
Al sedang bersama dengan Alis ditaman belakang sekolah. Awalnya memang iya, dia bermaksud keperpustakaan namun Al mencegatnya saat mereka bertemu ditengah lorong sekolah. Dan Al menariknya ketaman belakang sekolah, hingga mereka berdua kini duduk dibangku taman belakang sekolah, lebih tepatnya dibawah pohon ketapang.
Al hanya ingin memastikan semuanya saja, karena benar, ia tidak boleh menyerah hanya karena mendengar sesuatu yang belum pasti kebenarannya ataupun sesuatu yang dilihat namun tidak pada kenyataannya. Seperti apa yang dibilang oleh ibunya dan juga Aldo kemarin bahwa semua yang terlihat dan terdengar itu belum tentu seperti kenyataannya. Dengan bermodal nekat dan juga semangat dari teman-temannya, Al akhirnya memberanikan diri untuk bertemu dan bertanya langsung pada narasumbernya.
Tapi apa yang harus ditanyakannya? Al tersenyum canggung saat duduk bersama Alis. Sudah sejak 10 menit yang lalu mereka duduk berdua dalam diam. Al tampak bungkam memikirkan kata apa yang pas agar tidak terdengar aneh ditelinga Alis. Al terlihat bingung. Sementara Alis yang memang pendiam, hanya menikmati hembusan udara dan sejuknya hawa yang masih pagi. Ia terlihat begitu menikmatinya. Bahkan ia tidak dapat merasakan aura tegang yang dirasakan oleh Al karena saking canggungnya.
Alis memejamkan matanya sesaat untuk menikmati ketenangan ini tanpa memperdulikan makhluk yang berjenis laki-laki disampingnya tersebut.
"Lis, aku minta ma'af."
Alis tampak terperanjat setelah mendengar Al yang membuka suara setelah sekian lamanya mereka duduk disini.
"Sudah selama setahun baru kamu bersuara."
"Hah? Apa?" Al tampak terkejut dengan kata-kata Alis yang tidak dia pahami. Cukup lama ia memikirkannya sambil menatap Alis yang sudah memejamkan matanya kembali. Al tersenyum ringan, hatinya begitu bahagia sepagi ini, tidak seperti hari kemarin yang terlihat sangat kacau bahkan uring-uringan. Al terkekeh sesaat, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ternyata bisa bercanda juga gadis kaku ini.
"Untung masih setahun, coba kalau seabad apa kamu masih mau menunggu?"
Alis mengedikkan bahunya dan berdehem sekali.
"Tidak ada kata menunggu dalam hidupku, semua bergulir sesuai dengan kehendak semesta. Apapun itu, aku sudah pernah mengalaminya. Kecuali satu." Masih dengan memejamkan matanya Alis menjawab. Kali ini ia terlihat keceplosan dalam berbicara ataukah ia yang merasa nyaman saat bersama Al sehingga melepas kata-kata dalam seperti itu.
"Apa?" Al penasaran dengan akhir kata yang disembunyikan Alis.
"Rahasia." Alis membuka matanya dan menatap Al dengan tersenyum manis.
Al tampak terperangah, ia menatap barisan gigi Alis yang memutih. "Cantik..."
Alis merubah ekspresinya saat mendengar kata-kata Al barusan, ia berdehem sekali. Rasanya ia baru saja bermimpi sedang berada ditaman yang indah bersama sahabat hatinya, ibunya. Sehingga ia tersenyum manis.
"Aku mau keperpustakaan." Alis beranjak dari duduknya.
"Tunggu." Al memegang tangan Alis yang sudah ingin berbalik.
"Apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Al menarik napasnya sesaat. Apakah ia terlalu lancang apabila bertanya hal yang dalam mengenai sesosok gadis didepannya ini. Begitulah kata-kata yang terpatri dibenak Al.
"Alis, luka dijidatmu itu bekas apa?" Al membuka pertanyaan dengan hal ringan dulu, kebetulan perban itu masih menempel disana. Ia baru mengingatnya setelah mengingat percakapan orang tuanya tadi malam. Kebetulan luka dijidat Alis berada disebelah kiri dan Al duduk sekarang berada disebelah kanan Alis, jadi tidak terlihat jelas dari samping kanan.
"Oh, ini. Bekas terbentur pintu. Kenapa?" Alis kembali mendudukan dirinya disamping Al.
"Tidak, hanya bertanya saja. Sepertinya cukup parah, apa sudah diperiksa kerumah sakit?"
Al berharap kalau dirinya tidak salah dengan memberi pertanyaan pancingan. Ia memejamkan matanya sesaat dan hatinya menggelitik berdo'a agar Alis mau menjawabnya.
Duar! Bagai bom waktu, akhirnya Alis mau membuka mulutnya, detik-detik yang dilaluinya bagaikan rasa berjam-jam.
__ADS_1
"Sudah."
"Kapan?"
"Kemarin."
Ini kenapa sih cuma sekata-sekata saja, tidak berkembang gitu jawabannya.
"Sendiri?"
"Apa?"
"Kerumah sakitnya."
"Tidak."
"Lalu?" Al menginginkan jawaban yang panjang dari Alis, bukan jawaban singkat seperti ini. Misalnya dengan penjelasan, begitu.
Alis menatap kearah Al, ia heran dengan Al yang tidak puas dengan jawabannya bahkan menjalar kemana-mana. Bukannya menanyakan keadaan lukanya, ini malah menanyakan orang yang bersamanya.
"Aku ingin keperpustakaan." Alis merasa jengah, ia menatap Al dengan tatapan tidak terbaca.
"Oke-oke, tapi jawab dulu pertanyaanku."
Alis kembali bingung. "Yang mana."
"Hah, yang lalu apa? Yang mana?"
Al menggaruk kepalanya karena Alis yang tampak bersikap masa bodoh didepannya.
"Yang tadi. Yang lalu."
Alis hanya bungkam sambil melirik kearah Al yang menatap kearahnya.
"Maksudku, kamu perginya bersama siapa?"
"Kakak."
"Hah! kakak? Kamu punya kakak?" Al terkejut mendengar penuturan Alis tersebut. Ia menatap kearah Alis yang mendelik kesal padanya.
Buang-buang waktu saja. Memangnya aku apa? Alien? yang tidak punya sanak saudara.
Alis menggerutu didalam hatinya. Ia berdiri dan melangkah pergi menuju kearah perpustakaan. Al yang melongo kaget dengan kata kakak yang diucapkannya tampak semakin melongo melihat sikap Alis yang tampak labil.
"Aku akan cari tahu sendiri tentang semua ini." Al bergumam dengan perasaan leganya. Karena apa yang dikhawatirkannya tidak akan pernah terjadi. Mungkin.
💦💦💦
Alis melangkah dengan perlahan menuju kearah perpustakaan. Langkahnya terhenti karena mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Alis, kamu darimana saja. Aku mencarimu tadi kekelasmu dan juga perpustakaan tapi tidak ada. Padahal katanya Liza kamu ada diperpustakaan."
Alis tampak menatap kearah Angga yang sudah berada didepannya. "Ada apa?"
Angga menatap sekitar, beberapa siswa-siswi tampak berlalu lalang dan beberapa dari mereka tampak memperhatikan Alis dan dirinya.
"Sebaiknya kita ketempat yang lain saja, disini kurang nyaman."
Alis mengikuti langkah Angga yang menjauhi perpustakaan. Sekarang mereka sedang berada dibawah pohon durian yang berada di samping lapangan depan sekolah.
"Lis, apa kamu dihukum oleh dewan guru?"
Alis mengerutkan dahinya, ia bingung dengan pertanyaan Angga yang terbilang aneh dan ngawur.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, hukuman apa yang kamu jalani karena kesalahanmu kemarin?"
Alis semakin mengerut dalam, ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini. Ia berusaha mencerna sedikit demi sedikit. Kesalahan apa? Aku tidak bersalah. Oh tunggu dulu, ini pasti masalah romur itu lagi.
"Maksudmu romur itu?"
Angga menganggukkan kepalanya.
"Bukankah aku sudah bilang kemarin bahwa aku tidak hamil." Alis menegaskan setiap kata yang diucapkannya. Ia kesal dengan Angga yang menuduhnya dengan seenaknya saja.
"Lalu, romur itu?"
"Tentu saja romur itu bohong."
"Jadi, kamu tidak dihukum? Lalu kenapa pagi tadi kamu keluar dari ruang kepala sekolah bersama kak Januar bahkan tidak lama setelah itu disusul dengan guru BK."
"Hanya meluruskan kesalahpahaman yang ada mengenai romur itu, coba kamu lihat berita terupdate disekolah kita, pihak sekolah sudah mengkonfirmasi bahwa romur itu tidak benar."
Angga mengambil handphone yang ada dikantongnya dan melihat berita itu. Kenapa dia ketinggalan berita begitu, biasanya ia selalu paling tau duluan.
"Ma'af, aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Gimana kalau aku mentraktir kamu makan dikantin sebagai permintaan ma'afku padamu."
Alis menatap Angga yang berharap penuh padanya, ia yang memang tidak tegaan, akhirnya menganggukan kepalanya.
"Tapi, ajak yang lainnya juga, termasuk Liza."
Angga mengangguk pasti. Ia mengirim pesan digroup gengnya. Dan menyuruh Irfan untuk mengajak Liza dikelasnya.
"Kita tunggu mereka dikantin saja, mereka akan menyusul."
Alis mengangguk dan mengiringi langkah Angga menuju kearah kantin dengan diiringi tatapan tidak suka dari seorang Aldebran dari kejauhan.
💦💦💦
__ADS_1