LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 21


__ADS_3

Brian tak menyangka dengan tega Lily menganggapnya telah mati. Rasa bahagia yang tadi sempat singgah kini sirna bersamaan dengan ucapan Lily yang menyayat hati. Brian menatap datar wanita yang kini tengah menunduk dengan menggigit bibirnya.


Kini Brian sendiri yang menunggu Lily setelah Rafkha pamit untuk menemui Daddy nya. Dan Wahyu sengaja pergi untuk memberikan waktu keduanya berbicara. Dan setelah menutup pintu ruangan, Brian melangkah mendekat dengan sikap dingin.


Sungguh ia kecewa dengan Lily, ia pikir Lily akan menceritakan semuanya, hatinya sudah lega karena ia akan memperjuangkan Lily meski harus mempertaruhkan nyawa. Tapi ia salah, Lily begitu keras kepala dan lebih memilih untuk berdusta.


"Puas, hhmm? Puas udah bohongin semuanya? Puas udah menganggap gue mati?" tanya Brian dengan nada tinggi. Brian seperti sudah kehilangan kesabaran pada Lily, semua yang Lily lakukan sejak awal bertolak belakang dengan maunya. Namun selalu membuat Brian bungkam akan permintaan Lily yang berujung menyakitkan diri sendiri.


Lily mendongakkan kepala, ia menatap Brian yang begitu terlihat marah. Aura wajahnya menakutkan dengan tatapan tajam yang begitu menyesakkan. Baru kali ini Lily melihat Brian marah dan semarah-marahnya pria itu, Brian tidak pernah mengeluarkan nada tinggi apa lagi sampai membentak.


"Kenapa diam? Kenapa nggak loe bunuh gue aja sekalian Lily? Kenapa loe selalu menyiksa gue dengan semua kemauan loe! Loe nggak mikir nasib anak kita? Loe nggak mikir bagaimana dia tumbuh tanpa figur seorang ayah? Atau memang loe nggak sayang sama seperti loe membenci gue?"


Jantung Lily berdebar kencang, Brian membuatnya bungkam dengan segala pertanyaan yang menyudutkan. Bukan ia tidak memikirkan nasib anaknya. Tapi ia tidak ingin menghancurkan semuanya dengan fakta yang ada.


Lily berusaha bangkit dan turun dari ranjang, meski masih begitu lemas namun ia mencoba memaksakan. Perlahan kakinya melangkah mendekati Brian, tatapan Lily pun tak putus dengan sudut mata basah. Sampai dimana langkahnya terhenti tepat hadapan Brian.


" Apa loe nggak mikir dengan keluarga kita? Apa loe nggak mikir kebenaran ini menyakitkan semua orang? Apa loe nggak mikirin perasaan kedua kakak gue? Persahabatan loe dengan kak Rafkha sudah sejak lama, Kakak gue benar-benar percaya sama loe dan Kakak gue sejak dulu hanya berteman dengan loe! Bagaimana jika dia tau adik bungsunya dihamili oleh orang yang ia percaya, sedangkan pria itu sudah resmi menjadi adik iparnya sejak sebulan yang lalu!"


"Akan berpikir bagaimana dia nanti? Akan menyebut loe apa? Pria brengsek? Pria bajingaan? Atau pria_"


"Gue nggak perduli! seandainya gue harus mati di tangan Rafkha sekalipun, gue rela!" Pungkas Brian, dia tak peduli dengan cap buruk yang akan melekat di dirinya, yang terpenting dia ingin bayinya mendapatkan pengakuan yang sebenar-benarnya. Dan ia akan hidup dengan wanita yang ia cinta, meneruskan mimpinya memiliki keluarga yang harmonis. Bukan seperti sekarang, hanya status menikah namun kenyataan keduanya seperti bermusuhan. Hidupnya semakin hambar karena hati keduanya bertentangan.


"Jika loe nggak mau berkata jujur pada semua orang, gue yang akan memberitahu Daddy anak yang loe kandung adalah anak gue!" tegas Brian kemudian membalikkan tubuhnya, ia harus bergegas mengatakan kebenarannya dan tak perduli dengan Lily yang terus menatapnya tajam.

__ADS_1


"Katakan jujur tapi setelah ini loe akan lihat gue dan anak ini di kubur!"


deg


Langkah Brian terhenti, kedua tangannya terkepal kuat mendengar ancaman Lily. Dia segera berbalik badan dan melihat Lily dengan mulut menganga. Brian kembali menyerah, ia pasrah dan kembali kalah. Lily membuatnya lagi-lagi berhenti berjuang. Bahkan kini Brian mengangkat kedua tangannya.


Dengan sangat terpaksa Lily harus menggagalkan usaha Brian untuk memberi tahu kebenaran. Matanya menoleh ke arah sekitar dan berhenti di meja samping brangkar. Di sana ada pisau untuk memotong buat yang terlihat tajam. Hanya itu satu-satunya cara agar Brian menghentikan niatnya.


Lily mengarahkan pisau itu tepat di depan perutnya, ini bukan sekedar ancaman. Andai ia harus mati dia ikhlas dari pada semua keluarga tambah terpukul dan malu. Persetan dengan cinta dan apapun di dunia ini, Lily lebih mementingkan hati orang-orang yang ia sayang dari pada dirinya dan orang yang ia cinta.


Meski ia tau cintanya pada Brian belum kunjung berkurang, tapi keputusannya adalah yang terbaik dan tidak egois.


"Lepas!" tatapan Brian berubah sendu, begitu tidak diinginkannya dirinya ini sampai Lily memilih bunuh diri. "Buang pisaunya! please....." sikap Brian berubah menjadi lembut. Perlahan langkahnya mendekati Lily hingga ia mampu meraih pisau yang Lily pegang.


Brian memeluk tubuh Lily setelah membuang benda tajam itu ke sembarang arah. Tangis Lily pecah, begitupun dengan Brian yang tak dapat menahan kesedihan yang bercampur kecewa. Keduanya saling mengeratkan, menumpahkan rasa yang berkecamuk di dada.


"Please kak jangan....." lirih Lily di sela Isak tangisnya. Brian pun tak menjawab, berat rasanya mengiyakan tapi ia pun takut andai Lily kembali berbuat nekat.


"Kak...."


"Loe bikin gue selalu kalah Ly, gue berasa nggak diinginkan sama loe! segitunya loe sama gue sampe nggak mau gue perjuangan sedikit aja!" bisik Brian, ia masih mendekap Lily seakan tak rela melepaskan.


Lily menggelengkan kepala tidak membenarkan ucapan Brian, bukan tidak menginginkan tapi keadaan yang mengharuskan berpisah.

__ADS_1


"Terus kenapa Ly? Gue sayang sama loe! Gue cinta sama loe Ly! Dan sekarang adanya benih yang tumbuh semakin menguatkan cinta gue sama loe! Jangan kayak batu Ly, pikirin lagi bagiamana nasib anak kita!"


Lily kembali menggelengkan kepala, ia merenggangkan pelukannya dan mencoba melepaskan diri dari dekapan Brian.


"Ini yang terbaik kak! Gue nggak akan jauhin dia dari ayahnya, ataupun membuat kalian terpisah. Tapi gue nggak bisa mengungkapkan jati diri dia sebenarnya. Please kak....gue mohon!" lirih Lily dengan tubuh yang luruh ke lantai, ia hampir bersujud memohon di kaki Brian namun dengan cepat Brian mencegahnya.


Hati pria itu terluka, Lily benar-benar sulit untuk di taklukkan. Hanya mengalah jalan satu-satunya kemudian Brian segera membantu Lily kembali ke ranjang.


"Ada syaratnya!"


Lily yang kini tengah berbaring menatap Brian yang masih berdiri di sampingnya.


"Apa?"


Brian menghela nafas berat, tangannya gemetar terulur mengusap lembut perut yang masih rata. Dia mendekatkan dirinya dan mengecup perut Lily. "Anak Ayah, baik-baik sama Bunda. Maaf....maafin Ayah....Ayah gagal nak. Tapi Ayah janji selalu ada buat kamu. Minta Bunda untuk memanggil Ayah jika kamu rindu..." Bisik Brian kemudian mengecup lagi perut Lily begitu dalam. Menyurut air mata penuh penyesalan.


Melihat pemandangan itu Lily menoleh membuang muka, dadanya begitu sesak. Dan kini ia bungkam menahan kembali Isak tangisnya.


"Apapun keluhan yang loe rasain selama mengandung anak gue, hubungin gue! Jangan pria manapun!" Brian menekan ucapannya, yang ia maksud adalah Wahyu karena Lily sangat dekat sekali dengan pria itu. "Dan setiap periksa kandungan, harus gue yang menemani!"


"Persyaratan yang sulit!" celetuk Lily.


"Lebih sulit mana dengan berpura-pura bodoh dan membiarkan kalian menderita!"

__ADS_1


__ADS_2