Layangan Kertas

Layangan Kertas
Lepas Kontrol


__ADS_3

Dengan gemetar Riyan terus berlari dilorong rumah sakit. Ia tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang heran padanya. Bahkan ia juga tidak perduli dengan bajunya yang berantakan.


Ketemu, kamar 205. Dengan tangan bergetar hebat ia membuka pintu ruangan itu. Yang pertama dilihatnya adalah Alis yang terbaring diranjangnya dengan masih menutup mata. Ia berlari menghampiri Alis tanpa memperdulikan keadaan sekitar dan memeluk Alis erat.


"Kenapa jadi begini, sayang. Kenapa?" gumam Riyan yang lebih pada dirinya sendiri. Kesedihannya kali ini yang dirasakannya sungguh luar biasa, bahkan rasa ketakutannya semakin menghantuinya. Apa mungkin ia seperti ini karena permintaan Riyan? Begitulah kira-kira yang ada dibenak Riyan. Ia merasa sangat bersalah. Riyan menatap dalam kearah wajah Alis dan menatap tangan Alis yang tampak diperban. Rasa sesal kembali menguasai hatinya. Lagi-lagi ia tidak dapat melindungi adiknya. Kali ini, janji yang baru diikrarkannya tadi malam sudah dilanggarnya.


Riyan mendudukan dirinya disamping ranjang Alis. Riyan terus membelai kepala Alis tanpa menyadari tatapan heran dari dua pasang mata yang berada dibelakangnya. Bahkan ia terus saja menatap Alis tanpa bosan. Tangannya bergerak dengan perlahan meraih tangan Alis yang di infus dan membelainya. Ia baru menyadari ternyata adiknya sangat rapuh bahkan lebih rapuh dari malam tadi.


"Sabar ka, Alis pasti baik-baik saja." Riyan sangat terkejut mendengar keberadaan suara yang lain dikamar ini, ia menoleh kebelakang. Tepat dibelakangnya, berdiri seorang siswa yang masih memakai seragam yang sama dengan seragam yang dipakai oleh Alis. Bahkan diseragamnya juga masih terdapat bercak darah. Ia mengerinyit heran dengan keberadaan pemuda tersebut yang sangat asing dimatanya.


"Yan, bagaimana keadaan Alis?" Januar yang baru memasuki ruangan Alis tampak ngos-ngosan. Ia sangat terkejut mendengar kabar yang baru didapatkannya dari Angga.


Semua penghuni ruangan itu kecuali Alis, menatap kearah Januar yang berjalan kearah mereka. Ia mendudukan dirinya disofa bersebelahan dengan Angga. Penampilannya pun tak ubah seperti Riyan. Bahkan terlihat ia yang menyeka keringat didahinya.


"Dia belum sadarkan diri." Bukan Riyan yang menjawab, bukan juga Angga tetapi Al. Al menatap dalam kearah Alis, perasaan asing kembali menguasai dadanya. Rasa nyeri saat melihat Alis terbaring lemah seperti ini.


"Jadi, ada yang tahu penyebab Alis menjadi seperti ini?" Tanya Riyan yang menatap kearah Al dan juga Angga. Riyan tampak kembali menyeringit saat melihat Angga, ingatannya kembali berputar pada saat bertemu dengan Alis sewaktu dikafe tempo lalu.


Angga hanya diam saja, ia terus memikirkan hubungan Alis dan Riyan yang tidak diketahuinya sama sekali. Ini kali keduanya bertemu dengan sosok Riyan setelah dikafe bersama Alis dulu.


Hanya Al yang mengetahui semua kejadian itu. Ia menganggukkan kepalanya mantap. Semua yang ada diruangan itu tampak tegang menanti-nanti kata yang akan keluar dari bibir Al. Al memulai ceritanya dari seorang siswi yang seperti dengan sengaja menabraknya saat berjalan, kemudian pertemuan mereka, perubahan sikap Alis yang mendadak dan yang terakhir adalah keadaan Alis saat berada diatas rooftop sekolah.


"Jadi, apa ada yang tahu dengan gadis baru tersebut?" tanya Januar yang bertanya sambil menatap kearah Al dan Angga bergantian.


Al dan Angga menggelengkan kepalanya secara serempak.


Sementara Riyan tampak dikuasai oleh amarah, ia menggenggam tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.


Riyan tampak merogoh ponselnya dan menekan-nekan sesuatu. Kemudian meletakkan ponselnya disisi telinga kanannya. Pada deringan pertama, panggilan langsung terjawab.


"Halo, coba kamu cari tahu identitas siswi baru disekolah SMU Antariksa. Hanya dalam waktu 30 menit, segera kirim laporannya padaku." Ia berucap dengan dingin. Riyan mematikan telponnya setelah mendapat jawaban dari seberang sana, dari orang suruhannya. Kali ini ia tidak akan tinggal diam dengan semua yang telah mengusik hidup Alis.


Sementara itu, benak Al terus bertanya tentang Riyan dan hubungannya dengan Alis. Rasanya kepalanya begitu buntu memikirkan itu semua. 'Siapa sebenarnya orang ini?'tanya Al dalam benaknya.


Pintu ruangan Alis tampak terbuka dan seorang dokter dan perawatnya memasuki ruangan tersebut. Wanita dengan kisaran umur 30 tahun tersebut telah selesai memeriksa pasiennya.

__ADS_1


"Keluarga pasien yang mana ya?" tanya dokter yang bername tag Anggi tersebut, sambil menatap satu-persatu yang ada diruangan tersebut. Tampak Riyan dan Januar menyahut secara bersamaan.


"Kita keruangan saya saja karena ada yang harus disampaikan mengenai keadaan pasien." Jawab dokter Anggi sambil menatap kearah Riyan.


Riyan menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah dokter yang berjalan keluar terlebih dahulu. Ia menatap kearah Januar dan menganggukan kepalanya yang dibalas juga dengan anggukan kepala oleh Januar.


"Kalian berdua boleh pulang, mungkin saja kalian masih ada keperluan dengan sekolah kalian." Januar menatap kearah Angga dan Al secara bergantian.


"Iya ka." Jawab Angga yang menatap kearah Januar dan juga Al. Mereka berdua saling berpandangan kemudian menganggukan kepalanya.


"Oh iya, terima-kasih banyak ya atas pertolongan kalian pada Alis. Terlebih lagi kamu." Januar yang berjalan kearah Al tampak menepuk-nepuk bahunya. "Jangan lupa, ganti bajunya." tunjuk Januar pada baju Al yang masih terdapat bercak darah.


"Iya ka, makasih." jawab Al sambil menganggukan kepalanya.


"Nama kamu siapa?" tanya Januar kembali yang mengingat ia dan pemuda didepannya ini belum berkenalan.


Al menyodorkan tangannya yang disambut balik oleh Januar. "Aldebran, panggil saja Al."


"Januar."


"Kami permisi dulu ka, ingin kesekolahan." Al kembali membuka suara. Januar menganggukan kepalanya.


____________


Sepanjang perjalanan, Al dan Angga hanya diam saja, tanpa ada yang membuka percakapan terlebih dahulu. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jadi, apa kamu tahu tentang keluarga Alis?" tanya Al yang penasaran dengan keberadaan Riyan tadi, setibanya diparkiran sekolah.


Angga menatap kearah Al yang juga menatapnya. Ia menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak mengenalnya. Aku hanya tahu tentang Januar yang merupakan kakak angkat Alis." Angga menatap kearah Al dan mendesah.


Al menganggukan kepalanya, ia mengerti dengan semua itu. Ia kembali teringat dengan Riyan yang memerintah dengan begitu mudah hanya karena melihat kondisi Alis tersebut. Namun ia juga tidak dapat ikut campur dengan semua itu karena ia bukanlah siapa-siapanya Alis.


💦💦💦


Suasana sekolah sedang ramai karena bertepatan dengan waktunya istirahat. Al langsung melangkahkan kakinya kearah mobilnya untuk mengganti seragamnya yang sudah kotor. Ia selalu mempersiapkan bajunya dimobil atau di loker didalam kelasnya.

__ADS_1


Al melangkah menuju kearah kantin, pikirannya yang terkuras membuatnya lapar. Beberapa dari siswi tampak menatap Al dan melemparkan senyuman namun tidak ditanggapinya.


"Al, bagaimana dengan Alis?" tanya Andra saat Al mendudukan dirinya dimeja kantin.


Al menatap kearah sahabat-sahabatnya tersebut, ia menarik napasnya perlahan. "Tadi masih belum sadarkan diri." jawab Al seadanya, ia tampak lesu.


"Apa!? Kenapa dengan Alis!?" Liza yang melewati meja Al mendengar mereka menyebut-nyebut nama Alis. Tidak salah lagi, pasti Alis yang dimaksud mereka adalah Alis si gadis aneh, sahabatnya. Ia tahu kalau Alis dan Al sedang dekat. Ia menggebrak meja Al yang membuat seluruh penghuni kantin tampak diam memandang kearah mereka dengan heran.


"Ma'af-ma'af, aku tadi sedang menepuk lalat yang ada dimeja mereka." Liza menatap seluruh penghuni kantin dengan cengiran.


Irfan yang berada di samping Liza tampak terkejut. Ia melongo menatap Liza, kemudian tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Al dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Liza yang terlihat barbar.


"Jadi, ada yang bisa menjelaskannya padaku," sambung Liza dengan suara terdengar seperti bisikan. Ia mendudukan dirinya disamping Irfan begitu juga dengan Alex yang sejak awal bersama dengan Liza. Ia menatap satu-persatu penghuni yang ada dimeja tersebut. Kini keheranannya terjawab sudah, sejak pagi tadi ia tampak gelisah karena tidak biasanya Alis tidak masuk kelas tanpa memberi kabar padanya.


"Kita pesan makanan dulu, baru bicara." Potong Irfan yang menatap mereka untuk meminta persetujuan. Mereka menganggukan kepala.


Suasana kantin terdengar riuh dengan kehadiran siswi baru. Beberapa dari mereka tampak ada yang menyorak dan menggoda karena penampilan Alifa yang terkesan lebih berani. Namun Alifa tetap melenggang dengan santai, ia tidak perduli dengan yang lainnya. Alifa menduduki bangku yang ada dipojokan seorang diri. Matanya memindai seluruh kantin seperti mencari keberadaan seseorang.


Semua itu tidak luput dari pandangan Al. Al menatap tajam kearah Alifa, tatapan yang sangat jarang diperlihatkannya. Liza ikut memperhatikan pandangan Al, begitu juga dengan yang lainnya.


"Gadis itu yang membuat Alis menjadi melukai dirinya sendiri." desis Al masih dengan pandangan tajamnya.


"Apa!? Jadi Alis melukai dirinya sendiri!?" Liza berucap dengan suara rendah namun ia kembali menggebrak meja. "Ma'af, refleks." Liza kembali menatap kearah seluruh penghuni kantin yang juga menatapnya dengan heran. Ia mengusap tengkuknya beberapa kali.


Irfan dan yang lainnya tampak menatap Liza dengan melongo. Berbeda dengan Al dan Aldo, mereka tetap terlihat tenang.


"Ya, dan apa kamu tahu hubungan Alis dan gadis tersebut?" Al menatap penuh harap pada Liza, ia ingin agar Liza mempunyai jawaban atas teka-teki yang menyeruak dibenaknya tersebut.


"Ma'af, aku tidak tahu sama sekali dengan gadis itu." Liza menatap sepintas kearah Alifa dan kembali menatap Al dengan penuh sesal. Memang benar kenyataannya bahwa Liza tidak mengenalnya. Ia memang tahu kehidupan Alis bahkan hubungan Alis dan kedua orang tuanya, namun tentang masalah Alis dimasa lalu, ia sama sekali tidak tahu. Bahkan ia juga tahu kalau Alis memiliki saudara tiri, hingga sekarang pun ia juga belum pernah melihat batang hidungnya.


"Kamu kan sahabatnya, masa tidak tahu sedikitpun tentang sahabtmu sendiri." Irfan mencibir kearah Liza. Ia merasa bahwa Liza menutupi sesuatu tentang Alis dari mereka.


"Sahabat juga perlu privasi, tau!" Liza menjawab dengan mendelik kearah Irfan.


"Sudah, jangan ribut." tegur Alex yang menatap kearah Irfan yang sudah membuka mulutnya ingin menjawab pernyataan Liza tersebut, namun kembali urung. "Ini bukan waktunya ribut, kita sedang membahas Alis yang sakit, bukan membahas tentang privasinya." jawab Alex kemudian.

__ADS_1


"Nanti saja kita membicarakannya, ditempat lain sepulang sekolah." Al menengahi dengan memandang mereka satu-persatu. Mereka menganggukan kepalanya dan menyantap pesanan mereka.


💦💦💦


__ADS_2