
Hari ini adalah hari ke-7 hilangnya Alis dari kediamannya tanpa jejak sama sekali. Bahkan rekaman CCTV yang ada didalam rumah Alis tidak menggambarkan apapun juga, semua tampak biasa saja, hanya kamera bagian halaman yang sengaja dirusak oleh seseorang. Berbagai cara sudah dilakukan oleh Riyan dan juga Januar untuk mencari jejak keberadaan Alis, namun nihil, mereka tidsk menemukan petunjuk apapun juga. Mereka bahkan sudah menyewa seorang detektif profesional.
Namun mereka masih merahasiakan hilangnya Alis dari khalayak ramai. Bahkan acara ulang tahun sekolah milik Alis juga sudah ditunda hingga mereka kembali menemukannya.
Riyan sedang berada di rumah kediaman Bastian, sedang berkumpul bersama kedua orang tuanya. Ia hanya diam saja sejak tadi. Namun penampilannya menggambarkan bahwa dia sedang gelisah dan kurang tidur. Bahkan baju yang dikenakannya masih baju yang kemarin. Rupanya tadi malam ia masih berusaha mencari keberadaan Alis dan juga berusaha menemukan petunjuk. Ayahnya juga tampak murung dan tidak bersemangat, dia lebih gelisah lagi karena ini kali kedua ia harus kehilangan anak perempuannya. Sedangkan ibunya sudah sejak beberapa hari yang lalu selalu saja menangis setelah tahu Alis menghilang. Air mata seolah tidak pernah kering. Hanya menangis dan menangis yang bisa dilakukannya.
Bruukk.
Pintu terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Januar muncul dibalik pintu dengan langkah tergesa. Riyan segera berdiri menatap kearahnya. Riyan tahu bahwa ada kabar penting yang akan disampaikan oleh sahabatnya tersebut, itu jelas terlihat dari wajahnya yang tampak serius.
"Orang yang menculik Alis sudah tertangkap dan sekarang dia sedang berada di kantor polisi!"
Seluruh penghuni ruang tamu serta merta langsung berdiri dan bersiap untuk segera kekantor polisi. Ada sedikit kelegaan yang tergambar diwajah mereka. Namun tidak menampik masih menyisakan kegelisahan dan rasa khawatir yang tergambar diraut wajah mereka sebelum mereka menemukan keberadaan Alis.
"Apa yang mereka dapatkan?" tanya Riyan. Ia tampak sedikit lega, akhirnya keberadaan Alis akan mendapati titik temunya. Wajahnya sedikit lebih bercahaya dari pada tadi. Matanya yang sudah terlihat seperti mata panda tampak sedikit terbuka, yang menggambarkan bahwa ia sangat jarang bersentuhan dengan kasur dan bantal.
"Aku juga belum menanyakannya pada pihak kepolisian karena mereka masih dalam perjalanan membawa penjahatnya kekantor polisi. Namun dari keterangan yang aku peroleh dari wakil Mapolres, Sabana bahwa mereka adalah sindikat penjual manusia khususnya gadis-gadis muda keluar negeri. Mereka akan dikirim khusus untuk rumah-rumah pelacuran, club malam dan sejenisnya, dan akan dijual atau juga dilelang pada pria hidung belang disana."
"Apa!!? ya Tuhan, bagaimana nasib anakku, Alis!!" jerit Shakila meraung, seketika ia langsung lunglai. Bastian segera menangkap istrinya yang tiba-tiba pingsan setelah mendengar kabar buruk ini. Menyesal ia memaksa Alis untuk menerima perjodohan yang sudah diaturnya tempo lalu. Andaikata ia tidak memaksa Alis agar menerima perjodohan waktu itu, pastilah sekarang ini Alis masih bersama mereka, tidak mungkin Alis akan keluar dari rumah ini. Ia menatap kearah istrinya yang tampak mengurus bahkan wanita ini jauh lebih terbebani setelah hilangnya Alis sekarang daripada yang dulu saat ia mengusir Alis. Ia sering tidak mau makan, dan juga kesulitan untuk tidur.
"Pa, sebaiknya papa urus mama di rumah. Aku dan Januar yang akan segera ke kantor polisi," ucap Riyan. Ia meraih tubuh ibunya dan membopongnya ke kamar tamu yang ada di lantai dasar tersebut. Bastian hanya mengangguk saja, ia meraih handphone yang ada diatas meja untuk segera menelpon dokter pribadinya.
__ADS_1
"Tapi kamu mandi dulu, bersihkan badanmu terlebih dahulu. Sejak kemarin aku lihat pakaianmu yang itu-itu saja. Bahkan kamu sepertinya belum menyentuh air sama sekali."
Riyan mengangguk membenarkan ucapan Januar tersebut. Tanpa berpikir lagi, ia langsung bergegas menuju kearah kamarnya yang berada di lantai atas.
***
Setengah jam kemudian mereka sudah duduk di kantor polisi untuk mendengar keterangan yang sudah didapatkan oleh pihak kepolisian setelah menginterogasi pelaku. Dari keterangan yang mereka dapatkan, ternyata Alis dan gadis belia lainnya dikirim ke negara yang ada di Benua Eropa.
"Apa kami boleh melihat pelakunya?" tanya Januar pada Wakapolsek bernama Sabana tersebut yang diangguki olehnya. Ia meminta pada anak buahnya untuk menggiring langsung Riyan dan Januar ketempat para tahanan dikurung.
"Geng Tengkorak Putih!" gumam Riyan saat melihat salah satu tato yang terpampang ditangan salah seorang diantara mereka.
"Ya, mereka adalah geng preman yang selama ini sangat meresahkan bahkan sangat ditakuti keberadaannya karena mereka sangat kejam. Tapi mereka bukanlah dalang yang sebenarnya, masih ada dalang yang tersembunyi dibalik semua ini. Dan dia masih dalam pengejaran."
"Kenegara mana mereka mengirim gadis-gadis tersebut?" tanya Januar menatap kearah salah satu polisi yang sedang bersama mereka.
"Luxemburg! Mereka dikirim dengan menggunakan pesawat pribadi, sehingga tidak terdeteksi datanya di maskapai penerbangan."
"Jadi, yang mengirim mereka adalah orang yang kaya dan berpengaruh?" tanya Januar.
Polisi tersebut tampak mengangguk. "Kuat dugaan bahwa sindikat tersebut di pimpin oleh seseorang yang berpengaruh didunia dan juga tidak bermukim di negara Indonesia."
__ADS_1
Riyan hanya diam mendengarkan sambil menahan amarahnya. Ia menatap salah satu preman yang ada dihadapannya.
"Apa yang membuatmu sampai menculiknya!!?" geram Riyan saat ia sudah berhadapan dengan salah satu dari mereka. Ia menatap tajam kearah preman yang tampak babak belur tersebut karena sudah dihajar oleh pihak polisi sebelumnya.
"Aku hanya tidak suka ada gadis kecil yang bisa mengalahkan kami. Dan kebetulan ada orang yang menyewa jasa kami untuk menculliknya dengan upah yang sangat besar. Kenapa kami menolak?" sinisnya sambil mencibir kearah Riyan yang sudah meletakkan tangannya tepat di leher preman tersebut.
"Bagaimana caranya kamu menculiknya, padahal dia sangat kuat."
"Kami memberikannya bius dengan cara di tembak kearahnya. Dan juga kami merusak salah satu kamera CCTV miliknya saat terjadi kekacauan dibelakang rumahnya." Preman tersebut tampak kewalahan menghadapi tangan Riyan yang semakin kuat mencekik lehernya. Ia seperti ingin kehabisan napas.
Beberapa polisi tampak menarik Riyan yang sudah seperti kesetanan. Bahkan ia hampir membunuh preman tersebut kalau saja preman tersebut tidak membuka mulutnya dan menyebut nama seseorang yang sebenarnya sangat keramat untuk diucapkan.
"Brengsek!!" maki Riyan dengan wajah yang masih merah padam. Ia menepis tangan polisi yang masih memegang tangannya. Perlahan cengkreman tangannya melonggar seiring tubuh preman yang tampak ambruk kelantai. Preman tersebut tampak sangat rakus meraup oksigen untuk mengisi kekososngan pada paru-parunya. Ia menatap kearah Riyan dengan horor. Ternyata tidak hanya adiknya yang sangat berbahaya, bahkan kakaknya pun juga sangat mengerikan.
"Kalian urus dia dan beri mereka hukuman seberat-beratnya tanpa ampun!" ucap Riyan yang sudah meninggalkan ruangan tersebut dengan amarah yang semakin bergejolak.
Ia tahu kemana dia harus pergi karena ia sudah mengantongi sebuah nama yang cukup dikenalnya sejak dulu.
•
•
__ADS_1
•
**********