
Keluarga Baratajaya datang lebih dulu, Andini dan Raihan sengaja tidak membuat Lily dan Brian saling bertemu. Mereka ingin pertemuan kedua calon pengantin itu di pelaminan menjadi pertemuan yang istimewa. Mereka menempati kamar hotel yang sudah di pesan sebelumya, Lily pun akan tidur di kamar sendiri. Bukan kamar pengantin, karena untuk kamar pengantin akan di tempati besok setelah Lily dan Brian sah menjadi pasangan halal.
Lily sedikit keberatan saat dia diminta tidur sendiri, sudah biasa tidur dengan kedua jagoannya, akan terasa sangat sepi jika mereka dipisahkan. Mommy Andini sengaja melakukan itu agar istirahat Lily tidak terganggu karena besok dia harus mengikuti serangkaian acara yang melelahkan. Mommy pun tidak ingin Lily terlihat kusut di hari bahagianya. Beliau sangat ingin Lily terlihat mempesona, terlebih setiap mengingat pengorbanan putrinya yang luar biasa. Saat ini lah waktu yang tepat membalas semua kesedihan yang Lily rasakan sebelumnya. Mengistimewakan Lily dan mewujudkan impiannya untuk menjadi pengantin paling cantik sesuai impiannya saat kecil dulu.
"Mom, nanti anak-anak gimana? Mommy dan Daddy juga kasihan kalo sampai terganggu tidurnya." Lily masih berusaha meminta kepada mommynya agar dia bisa tidur bersama dengan kedua bayi kembarnya.
"Mommy dan Daddy besok bisa istirahat dan bergantian dengan calon mertua kamu untuk mengurus cucu kami, sedangkan kamu itu pemeran utamanya. Pengantin yang akan menjadi raja dan ratu semalam. Itu sangat melelahkan Sayang, terlebih Daddy kamu dan calon Papah mertua kamu menyebar banyak sekali undangan. Mommy yakin kamu bakal kecapekan besok. Maka dari itu, jaga stamina! Tidur dan jangan memikirkan apapun, pengantin harus tenang dan fresh. Oke!"
Lily menganggukkan kepala dengan pasrah, sudah tidak akan bisa membuat Mommy yang sudah bertitah akan goyah. Terlebih sang Daddy pun mendukung Mommy, membuat Lily semakin sulit membela diri.
"Ya sudah Lily masuk kamar, dadah anak-anak Bunda. Bobo yang nyenyak ya Sayang! Jangan merepotkan Oma dan Opa!" Lily mengecup kedua putranya dan mengusap kepala keduanya dengan lembut. Perlahan dia masuk ke dalam dengan mata terus memandang kedua buah hatinya yang kini dalam dekapan Mommy dan Daddy.
"Sudah jangan mengkhawatirkan mereka! Bagaimana nanti akan pergi honey moon jika semalam tidak tidur dengan Brilly dan Lian saja kamu sudah ingin menangis?" Mommy mengulum senyum melihat bibir Lily yang cemberut. Suaminya pun hampir ingin tertawa melihat wajah putrinya yang hampir menangis hanya karena dipisahkan semalam dengan kedua jagoannya.
"Malam ini sepi, besok malam kamar kamu akan ramai kembali!" ucap Daddy, kemudian menutup kamar Lily yang tak kunjung di tutup oleh si empunya.
Lily menghela nafas berat melihat pintu yang sudah di tutup oleh Daddy. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sekeliling kamar yang begitu mewah namun sepi hanya dirinya sendiri.
Lily memutuskan untuk membersihkan diri sebelum dia beristirahat. Jika pada pernikahan Aara, malamnya masih ada makan dan kumpul keluarga. Tidak dengan pernikahan Lily dan Brian yang diatur sedemikian hingga keduanya tak bertemu, bahkan Mommy telah menyiapkan stok makanan untuk Lily di kamar.
__ADS_1
"Haish... Sepinya, ponsel nggak ada. Anak di bawa Mommy dan Daddy. Terus mau ngapain? Makan lanjut tidur... Huuuhhhfff...." Lily merasa gabut sekali malam ini, dia hanya gulang guling di atas kasur tanpa kegiatan yang berarti. Hanya suara televisi yang menemani malamnya, hingga tanpa terasa Lily terlelap begitu nyenyak.
Jika Lily bisa tertidur pulas, tidak dengan Brian yang mondar-mandir di dalam kamar. Dia begitu merindukan Lily dan kedua jagoannya. Serasa tidak sabar ingin bertemu. Bahkan sudah seminggu nomor Lily tidak bisa dihubungi, tanpa Brian tau jika ponsel Lily disita oleh Mommy.
"Ini pingitan pengen gue hapus aja rasanya dari adat jaman dulu, merugikan calon pengantin yang udah nggak sabar pengen ketemu. Padahal bisa lihat aja hati gue udah adem bener. Lah ini jangankan lihat, denger suara aja nggak boleh. Ya Allah... Pertemukan di mimpi juga boleh, emang benar kata Dilan, rindu itu berat. Udah kayak manggul beras satu ton. Engap nggak bisa nafas, " keluh Brian.
Brian memutuskan untuk keluar kamar, dia mencari peruntungan. Siapa tau tidak sengaja bertemu dengan Lily. Melangkah menyusuri setiap koridor tanpa tau tujuan, hingga dia dikejutkan dengan adanya Andika yang ingin kembali masuk kamar setelah makan malam.
"Calon manten mau ngapain malam-malam kelayapan? Nggak di kasih stok makanan sama si Bayu?"
"Eh Om, Tante... Cuma mau cari angin Om. Perut udah kenyang, cuma hati penasaran. Eh..." Brian menutup mulutnya yang keceplosan. Dia tertawa kecil menormalkan raut wajahnya yang sedikit tegang. Takut ketahuan jika dirinya memang ingin mencuri kesempatan bertemu dengan Lily. Padahal kamar lily saja Brian tidak tau.
"Udah ya Brian, Tante dan Om masuk dulu. Capek mau istirahat, besok pagi-pagi kan harus bangun. Kamu juga kembali ke kamar! Jangan gentayangan nyari-nyari calon istri, nggak akan ketemu!" ucap Erna yang kemudian menarik sang suami agar tidak banyak bicara yang membuat Brian tambah penasaran dan berujung tidak bisa tidur.
"Masuk! Bukan ketemu Lily malah ketemu Kunti," seru Andika sebelum masuk ke dalam kamarnya. "Iya-iya Sayang, nggak sabar banget mau duluin pengantin." Andika segera masuk dan meninggalkan Brian yang masih berdiri memperhatikan tingkah sahabat dari papahnya. Brian menggelengkan kepala dan kembali melangkah. Kata-kata Andika membuat Brian penasaran dengan Lily, tidak sabar sekali ingin waktu cepat bergulir.
Brian kembali ke kamarnya, dia memutuskan untuk istirahat setelah mencoba mencari peruntungan. Memang percuma dan Lily tidak dapat ditemukan.
"Emang harus sabar, kalo sabar pasti di sayang pacar. Gue menyerah Ly, semoga ini jam cepat muter dan kita bisa cepat bertemu. Aamiin... Setidaknya pertemukan di mimpi Ya Allah. Eh tapi jangan dech, nanti ini kasur basah lagi."
__ADS_1
Brian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia berusaha untuk tidur. Rindu memang membuat pikiran rancu. Rasanya ingin ngamuk dan tak akan melepaskan jika sudah bertemu.
Brian terbangun karena ponselnya berdering dengan begitu kencang. Matanya masih begitu berat, namun panggilan yang tak kunjung berhenti membuatnya terpaksa meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Halo."
"Kirim alamat rumah loe, gue sama Aara mau ngirim barang, kado pernikahan loe sama Lily!"
"Loe kan bisa datang nanti, ngapa jadi nanyain rumah gue?"
"Ck, kirim aja beserta info di mana loe titipin kuncinya!"
"Kok sama kunci? Loe mau maling apa kirim kado?"
"Udah, jangan banyak tanya! Loe berisik, gue tuh nggak bisa datang dan itu barang berharga. Nggak mungkin diletakkan di luar rumah!"
Brian melihat layar ponselnya, Wahyu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak. Rasanya Brian ingin merutuki pria itu, setelah sadar jika jarum jam masih menunjuk ke angka empat.
"Nggak ada kerjaannya loe!" Meski kesal, Brian tetap mengirimkan alamat pada Wahyu, alamat rumah barunya yang akan di tempati oleh Lily setelah hari pernikahan nanti.
__ADS_1