
Aldebran berdiri di tepi pantai yang tampak gelap. Debur ombak terus menghantam pinggir pantai menimbulkan suara yang pecah dan beriak di telinganya.
Sejak tadi handphone yang ada di saku celananya selalu bergetar menandakan ada panggilan suara. Namun ia tidak ada niat sedikit pun untuk menjawabnya.
Rasa kecewanya menghantam ulu hatinya saat ia kembali mengingat jawaban Alis yang terdengar sangat bertanggung jawab tapi rela menyakiti hati yang selama ini selalu dijaganya.
Al mengepalkan kedua belah tangannya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriaknya sekuat tenaga. Tubuhnya luruh ke tanah, beberapa kali tangannya memukul pasir putih. Ia tidak perduli lagi pada dirinya yang sudah terlihat acak-acakan dan berantakan. Hatinya sakit saat memikirkan Alis yang rela berkorban.
"Al! Kamukah itu?"
Al terperanjat saat ia mendengar suara seorang gadis yang memanggil namanya. Al memutar kepalanya kesamping kanan. Menatap kearah sosok wanita yang berdiri di belakangnya.
"Mau apa kamu kesini!!?" teriak Al geram pada sosok Jessica yang berjalan mendekat kearahnya.
"Aku tidak ingin diganggu! Aku ingin sendiri! Sebaiknya kamu menjauh dariku!" ucap Al sinis. Ia tidak suka pada gadis centil yang sudah memposisikan dirinya duduk tepat disamping Al.
Rupanya Jessica tidak perduli dengan gertakan Al. Ia memang gadis yang bebal.
"Aku kesini hanya ingin menikmati suasana pantai malam hari. Ada banyak bintang yang bisa kita tatap diatas sana!" tunjuknya pada segerombolan bintang yang tampak berkelap-kelip.
Al ikut mendongakkan kepalanya menatap kearah telunjuk Jessica. Matanya beralih menatap wajah Jessica yang terlihat tenang dalam cahaya remang-remang.
"Setiap orang yang mencintai itu harus rela untuk menanggung resikonya, sakit hati dan dipermainkan. Bahkan juga di khianati. Semua itu adalah bagian yang namanya cinta."
Al mengerutkan dahinya mendengar penuturan Jessica yang terdengar bijak di telinganya. Ia tersenyum kecut setelahnya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud!"
Jessica berbalik dan menatap Al yang masih menatap kearah dirinya. Ada rasa senang saat mendapati Al yang di tolak oleh Alis. Namun tidak dapat di pungkiri kalau dirinya juga merasakan rasa sedih saat melihat penampilan Al yang terlihat mengenaskan.
"Aku yakin, dibalik semua ini pasti ada konspirasi!" sahutnya.
Al mengangguk dan menelengkan kepalanya. Menatap dengan seksama kearah Jessica. Membuat Jessica terlihat memerah. Tawa Al seketika pecah, tawa yang terdengar pilu karena bercampur dengan kesakitan.
"Apa yang kamu tahu tentang dirinya. Kamu tidak tahu apapun tentang dirinya. Jadi, jangan menilai dirinya sembarangan!" Marah dan geram pada gadis yang duduk disampingnya.
"Aku memang tidak tahu apapun tentang dirinya. Tapi aku tahu kalau Alis adalah gadis yang lemah lembut. Dia gadis yang baik, tidak pendendam walaupun dia terus-menerus disakiti."
"Kamu baru menyadarinya rupanya!" cibir Al. Ia berdiri dan menjauh dari Jessica. Ia sama sekali tidak menyukai keberadaan gadis tersebut didekatnya.
Namun, Jessica justru mengikuti langkahnya. Bahkan gadis tersebut selalu mengintili dirinya.
"Al, tidakkah kamu melupakan Alis dan membuka hatimu untuk gadis lain. Aku yakin kalau tuan Rafael tidak akan pernah mau melepaskan Alis begitu saja. Dia sangat posesif dan juga sangat mencintai Alis!"
Langkah Al seketika langsung terhenti. Ia berbalik dan menatap Jessica dengan tajam. Matanya tampak berkilat marah.
"Jangan ikut campur urusanku. Cukup urusi saja urusanmu!!" desisnya meninggalkan Jessica menuju kearah mobilnya.
__ADS_1
Ia melaju meninggalakan pantai yang sempat menjadi saksi bisu tentang pernyataan cintanya pada Alis. Tangannya beberapa kali memukul stir mobil yang dikendarainya. Ia menyetir tak tentu arah hingga berhenti tepat dihadapan rumah milik Alis. Rupanya perasaannya membawanya kesini tanpa sadar.
"Al!"
Al berbalik saat mendengar namanya diteriakan oleh seseorang. Ia berbalik dan mendapati Aldo yang memanggilnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Al heran setelah Aldo menghampirinya.
"Hanya khawatir padamu. Tadinya aku mencari keberadaanmu. Dan aku tanpa sengaja melihatmu menuju kearah sini, jadi aku mengikutimu."
Al terdiam. Ia menatap kearah Aldo.
"Bagaimana kalau kita pergi kesuatu tempat?" tawar Aldo.
"Aku tidak mau. Aku ingin melihat keadaan Alis sekarang." Sentak Al saat Aldo ingin meraih tangannya.
"Kamu gila. Ini sudah hampir tengah malam. Dan apa yang akan kamu lakukan disini."
"Iya. Aku gila dan tentu saja aku ingin melihat keadaan Alis!"
Aldo mendesah melihat kekeras kepalaan Al. "Baiklah kalau begitu, aku akan menemanimu disini." Aldo berjalan dan duduk di bangku taman depan rumah Alis. Ia masih menatap kearah sahabatnya yang masih berdiri dihadapannya.
"Aku tahu kalau kamu dan Alis saling mencintai. Tapi kenapa dia harus mengorbankan perasaannya."
Al berbalik dan menatap kearah Aldo. Ia berjalan dan menghampirinya. Duduk tepat disampingnya.
"Apakah benar tentang video itu? Dan pernyataan Rafael barusan tentang pernikahan?"
"Lebih baik kita pulang Al, besok kita akan kesini lagi," saran Aldo.
Al melirik. Ia mengangguk dan berjalan kearah mobilnya. Kembali mendongak kearah kamar Alis tanpa tahu ada yang memperhatikan gerak-geriknya dengan wajah yang geram.
●●●
Keesokan harinya, sesuai dengan rencana mamanya. Alis di jemput oleh Riyan kerumahnya. Ia terkejut mendapati Rafael yang menginap di rumah Alis. Kecurigaannya makin kuat mengenai sosok Rafael. Benarkah mereka sudah menikah secara diam-diam di luar negeri?
"Ada apa?" Rafael duduk tepat di hadapan Riyan. Ia layaknya tuan rumah yang sedang menyambut tamunya.
"Aku mau bertemu Alis, ada perlu dengannya."
"Dia masih sibuk di kamarnya," sahut Rafael tanpa perduli perubahan raut wajah Riyan yang berkerut dalam.
"Aku keatas!"
"Eits tunggu dulu, sebaiknya kamu duduk dan tunggu disini saja. Aku yang akan mrmanggilkannya untukmu!" Rafael mencegah Riyan untuk menemui Alis karena ia masih memiliki rasa cemburu.
Namun, berbeda dengan Riyan. Ia justru menatap semakin curiga dengan Rafael. Ia layaknya seperti seorang suami yang posesif terhadap istrinya. Semoga saja kecurigaannya salah.
Alis berjalan di tangga dengan baju kaos lengan panjang berwarna coklat dan celana jeans pencil serta sebuah tas selempang kecil yang tersampir di pundaknya.
__ADS_1
"Ayo Lis kita berangkat!!" ucap Riyan setibanya Alis dihadapannya.
"Kalian mau kemana?" tanya Rafael. Ia tampak tidak setuju Riyan membawa Alis pergi.
"Kami sedang ada perlu!" sahut Riyan acuh dan membawa Alis keluar rumah.
Riyan memacu mobilnya kearah rumah sakit yang sudah di rekomendasikan oleh ibunya. Disana, Shakila sudah menunggu mereka.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Riyan bergegas menarik Alis dan membawanya ke ruangan dokter kandungan. Alis terlihat menunduk malu saat ia melewati segerombolan wanita-wanita hamil. Matanya sempat melirik pada perut buncit salah satu wanita disertai dengan sedikit ringisan.
Mereka tidak mengantri karena Shakila sudah menghubungi pihak rumah sakitnya untuk mengambil antrian paling awal.
Alis merebahkan dirinya diatas ranjang dengan posisi telentang ketika petugas medis memintanya. Dan menyingkap sedikit bajunya keatas, memperlihatkan perut rata miliknya.
Dokter kandungan mengoleskan gel pada area panggul. Alis seketika merasakan sensasi dingin. Dokter menggerakkan transducer di perut Alis untuk melihat keadaan rahimnya. Pemeriksaan berlangsung selama kurang lebih 15 menit.
"Bagaimana, Dok hasilnya?" tanya Shakila yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan layar monitor yang menggambarkan rahim Alis.
Dokter wanita yang bername tag Femi tersenyum kearah Shakila.
"Anak ibu keadaan rahimnya sangat bagus. Tidak ada yang jangkal ataupun tanda-tanda adanya penyakit berbahaya."
"Jadi, apa kesimpulannya, Dok? Apakah anak saya ha-mil?" tanya Shakila terdengar sedikit ragu.
"Hamil?" ulang dr Femi. Dia menatap kearah Alis yang menunduk malu. Senyum terbit di bibirnya.
"Oh, untuk urusan itu, sebaiknya anak ibu harus lebih berusaha lagi untuk melakukannya. Ada baiknya ia segera melaksanakan honeymoon."
Shakila membelalakkan matanya mendengar ucapan dr Femi yang ada di depannya.
"Jadi, artinya dia belum hamil dok?" ulang Shakila lagi untuk memastikan.
"Iya. Dia belum hamil. Dan ada baiknya adik menunda dulu untuk hamil karena usianya masih terlalu muda. Sebaiknya Anda diskusikan dulu dengan suami Anda."
Alis kembali menunduk semakin dalam. Ingatannya kembali pada percakapannya dengan Rafael tadi malam dan matanya beralih menatap jarinya yang masih melekat cincin perkawinan versi Rafael.
"Oh iya, satu hal lagi. Sepertinya Anda masih belum melakukan malam pertama."
Shakila menatap dr Femi dengan perasaan campur aduk. Dia bingung dengan keterangan yang di berikan oleh dokter tersebut.
"Maksudnya anak saya masih perawan!!?" Shakila membelalakkan matanya mendengar kenyataan yang sedikit simpang siur menurutnya. Beralih menatap kearah Alis yang sudah menegakkan kepalanya.
"Iya. Dia masih perawan!" sahut dr Femi memastikan.
"Kurang ajar si Rafael mempermainkan diriku!" gumam Alis yang terlihat marah. Matanya tampak berkilat di penuhi dengan aura merah.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Dok!" pinta Shakila sambil meraih hasil USG tersebut.
Dr Femi hanya tersenyum saja, seolah ia tidak mengerti dengan semua masalah yang menimpa anak muda tersebut.
__ADS_1
💦💦💦