
Alis bersama Rafael membawa Jessica kerumah Bastian, mereka tidak tahu alamat Jessica karena Jessicanya masih linglung, masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Kediaman Bastian tidak seperti biasanya, rumah mereka terlihat lebih ramai dari biasanya bahkan pintu gerbangnya terbuka lebar. Sekurity juga terlihat sedang berjaga didepan pintu gerbang. Ia membungkuk memberi hormat pada mobil Rafael yang sudah memasuki halaman rumah.
Mata Alis memandang sendu kearah orang tuanya yang sedang berdiri di teras rumah bersama dengan Riyan dan juga Januar. Rupanya mereka sudah tahu kedatangan Alis, pikir Alis didalam hatinya. Ingin rasanya ia berlari dan berhambur memeluk kedua orang tuanya yang sangat dirindukannya.
Sedangkan Jessica yang berada disamping Alis tampak memandang takjub pada rumah mewah yang ada dihadapan mereka, walaupun rumah miliknya sendiri tidak kalah besar dari rumah milik Bastian. Dia pikir ini adalah rumah milik keluarga lelaki bule yang sedang duduk didepan bersama sopir, tidak mungkinlah ini rumah Alis, diakan gadis miskin. Jessica merasa beruntung karena sudah ditolong lelaki tersebut kemudian dibawa kekediamannya.
Mobil berhenti tepat didepan rumah, Alis ingin keluar dari mobil yang ditumpanginya. Namun Rafael langsung menghentikan aksinya, ia melirik kearah Alis dengan tatapan tajam seolah mengatakan tunggu diriku. Membuat Alis mengurungkan niatnya yang ingin keluar mobil terlebih dahulu.
Dengan wajah masam Alis mengangguk kemudian meremas tangannya bebetapa kali. Ia benar-benar gugup, apa yang akan diutarakannya pada keluarganya mengenai Rafael, pasti keluarganya sangat kecewa padanya. Bisa-bisa ia kembali diusir seperti dulu.
"Alis! Apa aku boleh ikut denganmu?" sentak Jessica tiba-tiba sambil meraih tangan Alis yang sedang mengambil buku miliknya yang ada di kantong kursi mobil sambil melamun.
Alis memalingkan kepalanya kearah Jessica, menatapnya dengan tatapan hangat disertai dengan sebuah anggukan samar. Alis melirik kearah depan, Rafael sudah tidak terlihat lagi. Rupanya ia sudah keluar duluan. Alis kembali membuka pintu mobil, ia ingin keluar. Belum sempat kakinya menginjak tanah, tangan Jessica kembali menarik tangannya untuk mencegat Alis keluar mobil duluan. Ia tidak ingin Alis terlalu dekat dengan Rafael, lelaki bermata biru yang sudah menolongnya dengan membelikan dirinya baju. Mata Jessica beralih menatap kearah Rafael yang sedang berdiri diluar mobil dan sedang menunggu Alis.
Dengan gerakan perlahan, Alis kembali melirik kearah Jessica dengan penuh tanya. Ia merasa bahwa Jessica bersikap tidak seperti biasanya, bahkan dirinya sudah terlihat baik-baik saja.
"Memangnya kamu ada hubungan apa dengan lelaki tampan tersebut?" tanya Jessica disela keheranannya. Ia kembali melirik kearah Rafael yang sudah berjalan kearah pintu mobil mereka yang sama sekali belum terbuka. Jessica tersenyum, ia baru pertama kali ini melihat lelaki dingin setampan Rafael. Bahkan tadinya ia tidak menyadarinya karena terlalu syok.
Alis mengedikkan bahunya acuh sambil bersiap keluar mobil kembali, lagi-lagi Jessica kembali mencekal tangannya.
__ADS_1
"Aku duluan ya, kamu keluarnya setelah aku saja," pinta Jesaica yang sudah bersiap membuka pintu mobil yang mereka tumpangi. Senyum manisnya terbit disertai dengan suaranya yang lembut. Mata Jessica juga menatap kearah rumah Bastian.
Alis mengangguk dan kembali melirik kearah Rafael yang sudah membuka pintu mobil yang tepat berada disisi tubuhnya. Ia tidak menghiraukan Jessica yang tersenyum sangat manis kearahnya bahkan ia sudah keluar mobil dengan cara melewati Alis, padahal disampingnya juga ada pintu mobil. Ia mendekat kearah Rafael dengan gerakan yang dibuat lemah, gadis itu rupanya sedang mencari perhatian Rafael, sungguh tidak tahu malu. Bukannya berterima kasih saat ditolong, dia justru mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Apa kamu bisa membantuku berjalan, rasanya aku sangat tidak nyaman terus-terusan dipapah oleh Alis. Dia juga pasti lelah karena tadi sudah menolongku," ucapnya tanpa tahu malu. Jessica menatap Rafael dengan penuh harap, bahkan ia masih berdiri didepan pintu mobil untuk menghalangi Alis yang ingin keluar. Rupanya jiwa irinya kembali muncul saat Alis bersama dengan lelaki tampan yang kaya raya.
Rafael hanya bungkam saja, ia sama sekali tidak berminat untuk melirik kearah Jessica apalagi menyahuti pertanyaannya yang sangat tidak penting. Apalagi tingkahnya sangat memuakkan dan ia sangat tidak menyukai seorang wanita penggoda.
Sedangkan Alis hanya melirik kearah mereka berdua yang seperti sedang bermain drama. Ia memutar bola matanya malas. Ingin rasanya dirinya menendang bokong Jessica yang menutupi pintu keluar mobil, dia sangat menjengkelkan. Mata Alis beralih menatap kearah orang tuanya yang sedang berjalan kearah mereka. Rupanya mereka merasa heran karena Rafael masih tetap berdiri didekat mobilnya bersama seorang gadis, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Tuan Rafael, kita masuk kedalam rumah terlebih dahulu, kita bercakap-cakap didalam saja," ucap Bastian yang sudah berada tepat dihadapan Rafael dan juga Jessica. Matanya memindai kearah Jessica yang semakin menutupi pintu mobil. Seketika Bastian merasa sedih, dia kembali teringat dengan putrinya, Alis yang seumuran dengan gadis yang ada didepannya ini.
Sedangkan Rafael segera berjalan meninggalkan gadis yang sangat menjengkelkan tersebut. Ia tidak suka dengan keberadaan Jessica yang tampak sedang memanfaatkan situasi. Sebenarnya Rafael tahu kalau gadis itu sedang mencari perhatian padanya. Langkahnya menggiringnya mendekat kearah Alis yang masih berdiri ditempatnya. Dengan gerakan lembut ia meraih Alis dan menggenggam tangannya, tatapan hangatnya membuat Alis terkesiap terkejut, refleks ia berusaha melepaskan tangannya namun gagal karena tangan Rafael sangat kuat memegang tangannya. Tatapannya menusuk hingga kejantung, mengisyaratkan agar Alis diam saja dan menurut padanya.
Tanpa suara, Bastian sudah berada didepan mereka berdua. Ia menghambur memeluk Alis, sungguh ia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya diluar sana. Begitupun dengan anggota keluarga lainnya, mereka tampak berlarian ketempat Alis yang semakin dekat kearah mereka dan memeluknya.
Jessica menatap iri kearah Alis, ia tidak menyangka kalau Alis sangat diperhatikan oleh orang kaya ini. Entah darimananya mereka memandang Alis, padahal gadis itu biasa saja dibandingkan dengan dirinya. Rupanya ia sama sekali belum sadar kalau Alis mempunyai hati yang luas dan juga hati yang bersih.
"Sayang, bsgaimana keadaanmu dan apa kamu baik-baik saja?" tanya Shakila pada Alis setelah ia melepaskan pelukannya. Matanya memindai kearah Alis, ia tidak menyangka bahwa Alis sudah berada didepannya. Alis menatap kearah ibunya, tangannya terangkat dan menyapu airmata yang membasahi pipi ibunya yang terlihat bersih. Matanya juga ikut berembun menyaksikan seluruh anggota keluarganya yang sangat merindukannya.
"Sayang, kita masuk kedalam rumah dulu baru kita bisa melepas rindu sepuasnya," ucap Sakila lagi.
__ADS_1
"Iya, tidak sopan menerima tamu di halaman rumah seperti ini," sambung Bastian membenarkan.
"Alis! Kamu baik-baik saja, dek." Riyan meraih tubuh Alis dan memeluknya. Mata Rafael seketika langsung melotot menatap kearah mereka berdua. Dengan kasar ia menarik tangan Alis kebelakang sehingga pelukan mereka terlepas. Ia tidak suka melihat Alis dipeluk lelaki yang ada didepannya ini.
"Ada apa?" tanya Alis dingin sambil menatap kearah Rafael dengan heran.
Riyan tersenyum miring menatap kearah Rafael, ia tahu sesuatu. Rupanya lelaki didepannya ini tidak tahu kalau Alis adalah adiknya. Baiklah ia akan bermain sandiwara.
"Sayang! Ayo kita masuk kedalam. Aku sangat merindukanmu, kita melepas rindu sepuasnya didalam seperti yang mama ucapkan tadi!" ucap Riyan dengan lantang sambil kembali meraih Alis dan mengecup keningnya, matanya sesekali mendelik kearah Rafael yang sudah mengeraskan rahangnya. Ia bersorak senang didalam hati, umpannya sudah termakan.
Rafael kembali menarik Alis kearahnya, tangannya sibuk menggenggam tangan Alis dengan sangat erat, menimbulkan senyum samar diwajah Riyan namun menimbulkan banyak tanya dibenak yang lainnya selain bawahan Rafael.
"Tuan Rafael, mari masuk kedalam!" ucap Bastian lagi memecahkan rasa canggung dan rasa tidak nyaman diantara mereka semua yang masih berdiri disana.
Rafael mengangguk, ia menggiring Alis mengikuti langkah kaki mereka. Tangannya semakin ia eratkan pada tangan Alis, gadis ini rupanya tidak bisa lepas mata, karena dia sangat disukai banyak orang walaupun pendiam pikir Rafael.
Jessica melongo menatap mereka yang sudah selesai memperebutkan Alis. Kenapa dirinya dianggap tidak ada, padahal dia lebih baik dari Alis, lebih cantik dan lebih kaya. Ia menghentakkan kakinya karena kesal melihat mereka yang meninggalkan dirinya dan melupakan keberadaannya. Dia tidak akan merasa berhutang budi pada Alis karena Rafael lah yang menolong dirinya.
"Nona, silahkan masuk kedalam," ucap Yaska yang sejak tadi masih berdiri disana bersama beberapa bodyguard yang lainnya. Jessica melirik sesaat kearahnya, kemudian berjalan acuh memasuki rumah yang sangat besar dan mewah tersebut.
💦💦💦
__ADS_1