Layangan Kertas

Layangan Kertas
Sakit Bersamaan


__ADS_3

Januar tampak naik keatas panggung mengambil alih jalannya acara, ia ingin mengklarifikasi semuanya tentang video yang baru saja diputar dan ditampilkan di depan khalayak ramai.


"Mohon ma'af kepada seluruh tamu undangan yang ada disini. Dari pihak kami sedang ada kesalahan dalam pemutaran video. Dan mengenai video tersebut, sebenarnya___,"


Belum sempat Januar mengklarifikasi mengenai video tersebut, Rafael sudah berdiri tepat di sisinya dan merebut mikrofon yang ada di tangannya.


Semua tamu undangan tampak terdiam melihat sosok lelaki yang sangat terkenal di dunia bisnis. Bahkan diantara mereka tidak menyadari keberadaan Rafael di pesta itu. Bisik-bisik kembali berdengung seperti lebah, membuat suasana kembali ricuh. Sosok Rafael benar-benar mengagumkan dan sangat tampan dari kebiasaannya yang wara-wiri di televisi.


"Video itu memang benar adanya. Disini saya yang akan mengklarifikasi semuanya pada kalian semua yang ada disini. Saya dan Alisya memang benar sudah menikah dan kami melangsungkan pernikahan kami di negara saya di Luxemburg." Rafael menatap kearah seluruh tamu undangan yang terdiam setelahnya. Mereka sangat mengenal sosok Rafael. Uang dan kekuasaan memang kebanyakan membutakan mata hati seseorang bahkan membuat seseorang yang setia mampu berpaling dari rasa kesetiaannya.


Yang di ucapkan Rafael memang separuh ada benarnya dan separuh pada kebohongannya.


"Dan entah darimana seseorang tiba-tiba mencuri video CCTV sewaktu kami berbulan madu. Sungguh oknum yang tidak bertanggung jawab hanya karena merasa iri dengan sosok istri saya, dia rela merusak citra Alis dan memfitnahnya. Seolah-olah menyatakan bahwa Alislah yang bersalah."


"Tapi kalian tenang saja, semua sudah dapat ditangani. Pelakunya juga sudah kita amankan. Jadi, silahkan melanjutkan acaranya. Selamat menikmati!" Rafael mengakhiri klarifikasinya tanpa tahu bahwa ada hati yang sakit dan diremas karenanya.


Alis yang masih berada di lantai dansa bersama Al tampak terkejut dan membelalakkan matanya. Menatap kearah panggung dengan berbagai perasaan. Terlebih Alis, ia begitu kecewa dengan sikap Rafael yang membuat permainannya sendiri dan justru menguntungkan dirinya sendiri. Memutus sesuatu tanpa berbicara padanya terlebih dahulu.


Alis berbalik dan berlari keluar aula sekolah, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Meninggalkan sosok Al yang juga syok mendengarnya. Sesampainya diluar, ia menengadahkan kepalanya keatas langit menatap bintang yang tampak gemerlapan.


Kenapa Rafael tega melakukan ini padanya dan bagaimana ia harus mengklarifikasi kebohongan ini nantinya. Menolong Alis namun justru menceburkannya pada permasalahan yang tidak berujung.


Angin malam membius meniup ke berbagai penjuru. Helaian ujung gaun Alis tampak terkibar-kibar. Ia duduk di bangku taman yang ada didepan aula. Cahaya remang-remang jatuh pada dirinya.


"Jadi benar semua yang di ucapkan oleh Rafael sudah terjadi?" Al berdiri tepat dihadapan Alis. Menatapnya dengan tatapan datar. Alis mendongak dan mendapati Al yang menatapnya dengan penuh tuntutan.


"Aku tidak tahu Al, hingga sekarang aku tidak berani untuk melihat kenyataan yang aku alami! Aku merasa kalau aku tidak pernah menikah dengannya." Alis berdesis dengan wajah datar dan dinginnya.


"Lalu, kenapa dia bisa berbicara seyakin itu dihadapan publik? Bukankah masih ada banyak cara yang dilakukan untuk mengklarifikasi video tersebut. Kenapa justru menikah yang menjadi alasannya. Apakah benar itu sudah terjadi?" tekan Al.


Alis terdiam, ia menatap Al dengan penuh luka. Bagaimana ia bisa menjawabnya, sementara dirinya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebelum dirinya sadar. Tentang keperawanan saja ia sudah tidak tahu lagi lalu apalagi sekarang, pernikahan? Haruskah ia berteriak dan meminta pada Tuhan agar merubah hidupnya saja. Ia sudah merasa mulai lelah.


"Aku yakin kalau itu hanya kebohongannya saja untuk menolongmu." Tangan Al bergerak kearah pundak Alis, mencengkramnya dengan lembut dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Alis, aku sudah bertekad untuk selalu melewati semuanya bersamamu. Jadi, semua ini akan kita hadapi bersama. Apapun yang akan terjadi kedepannya, aku juga akan menanggung resikonya."

__ADS_1


Alis menggeleng mendengar ucapan Al yang terdengar gila di telinganya. Ia tidak mungkin melibatkan Al yang sama sekali tidak terlibat dengan semua ini, bahkan sudah sejak awal.


"Al, jangan seperti itu. Aku tidak bisa. Benar kata papa kalau aku harus menerima Rafael karena di rahimku ada anaknya, darah dagingnya."


Al menggeleng, ia melepaskan tangannya dan meraih tangan Alis serta menggenggamnya erat. Kali ini ia tidak mau berkorban dan ia tidak mau mengalah, biarlah ia yang menjadi egois. Biarlah waktu yang akan menentukan setelah perjuangannya.


"Dengar! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau melepaskanmu. Karena hatiku sudah mencintaimu. Kenapa kamu mau menyerah begitu saja dengan takdir yang seolah sedang mempermainkan kita. Aku tidak bisa Lis!"


Alis berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Al, rasa sakit berdenyut di hatinya. Beruntungnya ia tidak menangis.


"Ma'af Al. Sejak awal kita memang berbeda. Kuharap kamu bisa menerima kenyataan ini."


Al kembali menggeleng. Ia benar-benar tidak ingin Alis menikah dengan Rafael. Ia ikhlas memelihara anak yang bukan berasal dari darah dagingnya. Biarkan saja orang mengatakan kalau dirinya sudah di perbudak cinta, ia tidak perduli. Ia tidak ingin kalau cinta pertamanya kandas ditengah jalan.


"Apa yang menjadi perbedaan diantara kita? Tidak ada Lis. Bukankah kamu tadi bilang kalau diantara kita tidak akan ada lagi diskriminasi, lalu ini apa?"


Alis terdiam, ingin rasanya ia menjawab kalau Al populer dan dia tertutup, tapi kenyataannya perbedaan itu justru akan saling melengkapi.


"Bagaimana kalau kamu tidak hamil? Apakah kamu akan tetap memilih dirinya!?" raung Al kesal dan marah. Ia menyugar rambutnya sambil menengadahkan kepalanya keatas. Kemudian kembali menatap Alis dengan perasaan terluka.


"Iya, aku akan tetap memilih dirinya, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kami, perbuatan yang sudah menyalahi norma agama."


Alis tertunduk, ia tidak ingin kembali melihat tatapan terluka yang diberikan oleh Al padanya untuk yang kesekian kalinya. Sebenarnya ia juga sangat terluka dengan keputusan yang diambilnya.


"Kenapa? Apa kamu mencintainya?" Lirih Al merasa sudah putus asa.


Alis hanya terdiam tanpa mampu mengucap sepatah katapun. Ingin rasanya dirinya berteriak dan membalas mengatakan pada Al bahwa dirinya juga mencintai Al. Tapi kenapa mencintai sesakit ini.


"Jangan di jawab. Aku sudah tahu jawabannya." Al berdiri dan mundur selangkah.


"Kalau itu memang yang kamu inginkan, aku yang akan melepaskan dan menyerahkanmu pada Rafael. Tapi ingat! Disini, dihatiku akan ada namamu selamanya. Aku masih membuka hatiku untukmu sampai kapanpun juga." Al berbalik dan berjalan kearah parkiran sekolah. Ia sudah tidak perduli lagi dengan semua pesta yang belum selesai. Ia masih menginginkan kesendirian. Bukan ini rencana awalnya, bukan kejadian ini yang di inginkannya. Kenapa takdir tak berpihak padanya.


Sejak awal Al ingin menembak Alis pada perayaan ultah sekolah namun semuanya berantakan karena kejadian dan penculikan. Al benci pada penculik itu, sangat membencinya. Ia memacu mobilnya dengan kencang tanpa arah tujuan.


Sedangkan Alis, masih duduk di bangku taman sekolah sendirian. Matanya masih menatap Al yang menghilang dari kegelapan. Ia menutup wajahnya dan terisak. Ia ingin bersama Al tapi kenapa musibah itu mengacaukannya. Luruh sudah airmata yang sejak tadi ditahannya.

__ADS_1


Akh... ia jadi benci dengan yang namanya cinta, seegois inikah untuk saling memiliki.


"Alis! Kamu dimana?" teriak Liza yang sejak tadi khawatir dengan sahabatnya. Sejak tadi ia mencari-cari keberadaan Alis didalam aula namun tidak menemukannya. Matanya melihat seluit seseorang yang tampak melamun di bangku taman.


Dengan langkah lebar ia mendekati sosok tersebut. Benar, Alis sedang sendirian dan dia pasti terpukul.


"Alis, kamu yang sabar ya. Aku tidak akan menyalahkanmu atas apa yang sudah terjadi. Dan aku juga tidak akan menuntut apapun darimu." Liza memeluk erat Alis. Ia tahu saat ini Alis perlu pelukan hangat dari seorang sahabat.


"Za...," lirih Alis membalas pelukan Liza. Ia sudah tidak menangis lagi, biarlah semuanya dipendam didalam hati.


"Jangan kamu tahan semua ini. Keluarkan Lis, menangis lah." Liza membelai punggung Alis dengan sayang.


Alis hanya bungkam saja, ia tidak menangis lagi. Pantang baginya untuk menangis didepan orang lain walaupun menghadapi hal yang terberat sekalipun.


"Za, kenapa mencintai sesakit ini dan kenapa mencintai mengharuskan kita untuk kehilangan. Dan kenapa saat cinta yang baru kita mulai justru harus terpisah," lirih Alis.


Liza mengerutkan dahinya sesaat. Ia bingung dengan ucapan Alis, bukankah dia baru saja menikah dengan Rafael, lalu kenapa ia bilang kalau ia baru saja terpisah. Liza melepaskan pelukannya,ia menatap mata Alis yang terlihat tidak hidup.


"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah seharusnya kamu bahagia bisa menikah dengan bule tampan tersebut," hibur Liza sambil tersenyum, ia ingin Alis juga membalas senyumnya.


"Atau jangan-jangan kamu baru saja kehilangan janinmu?" tanya Liza dengan mimik serius.


"Kurang ajar. Aku akan memukul bule itu kalau memang benar sudah membuatmu kehilangan janinmu. Apakah dia terlalu kasar bermain denganmu?" tanya Liza prontal.


Alis meringis mendengarnya. Percuma ia menjelaskan pada Liza kalau ujung-ujungnya Liza tidak akan mengerti.


"Alisya!!" Januar berjalan kearahnya bersama Riyan.


Alis melirik malu kearah mereka. Bagaimana ia tidak malu, hampir saja adegan ranjangnya dengan Rafael terbongkar didepan umum.


"Pelakunya sudah di tangkap. Kita keruang rapat sekarang. Karena disana sudah banyak yang menunggu dirimu."


Alis mengangguk, ia menatap sesaat kearah Liza. Mereka berdiri dan berjalan bersama.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2