Layangan Kertas

Layangan Kertas
Cemburu


__ADS_3

Sejak Alis dan Angga berada ditaman sampai mereka memasuki kantin, Al terus memperhatikan mereka. Bahkan tidak ada satu detikpun yang lewat dari pandangannya. Ia tampak sangat kesal menatap Angga yang telah lancang karena menggenggam tangan Alis didepan semua orang.


"Ih manisnya Angga dan Alis, kayaknya mereka cocok deh, pasangan yang serasi." Irfan melontarkan komentarnya tanpa tahu situasi dimeja mereka.


"Sejak kapan mereka jadian?" Andra bertanya sambil tetap memandang kearah Alis.


Irfan menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu.


"Tuhkan keren, cowoknya membela dan melindungi sang cewek." Irfan kembali menceletuk.


Al yang mendengar semburan berbisa mereka tampak dibakar amarah, ia benar-benar kesal dengan semua perlakuan Angga pada Alis, ditambah lagi dengan mulut berbisa Irfan dan Andra yang menyulutnya. Tanpa sadar Al menusuk-nusuk bakso yang ada didepannya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi berisik. Ia geram melihat kedekatan Alis dan Angga yang berada tidak jauh dari meja yang mereka tempati.


Ketiga sahabatnya menatap kearahnya dengan heran, tidak biasanya seorang Al yang terkenal dengan siswa teladan bersikap seperti ini. Irfan dan Andra tampak bergidik ngeri bahkan mereka beberapa kali meringis menatap kasihan pada bakso yang menjadi korban.


"Kamu kenapa Al? Sakit gigikah hingga baksonya kamu hancur seperti bubur?" Irfan bertanya dengan mimik penasaran sambil menatap bakso yang sudah terbelah-belah.


Al tidak menjawab, ia acuh saja bahkan gemelatuk giginya terdengar hingga keluar.


"Ih, aku jadi ngeri melihat bakso itu, coba kamu lihat. Baksonya jadi tidak berbentuk." Irfan menyenggol pergelangan tangan Andra.


Andra menatap kearah Aldo untuk bertanya, namun Aldo tetap asyik dengan makanannya seolah-olah tidak ada hal seperti itu yang terjadi didepannya.


Tiba-tiba bakso yang ditusuk-tusuk Al dengan garpu sudah meloncat keatas kepala Andra.


"Ini namanya sadis, mamaaaa rambutku kotor." Andra mendramatisir sambil meraba kepalanya kemudian mencium tangannya yang sudah bekas rabaan tadi sedangkan Irfan tertawa terbahak-bahak.


"Ihh... rambutku bau sapi." Andra bergegas berjalan kearah kran untuk membasuh rambutnya. Sedangkan Irfan tetap terbahak dan tidak dapat mengendalikan tawanya.


"Ups... ma'af." Irfan menutup mulutnya saat Al dan Aldo melotot kearahnya. Ia bergidik ngeri melihat dua pasang mata yang begitu tajam, rasanya seperti mengulitinya.


"Al, kamu ada masalah apa sih, hingga sesadis itu? Bahkan seperti kemasukan setan." Andra bertanya sambil menatap kearah Al yang tetap bungkam, sekembalinya ia dari kran.


Al melotot kearah Andra, ia berdiri dan segera berlalu darisana tanpa sepatah katapun.


"Al kenapa sih, sensian amat?" Sambil memegang kepalanya yang masih basah karena air kran tadi.

__ADS_1


Irfan dan Aldo mendelik kearahnya.


"Salah apalagi aku, ya Tuhan."


Irfan menyenggol kearah Andra dan menunjuk kearah meja yang diduduki oleh Angga dan juga Alis. Kemudian mereka menunduk karena sudah kembali dipelototi Aldo. Mereka menyesal telah berkata yang bukan-bukan tentang hubungan Angga dan Alis. Tapi benarkan mereka cukup mesra.


"Kita susul Al, takut terjadi apa-apa dengannya." Irfan berdiri bermaksud menyusul Al yang sudah keluar kantin.


Aldo menahan tangan Al. "Jangan, biarkan Al melampiaskan emosinya dulu, ia tidak akan macam-macam. Kalian tenang saja.


Irfan kembali ketempat duduknya dan menatap kearah Andra yang tampak bungkam.


Ditempat lain.


Al benar-benar kesal rasa sesak didadanya saat melihat Alis bersama orang lain semakin nyata bahkan sesaknya rasa menghimpit hingga kekerongkongannya. Ia melangkah tergesa-gesa kearah tangga rooftop, ia ingin melampiaskan kekesalannya dan kekecewaannya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku jarinya tampak memutih.


"Aaaaaaaaaaa..." Al berteriak sekuat tenaganya sesampainya ia diatas rooftop. Ia terduduk di lantai rooftop masih dengan tangan tergenggam erat.


"Apa-apaan mereka, pakai acara mesra-mesraan segala, padahal belum tentu mereka pacaran. Alis juga, mau-maunya tangan digenggam dan dipegang-pegang lelaki yang bukan siapa-siapanya."


"Sudah ah capek." Al berjalan kearah bangku yang ada disana dan merebahkan tubuhnya serta memejamkan matanya. Ia ingin menghilangkan gemuruh hebat didadanya.


"Al, kamu tidak apa-apakan, tidak terlukakan?" Irfan berlari menghampiri Al dan menatap keseluruhan tubuh Al.


"Apaan sih, aku sehat dan masih normal." Al menjawab masih dengan memjamkan matanya.


"Kok normal sih jawabannya, yang aku tanyakan bukan tentang itu." Irfan bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bergerak juga Al, jangan hanya menonton saja tapi membuatmu terluka, dan cemburu. Bersainglah secara sehat Al kalau kamu yakin dengan perasaanmu." Aldo memberi saran.


Al hanya diam saja, namun ia sudah merubah posisinya menjadi duduk.


"Cemburu itu panas, yang akan membakarmu." Irfan menimpali perkataan Aldo sambil terkekeh. Ia merasa lucu dengan kata-katanya sendiri.


"Sore ini ngumpul yuk, seperti biasa." Irfan menatap penuh harap pada mereka semua agar menyetujui usulnya.

__ADS_1


Andra tampak mendesah dan menyugar rambutnya. "Aku tidak bisa ikut, soalnya aku punya tugas khusus buat tuan Putri."


"Tugas? apaan, memangnya kak Putri ada disini?" Irfan bertanya dengan heran.


Putri adalah nama kakaknya Andra yang tinggal bersama suaminya di kota lain yang cukup jauh dari kota yang mereka tinggali. Dan ia masih berstatus pengantin baru karena baru menikah beberapa bulan yang lalu.


"Biasalah, ibu hamil kalau ngidamnya tidak dituruti maka pasti akan marah atau juga menangis." Andra menjawab sekenanya. Ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan kertas catatan darisana dan menyerahkannya pada Irfan.


"Apaan nih?" membuka catatan tersebut. "Eh busyet... banyak amat catatannya, nama bunga lagi. Ini apa maksudnya Dra?" Irfan menatap kearah Andra.


Al dan Aldo juga mendekat dan ikut memperhatikan daftar tersebut.


"Daftar bunga yang mesti dibeli." Jawab Andra sekenanya.


"Kamu ingin mengoleksi bunga atau membuka toko bunga?" Al terkekeh menatap kearah Andra.


"Itu keinginan ibu hamil, bukan keinginanku. Pakai acara mengancam segala lagi." kesal Andra.


"Borong tuh sama toko bunganya sekalian." Gurau Irfan.


"Hahhh... itulah masalahnya, kakakku tidak mau aku membelinya ditoko bunga. Ia ingin aku membeli pada orang yang punya bunga dihalaman dan pekarangan rumah mereka."


"Oh, begitu. Kenapa?" Irfan menatap kearah Andra yang mendesah frustasi.


"Dia bilang beda, soalnya kemarin aku sudah membohonginya dengan membeli bunga ditoko bunga. Dan ternyata dia tahu itu. Entah dimana letak perbedaannya, aku tidak tahu."


"Ada-ada saja tingkah wanita hamil." Al menggeleng karena ia memang tidak tahu dengan wanita yang mengidam itu seperti apa.


"Bagaimana kalau sore ini kita keliling komplek untuk mencari pesanan kaakakmu?" Aldo memberi usul pada yang lainnya.


"Boleh juga, sekalian kamu tanyakan pada anak-anak dikelas, siapa tahu dari mereka ada yang memiliki kebun bunga seperti di daftar tersebut." Al menimpali.


"Oke, siap beraksi." Mereka bertos ria dan kembali kekelas mereka untuk menyelesaikan misi.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2