
"Al, kenapa kamu bertanya seperti itu pada Aldo, kamukan tahu kalau Aldo pada waktu itu galaunya luar biasa," sindir Irfan menjawab cepat.
Andra terbahak di ikuti oleh Irfan sendiri. Sedangkan Aldo tampak melotot mendengarnya. Ia tidak suka dijadikan bahan lelucon oleh mereka.
"Taulah kalau Aldo galau tapi usahanya mencari tahu pasangannya itu loh yang ingin aku tahu." Jawab Al yang tampak sewot.
"Makanya Al kalau orang tuamu berbicara itu, kamu dengarkan, kamu simak baik-baik. Jangan main kabur saja. Nah begitukan jadinya." Sindir Irfan sekali lagi.
"Aku juga belum bilang apa-apa pada kalian, eh Irfan malah main tembak saja," sela Al.
"Memangnya kamu ingin bicara tentang apa sih?" tanya Andra setelah melihat raut wajah serius Al.
"Seperti yang kalian duga kalau aku dijodohkan oleh papa. Aku tidak mendapat keterangan apapun karena aku waktu itu marah pada papa karena mengambil keputusan sepihak." Al menarik napasnya sejenak.
"Kami akan membantu cari tahu, kamu gali informasi sedalam-dalamnya pada ayah atau ibumu," sahut Andra.
"Lalu, bagaimana dengan Alis?" tanya Aldo tiba-tiba bertanya.
Al hanya terdiam saja tidak dapat menjawab pertanyaan Aldo barusan sehingga Aldo mengambil kesimpulan yang lain.
***
Al sedang berada dirumah Alis sekarang, ini yang ketiga kalinya ia mendatangi rumah tersebut. Ia semakin yakin kalau rumah ini tidak ditempati oleh Alis selama beberapa hari belakangan ini karena setiap ia kesini, Alis selalu tidak terlihat batang hidungnya.
Matanya mengedar menatap kearah pekarangan yang dipenuhi dengan bunga tersebut, bunganya tampak segar dan terawat. Itu artinya Alis memang ada kesini untuk merawat tanamannya, ataukah ada orang lain yang merawat semua ini untuknya. Ia berjalan menuju kearah bangku yang ada ditaman tersebut. Sambil menyandarkan kepalanya, meraih handphone yang ada disaku celananya.
Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi untuk menghubungi Alis. Wajahnya seketika langsung berbinar saat terdengar panggilannya yang tersambung diujung sana.
__ADS_1
"Alis, kamu dimana? Aku ada didepan rumahmu sekarang."
"........"
"Oke, aku segera meluncur," Al mematikan telponnya dan segera mengatur langkahnya menuju ketempat Alis berada. Kali ini perasaan gundahnya dapat terobati walaupun hanya melihat Alis sekilas, apalagi mendapati senyuman yang sangat langka diwajahnya.
Rupanya sore ini keadaan perkebunan dibelakang rumah Alis sangatlah ramai. Beberapa orang tampak sibuk memetik buah, beberapa lagi sedang memetik bunga dan sebagian yang lainnya hanya bertugas mengumpulkannya saja.
Gadis berkulit putih tanpa senyum tersebut sedang melihat pekerjaan buruhnya, sesekali ia meminta buruhnya agar berhati-hati dalam pekerjaan. Ia tersenyum tatkala Al sudah berada dekat dengannya. Senyum tipis yang hampir tidak terlihat apabila tidak peka mendapatinya.
"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Al yang sesekali melihat kesibukan semua orang. Beberapa diantara mereka terlihat seperti masih remaja. Al melirik kearah Alis yang terlihat sangat dingin. Tiba-tiba ada sedikit rasa cemburu mencubit sisi hatinya.
"Tidak Al, aku hanya mengawasi mereka saja." Alis menatap kearah Al sekali lagi sambil menunjuk dengan gerakan dagunya kearah orang-orang yang tampak sibuk didepannya. "Sebaiknya kamu ikut aku, kita kesana!" tunjuk Alis pada pohon yang terlihat agak besar dan sangat rindang. Ia berjalan menggiring langkah Al, mereka berjalan tanpa suara hingga tiba dipohon besar itu. Al mendongak menatap keatas saat ia mendapati ada anak tangga yang terdapat dipohon itu. Ia terkesiap saat melihat rumah pohon yang ada diatasnya. Rumah pohon yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat nyaman. Ia tersenyum menatap Alis yang tetap diam mrnatap kearahnya.
Mereka naik bersama dan duduk didalamnya sambil melihat hamparan kebun milik Alis yang sangat luas ini. Rasanya benar-benar memanjakan mata, ditambah dengan semilir angin yang berhembus menerpa wajah mereka. Rasanya ingin memejamkan mata sesaat untuk menghilangkan keresahan yang ada dibenak Al.
"Aku hanya merindukanmu, kita sudah lama tidak bertemu dan lagi kamu sangat sulit ditemui akhir-akhir ini. Bahkan sekarang kamu sedang di skorsing."
Alis berbalik menatap wajah Al, ia hanya diam saja mendengarkan celotehan Al, pikirannya berkelana ketempat orang tuanya berada bahkan masih jelas di ingatannya tentang perjodohan yang sudah terlanjur disetujuinya. Ia tidak tahu sekarang harus berbuat apa untuk menghadapi Al yang berada disampingnya kini. Haruskah ia berkata jujur ataukah ia hanya diam saja.
"Alis, kamu kenapa diam saja, apa kamu ada masalah?"
Alis terhenyak saat Al menatap dirinya dengan cemas. Alis tetaplah Alis yang hanya diam dan tenang saja sambil menatap Al. Ia hanya menggeleng saja.
Al tersenyum, ia tahu kalau gadisnya memang sangat pendiam dan tidak suka berbicara. Ia sangat mengenalnya, jadi kekhawatirannya tadi dianggapnya hanya leluconnya saja. Gadis ini memang sangat sulit untuk ditebak. Bahkan raut wajahnya benar-benar tidak berekspresi.
"Non, mobilnya sudah datang, apa buahnya langsung diangkut?" tanya lelaki remaja yang berada dibawah mereka.
__ADS_1
Alis hanya mengangguk saja. Ia mengajak Al untuk turun dan memantau kembali anak buahnya yang sedang mengangkut buah dan bunga-bunga tersebut.
"Memangnya buah ini akan dikirim kemana Lis?" tanya Al saat mereka sudah berada didekat tumpukan buah dan bunga.
"Buahnya dikirim ke kafe ataupun rumah makan, kalau bunganya tentu saja kepabrik obat, pabrik makanan ataupun toko bunga." Al mengangguk mendengar keterangan yang diberikan oleh Alis.
Al ikut memperhatikan semua pekerja yang sibuk mengangkut buah kedalam mobil sementara Alis tampak sibuk berbicara dengan salah seorang pekerjanya. Tanpa sengaja mata Al melihat pergerakan yang mencurigakan.
"Alis!!! Awasss!!!" teriak Al yang sudah menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Alis yang ingin dipukul oleh seseorang dari belakangnya.
Alis berbalik dan sangat terkejut saat mendengar bunyi sesuatu yang dipukul. Tampak Al terjatuh diatas rumput, untunglah pukulan itu tidak mengenai bagian badan Al yang sensitif hanya mengenai tangannya saja karena ia menangkis serangan tersebut. Ia menatap penuh waspada pada orang yang tidak dikenalnya yang sudah berdiri dihadapannya. Sedangkan yang lainnya sedang menolong Al untuk berdiri dan juga menyingkir dari sana. Mereka sangat tahu bagaimana seorang Alis.
"Siapa kamu, beraninya datang kerumahku dan membuat kekacauan disini tanpa seizinku!" desis Alis dengan tatapan yang mengintimidasi. Ia semakin mempersiapkan kuda-kudanya saat melihat beberapa orang lagi yang datang kearahnya dengan membawa tongkat pemukul basball.
"Kamu tidak perlu tahu tentang kami. Yang penting kalian semua yang ada disini mati, maka urusan kami akan cepat selesai." Salah seorang dari mereka tampak menyahut, ia terlihat begitu santai sambil mengisap cerutu yang ada ditangannya. Sepertinya dialah ketua dari para preman ini. "Serang!!" perintahnya pada semua anak buahnya yang berjumlah 10 orang tersebut.
Dengan dibantu beberapa anak remaja yang ada disana, Alis dan Al tampak bergelut berkelahi melawan para preman yang menyerang mereka tanpa tahu alasannya. Yang pasti, mereka menyimpulkan bahwa para preman tersebut adalah suruhan seseorang. Mungkin orang yang lebih berkuasa dari para preman itu ataukah orang yang iri pada Alis.
Dengan napas ngos-ngosan akhirnya mereka dapat meringkus para preman tersebut. Beruntungnya polisi bergerak cepat dan tanggap saat salah satu pekerja melaporkan kejadian via telpon.
Selepas polisi pergi, para pekerja pun ikut pergi karena pekerjaan mereka sudah selesai, hingga yang tersisa hanya Al dan juga Alis.
"Al, ma'af ya aku jadinya merepotkanmu," lirih Alis sambil mengobati luka lebam yang terdapat dipergelangan tangan Al. Mereka kini sedang berada didalam rumah Alis.
"Itu sudah kewajibanku untuk melindungimu. Sudah seharusnya seorang lelaki yang ada didepan wanita dan membela wanita tersebut." Al tersenyum manis saat Alis menatap kearahnya. Bola mata hitam itu begitu indah dimata Al bahkan ia terlihat begitu kesepian, bagaimana mungkin ia sanggup untuk meninggalkan Alis.
***
__ADS_1