
Selama Alis menjalani masa skorsingnya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bergelut dikantor. Mengerjakan banyak planing dan juga menghadiri rapat yang sering diselenggarakan akhir-akhir ini karena perusahaan mereka ingin meluncurkan produk baru. Dan tidak jarang pula Alis selalu menginap dirumah sederhana miliknya hanya untuk menghindari pertemuannya dengan ayahnya ataupun kakaknya.
Begitupun dengan Riyan, setelah terakhir ia berbicara dengan ayahnya malam itu, hingga kini ia sama sekali tidak menapakkan kakinya dikediaman ayahnya. Ia juga tidak pernah menghampiri Alis. Ia merasa sangat kecewa dengan keputusan Alis yang tidak menghargainya sama sekali usahanya yang mati-matian membelanya. Namun, tetap ia meminta informasi mengenai adiknya melalui orang suruhannya. Ia tidak ingin Alis lepas pengawasan darinya.
Keadaan sekolah milik Alis pun juga tampak tenang setelah ketidak hadiran Alis. Mereka tampak bahagia karena Alis sudah menghilang dari sekolah mereka walaupun hanya beberapa hari saja. Tak dapat dipungkiri, harapan mereka justru Alis diberhentikan dari sekolah. Mereka begitu benci melihat tingkah Alis yang terlihat polos namun itu hanya kedok luarnya saja. Mereka terus menghujat Alis tanpa tahu kebenarannya.
Angga sedang duduk dikantin bersama Nando, matanya menatap tajam setiap anak yang membicarakan keburukan Alis. Ia sangat tidak suka dengan sikap mereka yang memburuk-burukkan orang yang sebenarnya berhati malaikat. Mereka hanya terus-menerus memandang remeh Alis tanpa mampu menilai sisi lainnya pada diri Alis hanya dengan melihat penampilannya yang sangat sederhana ditambah dengan sifatnya yang pendiam.
"Angga, coba kamu lihat, hampir semua anak-anak membenci Alis. Padahal mereka memvonis kesalahan Alis sangat tidak masuk akal. Bagaimana tidak, tuduhan mereka sangat tidak berdasar."
"Hmmm" Angga hanya berdehem sambil menyeruput minumannya. Matanya kembali melirik kearah siswi yang tampak heboh. Sejak kemarin Jessica dan Alifa seperti menggelar pesta kecil untuk merayakan didepaknya Alis dari sekolah mereka, walaupun itu hanya sementara.
Sedangkan pihak sekolah hanya bungkam saja mengenai kejadian ini, seolah mereka sedang tutup mata. Apakah mereka menganggap hal ini sangat sepele sehingga tidak pernah mencari tahu mengenai kejadian yang sebenarnya. Bahkan memberikan skorsing pada orang yang tidak bersalah.
"Coba kamu lihat dua gadis ular itu, mereka sejak kemarin terus saja tertawa dan juga menghamburkan uangnya untuk mentraktir murid-murid lainnya. Ini menurutku sangat berlebihan."
Angga terus mencerna yang diucapkan oleh Nando. Ia kembali mengingat Alis yang kalem dan pendiam namun sangat pintar dalam mengelola bisnisnya. Bahkan ia juga tidak pernah menampakkan kelebihannya didepan siapapun juga.
"Bagaimana keadaan Alis disana ya?" gumam Angga yang masih didengar oleh Nando.
"Hah, apa katamu?" tanya balik Nando. Rupanya Angga tidak mendengarkan ia berbicara yang panjangnya sudah seperti rel kereta api. Justru pikirannya sedang mengejar Alis yang berlarian dibenaknya.
"Kita kekelas," saut Angga.
***
__ADS_1
Berbeda dengan Al, ia sering menghabiskan waktunya dirooftop sekolah ataupun dengan bermain basket. Tidak terpikir olehnya bahwa cintanya bakalan terbalas, namun satu yang ditakutkannya. Rencana ayahnya yang bakalan tidak bisa dijodohkan. Ia masih teringat hari itu, sepulang ia mengantarkan Alis kerumahnya. Ayahnya sudah menunggunya diruang tamu, tidak biasanya ayahnya pulang lebih awal seperti itu.
"Aldebran, ayah ingin berbicara serius denganmu," cegah Arya saat Al ingin melewatinya.
"Ada apa, pa?"
"Empat hari lagi kamu akan bertunangan!"
Al membulatkan matanya menatap ayahnya yang menatapnya dengan tegas. Ia meneguk salivanya kasar, rasanya tenggorokannya begitu tercekat dan banyak duri yang menghalanginya. Baru saja beberapa jam yang lalu ia mereguk kebahagiaan bersama gadis yang dicintainya, sekarang Al harus menerima kenyataan dan membunuh perasaannya sendiri. Haruskah ia lakukan semua itu?
"Pa, sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak mau dijodohkan!!" Al merasa jengah dengan keputusan yang diambil sepihak oleh ayahnya. "Ini hidup Al pa, Al masih mampu menentukan arah tujuan Al dan juga Al yang menjalaninya. Bukan papa." Sahut Al dengan dingin.
Arya tampak marah karena sudah mendapat penolakan dari anaknya. "Justru mengenai hidupmu, papa akan selalu ikut campur karena papa tahu mana yang terbaik untukmu!"
"Siapa? gadis miskin itu? Yang kamu sendiri tidak pernah tahu asal usulnya."
Al menggenggam tangannya erat, wajahnya tampak memerah. Rasanya ia tidak terima saat ayahnya menjelek-jelekkan Alis.
"Lupakan dia Al, gadis pilihan papa jauh lebih baik dari dirinya."
"Pa, Al tidak bisa." Al melangkah bermaksud meninggalkan ayahnya yang tersenyum smirk kearahnya. Namun langkahnya sudah dicegat oleh ibunya yang baru datang dari dapur dengan minuman dan juga cemilan.
"Apa yang papamu bilang itu benar Al, kamu jangan hanya terpaku padanya karena ia mempunyai jasa pada keluarga kita. Semua orang juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada kita. Buka mata hati kamu Al, mungkin kamu hanya kagum padanya."
Al terdiam mendengar penuturan ibunya, ia meneruskan langkahnya tanpa menatap ayah dan ibunya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Al kembali turun dan melewati ayah ibunya yang melongo menatap kepergiannya tanpa sopan santun. Arya kembali berdecak kesal saat melihat itu semua, sejak kapan Al menjadi anak yang pembangkang dan juga tidak tahu sopan santun.
Al menancapkan gasnya dengan kecepatan diatas rata-rata untuk menuju kearah rumah gadis yang sangat dirinduinya beberapa hari ini, namun rumah tersebut kosong dan tidak ada tanda-tanda sedang ditempati.
***
"Al, kamu kenapa melamun, coba lihat apa yang sedang kamu drible?" tanya Irfan yang menatap tangan Al yang seperti mendrible bola basket namun bolanya sedang diperebutkan oleh Andra dan lawannya hingga mereka mencetak poin.
"Eehh...," Al sedikit salah tingkah karena kelakuannya tersebut sedang dijadikan lelucon oleh beberapa gadis dan juga sahabatnya.
"Asyik benar kamu Al, goyang drible. Bisa dipraktekkan loh untuk kesenian menari kita. Gaya baru." Ledek Irfan yang disambut gelak tawa oleh beberapa siswa lainnya.
"Aku hanya tidak fokus." Sahut Al yang sudah berjalan kearah pohon yang ada dipinggir lapangan. Al meneguk rakus air yang dilemparkan oleh Andra padanya.
"Apa yang kamu pikirkan Al, apa mengenai gadis aneh tersebut?"
"Hey... dia punya nama!" Sahut Al yang tak terima dengan gelar yang masih disisipkan oleh Irfan.
"Iya, sensi amat kamu Al," cibir Irfan lagi.
Aldo hanya diam menatap dingin kearah sabahatnya, ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Al setelah pertemuan terakhir mereka. Awalnya Al tampak senang namun belakangan ini ia tampak sedikit murung.
"Do, bagaimana rasanya saat kamu dijodohkan?" Aldo mengerutkan dahinya dalam, ia mulai menghubungkan kejadian yang baru saja dialami oleh Al. Ia hanya diam saja tanpa menjawab sepatah katapun, namun tatapannya pada Al menggambarkan rasa penasarannya.
********
__ADS_1