
Al tersenyum kearah Alis sambil memegang 2 buah layangan. Mereka ingin memainkannya dilapangan hijau. Saat ini mereka sedang berjalan menuju kearah tengah lapangan. Beberapa anak terlihat sedang bermain bola bersama temannya, beberapa lagi ada yang bermain kelereng.
"Aku yang pegang dan kamu yang menaikkan layangannya." ucap Alis sambil meraih layangan yang terdapat ditangan kanan Al. Al tersenyum dan mengangguk. Ia masih mengingat tekhnik yang diajarkan Alis dulu.
Alis berjalan mundur membawa layangan ditangannya, sedangkan Al mengulur tali layangannya. Setelah terdengar aba-aba dari Al, Alis melepaskan layangan yang ada ditangannya. Al berlari agar layangannya bisa naik keatas. Alis tampak bersorak setelah melihat layangan Al sudah mengangkasa. Begitupun dengan layangan yang satunya, giliran Alis yang menaikkannya. Alis memang piawai dalam bermain layangan sehingga layangannya sudah mengangkasa dalam waktu yang singkat.
"Alis, apa yang kamu suka dari sebuah layangan?" tanya Al sambil menatap kearah Alis yang sedang memperhatikan layangan yang sedang mengangkasa diatas.
Alis tersenyum manis mendengar pertanyaan Al tersebut. Dengan posisi yang masih sama, ia menjawab pertanyaan Al.
"Semua yang ada pada layangan, aku menyukainya. Dari tekhnik menaikkannya hingga memainkannya dan juga menurunkannya. Layang-layang itu tidak akan bisa naik tanpa bantuan angin dan juga disaat ia sudah tinggi, maka akan semakin kencang angin yang menghembusnya. Tapi coba lihatlah, layangan yang diawal pembuatannya sudah ditimbang dengan benar maka hasilnya saat terbangpun juga sudah maksimal. Tapi, layangan juga tidak akan bisa terbang tinggi kalau cuaca tidak mendukung, tempat yang tidak pas dan juga situasi yang tidak memungkinkan." tunjuk Alis masih tetap memandang layangan tersebut.
Al hanya mrngangguk saja membenarkan apa yang dikatakan oleh Alis. Ia pernah mencoba membuat layangan sendiri, namun hasilnya sangatlah tidak bagus. Layangan itu selalu menyeruduk saat ia mencoba untuk menaikkannya. Dan akhirnya ia membeli sebuah layangan, hanya demi ingin belajar agar bisa menaikkannya seperti yang pernah dilakukan oleh Alis.
"Sebuah layangan ini menurutku mengajarkan kita tentang arti hidup. Kau tau, saat layangan yang kita kendalikan sudah naik tinggi, itu sangatlah menyenangkan. Tapi saat ia putus, kamu harus merelakannya. Walaupun itu adalah layangan terbaikmu ataupun yang paling berharga sekalipun, kamu harus ikhlas. Karena semua itu adalah pilihan terbaik. Tapi selama kamu memegang tali layanganmu, maka jangan sekali-kali kamu lengah dan melepaskannya, karena dengan memegangnya erat maka kamu akan bisa mengendalikannya dan mengarahkan layanganmu." ucap Alis yang terlihat sendu.
Tapi hidupku tidak seperti layang-layang yang indah, layangan yang dulunya sempat putus. Tapi kini saat ditemukan sang pemiliknya, ia tidak sempurna lagi. Ia terus dikendalikan sang pemiliknya walaupun sang pemilik tahu bahwa layangan miliknya sudah tidak seperti dulu lagi. Ya, akulah layangan itu.
Ucap Alis dalam hati. Gemuruh didadanya menyesak, namun sebisa mungkin ia menghalau rasa sedihnya, ia tidak ingin bersedih dalam momen ini. Alis tersenyum getir menatap kearah Al. Ia ingin melupakan sejenak tentang hidupnya dan bersenang-senang sesaat sebelum penjara keabadian datang padanya.
Al menatap kearah Alis, ia melihat kesedihan yang mendalam didalam mata Alis yang berusaha untuk ditutupinya. Al ingin menjadi pelindung Alis dan orang satu-satunya yang bisa membuat Alis bahagia. Tapi ia tak tahu, bahwa esok hari tidaklah semudah hari ini dalam mewujudkan keinginan dan harapannya.
Setelah puas mereka bermain layang-layang, Al mengajak Alis untuk kembali pulang kerumahnya. Ia ingin memperkenalkan Alis pada ayahnya. Sekaligus memenuhi keinginan ibunya.
"Lis, makan malam dirumah ya? Mama udah nungguin." ucap Al sambil memperlihatkan sebuah notif pesan dari ibunya.
Alis tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa hari ini ia merasa bahwa ini adalah hari terbaiknya, biarkan saja ia melepas semua kebahagiaannya hari ini, sebelum kungkungan itu datang padanya. Biarkan ia tersenyum bersama Al sebelum senyum itu menghilang dari wajahnya saat esok kembali datang.
Mobil yang dikendarai oleh Al melaju dengan kecepatan rata-rata dalam perjalanan pulang. Senyum mereka berdua terus terukir sepanjang jalan. Tidak ada lagi pembicaraan yang mereka ucapkan, hanya terdengar lagu dari mp3 mobilnya Al.
__ADS_1
Alis menapaki halaman rumah Al dengan perlahan, saat mereka memasuki pintu yang sudah terbuka. Al berhenti sesaat untuk memperhatikan mobil ayahnya yang sudah terparkir dihalaman rumah, yang artinya ayahnya sudah pulang kerumah.
"Alis, kita kedapur yuk bereksperimen menuangkan ide masakan." ujar Harwinda yang menyambut Alis dan menariknya kearah ruang belakang rumah mereka.
Alis hanya mengangguk dan mengikuti langkah Harwinda yang menggiringnya masuk. Alis merasa tidak sungkan terhadap Harwinda, ia begitu lembut dan perhatian layaknya seorang ibu pada anaknya. Sebab itulah Alis merasa sangat nyaman saat bersama Harwinda.
Alis tidak hanya membantu Harwinda saat didapur. Ia juga memasak beberapa menu andalan yang ia bisa. Mereka berkutat hingga 1 jam kemudian.
"Alis, gimana kencan pertamamu, sayang?" tanya Harwinda saat Alis sedang menyiapkan peralatan makan dimeja makan.
Alis menghentikan kegiatannya, ia tampak bingung mendengar kata-kata Harwinda. Kencan? Apakah seperti itu orang yang kencan. Sedangkan mereka tidak memiliki hubungan apapun juga.
"Buk..." belum sempat Alis menjawab pertanyaan Harwinda, ia sudah disela oleh seseorang terlebih dahulu.
"Sangat menyenangkan ma, lihatlah! sejak pertama dia kembali hingga sekarang, wajahnya tampak bahagia dan juga tidak pernah melepaskan- senyumnya." ucap Al sambil menatap Alis yang melotot kearahnya. Alis menundukan kepalanya karena malu.
"Tuhkan... pipinya memerah, jadi gemes deh." ucap Al yang menggoda Alis.
"Ini ada apa sih, kok rame bangat? Sepertinya ayah sedang ketinggalan berita nih." ucap Arya yang sudah memposisikan dirinya duduk dikepala meja makan. Ia mengerinyit heran saat melihat seorang gadis yang sedang menunduk, ia menatap Al dengan penuh tanya.
"Ini Alis pa, yang aku dan mama ceritakan waktu itu." ucap Al dengan senyum tipisnya.
Arya mengangguk dan menatap Alis yang perlahan mengangkat wajahnya. Ia terkejut dengan keberadaan gadis didepannya ini. "Syaiba!" ucap Arya spontan. Ternyata dunia begitu sempit hingga mereka kembali bertemu dalam acara yang juga cukup baik, yaitu makan malam. Ia juga tidak perlu susah payah mencari keberadaan gadis ini, karena ia sudah berada didepannya dengan sendirinya.
Alis mengangguk dan menyapa pria paruh baya didepannya ini. Ia tidaklah lupa dengan orang dihadapannya ini yang dulu pernah terancam hidupnya. "Apa kabar om Arya?" sapa Alis dengan sopan.
"Baik, seperti yang kamu lihat sendiri." ucap Arya.
"Tunggu dulu! kalian sudah saling kenal sebelumnya pa?" tanya Al yang merasa heran dengan keakraban ayahnya dan Alis. Arya mengangguk sambil menatap anak dan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak cerita pa?" tanya Al.
"Papa sudah cerita pada kalian, dia yang menolong papa malam itu." ucap Arya.
"Loh, bukannya papa ditolong sama gadis yang bernama__"
"Syaiba?" ucap Arya memotong kata-kata Al. "Ini Syaiba Al." sambung Arya.
"Benar Lis?" tanya Al yang wajahnya sudah berubah memucat. Alis menganggukan kepalanya membenarkan semua itu.
Al kembali diam dan tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Ia begitu terkejut sekaligus sangat kecewa setelah mendengar semuanya. Begitupun dengan yang lain, mereka juga tampak diam setelah melihat perubahan wajah Al yang mendadak pias.
"Masakannya ini tidak biasa, enak bangat lagi. Mama dapat resep darimana?" tanya Arya pada istrinya untuk mengusir atmosfer yang mencekam.
Harwinda tersenyum dan menatap kearah Alis. "Alis yang masak Pa. Dia sangat pandai memasak loh. Lain kali mama ingin masak bareng Alis lagi, Alis maukan?" tanya Harwinda.
Prang.
Bunyi sendok yang dijatuhkan oleh Al, ia menggeser kursinya dan berdiri. "Aku sudah selesai." ucap Al pergi darisana tanpa menoleh sedikitpun pada Alis.
Alis yang tadinya ingin menjawab kata-kata Harwinda kembali bungkam. Ia menundukkan kepalanya, merasa tidak nyman dengan situasi ini.
"Tuh anak kenapa sih, tiba-tiba bersikap seperti itu. Tadinya dia baik-baik saja." gumam Harwinda sambil memperhatikan punggung Al yang menjauh.
"Mungkin dia sedang ada masalah ma." ucap Arya sambil melirik kearah Alis.
"Alis, Om belum sempat mengucapkan terima kasih padamu, karena sudah menolong Om dan juga Al. Tapi satu pinta Om, jangan kecewakan Al. Seperti apapun dirimu dan terlepas dari semua itu, Om akan berterima kasih lebih lagi padamu. Tapi jangan ambil kesempatan itu dari kami." Arya berdiri dan berlalu dari hadapan Alis. Menyisakan kebingungan dibenak Alis dan juga Harwinda.
"Udah Lis, jangan diambil hati. Mungkin om Arya lagi banyak masalah dikantornya, begitu juga dengan Al." Harwinda menatap kearah Alis yang mengangguk, ia paham kalau perasaan Alis sedang terluka sekarang. Bahkan napsu makan Alis yang semula baik-baik saja, tiba-tiba menghilang. Ia merasa tidak nyaman berada dikeluarga ini. Entah apa yang membuat Al tiba-tiba berubah padanya menjadi lebih dingin dari sebelumnya seakan menyiratkan kekecewaan dan kemarahan.
__ADS_1
💦💦💦