LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 120


__ADS_3

"Assalamu'alaikum jagoan Om..."


"Wa'allaikumsalam Om," jawab Aara dengan suara yang mengecil. Dia tersenyum melihat Wahyu datang dengan membawa sebuah paper bag.


"Itu apa?" tanya Aara.


"Oh ini, buat kamu!" Wahyu menyodorkan paper bag itu kepada Aara.


Aara menelisik isi dari paper bag itu dan kembali menatap Wahyu. "Gaun? Untuk apa?" tanya Aara lagi dengan mengerutkan dahi.


"Lusa aku dan kedua orangtuaku datang untuk melamarmu. Jadi, persiapkan diri kamu. Itu gaun yang aku belikan khusus untuk kamu, dipakai ya!" ucap Wahyu dengan mengacak gemas rambut Aara kemudian mengambil alih salah satu bayi yang sedang Aara ajak berjemur. Sedangkan Aara masih diam tercengang dengan posisinya yang tak kunjung berubah.


Semalam sempat ada pembicaraan tentang itu, tetapi Wahyu belum menentukan hari. Aara pun baru akan mencari pakaian untuk acara lamaran nanti menunggu Lily pulang.


"Sayang, ayo dimandikan dulu ini si duo bocil. Sudah siang!" seru Wahyu yang sudah berada di dalam rumah. Aara pun segera menggendong Brilly dan masuk ke dalam untuk memandikan mereka.


Aara dan Wahyu memandikan kedua bayi kembar itu bersama. Wahyu yang memang datang dengan celana selutut, lebih santai dan luwes saat memandikan Lian. Sudah hampir seminggu ini dia terjun langsung membantu Aara.


"Handuknya digantung ya Sayang, satu-satu!" ucap Aara saat Wahyu lebih dulu selesai memandikan Lian sedangkan Aara masih menyabuni Brilly.


"Iya Sayang," jawab Wahyu. Pria itu segera membawa Lian menuju kamar Aara untuk di pakaikan baju. Wahyu begitu telaten mengurusi Lian dan kini bocah itu sudah wangi dengan bedak putih yang menempel di pipinya.


"Kok jadi kayak donat gula, putih banget begitu. Aku ini bukan badut Om!" ucap Aara protes dengan menyerupai suara anak kecil.

__ADS_1


"Ganteng Tante, kalo masih kecil dipakaikan bedak tebal begini lucu Sayang. Ayo sini Brilly gantian pakai baju sama Om saja. Biar Tante Aara bisa menyiapkan susu untuk kalian." Wahyu segera mengambil alih Brilly.


Melihat Wahyu yang begitu telaten mengurus kedua ponakan kembarnya, membuat Aara menjadi terharu. Dia semakin yakin akan menjadi istri dari Wahyu karena kelembutan dan kasih sayang pria itu.


"Aku ikhlas andai kamu memiliki anak dari wanita lain," lirih Aara membuat gerakan tangan Wahyu terhenti. Meskipun lirih, Wahyu masih dapat mendengarnya. Pria itu segera menoleh ke belakang.


"Jangan terlalu dipikirkan, apapun yang aku lakukan tidak akan membuat kamu tersisihkan! Percaya sama aku! Kamu tetap yang utama," ucap Wahyu tegas. Pria itu segera merapikan pakaian Brilly dan mendandaninya sama seperti Lian kemudian beranjak dari tempat tidur lalu meraih tubuh Aara.


"Kita akan bersama selamanya sampai maut memisahkan."


"Bagaimana jika aku duluan yang akan pulang?" tanya Aara lirih membuat Wahyu melepaskan pelukannya. Pria itu menatap lekat wajah Aara dengan hati tak karuan.


"Kamu bicara apa? Aku tidak mungkin bisa menerima hati lain andai kamu tiada. Lagipula untuk apa berbicara demikian? Kita akan bersama selamanya. Sekalipun maut yang memisahkan, aku ingin suatu saat kita mati bersama. Bukan aku atau kamu yang pergi duluan."


"Jangan berbicara apapun yang mengerikan untuk hidupku!" Wahyu mengeratkan pelukannya dengan mencium aroma tubuh Aara.


Setelah kedua ponakan kembarnya kembali tertidur nyenyak, Aara segera masuk dapur untuk mulai memasak. Dia akan membuat menu makan siang sebelum kambali repot mengurus kembar.


"Mau masak apa Sayang?" tanya Wahyu yang memperlihatkan Aara yang begitu lihai mengolah makanan.


"Bikin steak kayaknya enak, bisa bantu nggak? Kupas kentang aja."


"Boleh," jawab Wahyu, pria itu segera melangkah mendekat dan mengeksekusi kentang yang akan digoreng oleh Aara. "Lily dan Brian besok jadi pulang?"

__ADS_1


"Jadi, mungkin sekarang lagi berburu oleh-oleh. Aku minta oleh-oleh yang banyak sama Lily."


"Sebanyak apa?"


"Sebanyak cinta aku buat kamu!" goda Aara.


"Ugh, udah pintar nggombal ya kamu!" Wahyu menoleh hidung Aara membuat wanita itu merenggut kesal.


"Tangan kamu kotor loh, nanti hidung aku tumbuh jerawatnya. Kan mau acara lamaran, jadi jangan sampe jerawatan," rengek Wahyu.


"Nggak ngefek buat aku, kamu tetap cantik di mata aku." Wahyu mengulum senyum kemudian kembali mengupas kentang.


Wajah Aara merona mendengar ucapan Wahyu, wanita itu pun kembali meneruskan masak dan menyibukkan diri agar Wahyu tak menyadari jika apa yang ia katakan membuat Aara auto besar kepala.


Setelah semua makanannya matang, Aara dan Wahyu segera melahap sebelum duo bocil bangun.


Wahyu begitu menikmati sekali masakan yang dibuat oleh Aara. Bagi Wahyu, apapun yang di masak Aara seperti makan masakan restoran. "Enaknya kebangetan!" celetuk Wahyu.


"Makasih, aku masih terus belajar agar bisa memasakkan kamu masakan yang lebih enak lagi."


"Tentu, karena setelah menikah nanti aku nggak akan makan di luar. Kamu harus memasak setiap hari untukku dan menyediakan bekalku ke kantor."


"Siap!" Aara mengangkat tangannya dengan posisi hormat menghadap ke arah Wahyu membuat pria itu gemas lalu mengecup pipi Aara dengan merusuh.

__ADS_1


__ADS_2