Layangan Kertas

Layangan Kertas
Hati Yang Ikhlas


__ADS_3

Pagi-pag sekali Alis sudah berada diruang kepala sekolah, ia dipanggil untuk membahas orang yang sudah menyebar isu itu disekolahnya. Ia tidak sendiri, disana juga terdapat guru Bk dan juga Januar.


"Jadi, siapa orang yang sudah menyebarkan foto itu?"


Siswanto menatap kearah Alis dan juga Januar, saat ia menatap guru kearah guru Bk, Linda sebagai guru BK menganggukan kepalanya.


"Jessica yang melakukannya."


"Apa!" Januar menggebrak meja sambil menatap kearah Siswanto dengan pandangan terkejut. Ia tidak menyangka kalau gadis itu terlalu lancang bahkan melebihi kapasitas normalnya.


"Apa itu positif?" Alis bertanya masih dengan kondisi tenang.


Sudah kuduga pasti dirinya, karena hanya dirinya yang waktu itu berada dirumah sakit sedang memergokiku bersama kak Riyan. Kau membuat ulah lagi Jessica, apa aku harus menolongmu?


Siswanto menganggukan kepalanya. "Nomornya sudah kami lacak dan pemiliknya adalah Jessica. Dan dia mengambil foto itu dirumah sakit yang juga kamu kunjungi kemarin." Siswanto sedikit menjelaskan.


"Masih dalam masa hukuman tapi kembali membuat ulah, apa dia tidak takut kalau dikeluarkan dari sekolah ini?" Januar tampak kesal.


Berani juga gadis itu bermain api, bahkan ia tidak tahu kalau api yang dimainkannya adalah api yang sangat besar.


Januar tersenyum miring sambil menatap kearah Alis.


"Ma'af pak sebelumnya, Jessica ini sebelumnya juga punya catatan hitam disekolahnya yang dulu, bahkan ini sudah yang kelima ia pindah sekolah. Seharusnya sekarang ia sudah berada dikelas 12, namun karena sering pindah, ia tidak naik kelas." Linda ikut menjelaskan.


"Apa!? Lalu, kenapa kalian menerimanya untuk bersekolah disini?"


"Itu... karena dia adalah keponakan dari pak Hendri, salah satu donator sekolah ini." Ragu-ragu Siswanto menjawab, ia takut menjadi amukan kemarahan Januar.


"Oh begitu? Jadi kalian hanya memandang kedudukan dibandingkan dengan attitute seseorang." Januar menatap kearah Alis yang hanya diam namun ia tetap merespon.


" Tidak pak." Serempak Siswanto dan Linda menjawab.


"Lalu ini apa, hanya karena dia keponakan dari salah satu donator sekolah ini lalu kalian melindungi semua catatan hitamnya, begitu!?" Januar benar-benar marah. "Dan apa kalian tahu, siapa yang selalu dibullynya yang selalu dicemarkannya namanya? Alisya! Pemilik sekolah ini. Apa kalian mau dipecat!?" Setengah berteriak sambil menggebrak meja karena saking emosinya, hingga ia melupakan sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua darinya seperti yang ada didepannya.


Siswanto dan Linda menundukkan kepala, wajah mereka pias. "Ma'afkan kami Pak, kami akan membereskan kekacauan ini." Siswanto menyahut.


Linda yang biasanya terkenal sebagai guru paling galakpun tampak ciut setelah mendengar kemarahan tuannya.


"Lalu, langkah apa yang akan kalian tempuh?"


"Kami tidak bisa mengambil keputusan kalau bapak tidak memutuskannya."


Januar tampak mengangguk mendengar kata-kata Siswanto barusan.


"Kalau begitu, panggil orang tuanya kemari dan berikan dia surat DO." Januar menegaskan.


"Jangan!" Alis yang semula diam kini angkat bicara setelah mendengar keputusan dari Januar.


"Kenapa Lis?" Januar tampak terlihat kaget dan sekaligus kecewa dengan keputusan Alis tersebut. Ia hanya bermaksud untuk melindungi Alis dari bahaya, dari segi manapun juga. Karena Alis adalah amanah dari neneknya yang dititipkan padanya sebelum kembali kepangkuan orang tuanya.


"Jangan di DO, hukumannya juga diakhiri, mulai besok dia sudah bisa bersekolah."


Final, keputusan Alis sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Januar menatap tidak percaya pada Alis sedangkan Siswanto dan Linda tampak membelalakan matanya karena saking terkejutnya mereka dengan keputusan Alis tersebut.

__ADS_1


Ada apa dengan dia sehingga memutuskan sepihak seperti itu?


"Kenapa kamu perduli pada orang yang ingin agar citramu rusak? Apa kamu lupa dengan masa lalu?" Januar tampak berdesis diujung kalimatnya sehingga hanya ia dan Alis yang tahu.


"Itu hanya sebagai bentuk pengalihan rasanya saja, ia sedang punya masalah dan tidak dapat menyelesaikannya sendiri sehingga ia menyalurkannya pada hal-hal yang negatif. Ibarat orang yang lelah, ia sedang mencari hiburan hingga mencari perhatian. Percaya sama aku. Dan, dia belum mengenalku bahkan satu sekolah juga. Karena yang mereka kenal, aku hanyalah gadis miskin. Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan, nanti juga dia akan sadar dengan kelakuannya. Cepat ataupun lambat."


"Lis, karena itu kita harus menegurnya dengan keras,


Semua yang ada diruangan itu tampak bungkam setelah mendengar penjelasan Alis, begitupun dengan Januar.


Jadi selama ini, kamu juga begitu Lis, pengalihan rasa dengan menarik diri dari pergaulan. Menyenangkan hati dengan hanya membaca dan membaca yang sama sekali bukan seperti novel yang kadang dijadikan sebagai hiburan atau penghilang bosan.


"Lis, karena itu kita harus menegurnya dengan keras karena ia hanya bisa memandang orang kaya sedangkan orang miskin selalu direndahkannya. Itu tidak bagus Lis bagi yang lain."


"Kak, itu sudah final, beri dia waktu hingga satu bulan kedepan. Kalau dia tidak berubah, itu terserah kalian saja lagi.


"Baiklah, kalau keputusan ini sudah final. Artinya pertemuan ini juga akan berakhir. Kalau begitu saya mau undur diri dulu. Permisi."


Alis juga berdiri mengikuti Januar yang sudah selesai berjabat tangan dengan Siswanto dan juga Linda. Ia berjalan bersama keluar ruangan kepala sekolah.


"Alis, apa kamu juga ingin ikut rapat nanti siang diruang rapat mengenai acara ulang tahun sekolah?"


Alis berhenti melangkah saat dia berada dilorong depan ruangan kepala sekolah.


"Aku tidak ikut kak, soalnya aku tidak mau ada yang tahu dan curiga padaku. Apa kakak ikut juga?"


"Kakak tidak ikut, sebentar lagi akan ada meeting dikantor." Sambil mihat kearah jam tangan yang melingkar ditangannya.


"Itu bukan apa-apa, semua sudah menjadi tanggung jawab kakak sebelum kamu yang mendudukinya."


Alis menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu, kakak permisi dulu." Januar menepuk-nepuk bahu Alis dan pergi dari hadapan Alis dengan diiringi pandangan Alis hingga sosok Januar menghilang ditikungan lorong.


💦💦💦


Angga menatap Alis yang baru keluar dari ruang kepala sekolah bersama dengan walinya, Januar. Karena hanya Januar yang dikenal Angga sebagai kerabatnya sekaligus tangan kanannya. Ia yakin pasti Alis sedang mengalami hukuman berat kedepannya karena gosip itu. Ataukah pihak sekolah hanya mengkonfirmasi ulang saja.


Angga berjalan menuju kearah kelasnya dengan tatapan yang dingin.


Kenapa aku masih memikirkannya, padahal dulu aku hanya usil padanya sebelum aku benar-benar mengenalnya. Nasib memang tidak ada yang tahu, tiba-tiba aku menjadi serakah karena menyukainya.


Angga mendudukan dirinya dibangkunya dan mengeluarkan sebuah buku untuk dibacanya karena sebentar lagi akan ada ulangan.


"Angga, woy! kamu kenapa?"


Angga melirik sesaat kearah Nando, kemudian ia kembali berkutat dengan bacaannya. Namun ia tidak bisa fokus, pikirannya berseliweran hanya seputaran Alis dan kantor, ia begitu penasaran.


"Ndo, apa kamu tahu kalau Alis sudah dipanggil keruang kepala sekolah?"


Nando mengerutkan dahinya dan matanya melirik kesana kemari. Dia menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa?" Nando begitu penasaran dengan kabar yang ditanyakan oleh Angga.

__ADS_1


"Woy!!! Kelas kita bebas hari ini. Karena seluruh dewan guru akan mengadakan rapat. Cihuy..."


Sang ketua kelas berjingkrak senang saat selesai ia mengumumkannya. Disambut oleh teriakan senang dari seluruh penghuni sekolah, bahkan kelas terdengar sangat riuh dari biasanya.


Angga berlari kearah luar kelas. Nando yang melihat hal tersebut ikut menyusulnya karena ia yang khawatir melihat gelagat Angga tersebut.


Angga terus berlari dilorong sekolah, hingga ia tiba didepan kelas 12 ipa2. Angga menatap sebentar kedalam kelas untuk memastikan keberadaan Alis, namun kosong, yang ada hanyalah sahabatnya yang sedang tertawa senang bersama teman sekelasnya yang lain.


Apa Alis sudah pulang?


Angga kembali menatap kearah Liza, ia tampak kesal melihat Liza yang tidak memahami sahabatnya yang pasti sekarang sedang bersedih.


"Eh, bisa tolong panggilkan Liza." Tunjuk Angga sewaktu seorang siswa mendekat kearah pintu.


Liza, ada yang nyariin kamu!" berteriak.


Liza menatap kearah luar, ia mengerutkan dahinya bingung melihat Angga yang mencarinya. Seluruh siswa-siswi bungkam sesaat kemudian saling berbisik.


Liza melangkah menuju kearah Angga yang sudah menunggunya dilorong sekolah dengan posisi membelakanginya.


"Ada apa?"


Angga berbalik menatap kearah Liza yang sudah ada dibelakangnya.


"Alis kemana?"


"Oh, Alis. Tadi juga ada yang mencari Alis." Liza tersenyum kearah Angga dengan jenis senyuman tertentu.


Angga menatap tajam kearah Liza karena ia merasa dipermainkan oleh Liza.


"Matamu dikondisikan, aku tidak suka ditatap seperti itu." Bukannya takut, Liza malah menatap Angga dengan melotot.


Angga mengalihkan pandangannya kearah kelas yang tampak sunyi, sepertinya mereka sedang mencuri-curi dengar pembicaraan mereka.


"Jawab saja, aku ada perlu sama dia."


"Perlu apa, memangnya ada masalah apa sama kalian?"


Angga memejamkan matanya sesaat menahan emosi karena Liza yang sudah mulai cerewet.


"Jawab saja, tidak perlu banyak tanya."


"Iya-iya, bertanya yang sopan dong, lembut sedikitlah."


Angga kembali menatap Liza dengan tajam. Liza tampak kicep melihatnya, ia memegang tengkuknya beberapa kali, aura orang didepannya ini begitu mencekam tidak jauh beda dengan malaikat maut.


"Alis diperpustakaan."


Tanpa mengucapkan terima-kasihnya, Angga melangkah meninggalkan Liza yang tampak melongo.


"Dasar tidak sopan." Liza mencibir kemudian masuk kedalam kelasnya. Ia tidak mau tahu hubungan apa atau keperluan apa antara Angga dan Alis. Baginya Angga hari ini begitu mengerikan, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu jahil pada Alis. Ia kembali bergelut dengan teman sekelasnya dengan sorakan dan keriuhan.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2