
Setelah kesepakatan bersama, akhirnya pernikahan Lily akan di adakan satu bulan lagi. Tepatnya setelah kedua anaknya genap 40 hari. Itupun para istri soang yang mengusulkan karena mereka paham betul jika menikah bukan perkara mudah bagi wanita. Kesehatan pun menjadi yang utama, maka dari itu mereka paham jika Lily meminta waktu terlebih dahulu. Dia pun ingin benar-benar sehat dan mengembalikan bentuk tubuhnya setelah melahirkan dua anak sekaligus.
Brian menyetujui dengan menekan sabar sebanyak-banyaknya. Dia pikir setelah kembar lahir, label halal akan segara tersemat, nyatanya masih harus menunggu calon istri merawat diri. Brian melirik Lily yang kini tengah mengulum senyum. Seperti meledeknya yang nelangsa karena keinginannya untuk mempercepat hari pernikahan gagal total. Padahal Lily telah memberi diskon dengan memangkas satu bulan tetapi tetap saja tak sesuai keinginan Brian yang maunya segera.
"Senyum terus, bahagia sekali rupanya. Padahal aku mah terima aja mau kamu seperti apa bentuknya juga. Beda cinta karena nafsu dengan cinta yang tulus. Tapi ya sudahlah... Kakak pun akan mempersiapkan si Joni dengan matang. Siapa tau setelah ini launching adiknya si kembar."
Senyum Lily memudar, belum apa-apa sudah meminta anak lagi. Padahal Lily ingin menjedanya agar aman dan sepertinya harus dirundingkan sebelum terlambat.
Lily menoleh ke arah kedua anaknya yang begitu nyenyak tidur di atas sofa. Memang kebetulan keduanya sedang ada di ruang keluarga tetapi keluarga yang lainnya masih anteng di ruang makan mengobrol sambil ngemil santuy.
"Kak bisa nggak jangan mikir adik buat mereka dulu, Lily ingin benar-benar siap jika memang ingin nambah anak. Ada waktu juga untuk merawat Brilly dan Lian dengan baik. Ya hitung-hitung kita juga bisa sambil pacaran dulu. Bagaimana?" tanya Lily dengan hati-hati. Dia takut jika ucapannya akan membuat Brian marah dan beranggapan dirinya banyak syarat.
Brian nampak berpikir. Dia melihat kedua putranya yang masih sangat kecil kemudian melirik Lily dengan perasaan yang berkecamuk. Sebenarnya masalah keturunan Brian serahkan kepada Tuhan yang memberi rezeki. Tidak ingin menunda dan membiarkan rejeki itu mengalir begitu saja, agar rumah tangga mereka kelak menjadi berkah.
"Oke, tetapi tidak boleh menolak jika memang Tuhan sudah berkehendak. Kakak pun ingin kamu nyaman dan lebih fokus menjalani rumah tangga kita tanpa beban."
Lily kembali menyunggingkan senyuman mendengar persetujuan dari Brian, dengan cepat Lily memeluk tubuh Brian hingga pria itu tampak begitu terkejut. Brian membalas pelukan Lily, lega rasanya membuat wanita yang ia cintai tampak bahagia.
"Gercep banget nemploknya, udah kayak cicak main nangkep nyamuk. Sakit nggak tuh perutnya?" tanya Brian dengan tertawa kecil.
Perlahan Lily melepas pelukannya setelah sadar dengan apa yang dia lakukan. Mengusap bagian perutnya yang sudah tidak terasa terlalu sakit. Lily pun menghela nafas lega dengan menyisipkan rasa syukur.
"Alhamdulillah... Nggak sakit kak, cuma terasa sedikit gimana gitu tetapi aman."
__ADS_1
Brian mengacak gemas rambut Lily setelah melihat sikapnya yang membuat dia tidak sabar ingin membawa Lily pulang.
...****************...
Sudah dua Minggu Lily menjalani perannya sebagai seorang Ibu. Dia pun mulai terbiasa dan mahir dalam mengurus kedua putranya. Lily juga mulai melakukan perawatan untuk mengembalikan bentuk tubuhnya lagi, khususnya bagian perut yang tampak sangat berbeda pada saat gadis dulu.
Persiapan pernikahan pun mulai menyibukkan Mommynya hingga Lily sering sekali di tinggal sendiri di rumah dan hanya bersama kedua putranya. Memang urusan persiapan pernikahan Lily dan Brian menyerahkannya kepada para orang tua karena, Lily yang sibuk mengurus anak sedangkan, Brian juga sibuk dengan perusahaannya yang semakin maju.
Siang ini Lily kedatangan tamu tak di undang namun nampak begitu seru sekali saat sudah bersama. Terlebih dengan sesama profesi, yaitu ibu baru yang hanya beda beberapa bulan saja.
"Tiara anak gue jangan loe bangunin! Ikh gue capek-capek nidurin, malah mau loe bangunin. Nggak bisa nyantui gue nanti," sewot Lily saat melihat Tiara yang begitu gemas dengan menghujani Brilly dan Lian dengan kecupan.
"Gue kan udah lama nggak ketemu Ly, cuma bisa Vidio call doank gara-gara sibuk sama anak gue."
"Udah-udah biarin mereka tidur, mending kita nyantai sambil luluran. Ayo temenin gue!" ajak Lily, selagi ada teman begitu seru melakukan kegiatan yang biasa dilakukan sendirian.
"Biasa, Mommy lagi nyiapin acara buat dua Minggu lagi. Sibuk Mommy akhir-akhir ini, maklumlah gue nggak bisa turun tangan sendiri," jawab Lily menjelaskan.
Keduanya menyibukkan diri dengan bergibah dan perawatan tubuh. Anak yang masih kecil belum banyak main dan lebih suka tidur. Alhasil keduanya begitu santai mengurus tubuh.
"Gimana kabar Aara sekarang?" tanya Tiara tanpa mengalihkan pandangannya pada kaki yang sedang ia bubuhi dengan lulur milik Lily.
"Kak Aara sehat, semalem habis Vidio callan sama gue. Mudah-mudahan cepat dapet jodohnya."
__ADS_1
"Aamiin..." Tiara mengaminkan doa Lily dan kembali menyibukkan diri dengan merawat diri.
Sore harinya setelah Tiara pulang di jemput oleh Rafkha, Brian datang dengan membawakan beberapa makanan untuk Lily. Jika sebelumnya dia jarang mengunjungi, sepertinya beberapa hari ini akan lebih menyempatkan diri sebelum satu Minggu Lily di pingit.
Seperti adat yang ada setiap kali ingin menikah pasti ada acara pingitan. Mommy dan Daddy Raihan pun menerapkan hal itu. Meskipun hubungan keduanya tidak seperti pasangan pengantin kebanyakan namun, tak menyurutkan niat orang tua yang ingin mengadakan pesta seperti pernikahan anak-anak mereka sebelumnya. Terlebih ini menjadi yang pertama untuk Lily dan berharap akan menjadi yang terakhir dan kenangan terindah untuknya.
"Kakak bawa apa?" tanya Lily dengan menggendong Lian.
"Ini ada martabak telor buat kamu, kebetulan tadi ada yang baru banget buka dan katanya enak pake banget. Beruntung Kakak nggak ngantri tadi."
Lily menganggukkan kepala dan memberikan Lian pada Brian. Dia mengambil alih kantong kresek yang Brian bawa untuk dapat di hidangkan dan kembali ke kamar untuk mengambil Brilly.
"Jagan Ayah, makin gembul kalian berdua ya. Sepertinya ASI nya cocok. Nanti gantian Ayah ya biar sehat seperti kalian."
"Kak, kebiasaan dech. Hhmm..."
Brian tertawa mendengar ocehan Lily, Brian senang menggodanya. Terlebih sekarang Lily terlihat jauhbl berbeda dari terakhir dia lihat. Lebih langsing bersih tidak seperti pada saat hamil dulu. Mungkin karena bawaan bayi jadi terlihat beda.
"Lusa mungkin Kakak akan kesini lagi. Mau di bawain apa?"
"Seperangkat alat sholat boleh?" tanya Lily dengan senyum menggoda.
"Kalo itu nggak usah di suruh, dua Minggu lagi bukan cuma seperangkat alat sholat tetapi mahar pun siap datang," jawab Brian dengan menarik hidung Lily dengan gemas.
__ADS_1
"Ikh sakit, fokus dengan Lian Kak. Nanti jatuh aja!" Lily mengingatkan Brian yang sedang menggendong Lian.
"Nggak donk Sayang, kan Lian pegangannya kenceng ya Sayang." Brian mengecup pipi Lian dan Brilly bergantian. Tidak hanya itu, dia pun mengecup pipi Lily hingga wajahnya merah merona.