
Sepulangnya dari sekolah, Al dan ketiga sahabatnya benar-benar membantu Andra mencarikan bunga yang diinginkan oleh ibu hamil tersebut. Tanpa melepas seragam, mereka langsung berkeliling kompleks. Namun sebelumnya, mereka kerumah Al terlebih dahulu untuk menggunakan mobil yang sama, mobil Andra. Dan meninggalkan motor Aldo disana.
"Perasaan aku pernah deh melihat kebun bunga disekitar sini. Kapan ya?" Al berpikir keras untuk mengingat-ingat kejadian yang sudah lalu.
"Oh itu, yang kamu ceritakan waktu itu, yang hampir menabrak kucing?" Andra menatap Al yang berada dibelakang, melalui spion tengah.
"Ah ya, benar. Kita langsung kesana saja."
Andra menganggukan kepalanya. Ia mengikuti arahan yang Al berikan. Dengan perlahan mobil yang mereka tumpangi bergerak dengan kecepatan lambat untuk melihat-lihat rumah yang dimaksud Al. Namun sepanjang perjalanan yang mereka lalui, tidak terlihat rumah yang dimaksud oleh Al tersebut.
"Sepertinya kita salah jalan." kata Irfan yang sejak tadi terus mengawasi setiap rumah yang mereka lalui.
"Dimana Al rumahnya?" tanya Andra.
"Aku lupa, tapi aku sering melewatinya kalau pulang atau berangkat sekolah."
Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia benar-benar lupa letak rumahnya.
Andra memutar haluannya untuk melewati jalan yang lainnya yang menghubungkan antara rumah Al dan sekolah mereka. Cukup lama mereka berkeliling.
"Mungkin, kebun bunganya sudah tidak ada lagi, atau juga sudah diubah oleh pemiliknya." Al mendesah lesu memikirkannya.
"Itu mungkin yang dimaksud oleh Al." Irfan menunjuk salah satu rumah yang terlihat sederhana, namun dipenuhi dengan berbagai bunga dihalanmannya dan berjejer pepohonan disamping kanan dan kiri rumahnya. Rumah itu terlihat jauh jaraknya dari rumah tetangganya dikanan dan kirinya.
Al dan Andra menoleh secara bersamaan, "ya, benar. Itu rumahnya yang aku maksud." Al bersorak senang. Ia lupa siapa pemilik rumah ini.
"Sepi, tidak ada orang sepertinya." Aldo memperhatikan suasana rumah yang terlihat sepi. Bahkan rumah itu tertutup rapat.
Andra memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan rumah tersebut, agar ia bisa memantau dengan mudah sang pemilik rumah saat ia sudah datang ataupun keluar rumah.
Sedangkan Al hanya diam saja sambil memperhatikan rumah itu dengan seksama, sepertinya ia begitu familiar dengan rumah tersebut. Tapi ia benar-benar lupa dengan semua itu.
Cukup lama mereka menunggu si pemilik rumah hingga terlihat seorang gadis yang baru saja turun dari sebuah bus dan sedang berjalan menuju kearah halaman rumahnya. Gadis itu memakai hody yang menutup kepalanya sehingga Al dan ketiga sahabatnya tidak mengenalinya.
"Hei tunggu." Andra berlari mengejar gadis tersebut yang tidak lain adalah Alis.
Mendengar suara orang yang memanggilnya dari arah belakang, Alis berbalik dan ia melihat laki-laki yang seumuran dengannya sedang berlari kecil kearahnya.
Deg.
"Alis?!" Andra tampak terkejut melihat keberadaan gadis didepannya ini yang ternyata adalah Alis, gadis pagi tadi yang membuat Al kalang kabut dan emosi karena cemburu.
"Hahaha..." Andra tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mengingat kembali ekspresi Al pagi tadi.
"Ma'af, kamu siapa ya?" Alis menatap heran kearah lelaki yang tertawa didepannya tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Eh, ma'af. Apa kamu tidak mengenalku?" Andra menatap tidak percaya pada gadis didepannya ini, bagaimana mungkin Alis tidak tahu dengan dirinya, sedangkan ia adalah salah satu most wanted sekolah mereka. Seterpencil itukah dirimu Lis, hingga tidak mengenal Andra yang bahkan selalu menjadi perbincangan hangat para gadis disekolah mereka.
__ADS_1
Alis mengerutkan dahinya, ia berusaha mengingat-ingatnya namun percuma. Ia meringis pelan karena merasa tidak nyaman dengan pemuda tersebut. Alis bahkan memperhatikan pemuda tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menggelengkan kepalanya.
Sepertinya ia masih sekolah, dari celana yang dikenakannya sama persis dengan rok yang kupakai. Tapi bajunya tidak terlihat, coba kalau dia tanpa jaket mungkin aku mengenali logo sekolahnya. Lalu untuk apa ia datang kemari?
Andra menatap kearah ketiga sahabatnya yang masih berdiri didekat mobil mereka, ia melambaikan tangannya agar mereka mendekat. Alis terus memperhatikan pergerakan Andra. Ia juga menatap kearah segerombolan pemuda yang berdiri ditepi jalan terlihat seperti seumuran dengan lelaki yang ada dihadapannya ini.
"Ma'af, ada perlu apa ya?" tanya Alis masih dengan ekspresi bingung.
Andra memalingkan wajahnya kearah Alis, ia tersenyum manis menatap Alis.
"Em... sebenarnya aku ingin membeli beberapa bunga milikmu, seperti yang tertera didaftar ini. Kalau ada."
Alis mengambil kertas daftar bunga yang dimaksud oleh Andra. Ia mengerinyit heran, kemudian beralih menatap Andra yang tampak menggaruk tengkuknya.
"Sebanyak ini, untuk apa?" Alis merasa heran karena bunganya hanya dipesan dengan jumlah yang sama, sebanyak satu pohon untuk satu jenis bunga dan kebanyakannya berwarna putih.
"Itu permintaan kakakku, dia sedang mengidam. Apa kamu mau menjualnya padaku?"
Alis menatap kearah Andra dan menganggukan kepalanya, ia pasti akan membantunya apalagi bunga ini di inginkan oleh wanita hamil.
"Alis?" Al yang baru saja sampai disamping Andra bergumam dengan lirih sambil menatap Alis yang ingin memutar badannya kearah depan. Al memandangnya dengan sendu.
Alis kembali berbalik kearah mereka saat ia mendengar namanya dipanggil dengan lirih dan ia terkejut dengan keberadaan Al. Rupanya Andra adalah salah satu sahabatnya Al yang tidak ia ketahui.
"Al, kamu disini juga?" tanya Alis dengan heran.
Alis hanya berohria saja mendengar hal tersebut dari mereka.
Andra dan Irfan juga Aldo segera menjauh darisana, mereka memberi ruang agar Al bisa berbicara berdua dengan Alis.
"Masuk kerumah dulu yuk, aku mau ganti baju dulu."
Al mengikuti pergerakan Alis yang berjalan kearah pintu rumahnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya mengitari halaman rumah yang luas namun berisi penuh dengan berbagai macam bunga.
Alis mempersilahkan Al untuk menunggunya sebentar. Al mendudukan dirinya pada kursi yang terdapat diteras rumah Alis. Ia mendongakkan kepalanya keatas, tampak bunga yang digantung sedang bermekaran seolah-olah menengok padanya.
Rumah ini sangat nyaman bahkan seperti suasana pagi hari karena udaranya yang sangat sejuk.
"Ayo, kita berpetualang mencari bunga untuk temanmu."
Alis keluar dengan beberapa peralatan berkebunnya, ia juga mengenakan topi lebar dikepalanya.
"Mana teman-temanmu Al, panggil mereka."
Al yang terperangah dengan penampilan Alis yang terlihat sangat cantik dimatanya, terkesiap setelah mendengar perintah Alis.
"Siap bos." Al memberi hormat pada Alis layaknya hormat seorang bawahan pada atasan, dengan meletakkan tangannya dijidat.
__ADS_1
Al menghampiri ketiganya yang sedang duduk dibangku bawah pohon samping rumah Alis.
"Cepat, Alis memanggil kita." Al tersenyum kearah ketiganya saat ia menghampiri mereka.
"Cie, dapat suntikan vitamin ya Al. Dimana dapat?" Irfan mengejek Al dengan jahilnya.
Al melotot sambil membekap mulut Irfan agar mulutnya dikondisikan. Ia menatap kearah Alis yang sedang menunggu mereka.
"Ikuti saja."
Andra bergegas berlari terlebih dahulu, ia segera menghampiri Alis. Ia yang paling bersemangat karena sebentar lagi ia akan bebas dari tugas yang diberikan oleh ibu hamil tersebut.
"Ayo, ikuti aku. Kita ke halaman belakang."
Alis berjalan terlebih dahulu dengan diiringi oleh Al dan ketiga sahabatnya. Sesampainya di halaman belakang, mereka tampak semakin terperangah. Halaman belakang rumah Alis terlihat sangat luas, bahkan menyamai luasnya lapangan sepakbola. Dipinggir halaman tampak berjejer pepohonan yang hijau dan rimbun bahkan pohon-pohon itu sedang berbuah. Ditengah-tengah halaman tersebut juga berbaris pohon jeruk sebanyak 3 baris. Dan disela-selanya tampak bunga bermekaran dengan berwarna-warni. Dengan jenis tanaman yang berkelompok.
"Ini semua milikmu Lis, dan kamu yang tanam?" Al menatap tak percaya pada pemandangan yang dilihatnya ini, semua ini serasa mimpi. Begitu indah dan nyaman dipandang mata.
Alis menatap bingung kearah Al dengan pertanyaannya tersebut.
"Tentu saja ini milikku, bahkan aku juga yang menanamnya, karena aku adalah seorang petani." Alis merasa bangga dengan gelar baru yang disematkannya pada dirinya.
"Wah hebat. Kamu belajar darimana Lis tentang berkebun semua ini?" Irfan begitu penasaran dengan semua itu.
"Nenekku adalah seorang petani, jadi dari situlah aku belajar. Sekarangkan canggih, cukup belajar dari internet pun kita sudah bisa menanam pohon atau bunga dan memeliharanya."
Al menatap kearah Alis, ternyata Alis adalah sosok yang hebat dan mandiri. Bahkan ia sudah bisa melakukan hal yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang dewasa.
"Lalu, kemana kamu menjual buah-buahan ini." Andra menunjuk kearah buah sirsak dan jeruk yang sudah matang. Ia begitu tergiur menatap buah itu apalagi cuacanya sangat panas, namun ia menahan diri karena malu dengan pemilik kebun didepannya ini.
"Aku punya pelanggan tetap." Alis tersenyum tipis menatap Aldo yang sejak tadi tampak bungkam namun matanya tidak pernah lepas dari buah jeruk yang ada didekatnya.
"Yaudah, kalian petik saja buah mana yang kalian suka. Aku akan mencarikan bunga sesuai yang ada didaftar ini."
Angga dan Irfan bersorak heboh, bahkan mereka bergegas berlari kearah pohon yang sedang berbuah tanpa tahu malu pada pemiliknya. Sedangkan Aldo berjalan dengan gaya coolnya. Padahal matanya sudah dipenuhi dengan warna kuningnya jeruk.
"Alis, bolehkah aku membantumu?"
Alis menatap kearah Al yang sudah menghampirinya dan menganggukan kepalanya.
"Sini, biar aku yang bawa peralatannya." Al merebut semua peralatan yang dipegang oleh Alis.
Alis hanya diam saja sambil melihat daftar bunga yang ada ditangannya. Mungkin ia akan mencari anakannya saja agar mudah tumbuh.
"Apa kamu tidak ingin memakan buah seperti teman-temanmu yang lain?" Alis bertanya sambil menatap kearah Al yang tersenyum manis padanya. Dengan cepat Alis mengalihkan pandangannya, ia tidak kuat dengan senyum itu, rasanya kelu karena masa lalu itu.
💦💦💦💦
__ADS_1