Layangan Kertas

Layangan Kertas
Diabaikan


__ADS_3

Alis bangun dari tidurnya sangatlah pagi, ia mengerjakan seluruh pekerjaan rumahnya dalam waktu singkat. Kini ia sedang duduk dimeja makan untuk menunggu kehadiran kakaknya agar sarapan bersama.


"Alis, kamu kenapa tidak pulang kerumah ayah?" tanya Riyan yang sudah memposisikan duduknya dihadapan Alis.


Alis menatap kearah Riyan dengan mengulas senyum tipisnya, biarlah masalah ini ia menyimpannya sendiri. Ia tidak ingin membuat Riyan sedih karena dirinya. "Hanya kangen rumah kak." ucap Alis sambil menyendok makanan kemulutnya.


"Benarkah?" tanya Riyan tidak percaya dengan penuturan Alis barusan. "Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Riyan sambil menghentikan kunyahannya. Ia mengambil segelas air dan meneguknya untuk mengangsurkan makanan dimulutnya.


"Benaran kak, aku baik-baik saja." ucap Alis sambil menganggukan kepalanya. Ia tersenyum manis untuk meyakinkan keadaannya yang baik-baik saja pada Riyan.


"Baguslah." ucap Ryan kemudian. Sesekali Riyan melirik kearah Alis yang terlihat fokus dengan makanannya. Mereka makan dalam diam, hanya bunyi sendok yang berdenting beradu dengan piring hingga selesai makan. Riyan kembali membantu adiknya yang membereskan alat-alat makan mereka.


"Lis, nanti malam kita makan malam bersama om Subhan dan keluarganya." ucap Riyan saat mereka sudah duduk dikursi ruang tamu.


Alis menghentikan gerakannya yang sedang mengikat tali sepatunya. Ia merasa familiar dengan nama itu, Alis berusaha mengingat-ingat. Ia menatap kearah Riyan dan menganggukan kepalanya. Ia sangat tahu bahwa acara malam nanti adalah acara perjodohan walaupun Riyan tidak memberitahunya secara detail.


Sepanjang perjalanan, Alis hanya diam saja dan tetap fokus dengan buku yang biasa dibacanya. Ia mengabaikan semua yang mereka lewati. Riyan diam-diam melirik kearah Alis. Ia tahu bahwa Alis sedang memiliki masalah, namun ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh, asalkan orang tersebut tidak memperlakukan Alis dengan buruk, maka Riyan tidak akan bertindak. Riyan tahu perasaan anak muda zaman sekarang kalau sedang jatuh cinta, pasti akan ditimpa banyak cobaan. Bahkan terkadang mereka bersikap diluar batas nalar, bahkan terkadang seperti orang gila.


Sesekali Alis memeriksa handphonenya untuk memeriksa jadwal pekerjaannya dikantor yang sudah dikirim oleh Januar melalui via pesan. Jadwalnya tidak terlalu padat.


"Lis, jangan lupa nanti malam." ingatkan Riyan pada Alis sebelum Alis turun dari mobil setelah mereka tiba didepan sekolah. Alis melirik kearah Riyan dan kembali menganggukan kepalanya. Ia bersikap seolah biasa saja dan terlihat tenang, padahal dalam hatinya ia merasa sangat tertekan.


Alis kembali menjadi pusat perhatian karena diantar oleh mobil yang berbeda dari biasanya. Riyan sengaja menggunakan mobil yang lainnya untuk pergi kekantor, karena mobil yang biasa dipakainya sedang ketinggalan dirumah ayahnya.

__ADS_1


Tanpa perduli dengan situasi yang tampak riuh, Alis melangkah dengan santai sambil membaca buku yang terdapat ditangannya. Ia tetap berlalu walaupun mendapat cibiran secara terang-terangan. Seolah semua itu tidak pernah terjadi, dan seolah ia merasa berada ditempat yang sepi.


"Hey! gadis tidak tahu malu. Setiap hari gonta-ganti cowok. Nama sekolah kita jadi tercemar tau." ucap Jessica yang melenggang dengan santai kearah Alis dan mendorong bahu Alis dengan keras. Namun Alis tidak bergeming, ia menatap kearah Jessica sesaat dan kembali menatap kearah buku ditangannya. Ia benar-benar kembali seperti dahulu, pendiam dan acuh.


"Bagaimana Lis, apa kamu sudah merasa bahagia dengan hidupmu yang penuh hina itu? Bahkan, dalam keadaan miskinpun kamu tetap tidak berubah, belagu!" tanya Alifa dengan tersenyum sinis. Ia menatap Alis yang sangat berbeda hari ini, terlihat lebih acuh dari biasanya.


Dengan tetap acuh Alis meneruskan langkahnya yang sempat tertunda. "Alis, tunggu permainan selanjutnya." ucap Alifa dengan berdesis. Alis menatap Alifa dengan tatapan tajamnya, kali ini ia tidak suka mereka terlalu mengganggu privasinya. Tanpa sengaja, matanya menatap kearah Al yang sedang berjalan kearahnya. Pandangannya menjadi sendu. Namun sesuatu yang tak diharapkannya terjadi, Al melewatinya tanpa menatap sedikitpun padanya. Alis meremas dadanya yang terasa sakit dan sesak. Entah kenapa perasaannya kali ini begitu terluka saat Al mengabaikan dirinya. Sungguh, bukan ini yang diinginkannya. Sungguh kenyataan ini tidak diharapkannya. Dan ia berharap semua ini hanyalah mimpi, dan saat ia terbangun nanti, semua akan kembali baik seperti kemarin.


"Heh! apa yang kamu lihat. Jangan sok kecantikan deh berharap semua laki-laki menyukaimu." ucap Jessica yang menatap kearah pandangan Alis. Ia kembali mendorong bahu Alis dengan kencang sehingga Alis terjerembeb karena tidak ada persiapan sama sekali sebelumnya.


Beberapa siswa yang berlalu lalang tampak tak perduli dengan semua itu, bahkan banyak dari mereka yang mentertawakannya, seolah-olah semua itu adalah lelucon bagi mereka. Seketika ia merasa bahwa kehadirannya tak diinginkan dan dia sangat dibenci oleh semua orang. Ia begitu merasa kesepian. Ia mengangkat tubuhnya dengan perlahan dan berjalan kearah kelasnya dengan diiringi sorakan kebencian dari seluruh siswa dilorong sekolah.


"Alis, kamu ga kenapa-kenapakan?" tanya Liza sambil menghampiri Alis yang sedang duduk dibangkunya. Alis menatap kearah Liza sesaat dan ia mengangguk dengan lemah. Ia menelungkupkan kepalanya pada meja didepannya, berusaha memejamkan matanya untuk menghalau rasa sakit didadanya. Bayangan Al yang mengabaikannya kembali melintas dibenaknya. Ia begitu sedih karena semua itu. Ia merasa dituduh dan tanpa berdasar.


Alis mendongakkan kepalanya saat ia dihina-hina. Ia terperanjat dengan keberadaan Alifa yang berdiri dihadapannya. Yang dengan sengaja memasuki kelasnya dan menghampiri mejanya. Pandangannya memutar kearah ruangan kelas, teman sekelasnya tampak berbisik-bisik mencibirnya. Alis berdiri dan berjalan kearah luar kelas tanpa perduli pada pembelaan Liza pada dirinya.


Langkah Alis membawanya naik kerooftop sekolah, ia ingin menenangkan pikirannya yang sedang kacau sejenak. Ia tidak perduli kalau ia melewatkan pelajaran pertamanya.


"Al..." gumam Alis saat melihat punggung seseorang yang berdiri tepat dihadapannya. Ia sangat mengenali punggung itu dan juga postur tubuh itu. Ia ingin mendekat tetapi ia ragu, akhirnya Alis berbalik untuk menghindari Al yang sepertinya sangat membencinya.


Al yang mendengar namanya dipanggil dengan segera membalikkan badannya, ia menatap punggung Alis yang menghilang dibalik pintu rooftop. Ia menggenggam jemarinya dengan kuat untuk menghalau perasaannya yang kembali sakit. Al menyimpan tangannya didalam saku celananya. Dan memejamkan matanya sesaat sambil melangkah menuju kearah pintu keluar rooftop.


Al terlihat sangat berbeda hari ini, ia terlihat sangat dingin dan acuh pada apapun juga. Ia bahkan terlihat lebih dingin daripada Aldo ataupun Angga, tidak ada senyum atau sapaan yang dibalasnya. Ia seolah hidup dalam dunianya sendiri.

__ADS_1


Ia berjalan kearah taman belakang sekolah untuk menenangkan pikirannya yang tampak lebih kacau setelah melihat keberadaan Alis dirooftop tadi. Ia juga berusaha menghindar dari Alis sewaktu pagi tadi, padahal hatinya lebih sakit saat melihat Alis yang terjatuh dan ditertawakan oleh siswa-siswi. Namun ia berusaha menepis semua itu. Ia yakin kalau Alis hanya berpura-pura saja untuk mencari simpati dari orang lain.


Al mendudukan dirinya pada kursi taman yang ada dibawah pohon ketapang. Ia kembali mengingat-ingat saat bersama dengan Alis disini. Saat Alis dengan santainya memejamkan matanya dan saat mereka bersama-sama menghabiskan bekal yang Alis bawa.


Al mengarahkan matanya pada pohon ketapang, tanpa sengaja ia melihat kaki yang terulur, seperti seseorang yang sedang duduk berselonjoran ditanah dan bersandar pada batang pohon ketapang. Al melirik kearah gadis itu, ia tampak curiga. Mungkinkah gadis itu sedang pingsan atau juga sedang terjadi sesuatu yang lain.


Ia menatap kesekeliling taman, hanya sunyi yang didapatnya. Tidak ada seorangpun yang didapatnya selain mereka berdua.


Dengan perlahan Al mendekat dan melihat wajah gadis tersebut, namun gagal. Gadis itu seperti tertidur nyenyak ataupun pingsan dengan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dengan perlahan tangan Al menjulur dan menyibak rambut gadis itu.


Deg.


Al sangat terkejut dengan keberadaan Alis didepan matanya. Dengan sendu ia menatap wajah Alis yang terlihat tidak baik. Bahkan wajah itu menggambarkan kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya Al memeluk dan mendekap Alis, untuk memberikan rasa nyamannya. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan Alis seperti ini. Namun, ia juga menyadari bahwa cintanya akan sia-sia.


"Alis..." gumam Al sambil membelai pipi dan beralih kerambut Alis. Alis menggerakkan tangannya, bergegas Al bersembunyi dibalik pohon dibelakang Alis.


Sedangkan Alis membuka matanya dengan perlahan. "Al..., kamukah itu?" ucap Alis dengan lirih sambil menatap kesekeliling taman, namun nihil. Ia hanya berada seorang diri. Ia kembali melamun, ia baru saja bermimpi tentang Aldebran yang berada sangat dekat dengannya dan itu rasanya sangatlah nyata.


Alis menekuk kakinya dan menyembunyikan kepalanya disela-sela lututnya. Ia mendesah, ia baru saja mulai menyukai seseorang, namun malah menyakitkan yang didapatnya. "Aku harus apa, agar kamu mema'afkanku?" gumam Alis sambil berdiri dan berjaln menjauhi taman itu untuk menuju kearah perpustakaan.


Al yang mendengar semua itu hanya diam saja.Ia menatap gadis yang terlihat sangat rapuh didepannya itu. Yang berjalan dengan perlahan meninggalkannya. Al mendesah dan meraba dadanya yang terasa sakit. Sungguh, perasaan ini sangat menyakitkan. Biarkan ia belajar untuk menghapus rasa yang tumbuh didalam hatinya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2