
Setelah tubuh tubuh Serigala Tulang Abu-abu telah terbelah menjadi dua, cahaya menyilaukan muncul dari tubuhnya dan menyinari seluruh dimensi.
Karena begitu silau, Tian Lei menutup matanya dengan pergelangan tangannya.
Beberapa saat kemudian, merasa cahaya menyilaukan itu telah menghilang, Tian Lei menurunkan tangannya dan membuka matanya.
Saat matanya terbuka, ia dapat melihat puluhan ribu hewan buas yang tadinya mengepungnya mulai berubah menjadi debu dan menghilang dari dimensi tersebut.
Bukan hanya hewan buas yang masih hidup, ribuan mayat hewan buas yang telah dikalahkan oleh Tian Lei juga berubah menjadi debu dan menghilang juga.
Setelah semua hewan buas telah lenyap dari tempat tersebut, sebuah pusaran ruang yang begitu misterius muncul di depan Tian Lei dan menelan tubuh Tian Lei hingga menghilang dari tempat tersebut.
Setelah tertelan oleh pusaran ruang tersebut, Tian Lei dapat merasakan bahwa kesadarannya mulai memudar dan dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Tubuh Tian Lei terombang-ambing di dalam aliran ruang hingga kemudian Tian Lei dapat merasakan kesadarannya semakin menguat dan ia bisa merasakan tubuhnya lagi.
Tian Lei membuka matanya dengan cepat dan dia mulai merasakan pusing pada kepalanya.
Setelah beberapa saat, pusing pada kepala Tian Lei telah menghilang dan ia mulai menatap area disekitarnya.
Dalam pandangan Tian Lei saat ini, Tian Lei dapat melihat daratan tandus yang memiliki banyak puncak bukit kecil dengan kegelapan yang menutup langit.
Awan di langit juga tampak tak biasa, awan itu terlihat mengerikan dengan warna merah dan petir-petir merah yang terus menyambar keluar.
Sudah tidak diragukan lagi, Tian Lei saat ini telah lolos dari lantai pertama dan telah berada di lantai kedua.
.
Di luar menara Naga Biru, pada proyeksi menara Naga Biru mulai mengeluarkan cahaya emas, semua orang menjadi sulit untuk melihat ke dalam proyeksi.
Saat cahaya emas telah menghilang dari proyeksi, semua mata segera berbondong-bondong menatap ke arah proyeksi menara Naga Biru.
Dalam pandangan semua orang, titik emas yang menandakan keberadaan Tian Lei dalam menara telah berpindah tempat ke lantai selanjutnya.
Tapi, semua murid yang melihat itu hanya melihatnya dengan tatapan biasa, tak ada ketakjuban kepada Tian Lei. Ya, tentu saja! Siapa yang akan takjub pada seseorang yang menyelesaikan lantai terbawah dalam waktu yang sangat lama?
__ADS_1
Di belakang para tetua senior dan patriak, Ning'er menghela nafasnya, ia merasa lega karena akhirnya sang pujaan hati telah naik ke lantai selanjutnya.
"Syukurlah..." Ucap Ning'er lega dengan senyuman.
di tempat Li Quan dan ketiga sosok lainnya, tampak mereka berempat sedang duduk bersila karena kesal dan pegal menunggu Tian Lei yang tak kunjung lolos dari lantai pertama.
Chen Tian yang duduk bersila dengan tangan kirinya yang menopang pipinya menghela nafasnya sambil melihat proyeksi.
"Huh... Anak ini benar-benar membuatku bosan..." Ucapnya.
Sementara itu, jauh di depan sana, tepat di depan proyeksi menara Naga Biru, Xi Liang tampak lega melihat Tian Lei yang telah lolos dan Jie Xuan Long hanya memejam saja.
Tapi, reaksi dari Zui Zhang Li bukan lega tapi lebih terkejut.
Melihat Zui Zhang Li yang terkejut melihat hasil yang di tunjukkan proyeksi, Xi Liang kemudian bertanya.
"Senior, ada apa?..." Tanya Xi Liang dengan heran.
Zui Zhang Li melirik dan menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa ia akan selesai secepat ini. Dia benar-benar adalah jenius yang sebenarnya..." Ucap Zui Zhang Li dan Xi Liang juga Jie Xuan Long mengangguk Setuju.
.
Kabut merah terus bergerak menuju daratan dan mulai menyelimuti seluruh daratan tandus di sekitar Tian Lei.
Seketika itu juga, Tian memejamkan matanya dan membukanya kembali, saat mata Tian Lei terbuka kembali, matanya berubah menjadi ungu seperti sebelumnya.
Tian Lei menatap ke dalam kekosongan di dalam kabut dengan tatapan dingin.
Dia mulai mengangkat kakinya dan menghentakkan kakinya ke daratan dengan kuat.
Hembusan angin yang berpusat dari tempat Tian Lei berada mulai menyapu seluruh kabut yang menutup pandangan Tian Lei.
Melihat keberadaan di depannya, Tian Lei mengangkat alisnya. "Oh? Sudah kuduga..." Ucap Tian Lei dengan pelan.
Dalam tatapan mata Tian Lei saat ini, tampak sosok monster dengan tubuh yang menyerupai kerangka manusia bagian atas tanpa adanya kaki.
__ADS_1
Walau tubuh monster itu terlihat terbentuk dari susunan tulang, tapi sebenarnya tulang-tulang itu terbuat dari pemadatan elemen petir yang ada di dalam kabut tadi.
Sosok monster itu meletakkan kedua tangannya di daratan dan mulai merendahkan tubuhnya.
Dia menggerakkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Tian Lei.
Wajah tengkorak yang terlihat mengerikan terlihat sangat jelas di depan Tian Lei, namun walau begitu juga Tian Lei sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, tatapan mata yang ia tunjukkan seperti sedang melihat orang biasa.
Sosok monster membuka mulutnya dan asap keluar dari sana. "Manusia... Sudah lama sekali aku tidak melihat manusia... Terakhir kali aku melihat rasmu adalah saat-saat yang paling memalukan bagiku! Aku akan mengambil alih tubuhmu dan keluar dari sini! Lalu aku akan membunuh naga bodoh itu!!!..." Suara serak terdengar dari monster mengerikan di depan Tian Lei.
Tian Lei mengangkat alisnya karena bingung dengan perkataan monster di depannya. "Naga? Apa itu pendiri sekte Naga Biru? Dia adalah Naga?..." Pikir Tian Lei.
Tian Lei lalu menatap monster di depannya dengan tatapan serius. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi, ingin mengambil alih tubuhku? Bukankah kau terlalu percaya diri?..."
"GRAAA!!!...." Teriakan keras dari amukan monster terdengar sangat mengerikan dan dapat menggetarkan jiwa setiap ahli Xiantian. Mungkin, jika Jie Long Huo ada di tempat tersebut, ia akan menjadi orang gila karena tidak bisa menahan.
"Kalau begitu akan aku tunjukkan kekuatan yang telah membantai banyak ahli Xiantian ini!..." Monster berbicara dengan suara serak yang mengerikan.
Tian Lei mengeluarkan pedang Langit Naga Lava dan menggenggamnya dengan erat.
Tian Lei memasang kuda-kuda bertarungnya dengan pedang.
"Ayo!..." Ucap Tian Lei dengan semangat.
"Eh?..."
"Tunggu! Itu kan..."
Saat Tian Lei memasang kuda-kuda ia tidak sengaja menatap hal mengejutkan dari tubuh monster di depannya.
"Rupanya dia bukanlah monster. Dia adalah Spirit Petir!..." Pikir Tian Lei dengan serius.
Raut wajah Tian Lei yang awalnya serius kini berganti menjadi wajah dengan senyuman puas.
"Hehe, ini adalah keberuntunganku. Mungkin harus berterimakasih pada leluhur pendiri sekte ini..." Ucapnya dan melesat ke arah Spirit Petir.
__ADS_1