Layangan Kertas

Layangan Kertas
Dugaan Sementara


__ADS_3

Bastian terhenyak saat mendengar pertanyaan dari remaja yang tidak diketahuinya namanya, bahkan pertanyaan itu sangat dalam dan mengandung berbagai perasaan yang terlihat dari dalam matanya. Perasaan yang seperti diaduk-aduk. Bastian beralih kearah Alam yang mengangguk kearahnya.


"Tunggu sebentar anak muda, aku akan mengantar dokter kedepan terlebih dahulu," ucap Bastian sambil melangkah meninggalkan Al dengan seribu kegelisahannya.


Al hanya menatap kearah Bastian yang berjalan hingga keluar rumah, ia berbalik dan menatap kearah tiga sahabatnya yang duduk terpaku di kursi tamu.


"Den, airnya diminum!" ucap bibi yang baru saja datang dan meletakkan air teh diatas meja dihadapan mereka bersama dengan beberapa cemilan.


"Terima kasih, Bi!" balas Andra dengan sedikit senyuman.


Mata Irfan berkeliling memutari keadaan ruang tamu tersebut, mencari-cari keberadaan foto keluarga yang terpajang disana. Namun tidak ada satupun bingkai foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu tersebut. Mungkin berada diruang keluarga. Irfan masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ditemuinya. Alis benar-benar gadis yang penuh dengan kejutan.


Mata Al masih terpaku menatap kearah Bastian yang kembali memasuki rumahnya. Matanya awas menatap kearah Al yang tetap pada posisinya semula. Ia tidak pernah tahu siapa pemuda didepannya ini. Yang jelas dia sangat mengkhawatirkan Alis. Rasa bersalahnya kembali menyeruak kepermukaan.


"Lebih baik kita duduk dahulu, agar pembicaraan ini bisa kita bicarakan dengan sedikit tenang," ucap Bastian sambil mempersilahkan Al untuk duduk di kursi tamu.


Al hanya menurut saja, ia melangkah menuju kearah kursi tempatnya duduk semula.


"Jadi, bolehkah Om bertanya terlebih dahulu?" Mereka yang ada disana tampak mengangguk setelah Bastian menatap mereka.


"Apakah kalian teman-temannya Alis di sekolah?" tanya Bastian lagi, matanya berkeliling menatap mereka satu-persatu. Mereka kembali mengangguk .


"Jadi benar kalau selama seminggu ini Alis diculik?" tanya Al yang sudah tidak sabar lagi untuk mendengar jawabannya, ia kelihatan benar-benar gelisah.


Bastian mengangguk dengan samar disertai dengan matanya yang memerah. Bahkan dari raut wajahnya terlihat ada penyesalan.


"Kapan?" desak Al lagi.


"Dirumahnya, tepatnya pada saat mereka selesai panen buah seminggu lalu. Bahkan saat memetik buahpun mereka sudah diserang oleh kawanan preman suruhan seseorang."


Al sangat terkejut mendengarnya, matanya tampak membola. Namun ia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dengan bersikap tenang. Kini ada banyak penyesalan didirinya. Ia menyesal karena tidak bisa menjaga Alis waktu itu, tidak bisa melindungi gadis yang dicintainya. Matanya kembali menatap kearah Bastian yang sejak tadi tampak melamun.


"Jadi, Alis diculik saat malam hari?" tanya Al lagi untuk meminta penjelasan.


"Tidak. Dia diculik saat petang, sebelum senja. Rekaman CCTV miliknya sengaja dirusak oleh orang yang tidak dikenal terlebih dahulu untuk memghilangkan jejak."


"Padahal Alis sangat jago bela diri, Om. Kenapa ia bisa diculik, apa musuhnya lebih kuat dari dirinya?" tanya Irfan disela keheranannya.


Bastian kembali terhenyak. Satu lagi berita yang belum pernah didengarnya. Ayah macam apa dirinya hingga perkembangan anaknya sendiri ia tidak tahu.


"Om juga tidak tahu bagaimana mereka bisa menculiknya. Apakah di sekolah, Alis memiliki musuh? Maksud Om, orang yang tidak senang padanya? Tapi itu tidak mungkin terjadi karena Alis sosok yang pendiam dan tertutup," gumamnya lagi sambil menggelengkan kepalanya. Ia menerawang pada ingatannya beberapa saat yang lalu ketika Januar datang dan mengatakan bahwa Alis diculik oleh sindikat perdagangan manusia. Tidak mungkin teman-teman Alis yang masih belia terlibat hal semacam itu.


"Lalu bagaimana perkembangan pencariannya? Apakah sudah ada petunjuk?" tanya Aldo menyela.


"Mungkin akan ada petunjuk karena orang yang menculik Alis sudah tertangkap. Tapi dalang dibalik semua ini masih belum diketahui. Berita inipun baru saja kami terima. Dan anak tertua Om sedang berada di kantor polisi untuk memperoleh keterangan disana. Dan besar kemungkinan Alis sedang dikirim keluar negri."


Deg.

__ADS_1


Perasaan sakit kembali menghujam benak Al, ia mengepalkan tangannya karena begitu murka dengan para penculik tersebut.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Om?" tanya Al lagi.


Bastian menatap Al dengan penuh tanya, ia tidak tahu ada hubungan apa putrinya dengan lelaki yang ada didepannya ini sehingga dia begitu sangat memperhatikan Alis. Apakah pemuda ini kekasihnya? Rasa bersalah Bastian semakin menyeruak kepermukaan, memukulnya tanpa ampun. Ia benar-benar merasa bersalah karena mengatur dengan paksa kehidupan Alis tanpa menanyakan kepada yang bersangkutan terlebih dahulu.


Melihat keterdiaman Bastian, Al tahu bahwa lelaki paruh baya ini merasa sangat terpukul dengan hilangnya putrinya. Apalagi ini adalah yang kedua kalinya ia berpisah dengan putrinya, namun berbeda situasi, begitulah yang dapat ia tangkap dari percakapan Bastian dan dokter Alam tadi.


"Kalau Om perlu bantuan, kami akan siap membantu Om. Kalaupun Om menolak, saya akan tetap memberikan bantuan dengan paksa!"


Bastian menatap terkejut kearah Al. Dugaannya semakin kuat kalau remaja ini ada hubungannya dengan Alis, anaknya. Ia menelisik wajah Al dengan seksama. Ia baru menyadari bahwa wajah Al begitu mirip dengan seseorang.


"Kenapa kamu seperhatian itu pada Alis, bukankah kalian hanya sebagai teman?" tanya Bastian.


Al tersenyum kearah Bastian, senyum tipis. Dari gambaran wajahnya saja Bastian sudah tahu kalau lelaki ini sangat memperhatikan putrinya dan juga mencintainya. Haruskah ia membatalkan perjodohannya seandainya Alis ditemukan dan menerima pemuda ini.


Bastian menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin membatalkan perjodohan yang sudah diaturnya sejak Alis masih sangat kecil. Tidak mungkin ia mau mengingkari perjanjian yang sudah mereka sepakati.


Ternyata disaat seperti inipun Bastian masih sempat-sempatnya memikirkan tentang perjodohan tersebut. Terdengar sedikit egois memang namun itu sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian orang tua pada anaknya, menurutnya.


"Om, ayahku punya koneksi yang luas, bahkan sampai keluar negri. Kalau Om berkenan agar kami membantu, maka aku akan menghubungi ayahku sekarang."


"Tidak. Tidak perlu!" jawab Bastian cepat, menimbulkan banyak tanya dibenak mereka berempat. "Kita akan menunggu kedatangan Riyan dan Januar terlebih dahulu dari kantor polisi. Mungkin mereka membawa informasi yang sangat penting."


Al mengangguk untuk menyetujui usul dari Bastian. Walaupun tanpa seizin dari Bastian, ia akan tetap mencari keberadaan Alis dengan koneksi yang dimiliki oleh keluarganya. Ia tidak akan menyerah sampai ia menemukan gadis yang sudah bersemayam dihatinya tersebut.


Dari arah luar terdengar deru mobil yang berhenti tepat di halaman rumah. Mereka semua yang berada disana segera berdiri dan memperhatikan Januar dan Riyan yang masuk kedalam rumah dengan aura yang pekat. Mereka dapat menduga bahwa keadaan sekarang sangat tidak baik.


Januar sejak tadi memperhatikan keberadaan Al dan ketiga orang temannya. Ia tahu kalau Al sangat dekat dengan Alis, mungkin sebab itu Al mencarinya hingga kemari. Itu sudah tidak mengherankan lagi baginya.


"Kami sudah mengantongi nama dalang dibalik kasus penculikan ini. Tapi pihak polisi masih belum bisa melacak keberadaan Alis. Dan kemungkinan Alis sudah dikirim keluar negri beberapa hari yang lalu."


Semua yang ada disana tampak sangat terkejut. Bahkan Al terlihat bergetar karena menahan rasa marahnya yang mendalam di iringi rasa takut yang menusuk hatinya, takut untuk kehilangan Alis.


"Bagaimana kalau kami membantu melacak keberadaan Alis diluar negri. Keluarga kami memiliki koneksi yang luas disana," ucap Al kembali menawarkan bantuannya untuk yang kesekian kalinya.


"Baiklah. Itu akan sangat membantu dan kemungkinan akan mempercepat tugas mereka untuk menemukan Alis. Mereka bisa berpencar dalam mencarinya," sahut Januar.


"Al, kamu yang terakhir bersama Alis waktu itu sebelum dirinya diculik. Apakah ada kejanggalan yang kamu dapat disana?" tanya Riyan setelah cukup lama memperhatikan Al. Ia mengetahuinya dari rekaman CCTV dan juga laporan anak buahnya.


"Tidak ada kejanggalan sama sekali. Hanya saja tiba-tiba para preman menyerang kami yang pada saat itu sedang berada di kebun milik Alis yang terdapat dibelakang rumahnya. Beruntung mereka dapat dilumpuhkan hingga tidak ada yang melukai para pekerja Alis seorangpun."


"Kalau boleh aku tahu, siapa yang sudah ditangkap oleh pihak kepolisian?" tanya Al lagi. Ia menatap kearah Riyan dan juga Januar bergantian.


"Geng Tengkorak Putih!"


Al melotot mendengarnya, begitupun sebaliknya mereka yang ada disana, juga tampak sangat terkejut. Siapa yang tidak mengenal geng Tengkorak Putih, mereka terkenal sangat sadis dalam menghabisi lawannya tanpa rasa takut dan juga tanpa pandang bulu. Ia sangat ingat dengan jelas saat dirinya babak belur karena dihajar kawanan preman tersebut, dan beruntungnya Alis datang dan menolongnya waktu itu. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padanya.

__ADS_1


"Apa motif mereka menculik Alis?" tanya Aldo yang sejak tadi hanya bungkam dan memperhatikan mereka saja sejak pertama kali mereka masuk rumah.


"Preman itu mengatakan bahwa mereka hanya disuruh oleh seseorang dengan bayaran yang sangat mahal untuk menculik Alis. Awalnya mereka menolak setelah tahu bahwa target mereka adalah Alis dan juga mereka juga sering dikalahkan oleh Alis. Namun tawaran tersebut mereka setujui setelah mengetahui bahwa cara yang mereka gunakan untuk menculik Alis adalah cara yang paling mudah dan tanpa perlawanan, yaitu dengan cara dilumpuhkan dengan menggunakan bius. Mereka juga membalas dendam karena sering dikalahkan oleh Alis dan Alis sering menghancurkan rencana mereka. Mereka pikir Alis hanya orang biasa," gumam Januar diujung kalimatnya tanpa ia sadari.


Seluruh yang ada disana semakin terbelalak saat mendengar ketarangan dari Januar. Al semakin bertekad kuat untuk menemukan Alis walau bagaimanapun keadaannya. Namun jauh dilubuk hatinya, ia berharap Alis dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada kekurangan apapun pada dirinya.


Namun berbeda dengan Irfan dan Andra, mereka berusaha memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Januar. Namun, sebisa mungkin Irfan menahan diri untuk tidak bertanya disituasi yang tidak tepat seperti sekarang ini. Sebisa mungkin ia menahan rasa penasarannya.


"Tuan, ibu sudah bangun!" ucap Bibi tiba-tiba menghampiri mereka. Terlihat raut Bastian yang sedikit melega.


"Sebaiknya kami pulang dahulu, besok kami akan menemui kalian lagi," ucap Al yang merasa berada diwaktu yang mengharuskan mereka untuk pulang. Ia akan membicarakan semua ini dengan ayahnya nanti setelah is berada di rumah. Ia harap ayahnya mau terbuka untuk membantunya.


Setelah mereka pulang, suasana didalam mobil tampak mencekam. Irfan masih berkelana dengan tanda tanya mengenai ucapan terakhir Januar tadi.


"Aku tidak mengerti dengan ucapan orang kepercayaan pemilik sekolah tadi, saat dia mengatakan bahwa 'mereka pikir Alis hanya orang biasa'. Ini terdengar sedikit janggal," celetuk Irfan.


Al mengerutkan dahinys untuk mengingat ucapan terakhir Januar tadi. Ia kurang memperhatikan tentang itu tadi.


"Apa benar dia berkata begitu?" tanya Al yang ikut penasaran.


"Tentu saja. Apa kalian tidak mendengarnya tadi saat dia menggumam," jawab Irfan.


"Aku tidak heran dengan ucapannya seperti itu. Aliskan memanh bukan orang biasa, seperti yang mereka duga bahwa dirinya hanyalah gadis sederhana tanpa orang tua. Namun nyatanya hidup Alis sangatlah kaya, orang tua dan juga kakaknya memiliki perusahaan. Kita saja dahulu sempat menduganya seperti itu, karena dia bekerja paruh waktu didua tempat," kata Andra tersenyum manis saat Irfan melongo kearahnya.


"Mungkin saja rival ayahnya atau rival kakaknya yang menculik Alis. Musuhnya tahu kalau Alis adalah kelemahan mereka," ujar Andra lagi.


"Bisa jadi!" sahut Irfan membenarkan sambil menganggukkan kepalanya.


"Al, bagaimana dengan ayahmu. Apakah ayahmu setuju saat kamu meminta bantuannya untuk mencari keberadaan Alis. Bukankah kamu sudah dijodohkan dengan seseorang?" tanya Irfan.


Al terdiam, ia melupakan bagian penting tersebut. Tapi ia akan berusaha meyakinkan ayahnya nantinya. "Akan kucoba semampuku. Lagi pula, ayahku bukan orang yang kejam dan membiarkan anaknya sakit hati gara-gara keegoisannya sendiri, apalagi ini menyangkut keselamatan seseorang. Seseorang yang dulu pernah menolongnya, minimal dia menganggapnya sebagai pelunas hutang budi yang lalu."


"Seperti perjodohan?" ledek Irfan.


"Itu hal yang berbeda," jawab Al singkat. Masih banyak tanda tanya yang berseliweran dibenaknya mengenai keberadaan Alis dan mengenai kehidupan Alis. Rasanya gadis itu semakin dikenal semakin membuatnya penasaran. Ia semakin tertantang untuk mengenal sosok kuat yang sebenarnya rapuh tersebut.


"Pikiranmu terlalu picik Al sehingga kamu menuduh ayahmu seperti itu. Padahal setahuku, Om Arya sangatlah bijaksana. Tidak ada dalam kamus beliau tentang balas budi seperti yang kamu sebutkan tadi," cibir Andra.


Al menggaruk tengkuknya dengan di iringi cengiran. Ia merasa bersalah kini karena melibatkan ayahnya dalam pembicaraannya yang kurang bermoral. Padahal ayahnya adalah orang tua sempurna baginya.


"Sepertinya kasus ini disembunyikan dari pihak luar dan juga dari pihak sekolah," ucap Aldo yang sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka. Matanya fokus kedepan, kearah jalanan.


"Mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi seandainya mereka tahu bahwa anak dan adik seorang penguasa sedang diculik. Bahkan akan ada oknum curang yang memanfaatkan kelemahan mereka dalam situasi seperti ini," jawab Al.


"Iya. Kamu benar Al. Apalagi hubungan Alis dan juga seluruh siswa di sekolah kita sedang tidak baik. Pasti mereka akan membuat romur yang lebih buruk daripada penculikan," sahut Irfan.


"Kamu benar Fan, jadi sebisa mungkin kita juga harus menutup rapat tentang kasus ini. Agar mudah dalam menanganinya kedepan."

__ADS_1


"Setuju," sahut mereka dengan bertos seperti biasa. Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai ketujuan, didepan kafe LK untuk mengambil mobil milik Aldo dan juga Andra.


💦💦💦


__ADS_2