
Sekolahpun dibubarkan lebih awal karena kesibukan dewan guru mengadakan rapat dan dikhawatirkan keadaan siswa yang akan semakin kacau karena banyaknya para haters dari Alis.
Alis menatap kelangit-langit kamar, sejak tadi pikirannya terus berkelana memikirkan perjalanan hidupnya yang begitu banyaknya rintangan dan kesulitan yang dihadapinya. Ia begitu merindukan sosok nenek dan juga ibunya. Perlakuan lembut dan perhatian neneknya membayang dipelupuk mata.
"Alis, sekarang kita pulang yuk!" Riyan sudah berada didekat Alis sejak 5 menit lalu. Ia menatap adiknya yang menerawang, begitu kasihan karena diusianya yang sangat muda begitu banyak orang yang tidak menyukainya. Klise memang, alasannya hanya karena Alis seorang gadis sederhana. Apakah hidup ini hanya diukur dengan harta?
Alis berpaling kesamping kanannya, disana ia menemukan kakaknya yang sedang berdiri mengamatinya. "Kak, ada apa?" tanya Alis yang memang baru menyadari keberadaan Riyan. Ia terlalu hanyut dalam lamunannya sehingga tidak mendengar pada apa yang diucapkan oleh Riyan.
"Kita pulang sekarang!" perintah Riyan. Ia mendekat dan tersenyum kearah Alis. "Apa kamu bisa jalan sendiri?" tanyanya lagi.
Alis mengangguk dan ia mencoba mendudukkan dirinya. Sebenarnya ia sudah baikan sejak tadi, tapi ia ingin istirahat dari hal-hal yang mengganggu pikirannya. Pukulan bola itu bukanlah apa-apa baginya, yang sulit itu adalah pukulan jiwa. Kalau sudah jiwa terluka, maka akan sulit diobati.
Dengan perlahan, ia mengulurkan kakinya. Riyan ikut membantu Alis. "Kak, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik aja." kata Alis sambil tersenyum menatap kearah Riyan.
"Kamu terlihat tegar dan kuat. Kamu bilang kalau kamu tidak apa-apa, tapi hatimu sedang terluka." Bisik Riyan didalam hatinya sambil menatap sendu kearah Alis.
"Alis! Kamu baik-baik ajakan?" tiba-tiba Liza memeluk Alis saat Alis sudah berada didepan pintu keluar ruang UKS.
Alis menatap kearah Liza, ia terkejut dengan kedatangan Angga dan juga Al bersama ketiga sahabatnya. Ia menatap kearah Riyan, kali ini ia tidak dapat mengelak lagi seandainya mereka menanyakan status Riyan padanya.
"Aku khawatir bangat sama kamu." ucap Liza sambil melepaskan pelukannya, ia menatap Alis yang hanya mengangguk saja. "Emm...semuanya sudah tau kalau kakak ganteng ini adalah kakakmu." ucap Liza yang terlihat malu-malu.
Riyan yang mendengar semua itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Sedangkan Alis, ia hanya diam saja. Ia sudah memprediksinya sejak awal.
"Apa tanggapan kamu Lis?" tanya Liza
__ADS_1
Alis hanya mengedikkan bahunya saja. Ia sudah tidak perduli lagi dengan semua itu. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah tentang reputasi sekolah miliknya dan ingin segera mengkonfirmasi tentang dirinya didepan umum. Sudah tepat untuk mempublikasikan siapa dirinya sebelum kekacauan makin banyak ditimbulkan oleh siswa yang lainnya.
"Udah dong Za, Alis sedang sakit. Jangan ganggu dia lagi." Alex menghampiri Liza dan menarik tangannya dengan lembut. "Sekarang kita pulang bareng." ucapnya lagi sambil menatap kearah Alis. Alis mengerinyitkan dahinya, ia menatap Liza dengan melotot seolah-olah berucap, kamu berhutang penjelasan padaku, Liza sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hehe... nanti aku cerita Lis." ucap Liza sambil menggaruk tengkuknya. "Ya udah, kita duluan ya, bye." Liza pergi bersama dengan Alex meninggalkan mereka.
Alis menatap kearah Al dan Angga yang menatapnya sejak tadi, entah ada apa dengan mereka hari ini hingga semua orang terlihat aneh dimatanya.
"Alis!" ucap Al dan Angga berbarengan. Mereka saling menatap dengan sinis. Sedangkan yang lainnya hanya melongo mendengar kata-kata mereka yang terdengar kompak.
Angga suda berjalan terlebih dahulu menghampiri Alis. Ia tidak ingin kalah star dari Al.
"Bagaimana keadaan kamu Lis?" tanya Angga
"Aku turut prihatin dengan keadaan ini. Ma'af, aku terlambat mengetahuinya. Seandainya aku tau lebih awal, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." kata Angga yang merasa sedikit bersalah. Ia melirik sesaat kearah Al dan menyunggingkan senyum sinisnya.
"Aku tidak apa-apa. Kalian tenang saja." sedikit tersenyum.
"Ya, aku tau kalau kamu gadis yang kuat." Angga menepuk bahu Alis dengan lembut beberapa kali. Sedangkan Al merasa geram melihat tingkah Angga yang berani menyentuh gadisnya. Ia mengetatkan rahangnya.
"Kak, Alis biar aku yang antar. Mungkin kakak sedang ada kesibukan." ucap Al yang sudah berada didepan Alis.
Riyan tak menjawab serta merta pertanyaan Al, ia tampak berpikir sambil menatap Al dengan memicingkan matanya, ia seperti pernah melihat lelaki ini. Ya, dia yang makan bersama Alis waktu itu. Inikah alasan Alis menolak perjodohan kemarin? Riyan melirik sesaat kearah adiknya, ia menatap raut wajah Alis yang menatap malu kearah Al.
"Baiklah." ucap Riyan, ia mengalah sesaat, mungkin masih banyak hal yang akan mereka bicarakan. Biarlah ia memberi kesempatan pada lelaki didepannya ini.
__ADS_1
"Eh, tunggu. Kamu hanya izin dengan kakaknya. Siapa tahu kalau Alisnya menolak ingin ikut denganmu." Angga merasa dikalahkan.
"Dengar ya Ngga, Alis dan Al itu sudah phmmn." Irfan belum sempat meneruskan kata-katanya karena sudah dibekap oleh Andra terlebih dahulu. Ia melepaskan tangan Andra dengan kesal. "Kamu apa-apaan sih, bau tau!!"
Sementara itu, Angga tampak memicingkan matanya menatap kearah Irfan. Ia tampak curiga dengan situasi ini, apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Irfan adalah mereka pacaran. Tapi Angga berharap itu hanyalah perkiraannya saja. Banyak hal yang terlewat tanpa ia ketahui perkembangannya sama sekali, mungkin karena ia terlalu sibuk dengan urusan kantor ayahnya.
"Ayo Lis!" ucap Al yang sudah meraih tangan Alis. Alis hanya diam saja sambil menatap kearah Angga yang menatapnya dengan sendu, seolah mengatakan ma'af.
Al melihat semua itu hanya mengangguk saja menyuruh Alis agar segera menuruti kemauannya. Dengan perlahan Al menarik tangan Alis, ia berpamitan terlebih dahulu pada Riyan.
"Kak, aku ingin mengajak Alis jalan-jalan sebentar." kata Al.
Alis menatap kearah Al dan Riyan, ia kembali menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ia merasa malu kali ini karena Al menggandeng tangannya didepan semua orang, terlebih lagi didepan kakaknya sendiri.
"Eh, apa-apaan kamu, dia itu sedang sakit, masa kamu mau mengajaknya jalan-jalan. Pokoknya tidak bisa!" ucap Angga sambil menatap sengit kearah Al.
"Aku sudah izin!" kata Al melirik kearah Angga. "Gimana kak?" tanya Al sekali lagi pada Riyan.
Riyan kembali menganggukan kepalanya, ia menatap kearah Alis yang hanya menunduk saja. Ia kembali merasa lega setelah melihat respon Alis yang berbeda. Riyan tersenyum tipis, ternyata Alisnya sudah mulai tumbuh dewasa.
Sedangkan Angga, ia masih tak bergeming menatap kepergian Alis dan juga Al. "Apakah aku terlambat?" gumam Angga didalam hatinya. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri tapi ia juga tidak akan pernah menyerah begitu saja. Ia pasti akan merebutnya dari tangan Al.
Ketiga sahabat Al juga menggiring langkah mereka. Aldo terus menatap lekat Al dan Alis. Ia merasa lega karena sekarang tidak ada lagi yang menghalangi mereka, ia tahu kalau Alis adalah gadis yang penuh dengan luka, Al.pasti bisa mengobati dan menyembuhkan luka tersebut. Semoga Al bisa menerima Alis sepenuhnya.
💦💦💦
__ADS_1