Layangan Kertas

Layangan Kertas
Isu Palsu Lagi


__ADS_3

Pagi ini Alis tidak diizinkan oleh Riyan untuk beraktivitas apapun. Ia memanggil Bi Mira untuk mengurus seluruh pekerjaan dirumah Alis. Alis yang disuruh pun hanya duduk diam dimeja makan mendengar semua ocehan yang membisingkan dari mulut Riyan. Ia mengambil buku diatas meja makan, bermaksud untuk membacanya, namun sudah dicegah oleh Riyan terlebih dahulu.


"Amel, dengar ya. Kakak tidak mau kamu celaka, tidak usahlah kamu menolong dengan cara seperti itu, cukup kamu menunggu bantuan dari polisi atau menelpon kakak."


Alis hanya diam sambil menatap Riyan yang tampak melotot kearahnya.


"Ini kali kedua kakak melihat kamu bertingkah sok pahlawan dengan melawan banyak preman. Kamu mau mati konyol dan sia-sia!"


Alis tampak meringis setelah mendengar kata-kata Riyan barusan.


"Jangan kamu pikir Lis selama ini kakak tidak tahu dengan semua yang sudah kamu lakukan. Kamu masih ingatkan dengan kejadian itu."


Alis menganggukan kepalanya dan meremas tangannya. Ia merasa bersalah karena begitu saja melawan para preman tersebut namun ia bangga karena mampu melumpuhkan mereka.


"Jangan mesem-mesem begitu, ayo makan. Setelahnya kakak antar kerumah sakit dan tidak ada bantahan!" Riyan menatap kearah Alis. Alis hanya menganggukan kepalanya. Pagi ini ia begitu patuh dengan kakaknya, ia takut kakaknya akan merealisasikan tentang bodyguard tersebut. Bisa heboh satu sekolah. Biarlah kali ini ia yang mengalah asalkan kakaknya senang.


"Bagus."


Mereka tampak makan dalam diam, sementara bi Mira tampak tersenyum melihat Riyan yang sangat sayang dengan Alis. Ia segera pamit untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


Terdengar bunyi handphone Riyan yang sedang berdering. Riyan memperhatikan si penelpon dan tampak marah setelahnya.


"Halo."


"Apa!?" Baiklah, kali ini kamu kuma'afkan karena istrimu. Tapi lain kali, kamu tidak akan pernah dapat pengampunanku."


"Ya."


Riyan mematikan handphone dan menatap kearah Alis yang tampak tidak terganggu dengan pembicaraannya tersebut.


"Aku sudah selesai." Alis menggeser piringnya dan menatap kearah Riyan.


"Ayo kita berangkat sekarang." Riyan beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Alis.


"Bi, kami berangkat dan tolong jaga rumah."


"Baik den." Mengangguk dan menunduk hormat.


Riyan melajukan mobilnya kearah rumah sakit untuk memeriksa keadaan Alis yang sangat dikhawatirkannya.


💦💦💦


"Adik anda keadaannya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Benar dok, tidak ada luka dalam atau semacamnya?"


"Untuk luka dalam memang tidak ada."


"Makasih ya dok, kami permisi dulu."


Riyan menjabat tangan dokter yang telah menangani Alis tersebut yang sudah melalui serangkaian tes yang dijalaninya.


"Lis, kakak ada perlu sebentar sama dokter Abi." Tunjuk Riyan yang menunjuk kearah ruangan dokter kandungan yang dibatasi oleh 2 buah ruangan lainnya.

__ADS_1


Alis menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kearah kursi tunggu namun dicegat oleh Riyan.


"Masuk kedalam saja sama kakak, tidak lama kok."


Alis hanya mengekor saja apa yang diperintah oleh Riyan. Ia ikut masuk melangkah kedalam ruangan yang berukuran 4×4 tersebut. Ada sebuah meja dipojokan untuk asisten dokternya yang memeriksa berat badan pasien dan keluhannya. Dan sebuah meja lagi yang berada didepan meja tersebut yang sedang diduduki oleh dokter Abi. Juga terdapat sebuah lemari disampingnya. Dan ada juga sebuah ruangan dibalik tirai yang ada didekat lemari tersebut.


"Hei, apa kabar Yan?"


"Baik." Riyan bertos ria dengan Abi.


"Ini adik kamu Yan?" Abi menatap Alis yang mengenakan seragam SMAnya yang ditutupi oleh jaket.


"Iya, dia habis berkelahi tadi malam dengan preman, lihat jidatnya sampai terluka begitu." Riyan tampak kesal.


Abi tertawa geli mendengar sikap Riyan yang selalu overprotektif terhadap siapa saja yang disayanginya.


"Itu bagus Yan, dia seorang gadis yang kuat dan bisa melindungi diri sendiri dari bahaya."


"Tapi dia adikku, Bi."


"Iya tau. Hanya antisipasi dari sesuatu yang terburuk."


Alis tidak perduli dengan percakapan mereka didepannya. Ia hanya fokus dengan tirai yang tampak berkibar ditiup angin. Alis penasaran dengan isi ruangan tersebut.


"Kami permisi dulu, mau kesekolahnya."


"Yap." Mereka kembali bertos ria.


Alis bergumam didalam hatinya sambil melangkah keluar ruangan tersebut. Ia menatap kearah pengunjung yang tampak menatapnya dan Riyan secara bergantian. Mereka tampak saling berbisik.


Apa-apaan mereka, tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya langsung menghujat. Bahkan dari penglihatan mereka saja sudah berani menyimpulkan.


Riyan melotot menatap kearah mereka, ia menatap kearah Alis yang tetap bersikap tidak perduli seperti biasa.


"Alis, kamu... hamil!!?" Tiba-tiba Jessica menghampiri Alis, ia berucap dengan setengah berteriak. Ia yang sedang menemani ibunya untuk memeriksakan dirinya yang sakit tampak terkejut melihat Alis yang keluar dari ruang dokter kandungan bersama seorang lelaki yang tidak dikenalnya.


Alis tampak terkejut melihat keberadaan Jessica dirumah sakit tersebut. Ia cukup lama tidak melihat Jessica, karena ia masih menjalani masa hukuman.


Jessica menatap Alis untuk meminta penjelasan Alis namun Alis tidak bergeming, ia hanya diam dan menatap kearah Riyan.


"Alis hanya sakit saja, kepalanya yang diperban karena terbentur sesuatu. Bukan hamil seperti dugaanmu." Riyan menatap tidak suka kearah Jessica.


"Ayo Lis kita pulang." Riyan menarik tangan Alis dan meninggalkan Jessica yang tampak tidak percaya dengan keterangan Riyan tersebut.


Ia kembali merasa menang, kali ini ia yakin akan bisa menggugurkan dan menyingkirkan Alis dari sekolah tersebut.


Kali ini kamu akan kalah Lis dan aku yang menang.


Jessica bersorak senang menatap Alis yang sudah menghilang diujung lorong rumah sakit. Ia kembali memutar kepalanya kearah ruangan dokter kandungan.


💦💦💦


Suasana kantin sekolah tampak heboh dan lebih heboh lagi setelah Liza dan Alex memasuki kantin. Banyak cibiran yang keluar dari mulut mereka tentang sahabatnya si Alis.

__ADS_1


"Apa-apaan mereka, tidak ada kerjaan. Pagi-pagi sudah menggosip."


"Za, memangnya Alis kemana pagi ini, kulihat dia tidak masuk kelas.


"Dia kerumah sakit, katanya ada yang diperiksa."


Alex menatap kearah Liza begitupun sebaliknya.


"Jadi, benar yang dikatakan romur group wa tersebut?" Tiba-tiba Angga dan Anto sudah duduk diantara mereka.


Liza tampak melotot, ia tidak suka dengan kata-kata yang dikeluarkan Angga barusan.


"Alis tidak seperti itu, dia memang kerumah sakit tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Kemarin juga ia terlihat baik-baik saja."


"Tapi foto itu asli Za, Alis baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan bersama seorang lelaki yang kebetulan membelakangi kamera."


Liza tampak dibakar amarah, kali ini sungguh keterlaluan para pembuat berita gosip tersebut. Ia yakin pasti ada seseorang yang sudah memfitnahnya.


"Sebaiknya masalah ini kita tanyakan langsung saja pada Alis, dia punya alasan yang pasti untuk menangkal gosip yang tidak benar tersebut."


Liza berdiri dan berjalan keluar kantin. Rasa laparnya menguap sudah karena bisik-bisik siswa-siswi yang menggosip dan menjelek-jelekkan Alis.


Sementara itu dilain tempat tepatnya di rooftop sekolah, Al tampak termenung. Ia bersama dengan ketiga sahabatnya sudah melihat foto yang tersebar tersebut. Padahal baru kemarin ia berharap memiliki senyum manis Alis yang untuk pertama kali dilihatnya.


"Foto itu asli Al." Aldo menatap kearah Al yang hanya diam saja sambil menatap kearah lapangan dibawahnya.


Mereka tampak merasa iba dan kasihan menatap Al yang seperti orang putus cinta.


"Mungkin itu suaminya." Irfan tampak menggigit bibirnya karena ia yang keceplosan dalam berbicara.


"Itu berita belum tentu benarnya, bisa saja cuma hoax atau rekayasa seseorang yang tidak menyukai keberadaan Alis." Aldo yang bijak akan selalu bijak dalam perkataannya.


"Benar, mungkin saja ia sedang membawa saudaranya atau tetangga untuk cek kandungan." Andra membenarkan.


"Mungkin juga teman seprofesinya Al, dikafe. Siapa tahu dari mereka ada yang dekat dengan Alis dan minta pertolongan padanya." Irfan ikut menimpali.


Al hanya diam fokus kearah lapangan, matanya tidak pernah lepas dari Alis yang tampak berjalan beriringan memasuki halaman sekolah bersama seorang lelaki yang mirip dengan orang yang difoto tadi.


"Itu Alis, kenapa bisa dia bersama lelaki difoto tadi. Benarkan lelaki itu yang difoto dilihat dari pakaian dan rambutnya." Andra menunjuk kearah Alis.


Al yang hanya diam saja segera berdiri dan berlari menuruni tangga rooftop, ia begitu kesal melihat Alis yang tampak sangat akrab dengan lelaki yang dikenalnya tersebut. Ya lelaki itu adalah Riyan, lelaki yang menemui Alis sewaktu dikafe waktu itu. Ataukah lelaki itu juga adalah lelaki yang dijodohkan dengan Alis.


Al menggenggam jemarinya kuat, ia berhenti tepat ditengah-tengah tangga dan tangannya menghantam tembok sekolah berulang kali hingga mengeluarkan darah.


"Al, apa yang kamu lakukan?" Aldo bergegas berlari dan menarik tangan Al.


Al melepaskan tangan Aldo dan ia kembali berlari tanpa perduli dengan teriakan dan kekhawatiran ketiga sahabatnya.


Al berlari kearah taman belakang sekolah yang selalu sepi dari siswa-siswi yang lain. Ia ingin menumpahkan kekesalannya yang dipendamnya. Al berteriak semampunya dan ia tampak terduduk dan tergugu. Ia begitu sedih, bahkan ia merasa kalah sebelum berperang.


Hanya satu keputusannya, bahwa ia akan menerima tawaran ayahnya tentang perjodohan tersebut. Karena seseorang yang dikejarnya sudah membuat lubang besar dihatinya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2