
Lagi-lagi celetukan Tiara membuatnya kepikiran, Lily tak lagi meneruskan makan dan memilih untuk segera berangkat kerja. Lipstiknya yang mulai luntur kembali ia poles agar tak terlihat terlalu pucat. Rasa mualnya masih ada tetapi Lily mencoba untuk menormalkan diri, cukup meminum air hangat lalu segara berangkat.
"Loe yakin mau berangkat?" tanya Tiara yang merasa ragu dan janggal akan sesuatu.
"Hhmm....Biasa asam lambung kambuh, loe tau lah nggak perlu gue jelasin. Nanti kalo udah gue minumin obat juga sembuh." Lily segera masuk kedalam mobil meninggalkan kedua pasutri yang melakukan ritual pamitan terlebih dahulu.
Matanya menatap keharmonisan Kakaknya dengan Tiara, menjadikan dirinya teringat akan sikap hangat yang ia rindukan dari pria yang ia cinta. Namun semua hanya angan tapi sukses membuat perutnya kembali bergejolak. Lily segara membuka tas, ia ingat ada permen asam di dalam tasnya. Dengan cepat membuka bungkus permen tersebut dan segera memasukkan permen itu ke dalam mulut.
"Ya Allah....Lily mohon jangan ...." lirih Lily dengan mata yang berkaca. Ingin mengelak tapi kondisi tubuhnya semakin menguatkan dugaan. Lily tak bisa membayangkan jika semua yang ia takutkan benar terjadi. Akan seperti apa keluarganya nanti...
Lily terhenyak mendengar suara pintu mobil tertutup, lekas ia keluar dari lamunan yang menyakitkan. Lily berdehem dan kembali bersikap biasa agar Rafkha tak melihatnya berbeda. Meski ia tau akan sulit menutupi sesuatu di depan Kakaknya namun Lily berharap besar Rafkha tak curiga.
"Pakai sabuk pengamannya!"
"Hah! pengaman?" tanya Lily lagi dengan mulut menganga. Wajahnya polos namun pertanyaannya membuat Rafkha berdecak.
"Otak loe lagi kemana? Ck.....Fokus! makanya jangan kebanyakan main sama Wahyu!" Omel Rafkha, bukan membuat Lily mengerti malah membuat Lily semakin mengerutkan dahi.
Apa maksudnya bawa-bawa Wahyu segala, kalo misal masih ada dendam pribadi sebaiknya segera selesaikan bukannya orang lain ikut kena sasaran. Lily menghela nafas berat kemudian segera memakai sabuk pengaman tanpa kembali di pinta.
Sepanjang perjalanan Lily tak henti memakan permen yang ia bawa, ntah sadar atau tidak setelah habis Lily segera membuka bungkus permen itu kembali hingga banyak sekali sampah berserakan di mobil Rafkha.
__ADS_1
"Buang sampah loe! pagi-pagi makan permen!" ketus Rafkha setelah keduanya sampai di basemen kantor. Dengan berdecak kesal Lily segera membersihkan bungkus permen itu dan keluar dari mobil.
"Dari dulu nggak berubah, ketus banget! jangan aja ponakan gue cetakan dia. Bisa jadi keluarga salju tuh ntar!" Lily begitu sewot, kemudian segera melangkah menuju lift menyusul Rafkha agar bisa ikut masuk ke lift khusus petinggi.
Rafkha hanya menggelengkan kepala saat Lily hampir saja terjatuh karena sepatunya yang licin. Beruntung ada tangan yang menolongnya, menahan tubuh yang hampir saja terjengkang. Keduanya saling bertatapan seperti film FTV yang saling jatuh cinta setelah adegan jatuh di pelukan.
Rafkha saja yang melihatnya merasa jengah tapi ia masih menahan pintu lift menunggu keduanya yang masih ngedrama.
"Hati-hati Lily! loe buat gue hampir jantungan. Kalo sampe jatuh nggak ada lagi yang gue ledekin! Ngebully loe tuh ngeringanin beban hidup gue!"
Lily tercengang mendengar ucapan Wahyu, "Lemes!" Lily segera bangkit dan berusaha kembali berdiri dengan tegak. Dia mendengus kesal dan segera masuk kedalam lift dengan menghentakkan kakinya. Menatap tajam Wahyu yang hendak melangkah masuk namun segera melepas tangan Rafkha, membiarkan lift segera tertutup rapat.
"Loh.."
"Lily!" Wahyu menghela nafas berat, banyak yang memperhatikan kejadian tersebut tetapi tak ada niat untuk menegur. "Sial!" Wahyu menoleh ke belakang, banyak yang melihatnya dengan saling berbisik tetapi tak di hiraukan oleh Wahyu, pria itu segera masuk ke dalam lift karyawan untuk segera menyusul Lily yang pagi-pagi sudah membuatnya di jadikan bahan ghibah.
🍀🍀🍀
"Setelah jam makan siang, kamu kasih berkas ini pada Rafkha!"
"Baik Dad." Brian segera menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Pintu ruangannya kembali terbuka tanpa ada ketukan, siapa lagi jika bukan Aara pelakunya. Brian melirik sedikit dan kembali lagi memfokuskan diri di depan layar laptop. Hubungan keduanya tak kunjung ada perubahan, semakin kesini semakin hambar. Karena memang sejak awal tak ada sesuatu yang mendasari hubungan keduanya. Tak ada cinta dan hanya sayang terhadap teman. Meski sudah ada ikatan pernikahan bukan berarti Brian akan berubah. Apa lagi hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Baru semalaman Lily tidak pulang ke rumah saja membuatnya tidak betah tinggal di rumah mertua. Di tambah lagi bayangan akan pertengkaran keduanya kemarin. Tak ada pilihan bagi Brian selain menjauh mengikuti yang Lily mau.
"Makan yuk!" ajak Aara, dia mendekat dan duduk di atas meja dengan menutup laptop yang Brian gunakan.
"Ck, duluan sana. Gue belum laper!" Brian hendak kembali membuka laptopnya namun tangan Aara secepat mungkin mencegah. "Mau apa lagi sich?"
"Loe kenapa sich? Semenjak nikah sikap loe berubah! loe dingin banget sama gue, loe lupa status loe apa? apa perlu gue ingetin dan bawa buku nikah kita kemana-mana? Biar loe sadar siapa gue di hidup loe!"
Keduanya saling menatap dengan tajam, Brian merasa bosan dengan hubungan mereka yang selalu bertengkar. Jangankan bisa harmonis, berteman saja Brian merasa enggan. Semua berubah karena hatinya patah.
"Dan ini bukan mau gue! Kalo loe nggak suka, loe bisa tinggalin gue!" Brian segera beranjak dari sana.
"Loe mau kemana?" Aara tidak tinggal diam, ia segera berlari menghentikan langkah Brian. Rasa kesalnya belum reda tapi Brian malah pergi begitu saja. Dia merentangkan kedua tangannya menghalangi Brian yang ingin keluar ruangan.
"Loe nggak capek debat terus sama gue?"
"Tapi nggak bisa loe pergi gitu aja! gue belum selesai bicara Brian!" Dengan rasa menggebu Aara terus saja mencecar Brian. Bahkan kini ia telah mencondongkan tubuhnya hingga dada keduanya saling menyapa. Aara seperti menantang, bahkan kini mampu membuat sepasang mata pria itu turun ke bawah.
"Nggak perlu pamer dada! Masih montokan dada ayam!" Ucapan Brian membuat mulut Aara menganga. "Minggir gue mau ketemu sama kakak ipar!" Brian menggeser posisi Aara dan kembali melangkah keluar.
__ADS_1
Dengan wajah merona Aara melihat bagian dadanya, kesal, marah, malu, bercampur jadi satu. Ada rasa tak terima juga Brian melakukan body Shiming padanya.
"Ya kali gara-gara ini loe nggak mau sama gue! Dasar Brian, mulut loe bikin gue mental!" kesal Aara dengan menghentakkan kakinya dan melangkah pergi berusaha kembali mengejar Brian yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.