Layangan Kertas

Layangan Kertas
Mencari keberadaanmu


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Al tidak pernah bertemu dengan Alis sama sekali, sejak terakhir Alis yang mengobatinya waktu itu. Sejak itu pula ia sama sekali tidak melihat keberadaan gadis pendiam tersebut, ia seperti raib dari muka bumi ini. Al bahkan sudah beberapa kali datang kerumah Alis untuk mencari keberadaannya, namun tidak ada seorang pun yang berada disana. Ia bingung harus mencarinya kemana karena ia tidak tahu siapa saja keluarga Alis. Bahkan rumah milik Alis juga sangat jauh dari para tetangga.


Sejak tadi ia mondar-mandir didepan rumah Alis bahkan ia sudah melihat kekebun milik Alis, namun kosong. Beberapa kali ia mengusap wajahnya karena gusar akan hal ini.


Bodoh! kenapa disaat seperti ini ia malah melupakan keberadaan Aldo. Bukankah ia dulu pernah dijodohkan ayahnya, om Subhan dengan Alis, berarti ia tahu keberadaan keluarga Alis atau setidaknya ia tahu siapa nama orang tua Alis.


"Semuanya! Kita kumpul di kafe biasa, kafe LK sekarang juga." Begitulah notif yang dikirim oleh Al pada group whatsApp mereka yang hanya terdiri dari 4 orang anggota tersebut.


Bergegas ia berjalan kearah mobilnya yang terparkir tidak jauh dihalaman rumah tersebut. Langkah lebarnya tampak tergesa dan beberapa kali matanya kembali melirik kearah kebun yang berada di belakang rumah Alis. Sunyi, semuanya terlihat sangat sunyi bahkan seperti layaknya dihutan tanpa penghuni.


Entah kenapa beberapa hari ini perasaan Al sangat gelisah, sangat tidak nyaman. Ia merasakan sesuatu yang hilang, namun ia tidak tahu apa itu.


Hanya dalam waktu 15 menit, Al sudah tiba didepan kafe dan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dengan langkah pasti ia berjalan memasuki kafe tanpa menghiraukan kaum hawa yang berdecak kagum menatap kearahnya. Tatapannya kali ini terlihat dengan tatapan dingin, tidak ada sorot kehangatan sama sekali.


"Al, tunggu!" Al berbalik dan menatap Andra dan juga Irfan yang tampak setengah berlari kearahnya. Matanya memindai keduanya.


"Memangnya ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Irfan yang selalu penasaran dan serba ingin tahu.


"Nanti didalam saja, sekalian menunggu kedatangan Aldo!" ucap Al sambil melangkah memasuki kafe yang terlihat sangat ramai, di iringi oleh kedua sahabatnya.


Ketiganya berjalan mencari tempat duduk, mereka menemukam sebuah meja yang tampak kosong dan berada didekat pembatas antara ruang tengah kafe dan ruang dapur.


"Aldo mana ya? Kok lama?" ucap Al dengan gelisah sambil terus-menerus memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Beberapa kali ia mendongak menatap kearah pintu masuk, bahkan pergerakannya terlihat sangat gelisah. Andra dan Irfan saling menatap dengan penuh tanya. Setelahnya mereka saling menggelengkan kepala, kemudian kembali menelisik kearah Al.


"Al, kamu kenapa gelisah begitu? Apa ada sesuatu yang kami lewatkan?" bingung Irfan.


Iya, Al. Beritahu kami. Kami pasti a__."


Belum sempat Andra meneruskan kalimatnya, Al tampak berdiri dan berjalan cepat kearah Aldo yang sudah berjalan mendekat kearah mereka. Ia meraih bahu Aldo dan menariknya kearah bangku mereka hingga membuat beberapa orang kembali memperhatikan kearah mereka. Semua itu menimbulkan kernyitan tanya di kepala Andra dan Irfan, terlebih bagi Aldo yang baru saja datang dan tidak mengetahui sama sekali duduk perkara. Apalagi sikap Al kali ini sangat berbeda, tidak biasanya ia bersikap seperti ini sebelumnya.


"Al ada apa sih?" Bukan Aldo yang membuka suara penuh tanya, tapi Irfan yang sedari tadi selalu menatap lekat memperhatikan sahabatnya tersebut, saat mereka sudah menempati kursi masing-masing.


"Begini. Ini tentang Alis." Ada jeda sejenak, Al menarik napasnya dengan perlahan, matanya menatap serius kearah ketiga sahabatnya bergantian. "Bukankah aneh kalau Alis sudah tidak masuk sekolah selama 5 hari ini. Sedangkan masa skorsingnya sudah berakhir lama, sejak minggu lalu! Bukankah itu sangat aneh, bahkan tanpa kabar sama sekali," cerca Al langsung pada poinnya.


Irfan menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia berusaha mengingat-ingat sesuatu. Sedangkan Andra hanya diam saja sambil menatap Al dengan penuh minat. Berbeda dengan Aldo, ia tampak tenang seperti biasa. Perangainya yang dingin membuatnya terlihat tenang dan tidak panik sama sekali.


"Coba berkunjung ke kediamannya. Siapa tahu dia ada disana. Mengurus kebunnya, sekarangkan sedang musim jeruk! Pasti dia sangat sibuk bersama para pekerjanya." Andra mengangguk setuju dengan usul yang diberikan oleh Irfan.


"Dia tidak ada disana. Aku sudah berkunjung kesana setiap hari, bahkan aku baru saja dari sana. Aku hanya takut sesuatu terjadi padanya, aku hanya merasakan perasaan yang tidak nyaman mengenai dirinya," gumam Al sambil mengeluarkan isi hatinya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk mencari tahu keberadaan dirinya. Atau kamu tanyakan saja pada Liza, diakan yang sering bersama Alis," sahut Irfan lagi.


"Tidak perlu! kita akan kerumah orang tuanya saja sekarang. Aku tahu dimana kediaman orang tuanya!" sahut Aldo dingin. Ia menyorot kearah mereka satu persatu. Ia memang selalu memperhatikan Alis sejak dulu, merasa janggal dengan ketidak hadiran Alis di sekolah selama sepekan ini. Alis tergolong anak yang rajin bersekolah, apalagi gadis itu adalah kutu buku. Tidak mungkin dia akan melewatkan kegiatan sekolah seperti sekarang ini.


"Oh iya. Bukankah Alis memiliki seorang kakak, apa kamu juga tidak melihat keberadaan kakaknya?" tanya Irfan.


Al tampak terdiam dan menggeleng kearah mereka. Matanya mengedar menatap kearah ruang dapur, menatap satu-persatu pegawai yang ada disana, namun orang yang dicarinya tetap tidak terlihat batang hidungnya. Apakah ia harus bertanya pada Manejer kafe ini terlebih dahulu.


"Al, kita berangkat sekarang saja. Kamu tidak keberatankan?" tanya Andra sambil menepuk bahu Al dengan pelan.


Al mengangguk dan menatap kearah ketiga sahabatnya. Hatinya kembali gelisah saat menggaungkan nama Alis. Ia kembali melirik kearah ruang dapur dan menelisik setiap karyawan yang berlalu lalang disana, namun sama sekali keberadaan Alis benar-benar nihil.

__ADS_1


Al berdiri dan meninggalkan kafe tersebut tanpa sempat memesan minuman ataupun makanan terlebih dahulu. Baginya mengetahui kabar Alis lebih utama dari segalanya.


Mereka menaiki mobil yang sama, hanya mobil Al. Dengan Aldo yang menjadi sopirnya. Sejak tadi Aldo hanya bungkam saja sambil sesekali ia melirik kearah Al yang berada disampingnya. Ia merasa kasihan dengan sahabatnya tersebut, seperti orang kehilangan arah pulang dan tujuan, memprihatinkan.


"Dimana rumah orang tuanya?" tanya Irfan yang sudah tidak sabar ingin segera sampai. "Apa mereka juga mempunyai kebun buah yang luas seperti milik Alis di belakang rumahnya?" tanya Irfan lagi sambil membayangkan buah-buahan segar dan matang.


Andra mendelik kearahnya, bahkan ia tampak kesal karena Irfan sejak tadi terus saja bertanya tanpa jeda. "Tidak usah banyak tanya. Tuh yang ditanya juga bentuknya patung maneqin begitu, mana bisa dia berbicara," sewot Andra sambil menatap kearah Aldo yang di hadiahi Aldo dengan tatapan tajam melalui kaca spion, sehingga membuat Andra seketika membungkam.


Tidak berapa lama mobil berhenti tepat disebuah rumah yang sangat mewah. Itu semua membuat kernyitan didahi Irfan.


"Do, kenapa berhenti disini? Bukannya kita ingin kerumah orang tuanya Alis?" cerca Irfan lagi.


Aldo menunjuk bangunan mewah yang ada dihadapan mereka. Ketiganya tampak heran dan menatap kearah rumah besar tersebut. Begitupun dengan Al yang baru menyadari kalau mobil yang ditumpanginya sudah berhenti disalah satu bangunan yang tampak asing dimatanya.


"Rumah om Bastian, ayahnya Alis!" tunjuk Aldo lagi untuk menjawab rasa penasaran mereka.


Semua yang ada didalam mobil tampak terperangah dibuatnya, terlebih lagi Irfan, mulutnya cukup lebar terbuka. Ternyata rumah orang tuanya Alis tidak seperti bayangannya.


"Jadi, Alis anak orang kaya? Pantas saja akhir-akhir ini dia selalu dijemput dengan mobil mewah," gumam Irfan disela ketidak percayaannya.


"Iya, dia bahkan hidup sederhana dan terlihat sangat sederhana. Gadis itu sama sekali tidak bisa ditebak," sambung Andra.


"Dengan kehidupan yang berlebihan ini, dia justru bekerja paruh waktu di kafe," sambung Irfan lagi.


"Sudah! Sekarang kita turun!" ucap Al yang sudah membuka pintu mobil terlebih dahulu. Ia sudah berjalan kearah pagar yang tampak tertutup tersebut. Rumah besar itu terlihat sunyi. Namun ada sebuah mobil yang terlihat sedang keluar. Al menatap kearah mobil tersebut yang melaluinya begitu saja, disana ia melihat Riyan dan juga salah seorang lainnya yang sangat familiar dimatanya.


Ia tidak menyangka bahwa orang sesederhana Alis ternyata mempunyai orang tua yang kaya raya. Al mengusap wajahnya prustasi, begitu banyak yang tidak diketahuinya tentang Alis, bahkan gadis itu bagai tanda tanya baginya. Kejutan ini membuatnya urung untuk mengunjungi Alis. Rasanya semua ini sangat mengejutkan dirinya.


"Sekarang kita pulang saja!" ucapnya dingin. Ia benar-benar belum siap untuk mendapat kejutan yang berikutnya dari Alis, gadis yang diketahuinya hidup sederhana dan pekerja keras.


"Loh, kenapa Al? Apa Alisnya tidak ada di rumah?" tanya Irfan dengan masa bodohnya.


"Kamu bodoh apa, sejak tadi Al hanya berdiri didepan pintu pagar, mana dia tahu kalau Alisnya ada atau tidaknya di rumah," jawab Andra dengan kesal kearah Irfan sambil menoyor kepalanya, yang dibalas hal.serupa oleh Irfan.


"Eh tunggu dulu!" ucap Irfan lagi saat sebuah mobil tampak melintas didepan mereka, mobil yang berbeda dengan mobil yang keluar tadi.


"Kenapa lagi?" tanya Andra.


"Itu, ada mobil masuk. Kita tunggu dahulu, mungkin Alis yang berada didalamnya."


Mereka tampak setuju dengan usul Irfan dan menunggu mobil tersebut sampai didepan rumah Bastian. Mata mereka menatap dengan seksama mobil tersebut, bahkan tidak ada celotehan yang keluar dari mulut salah satu dari mereka.


Seorang lelaki berusia 45 tahun tampak keluar dari mobil dengan menggunakan jas putih yang melekat ditubuhnya. Ia juga menenteng tas besar yang berisi peralatan miliknya, penampilannya seperti seorang dokter.


Al dan ketiga sahabatnya saling melirik dengan penuh tanya. Bahkan Al terlihat semakin gelisah setelah melihat dokter tersebut masuk kedalam rumah orang tuanya Alis. Benaknya semakin dipenuhi dengan tanya yang dalam.


"Kita kerumahnya sekarang!" ucapnya lagi, mengurungkan niatnya semula untuk pulang. Rasa kecewanya sudah mulai sirna, hanya ada rasa khawatir yang menguasai benaknya.


"Siapa yang sakit?" celetuk Irfan. Ia menatap kearah pintu rumah Bastian yang masih terbuka. Yang lainnya hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


Mobil mereka sudah berada tepat disamping mobil dokter tersebut. Dengan langkah cepat mereka berempat turun dari mobil dan langsung menuju kedepan pintu.

__ADS_1


Andra beberapa kali menekan bel yang ada dihadapannya. Sedangkan Irfan sejak tadi terus-menerus melongokkan kepalanya kedalam rumah Alis.


"Fan, tidak sopan!" tegur Andra saat kembali melihat Irfan melongok lagi.


Irfan hanya nyengir kearah ketiga sahabatnya yang terlihat gelisah.


"Ma'af, cari siapa ya?" tanya seorang perempuan paruh baya, asisten rumah tangga keluarga Bastian, yang sudah berada dihadapan mereka. Perempuan itu menatap satu persatu remaja yang ada didepannya.


"Kami ingin mengunjungi Alis, Bi. Apakah Alisnya ada?" tanya Andra dengan ramah.


Wanita itu terdiam dan terlihat merubah raut wajahnya setelah mendapat pertanyaan tersebut. Ia terlihat sedih sambil menatap kearah Al dan ketiga sahabatnya sehingga membuat Al semakin gelisah dan beberapa kali melirik kearah pintu.


"Bi! Ada siapa, Bi?" terdengar suara dari dalam. Al dan ketiga sahabatnya menatap kearah pintu saat Bastian keluar dari pintu rumahnya. Wajah lelaki paruhbaya tersebut kelihatan keruh dan juga sedih. Ia menatap kearah Al dan ketiga sahabatnya.


"Naufal? Ada apa kemari nak?" tanya Bastian dengan keterkejutannya saat mendapati Aldo didepan pintunya. Ia kembali menatap kearah tiga remaja lainnya yang bersama Aldo.


"Oh iya, Om lupa. Sebaiknya kalian masuk dulu," ucap Bastian disela senyumnya yang terlihat sangat dipaksakan.


"Om, sebenarnya ada apa ini?" tanya Al langsung saat melihat semua kejanggalan. "Dan siapa yang sakit?" sambungnya lagi tanpa memghiraukan ajakan Bastian tadi.


Bastian berbalik dan menatap kearah Al. Ia menerawang sesaat, senyumnya perlahan luntur. "Istri Om yang sakit. Sebaiknya kalian masuk dulu, kita bercakap-cakap didalam saja!" ucapnya lagi sambil mempersilahkan Al dan ketiga sahabatnya yang tampak bungkam.


Mata mereka menelisik seisi rumah yang dapat dijangkau oleh mata. Mewah, rumah ini terlihat sangat mewah, bahkan sangat luas. Perhatian mereka teralihkan saat dokter keluar dari kamar yang keberadaannya tidak jauh dari tempat mereka duduk sekarang. Bergegas Bastian menghampirinya dan meninggalkan mereka.


"Bagaimana keadaan istriku, Lam?" tanya Bastian. Al dan ketiga sahabatnya memperhatikan mereka dengan seksama.


"Dia kelihatannya sangat kelelahan karena kurang tidur, ditambah dengan banyaknya hal yang sedang dipikirkannya. Itu membuat kondisi tubuhnya melemah dan juga drop. Jangan biarkan ia memikirkan sesuatu yang terlalu berat, takutnya fsikisnya akan terganggu. Kalau boleh aku tahu, apa yang dipikirkannya akhir-akhir ini?" tanya Alam pada Bastian.


Bastian terhenyak mendengar pertanyaan dokter tersebut. Ia menatap sendu kearah Alam, sahabatnya.


"Sepertinya kamu juga mengalami hal yang sama. Apakah ini ada kaitannya dengan putri kalian lagi? Ini lebih buruk dialami oleh istrimu daripada dulu saat putrimu keluar dari rumah kalian."


Al dan ketiga sahabatnya terus saja memperhatikan keduanya. Sesekali mereka tampak saling menatap dengan tatapan penasaran dan tanya.


Cukup lama Bastian terdiam, ia sudah melupakan keberadaan Al dan ketiganya. Matanya tampak menerawang kosong. Dengan gerakan perlahan kepalanya mengangguk.


"Jadi, kemana lagi putrimu itu menghilang?"


Deg.


Mata Al membola, ia menatap tajam kearah dua lelaki yang sedang saling menatap satu sama lainnya. Tangannya terlihat gemetar, ada rasa takut menghinggapi dirinya. Ia takut dengan keadaan Alis, ia juga takut kalau perasaannya berakhir dengan luka. Ia takut gadis itu kenapa-napa. Kenapa gadis itu tidak pernah mau bercerita padanya. Dianggapnya apa Al selama ini. Tidak dipungkiri ada rasa kekecewaan yang mendalam muncul dibenaknya. Matanya kembali menatap kearah dua pria paruh baya yang sejak tadi hanya saling menatap. Terlihat jelas ada keresahan dan ketakutan yang terpancar di bola mata Bastian.


"Dia di culik!"


Duar.


Bagai halilintar disiang bolong. Al tanpa sadar sudah berdiri dan berjalan menghampiri Bastian. Sehingga membuat Bastian terperanjat, ia tidak menayadari kalau mereka masih berada di rumahnya.


"Om, Alis di culik? Siapa yang menculiknya, Om?" tanya Al disela ketidak percayaannya. Matanya memerah menatap kearah Bastian yang juga memerah. Al mengusap wajahnya dengan gusar, bahkan ia terlihat sangat prustasi. Ada sedikit penyesalan dibenaknya karena ia sempat menduga Alis dan menuduhnya yang bukan-bukan.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2