
Alis membuka matanya dengan perlahan, rasanya badannya pegal semua, terlebih lagi bagian pundaknya. Rasanya ia sedang memikul beban berat. Alis menatap kamar yang ditempatinya, kamar dengan nuansa karamel dan sangat luas, lebih luas dari seluruh kamar yang dimilikinya. Bahkan ranjang yang ditempatinya begitu sangat empuk dan juga sangat luas. Didepannya ranjangnya ada sebuah kursi santai yang menghadap kearah balkon. Seketika Alis mengerinyitkan dahinya bingung karena sebelumnya ia tidak pernah menempati kamar ini, semuanya terasa sangat asing.
Alis tampak berusaha berpikir keras mengingat-ingat kejadian sebelumnya, namun percuma saja karena ia sama sekali tidak mengingatnya yang membuatnya hingga berada diruangan asing tersebut.
Sekuat tenaga Alis memejamkan matanya dan mengusir rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya, rasa yang berdenyut begitu hebat hingga rasanya telinganya ikut berdenging karena rasa sakitnya.
Setelah cukup lama ia memejamkan matanya, akhirnya Alis merasa sedikit membaik. Ia menyibak selimutnya dan ingin segera berdiri namun derit pintu menghentikan gerakannya. Ia menatap kearah pintu, menerka-nerka orang seperti apa yang akan mendatanginya.
"Nona, Anda sudah sadar rupanya. Saya akan memanggilkan Tuan," ucapnya yang segera kembali keluar dari pintu yang dimasukinya tadi.
Alis hanya diam sambil menatap kearah pintu, ia berharap orang yang dipanggil tuan oleh wanita tadi adalah orang yang baik.
Pintu kembali terbuka, tampak dua orang lelaki mendatanginya. Dan salah satunya memakai jas berwarna putih. Ia menjinjing sebuah tas yang kemudian diletakkannya diatas ranjang yang ditempati Alis. Ia membukanya dan meraih sebuah stetoskop, rupanya ia adalah seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Alis.
Beberapa kali Alis tampak mengernyitkan dahinya dalam. Ia benar-benar heran karena tidak tahu apa yang sudah dialaminya sebelumnya.
"Bagaimana keadaannya, Cel?" tanya lelaki yang sedikit familiar di ingatan Alis. Lelaki bermata biru dan berambut coklat tersebut.
"Untuk saat ini kondisinya bagus, normal. Ia hanya perlu sedikit istirahat maka akan benar-benar pulih." ucap dokter yang dipanggil Marcel oleh lelaki yang mungkin merupakan tuan rumah ini.
"Alisya, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu merasakan sakit atau merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhmu?" tanya lelaki tersebut.
Alis hanya mengangguk saja, ia berusaha mengingat-ingat lelaki itu, yang sejak tadi selalu memandangnya namun dengan sorot yang angkuh.
"Kalau begitu, saya permisi dahulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku," ucap Marcel sambil menatap kearah Alis dan juga lelaki bermata biru itu.
__ADS_1
Alisya menatap kepergian Marcel bersama dengan Rafael keluar dari kamar yang ditempatinya. Alis kemudian turun dari ranjangnya, ia ingin pergi kekamar mandi dan membersihkan dirinya namun belum sempat ia melangkah, tangannya sudah dituntun oleh seseorang. Alis berpaling dan melihat lelaki bermata biru yang bersikap dingin sejak tadi.
"Ma'af tuan, saya bisa sendiri dan ma'af juga karena sudah merepotkan anda," ucap Alis sambil melirik kearah Rafael. Ia sudah mengingat lelaki yang sejak tadi hanya bungkam saja, lelaki ini adalah pemilik perusahaan besar di Eropa dan sudah melakukan kerja sama dengan perusahaan miliknya. Lalu, yang membuat Alis bingung adalah kenapa ia sampai berada dirumah lelaki ini, apakah rumah ini ada dinegara Alis ataukah negara lelaki tersebut.
"Kamu, gadis kecil jangan kebanyakan berpikir. Sebaiknya kamu cepat selesaikan hajatmu, aku akan menunggumu disini." Rafael mengantar Alis sampai kedepan pintu kamar mandi.
Alis kembali dibuat terperangah dengan keadaan kamar mandi yang sangat luas bahkan seluas kamar miliknya. Ia menggaruk pelipisnya beberapa kali saat melihat begitu banyaknya jenis sabun dan pewangi yang ada dilemari tersebut bahkan botol sabunnya sangat mirip dengan botol parfum. Bergegas ia melakukan ritualnya dan setelah mencuci tangannya,ia mencuci wajah dan juga kakinya bahkan ia juga sedikit menyugar rambutnya dengan tangan yang masih basah.
Tok tok tok
"Alisya! kamu tidak apa-apakan didalam," terdengar nada khawatir yang terlontar dari balik pintu. Bergegas Alis menghampiri pintu dan membukanya. Ia menatap kearah Rafael yang menatapnya dengan penuh tanya saat melihat rambut Alis yang basah.
"Kenapa rambutmu basah, apa yang sudah kamu lakukan didalam hingga begitu lama?" tanya dengan nada penasaran bahkan kepalanya melongok kedalam kamar mandi.
"Tidak ada, saya hanya sedang membasahinya sedikit. Rasanya uap kepalaku yang panas akan sedikit terasa lebih dingin," jawab Alis acuh sambil duduk pada sofa yang ada disana.
Alis hanya mengangguk saja, ia menyorot Rafael yang sejak tadi terlihat sibuk dengan handphone yang ada ditangannya. Bahkan ia sangat fokus dengan benda persegi empat pipih tersebut. Ingin sekali Alis bertanya tentang keberadaannya saat ini namun ia urungkan saat Rafael sudah berdiri.
"Gadis kecil, sebaiknya kamu beristirahat, maid akan datang membawakan makanan untukmu. Dan jangan lupa minum obatnya. Aku ada keperluan dikantor. Jangan kemana-mana, tunggu sampai aku pulang!"
Alis hanya diam saja sambil menatap Rafael yang pergi keluar kamarnya. Alis merasa sangat bosan dengan keadaan ini. Ia kembali menyorot seluruh ruangan kamar ini untuk mencari-cari buku sebagai penghilang bosannya, namun tidak terdapat satupun. Ia menyorot kearah gorden yang tampak berkibar ditiup angin, dengan langkah tergesa Alis menghampirinya dan membuka pintu yang menghadap kebalkon.
Matanya berpendar indah saat menatap pemandangan yang ada dihadapannya. Ia menatap kebawah dan baru menyadari kalau dirinya sedang berada dilantai atas. Dibawahnya terdapat kolam renang yang luas. Dihadapannya terdapat sebuah taman yang luas, ditengahnya terdapat sebuah gazebo dan juga ada sebuah hutan kecil. Area rumah ini benar-benar luas, ini bukan rumah tapi mansion.
"Nona, Anda diluar? Sebaiknya Anda segera masuk, nanti masuk angin."
__ADS_1
Alis berbalik dan menatap seorang maid yang sedang berbicara dengannya. Ia tidak menyadari dengan keberadaan maid tersebut karena terpana melihat pemandangan dihadapannya.
"Sebaiknya Anda sarapan dulu nona!" perintahnya pada Alis yang dijawab anggukan oleh Alis. Ia berjalan masuk mengikuti maid yang berjalan didepannya.
"Jangan panggil aku nona, panggil aku Alisya. Dan juga jangan formal padaku karena kita seperti masih seumuran," ucap Alis yang memperhatikan maid tersebut. Ia menatap menu yang sudah ada diatas meja duduk tersebut.
"Ma'af nona, saya tidak bisa karena ini adalah peraturan dirumah ini dan juga nona adalah tamunya tuan."
Alis hanya terdiam dan menatap maid tersebut dengan sorot dingin khasnya dan tanpa senyum sedikitpun. Maid itu hanya menunduk saat menatap Alis yang hampir sama dengan sikap tuannya yang juga lebih dingin.
"Setelah ini, tolong temani aku jalan-jalan ketaman!"
Maid tampak terdiam, "Ma'af nona, Anda tidak bisa jalan-jalan karena setelah sarapan ini, nona diharuskan istirahat. Ini sudah menjadi tugas saya melayani nona dan juga melaksanakan atas apa yang sudah diperintahkan oleh tuan Rafael."
Alis tampak jengah mendengarnya, namun ia hanya menurut saja. Toh ia bukan siapa-siapa dirumah ini, hanya tamu asing saja yang kebetulan kenal dengan tuan rumah karena kerja sama bisnis mereka.
"Tolong kamu carikan aku beberapa buku, tentang apa saja. Aku bosan kalau tidak melakukan apapun juga, membaca buku adalah alternatif yang membuatku bisa istirahat dan tertidur," ucap Alis yang melihat maid tersebut yang ingin menolaknya namun urung setelah mendengar penjelasan terakhir Alis.
"Baik nona."
Alis melanjutkan sarapannya, ia hanya bungkam saja hingga selesai sarapan. Bahkan sampai maid itu menghilang.
Ia ingin melangkah kearah balkon lagi tapi niatnya diurungkannya saat terdengar pintu yang kembali terbuka. Tampak maid tadi datang kearahnya dengan membawa beberapa buku yang sudah dipesankan oleh Alis.
Alis tampak berbinar melihatnya, ia bahkan berdecak kagum saat melihat buku-buku yang begitu tebal. Bahkan ia sudah mengembangkan senyum manisnya karena saking girangnya. Membuat maid tersebut mengernyit heran dengan tingkah Alis yang tidak biasanya.
__ADS_1
💦💦💦