
Setelah melewati banyaknya rangkaian pengecekan kesehatan, kini Aara bisa bernafas lega. Kertas hasil dari rumah sakit ternama di Amerika dia dapatkan dengan keterangan bahwa dirinya sudah dinyatakan sembuh. Meskipun tidak lagi memiliki rahim tetapi, Aara cukup bersyukur dengan kondisinya saat ini. Aara pun di wajibkan check up satu bulan sekali untuk mengetahui kesehatannya dan di anjurkan oleh dokter agar menjalani hidup sehat. Salah satunya dengan menghindari makanan siap saji.
Semua itu tidak terlepas dari jasa Wahyu yang selalu menemani dan dengan ngeyelnya ingin terlibat dalam apapun kegiatannya. Perdebatan pun masih terus terjadi bahkan terkadang Aara mengunci diri di kamar apartemen karena malas bertemu dengan Wahyu. Kebersamaan keduanya yang terjadi hampir dua bulan membuat Aara semakin lama semakin terbiasa.
"Masak apa?"
Aara terjingkat dengan spatula yang hampir lepas dari tangan, beruntung tidak melayang ke kepala orang. Rasanya begitu gemas dengan pria yang selalu datang dan pergi tanpa permisi. Begitulah jika akses pintu diketahui orang lain, sedangkan ingin mengubah pin Aara tidak bisa. Semua seperti disengaja oleh Wahyu agar dia kesulitan.
"Bisa nggak sich, loe tuh kalo masuk tempat orang salam dulu? Ngagetin tau nggak! Ngeselin banget," sewot Aara kemudian kembali lagi dengan masakannya yang lebih butuh perhatian dari pada pria gaje yang kini berdiri memperhatikan.
"Keahlian masak loe udah lumayan, makin pinter buat macam-macam menu makanan. Nggak seperti dulu yang bisanya masak air sama telor dadar."
"Nggak usah banyak komentar dech, toh loe juga ikut makan. Pake protes lagi loe udah kayak natijen."
Aara selalu saja bisa melawan ucapan Wahyu, setelah kondisinya semakin membaik dia semakin mampu mengimbangi keisengan Wahyu. Tubuhnya pun sekarang sudah berangsur seperti dulu lagilpo, meski rambutnya masih pendek tetapi setidaknya sudah banyak perubahan yang terjadi di diri Aara. Dia kembali menjadi wanita cantik meski berambut cepak.
"Ck, ngomong terus laper gue," keluh Wahyu yang kemudian beralih ke meja makan. Dia lebih dulu menyendok nasi dan menunggu masakan Aara jadi.
Setelah matang Aara segera menyajikannya ke meja makan, menu masakan Indonesia selalu nomor satu di lidah keduanya.
Plak
Aara memukul tangan Wahyu membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kenapa mukul-mukul sich? Halus sedikit gitu loh jadi cewek. Kalo mau kasar jangan disini! Lagian makan dulu biar bertenaga." Wahyu menaik turunkan alisnya kemudian mencubit pipi Aara yang sudah semakin terlihat chubby.
"Ngomong apa sich loe? Pake pegang-pegang lagi. Cuci tangan dulu baru makan, please jangan jorok kalo di dekat gue!" Itulah yang membuat Aara memukul tangan Wahyu karena, pria itu belum mencuci tangan dan sudah ingin mencicipi masakannya dengan jemarinya yang entah dia pakai untuk apa sebelumnya.
"Nanti kalo gue ajarin yang jorok-jorok ketagihan lagi," jawab Wahyu asal, kemudian dia beranjak dari sana menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Aara tidak lagi menggubris ucapan Wahyu yang membuatnya sakit kepala. Lebih baik makan dari pada memikirkan pria yang selalu membuatnya kesal.
__ADS_1
"Sabunnya dimana Sayang?" seru Wahyu dengan panggilan yang membuat Aara membuang nafas kasar.
"Siapa yang loe panggil sayang?" tanya Aara, tetapi dengan cepat dia beranjak dan memberikan sabun yang tadi sempat ia pindahkan.
"Kamu! Makasih ya perhatian banget sich. Padahal tinggal jelasin ada dimana, langsung gue ambil tanpa Lo harus bergerak." Wahyu mengulum senyum melihat wajah kesal Aara.
"Berisik!" ketus Aara, dia segera kembali ke meja makan di susul dengan Wahyu yang telah mencuci tangannya.
Keduanya segera makan malam bersama, kebiasaan yang menyebalkan bagi Aara namun menjadi rutinitas yang tak terlewatkan. Bahkan Aara diam-diam belajar masak karena tidak tega melihat Wahyu makan dengan satu menu yang sama selama sepekan. Hal itu terjadi karena saat itu Aara hanya bisa membuat omelet dan sayur bening saja. Meski begitu Wahyu tidak mengeluh hanya saja Aara iba dengan pria yang memilih makan masakannya dari pada beli di luar.
"Enak, ini rendang kan?"
"Hhmm... Makan aja, kalo mau nambah silahkan! Biar tidur loe nyenyak dan nggak gangguin gue lagi!"
"Baik banget, tapi gue nggak bisa nyenyak bukan karena laper. Semua itu karena gue kepikiran sama yang sekarang kemana-mana jalan sendiri. Efek sudah montook jadi lupa sama gue." Wahyu kembali meneruskan makannya, bahkan dia nambah lagi karena baru kali ini dia merasa makan makanan yang layak di makan. Sebelumya, selalu saja ada yang kurang dan harus dengan susah payah dia telan agar tidak mengecewakan yang masak.
"Gue udah sehat sekarang, jadi bisa kemana-mana sendiri. Lagian loe suka banget gue repotin."
Wahyu memang paling bisa menjungkirbalikkan perasaannya. Tiba-tiba Aara takut jika nanti akan jatuh cinta di saat dia tidak ada kepercayaan diri untuk menjalin hubungan kembali.
"Habisin Yu!" titah Aara membuang kecanggungan.
"Iya, tenang aja. Nggak akan gue sia-siakan kok." Jawaban Wahyu lagi-lagi membuat Aara menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisir gangguan yang akan membuat jantungnya berdetak dua kali lipat.
Setelah keduanya selesai makan dan sedang menikmati buah sebagai hidangan penutup, ponsel Aara berdering cukup kencang. Dengan cepat dia meraih ponselnya yang ada di dalam kamar dan kembali berjalan keluar dengan mengangkat panggilan dari Indonesia.
"Halo Mom..."
"Lily hari ini melahirkan Sayang, doakan Lily dan anaknya selamat ya Nak!"
"Aara pasti doakan Mom yang terbaik untuk Lily, lalu bagaimana keadaan mereka sekarang Mom?" tanya Aara yang kembali duduk dengan sedikit melirik Wahyu.
__ADS_1
"Saat ini Lily sedang berada di dalam ruangan operasi, dia tidak bisa melahirkan normal karna ada kendala yang membuatnya harus segera mendapatkan penanganan yang serius."
Kabar bahagia yang berujung menegangkan bagi Aara, dia mendadak khawatir dengan keadaan Lily. Rasanya ingin terbang ke Indonesia secepat mungkin namun, Aara besok ada janji akan mengunjungi kampus yang akan menjadi tempat meneruskan pendidikannya.
"Aara doakan semoga operasinya lancar ya Mom, Mommy dan Daddy harus tenang. Semua pasti baik-baik saja."
"Iya Sayang, ya sudah kamu juga baik-baik di sana ya. Nanti Mommy akan kabari kamu lagi jika Lily sudah keluar dari ruang operasi."
"Iya Mom, bye..."
Aara menarik dalam-dalam nafasnya dengan memejamkan mata. Dia memijit pelipisnya dengan hati cemas. Gerak geriknya pun sejak tadi tidak luput dari pantauan sepasang mata yang berubah serius.
"Kenapa?"
"Lily melahirkan, dia sedang di operasi karena ada kendala yang membuatnya tidak bisa melahirkan secara normal."
Wahyu menghela nafas berat, tidak tega mendengar kabar tentang Lily. Wanita kuat yang harus mendapat banyak cobaan. Dalam hati dia mendoakan agar Lily dan anaknya baik-baik saja, selamat dan lahir dengan sehat.
"Mending loe balik Yu!"
"Kok loe jadi ngusir gue?" tanya Wahyu tidak terima.
"Gue lagi pusing ngeliat loe malah jadi tambah pusing, bisa-bisa enek gue malahan." Aara mengusir Wahyu dengan mendorong tubuh pria itu menuju pintu keluar. Aara butuh ketenangan saat pikirannya tertuju pada Lily yang sedang bertaruh nyawa.
"Bikin aja belum udah enek, ayo bikin dulu!" celetuk Wahyu yang membuat langkah Aara terhenti. Bukan tanpa alasan, tetapi karena Aara teringat dirinya yang sudah tidak bisa hamil lagi. Wahyu pun heran dengan Aara yang tiba-tiba lemas lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kamar.
Namun, dengan cepat Wahyu menarik tangan Aara hingga tubuh keduanya tak berjarak. Wahyu menatap wajah Aara yang terlihat sendu. Dia lupa jika ucapannya bisa membuat Aara tersinggung.
"Sorry, gue nggak ada maksud buat nyakitin loe!"
"Nggak apa-apa, mending loe balik sana! Gue mau istirahat dan loe nggak salah. Gue aja yang beperan."
__ADS_1
Wahyu terdiam, dia segera melepaskan tubuh Aara dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar. Godaannya kali ini benar-benar salah dan membuat Aara bersedih.