
Al menjejakkan kakinya dihalaman rumahnya saat dirinya sudah tiba dikediamannya. Sapaan dari satpam penjaga rumahnya hanya dijawabnya dengan anggukkan karena banyaknya pikiran yang berseliweran dikepalanya mengenai Alis.
"Ma, papa sudah pulang belum?" tanya Al saat mendapati ibunya yang sedang duduk diruang tamu.
"Sebentar lagi juga sampai, tadi mama telpon. Katanya masih dijalanan, memangnya ada apa, wajah kamu juga kelihatan lesu begitu. Apa kamu sakit?" tanya Harwinda sambil berjalan kearah Al. Ia meraba dahi Al namun terasa dingin dan suhunya normal.
"Al tidak apa-apa ma, Al baik-baik aja!"
"Jangan bohongi mama. Mama tau kalau kamu sedang ada masalah. Coba kamu cerita sama mama," bujuk Winda sambil meraih tangan Al dan membawanya kearah sofa yang sempat ia duduki tadi.
"Sebenarnya teman Al diculik, ma. Dan Al ingin membantunya untuk menemukan keberadaannya."
"Siapa yang diculik!!"
Al dan Harwinda menatap kearah pintu saat suara menggelegar menyapa gendang telinga mereka. Terlihat wajah Arya menatap mereka dengan penuh selidik.
"Siapa yang diculik?" tanya Arya sekali lagi sambil memghampiri Al dan duduk tepat disamping Aldebran.
"Teman Al, pa. Al juga ingin meminta bantuan papa untuk mencari keberadaannya."
"Sahabat kamu? Aldo, Irfan atau Andra?" tanya Arya lagi. Karena hanya merekalah yang diketahui oleh Arya sebagai sahabat sekaligus orang yang paling dekat dengan anaknya.
"Bukan."
Ia mengerutkan dahinya bingung, sambil berusaha mencari nama seseorang yang juga dekat dengan Al. Dengan pandangan menelisik, ia menatap Al penuh selidik sambil sesekali menatap kearah istrinya yang tampak mengedikan bahunya saja pertanda bahwa dirinya juga tidak mengetahuinya.
"Alis, Pa!" ucap Al tanpa berani menatap kedalam mata Arya. Ia takut Arya akan menolak dirinya karena yang terakhir kalinya mereka membicarakan Alis waktu itu membuat mereka berdebat. Namun, sungguh kenyataan lain yang justru mengejutkan dirinya.
"Alis? Kenapa bisa? Bukankah dia sangat jago beladiri? Kenapa kamu tidak memberitahu papa lebih awal?" tanya Arya serius sambil menatap Al dengan sorot tajam.
__ADS_1
"Pa, Al juga tahunya baru saja, setelah Al pergi kerumah papanya Alis," gumam Al yang tampak lesu.
"Jadi kamu sudah tahu kebenaran tentang Alis?" tanya Arya kembali dan menyorot Al dengan lebih dalam lagi.
"Apa maksud papa?" tanya Al penasaran dengan pertanyaan Arya barusan.
"Lupakan kata-kata papa tadi. Tolong kamu sampaikan pada ayahnya Alis, papa akan bersedia membantunya mencari Alis. Dan kamu tenang saja, papa akan mengerahkan seluruh koneksi papa untuk mencari dan menemukannya."
Al terkejut dan menatap tidak percaya kearah ayahnya. Sejak kapan ayahnya mau berbuat seperti ini. Dan hal yang terakhir didapatnya saat mereka mengungkit Alis, papanya malah meremehkan Alis dan menghinanya.
"Papa tidak sejahat yang kamu pikirkan Al, jadi kamu tenang saja. Setelah ini papa akan mengerahkan seluruh anak buah papa."
"Benaran, Pa?" tanya Al menatap tak percaya pada Arya. Ia juga menatap kearah ibunya yang langsung mendapat anggukan dari mamanya.
"Benar dong, masa papa bohong!"
"Makasih pa," ucap Al sambil memeluk papanya ala pelukan lelaki.
"Apa syaratnya, Pa?"
"Nanti akan papa katakan setelah Alis ketemu."
Al mengangguk saja dan bergegas berjalan kearah anak tangga meninggalkan ayah dan ibunya dengan perasaan senang tak terhingga. Akhirnya harapannya terkabul juga walaupun sebenarnya ia juga merasa was-was dengan syarat yang akan ayahnya ajukan.
***
Pagi ini Al berangkat lebih awal. Ia ingin menyampaikan kepada ketiga sahabatnya mengenai bantuan yang akan ayahnya berikan. Dan mereka akan memulai melakukan pencarian melalui media elektronik atau apa saja yang bisa mendapatkan imformasi.
Al berjalan dengan langkah tegap di koridor sekolah yang sudah tampak ramai. Langkahnya semakin lebar saat ia hampir mencapai kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat ada seseorang yang mencegatnya. Perempuan yang sangat tidak disukai oleh Al karena ke egresifannya yang luar biasa. Entah kenapa selama beberapa hari belakangan, dia selalu datang dan menghampiri Al. Beruntungnya Al tidak pernah tergoda dengan paras cantik gadis tersebut, namun hatinya sangatlah busuk bahkan tingkahnya sangatlah manja.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu," desis Al tajam dan menatap tidak suka saat tangan Jessica sudah bertengger manis merangkulnya. Ia benar-benar tidak suka dengan situasi ini dan membuat siswa yang lainnya menjadikan dirinya sebagai bahan gosip yang empuk. Apalagi Jessica secara terang-terang menggoda dirinya didepan semua orang.
"Al, apa salahnya aku sih, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi," ucap Jessica tanpa tahu malu.
Al melirik kearah seluruh siswa-sisiwi yang berada di koridor itu. Al dan Jessica tampak menjadi bahan perhatian mereka bahkan kini menjadi tontonan. Dengan gerakan perlahan ia melepaskan diri dari Jessica dan segera melangkah menuju kekelasnya tanpa menghiraukan teriakan Jessica yang berulang-ulang memanggil dirinya. Dengan diselimuti oleh sedikit aura kemarahan dan juga raut sesal, Al menghempaskan dirinya di kursi miliknya.
"Al, kamu kenapa? Mukamu banyak awan hitamnya begitu. Bahkam dimatamu ada halilintarnya," ucap Irfan tanpa rasa takutnya membuat beberapa dari mereka tampak tersenyum kearah Irfan. Namun senyum mereka seketika menjadi lenyap saat menatap kearah Al yang benar-benar mengeluarkan petirnya dan ingin menyambar siapa saja yang dilihatnya.
"Aku tau, pasti ulah Jessica lagikan? Gadis itu selama beberapa hari ini sangat gencar mendekati dirimu, bahkan ia tidak segan-segan mengancam orang lain atas nama sekolah ini," gumam Irfan tampak berpikir.
"Tentu saja. Kalian tahu sendirikan kalau dia itu keponakan dari donator besar disekolah ini, om Hendri." jawab teman sekelas Al yang berada dibelakang bangku yang Irfan duduki.
"Walaupun dia anak donator, tetap saja dia tidak punya hak sekuat itu. Memangnya dirinya pemilik sekolah apa?" gumam Irfan merasa jengkel.
"Oh iya, katanya pemilik sekolah kita sedang ada perjalanan bisnis diluar negeri, sebab itu ulang tahun sekolah kita yang harusnya dilaksanakan 5 hari yang lalu harus ditunda."
Al menoleh dan memperhatikan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Wati, teman sekelasnya.
"Hal ini terdengar sedikit aneh. Biasanya ulang tahun sekolah akan tetap dilaksanakan walaupun tanpa kabar dari pemiliknya. Biasanya tidak berpengaruh karena setahuku pemilik sekolah juga tidak pernah hadir sejak dulu. Apa mungkin sang pemilik ingin dia hadir pada acara tersebut?" gumam Rina, teman sekelasnya juga.
"Wah! itu suatu kehormatan. Aku penasaran dengan pemilik sekolah. Katanya orangnya masih remaja seumuran kita-kita dan sangat cerdas. Bahkan dia juga jarang terekpos ke khalayak ramai," sambut yang lainnya dengan antusias.
"Memangnya kamu tahu dia itu laki-laki atau perempuan?" tanya Indah.
Mereka yang ada disana serempak menggelengkan kepalanya.
"Tapi kita tidak pernah lagi mendengar konfirmasi selanjutnya mengenai acara ulang tahun sekolah," ucap Rika dengan lesu.
Al sejak tadi hanya mendengarkan saja percakapan teman sekelasnya. Ia tidak heran dengan kejadian itu, mungkin saja pemilik sekolah ingin memperlihatkan jati dirinya atau juga ingin membuka diri. Ah... itu bukan urusan Al, lebih baik Al memikirkan tentang usaha pencarian mereka tentang Alis yang diculik.
__ADS_1
"Nanti kita kumpul ditempat biasa!" gumam Al sambil menatap kearah ketiga sahabatnya.
💦💦💦