
Suhu semakin dingin, embun juga sudah mulai naik. Suasana dirumah ini begitu senyap bahkan suara jangkrik yang biasanya selalu bersenandung pun kini sudah tidak terdengar lagi, hanya kesunyian. Namun dikamarnya Al tampak sangat gelisah. Hatinya gundah gulana, bingung dan juga sedih. Semua berbaur menjadi satu merasuki hatinya.
Al berusaha memejamkan matanya, namun belum ada satu menit pun matanya kembali terbuka. Ia bergerak gelisah dan mendudukan dirinya. Al mrndesah dan mengusap wajahnya. Ingatannya kembali berkelana pada seorang gadis yang dulu pernah menolongnya. Gadis yang juga pernah ditemukannya hampir dalam keputus-asaan. Dan sekarang ia tahu bahwa gadis itu jauh memerlukan seorang teman yang bisa mengobati dirinya. Gadis itu begitu hampa.
Baru saja Al ingin menggapainya namun tangannya sudah ditarik kebelakang. Mampukah hati ini menghapus namanya, sedangkan dia sudah membekas lama disana. Bahkan dia yang selalu mengisi pikiran Al akhir-akhir ini.
Namun kini Al merasa lebih kecewa lagi dibalik sikap ketidak berdayaannya. Ia ingin menolak tapi ia tak mampu, ia belum yakin dengan hatinya. Ia bimbang, bahkan rasa bimbangnya makin menyeruak kepermukaan. Ini bukan kejutan yang diinginkannya. Bukan juga keinginan yang akan dicapainya.
Al mengakui bahwa ia memang menyukai Alis, tapi hanya sebatas suka. Entah sejak kapan dan semua itu tanpa alasan.
💦💦💦
Berbeda dengan Alis, dia lebih diam lagi dibalkon kamarnya dengan memandang langit malam. Ingatannya kembali berkelana menggali memorinya beberapa waktu yang lalu.
Apa maksud kak Riyan, apa benar kalau kedua orang tuaku begitu merindukanku. Sedangkan mereka masih menolakku. Namun bukankah itu impianku selama ini.
Alis benar-benar tersenyum dalam tangisnya. Bahkan ia berusaha untuk kembali menormalkan detak jantungnya yang menggila, bahkan debar dadanya yang membesar. Setelah selama ini apa yang diharapkannya akan tercapai. Pengakuan orang tuanya atas dirinya, curahan rindu yang mendalam bahkan kasih sayang yang tak sampai hingga pelukan yang menghilang. Semua itu adalah impiannya.
Haruskah ia melambung untuk itu semua, tapi apakah semua itu benar? Atau hanya hiburan dari Riyan untuknya agar selalu punya harapan yang membahagiakan. Atau hanya untuk menghibur hati Alis yang benar-benar beku.
Rasanya kesalahannya dimasa lalu, dimata orang tuanya, tidak akan pernah dapat kema'afan mereka bahkan keampunan dari Tuhan sekalipun. Alis kembali meneteskan air matanya, ini yang pertama kalinya ia kembali menangis setelah sekian lamanya. Selama ini, ia selalu tegar walaupun dibayang-bayangi masa lalu. Tapi sekarang semua itu hampir didepan matanya. Mampukah ia bertahan saat ayah dan ibunya mendekapnya. Mampukah ia bertahan dari tangisnya.
Alis kembali tenggelam dalam ingatan masa lalunya. Ternyata persahabatan yang dibangunnya dimasa lalunya itu adalah petaka baginya. Semua itu adalah omong kosong, palsu bahkan penuh dengan kecurangan juga tipu muslihat.
Alis meraung dibalkon kamarnya, merosot dan meringkuk dengan derasnya air mata. Rasanya ia tidak mampu menghadapi itu semua. Ia benar-benar lelah dalam tangisnya hingga ia terlelap dalam mimpi buruknya.
__ADS_1
💦💦💦
"Kenapa hatiku begitu gelisah dan kenapa Alis selalu membayangiku?" Riyan yang baru saja terlelap tampak mendudukan dirinya. Bayang-bayang percakapannya dengan Alis saat dikafe tadi masih melekat di ingatannya. Bayangan Alis saat ia mengingatkan masa lalunya pun ikut membayang bahkan menghantuinya. Betapa kerasnya Alis menolak tentang cerita masa lalunya yang diulang. Bahkan bayangan Alis yang tampak menggenggam amarahnya juga melintas dibenaknya. Namun Riyan paham, selama ini Alis selalu mampu mengendalikan dirinya dan memendam luka lama seorang diri. Namun hari ini Alis tampak berbeda. Ia terlihat lebih rapuh.
"Alis!!" Riyan terhenyak saat kembali sadar tentang ingatannya. Alis yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Bahkan ia pergi dengan memendam amarahnya. Salahkan dirinya yang sudah membuka luka lama disaat luka itu belum sembuh, disaat luka itu masih basah dan disaat pembenaran belum memihak padanya.
Bergegas Riyan mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar dari rumahnya. Ia mengusap wajahnya beberapa kali saat kegelisahan hatinya menyeruak. Ia tidak ingin membayangkan hal yang lebih dari yang ia takutkan selama ini.
"Ma'afkan aku Lis, ma'af! Karena sudah membuka luka lamamu. Karena sudah membukanya tanpa mengobatinya. Ma'af karena aku tidak bisa menjadi pelindungmu." Riyan memukul stir mobilnya beberapa kali. Bahkan ia tampak menggila, pedal gasnya terus dinaikkannya hingga mobil melaju dengan sangat kencang membelah jalanan yang tampak sunyi.
"Alis! Buka pintunya! Alis! Buka!" Riyan terus menggedor-gedor pintu kayu berwarna putih gading didepannya tersebut. Napasnya tak beraturan karena berjalan tergopoh-gopoh tadi.
Beberapa kali Riyan menggedornya namun tak ada sahutan dari dalam sedikitpun, bahkan bunyi langkah kaki pun juga tidak terdengar. Riyan tampak gusar, ia semakin kalut bahkan sangat takut. Ia tahu bahwa sekarang emosi Alis tidaklah stabil.
Bunyi dentingan kaca rumah yang pecah karena hantaman benda keras. Riyanlah pelakunya. Ia yang sudah tidak sabar dengan keadaan pun nekat memecahkan jendela rumah Alis. Biarlah kaca ini pecah. Toh, besok-besok bisa diganti dan bisa diperbaiki.
Langkah demi langkah Riyan yang tampak terseok-seok ia menapaki anak tangga dengan tergesa, hingga beberapa kali ia hampir terpeleset.
Rumah Alis yang tadinya tampak gelap, kini sudah kembali terang benderang. Alis tampak berdiri didepan kamarnya. Ia tampak terkejut menatap kedatangan Riyan yang menghambur memeluknya. Alis mencubit tangannya, ia takut ini hanyalah mimpi. Namun rasa sakit makin terasa setelah ia mencubit lebih keras lagi tangannya. Berarti ini bukan mimpi.
Saat tertidur dibalkonnya, Alis sempat mendengar bunyi sesuatu yang pecah didepan rumahnya. Ia pikir ada seorang maling yang masuk rumahnya, namun ternyata semua itu tidaklah benar, Riyanlah pelakunya.
Alis hanya diam tanpa membalas pelukan Riyan. Ia bingung dengan keadaan ini, ada apa sebenarnya? Pelukan ini, begitu hangat. Pelukan yang sangat dirindukannya bahkan pelukan ini yang dulu selalu melindunginya dan juga menghiburnya. Tapi kenapa pelukan ini dulu pernah hilang. Kenapa pelukan ini ada disaat luka hati menganga tanpa ada penyembuhnya.
Alis bergetar, sebisa mungkin ia menahan tangisnya. Ia tidak ingin menangis sekarang. Tidak lagi, ia tidak lemah. Ia tidak selemah itu. Alis mendorong kuat tubuh Riyan hingga pelukan itu terlepas. Bahkan tubuh Riyan yang belum siap pun tampak terhuyung.
__ADS_1
Riyan yang mendapat penolakan itu pun tidak luput dari tangisnya. Wajahnya sudah dibanjiri airmata. Inilah yang Riyan takutkan, penolakan Alis saat ia mengingatkan tentang orang-orang dimasa lalunya, saat ia mengatakan tentang kerinduan orang tuanya terhadap Alis.
"Lis, ma'afkan kakak. Dulu kakak tidak ada disisimu saat kamu menghadapi semuanya. Ma'af!" Riyan dengan matanya yang sembab dan memerah menatap Alis dengan menghiba. Namun Alis sama sekali tidak bersuara. Bahkan ia tidak memandangnya, Alis tetap menunduk dan semakin menunduk dalam.
"Lis, bicara sama kakak, apa yang kamu rasakan. Sampaikan apa yang sebenarnya kamu rasakan Lis!" Riyan terus menghiba. Ia mengguncang bahu Alis yang hanya diam menunduk.
Riyan mendekap Alis, perlahan Alis merespon dekapan Riyan. Tangis Alis yang disembunyikannya tadi pun pecah. Ia tidak dapat lagi menutupi luka ini. Tidak bisa lagi. Biarlah ia menjadi lemah sesaat.
"Lis, berjanjilah pada kakak, apapun yang terjadi kedepannya, kamu harus kuat, harus bercerita sama kakak, harus berbagi. Jangan seperti ini, kamu bagai patung tapi kamu hidup, kamu bernapas." Riyan bersuara dengan parau. Ia mengusap wajahnya dan menengadah keatas untuk menghalau air mata yang jatuh dimatanya.
Alis semakin mempererat dekapannya, ia terisak begitu pilu bahkan terdengar sangat menyayat hati.
"Lis, janji sama kakak untuk selalu berbagi dengan kakak, apapun itu." Riyan kembali meminta hal yang dulu pernah mereka ikrarkan.
Alis tampak bungkam, mampukah ia percaya lagi. Tapi semua itu diluar kendali kakaknya. Alis mengangguk lemah karena ia kelelahan sebab menangis terlalu lama, hingga untuk mengucapkan kata 'iya' saja pun ia tidak mampu.
"Sekarang, kamu tidur. Kamu kekamar, kakak akan menemanimu." Pinta Riyan.
Riyan menggandeng Alis untuk memasuki kamarnya. Alis merebahkan dirinya dengan perlahan. Kemudian memejamkan matanya.
Riyan menaikan selimut Alis sebatas dadanya. Ia menatap wajah Alis yang baru saja memejamkan matanya. Tampak Riyan membelai rambutnya lembut. Adik kecilnya yang dulu periang walaupun pendiam dan pemalu, tapi kini tumbuh menjadi gadis yang sangat pendiam dan tertutup. Ia sangat menyesalkan itu semua. Tapi ia tidak berdaya, mungkin itu memang sudah takdirnya.
Riyan kembali duduk di sofa yang ada didekat ranjang Alis. Ia juga ikut memejamkan matanya. Rasanya hatinya sangat lelah melalui semua ini.
💦💦💦
__ADS_1