dalam lautan huruf dan angka.
"Alis-Alis, sepertinya kamu tidak perduli mau aku bawa kemana, bagaimana kalau aku menculikmu?" tanya Al dengan melirik sesaat kearah Alis yang sudah memutar kepalanya kearah Al.
Tatapan mata Alis terlihat begitu teduh, tiba-tiba kembali membuat jantung Al berdetak dengan cepat. Ia mengalihkan pandangannya dan tidak ingin lagi melirik kearah Alis. Perempuan ini sudah mengganggu kesehatan jantungnya. Al tersenyum, ia begitu menikmati debaran jantung yang menurutnya berirama lebih keras dari biasanya.
"Apa benar kalau kamu ingin menculikku?" tanya Alis setelah ia menutup bukunya. Ia menatap kearah Al yang meliriknya dengan tersenyum manis.
Al kembali berdebar saat melihat senyum Alis yang begitu mempesona. Rasanya ia begitu sesak dan lupa caranya bernapas tapi ia berusaha agar gestur tubuhnya terlihat biasa saja. Oh... Tuhan, entah dapat nikmat darimana ini hingga Alis selalu membuatnya berdebar-debar dan berulang-ulang.
Alis memperhatikan jalan yang mereka lewati, jalan ini terasa asing dimatanya, namun ia berusaha untuk tidak bertanya pada Al karena ia ingin ini menjadi satu kejutan besar untuknya.
Alis kembali membuka bukunya dan ia membacanya hanya sebagai pengalihan rasa agar ia bisa bersikap normal dan tidak gugup dihadapan Al. Entah kenapa i a sekarang merasa berbeda dari biasanya. Ia selalu ingin tersenyum saat ini, entah apa sebabnya, apakah ada hubungannya dengan kehadiran lelaki disampingnya ini.
"Lis, kita sudah sampai," ucap Al yang sudah melepaskan sealbeth dari tubuhnya.
Alis melirik sesaat kearah Al, ia berusaha fokus dengan dirinya saat ini. Rupanya tadi pikirannya melanglangbuana, bahkan buku yang dibukanya masih berada dihalaman yang sama seperti diawal ia buka.
__ADS_1
Alis mendengar debur ombak dan juga menghirup harumnya angin laut yang berhembus dingin dan menusuk kulit putihnya. Ia menatap kearah Al yang masih menatapnya dengan intens.
Alis berdehem untuk mengusir rasa canggungnya, Al kembali menatap kearah depan setelah ia sadar dari pandangannya yang menatap takjub pada paras Alis yang cantik dimatanya.
"Kita turun yuk!" ajak Al yang sudah membuka pintu mobilnya yang disusul oleh Alis yang juga mengikuti langkahnya.
Angin pantai berhembus dengan frekuensi sedang, hingga menerbangkan rambut Alis hingga berantakan, namun justru itu menambah poin plusnya dimata Al, ia terlihat seksi. Al menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran anehnya. Ia mendekat pada Alis yang masih memejamkan matanya seperti merasakan alam ini.
Al menatap kearah Alis sekali lagi, ia meraih tangan Alis dan menggenggamnya lembut sehingga membuat Alis terperanjat dengan sikap Al yang tiba-tiba. Namun ia membiarkannya saja, ia ingin tahu kemana Al akan membawanya.
"Alis, kita jalan-jalan ditepi pantai itu, jangan lepaskan genggaman tanganmu," tunjuk Al pada tepi pantai dan mengangkat tangan yang digenggamnya untuk diperlihatkan pada Alis, ia menautkan jari-jemari mereka sehingga saling menggenggam. Alis tersipu dibuatnya.
Mereka berjalan-jalan dengan santai ditepi pantai tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, bahkan sesekali mereka menghindar dari gelombang laut yang berlarian kearah pantai.
Alis meresapi kebersamaan mereka, sesekali ia menatap kearah laut yang tidak bertepi, mungkinkah hatinya bisa seluas samudera dan melepaskan bayang-bayang masa lalu. Ia tidak tahu, entah apa alasan Al membawanya kesini, ketempat indah ini tapi ia sangat menyukai suasana ini. Berjalan bersama seperti sepasang kekasih, ya seperti sepasang kekasih.
"Alis, kamu tunggu disini ya," pinta Al sambil melepaskan genggaman tangannya. Ia sebenarnya tidak rela untuk berpisah dari Alis namun ia juga ingin kembali melihat senyum Alis yang manis.
__ADS_1
Alis hanya mengangguk dan tersenyum tipis sambil menatap kepergian Al dari hadapannya. Ia kembali menatap kearah laut yang ombaknya terlihat berkejar-kejaran. Alis ingin merasakan kembali air laut yang cukup jauh dari tempatnya berada. Dengan perlahan ia berjalan kearah tengah laut tanpa alas kaki, matanya tidak pernah lepas memandang laut, ia begitu takjub hingga tidak menyadari bahwa ia sudah berjalan ketengah dan air laut sudah sebatas pahanya.
"Alis!!" teriak Al yang melihat Alis sudah berada di air laut, namun tidak ada pergerakan kepala Alis yang terlihat. Al merasa cemas bahkan sangat cemas, ia melepaskan layangan yang ada ditangannya dan berlari kearah Alis, ia tidak ingin hal yang tidak diinginkannya terjadi. Tidak, dia tidak akan membiarkan Alis mati begitu saja.
Alis sudah menghilang didalam air, Al seperti orang kesetanan. Ia bahkan beberapa kali menyelam untuk mencari keberadaan Alis, tetapi hasilnya nihil.
Saat Al berdiri dan menatap kearah laut lepas, Alis muncul dihadapannya dengan senyuman merekah dibibirnya. Rupanya ia berhasil mengerjai Al sehingga Al menjadi kalang-kabut dibuatnya.
Alis begitu terkejut saat Al tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat bahkan ia bisa merasakan debaran jantung Al yang berdetak begitu cepat. Secemas itukah dia pada Alis, Alis merasa bersalah kini karena sudah mengerjai Al sampai segitunya.
"Lis, jangan seperti itu lagi, aku takut. Aku benar-benar takut kalau hal buruk akan terjadi padamu," ucap Al sambil menatap wajah Alis.
Alis terdiam dan terperangkap dalam bola mata kelam itu, ia hanya bisa memandang wajah Al yang semakin mendekat kewajahnya. "Tidak, ini tidak boleh terjadi," gumam Alis didalam hatinya. "Kami bukan siapa-siapa," bisik hatinya lagi. Alis memalingkan wajahnya kearah kanan sehingga hanya pipi Alis yang tersentuh oleh bibir Al.
Al membuka matanya dan menatap wajah Alis yang masih memalingkan wajahnya. Ia menyadari kesalahannya. "Ma'af, aku terlalu terbawa suasana, tapi satu hal yang kamu harus tau. Aku perduli padamu karena aku memang sayang kamu. Aku cinta kamu." ucap Al sambil membelai wajah Alis.
Alis sedikit terbuai dengan kata-kata Al, ia menatap kearah manik mata hitam itu, ia mendapati keseriusan itu disana, ia tahu kalau Al begitu memperhatikannya namun ia tidak dapat menebak soal cinta ini. Alis merasa dirinya melambung, apakah ini juga perasaan yang sama? Alis tidak tahu, ia masih terperangkap dalam bola mata Al yang hangat hingga hantaman debur ombak menyadarkan mereka.
__ADS_1
💦💦💦