
Setelah Daddy Raihan menandatangani berkas persetujuan untuk operasi. Tindakan segera di lakukan untuk menyelamatkan Lily dan juga bayinya. Pertaruhan nyawa seorang Ibu bukan hanya melahirkan secara normal saja. Namun, cara apapun itu saat seorang Ibu harus melahirkan bayinya dengan bermacam air yang tercurahkan. Air mata, air keringat, air ketuban, air susu serta kekuatan fisik dan juga mental sangat di butuhkan. Seluruh tenaga dan segala sakit tak enyah membuat seorang Ibu menyerah. Bahkan tidak peduli dengan dirinya yang sudah bermandikan peluh.
Lily dengan segala perjuangannya, dalam keadaan sadar kulit di bagian perutnya harus menerima sayatan dari benda tajam demi lahirnya kedua jagoan yang sangat dinantikan. Ketegangan sudah tak ia rasakan. Lantunan doa mengudara demi terkabulnya permohonan. Lily berjuang sendirian, tidak ada pria yang menemani di sebelahnya. Tidak ada yang menenangkan saat sakit begitu menyiksa. Tidak ada yang mengecup lembut kening di sela pengorbanan yang dia lakukan.
Tuhan seakan belum puas memberi pelajaran untuknya. Memintanya untuk lebih sabar dan ikhlas dengan segala situasi yang harus dia hadapi. Efek dari hamil di luar nikah begitu menyiksa. Tidak semua bisa melewati dengan segala problematika yang menguras air mata. Namun, semua masalah yang menghujam hidupnya menjadikan Lily wanita yang kuat.
Senyumnya mengembang saat tangisan buah hati menggema di ruang operasi. Air matanya mengalir dengan nafas lega yang membuat hatinya mulai tenang. Dapat dilihat olehnya bayi merah terangkat di udara oleh dokter. Beliau menunjukkan pada Lily jika bayi pertama telah lahir dengan sempurna. Sesak dadanya, setelah beberapa jam menahan sakit hingga di bawa ke meja operasi. Akhirnya Lily bisa melihat wajah lucu bayi pertamanya keluar.
"Alhamdulillah..." Lily mengecup sang buah hati pertamanya. Air mata tak surut dari ekor matanya yang begitu bangga dengan ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.
Tangisan kencang seorang bayi kembali dia dengar, jagoan keduanya lahir dengan selamat. Tangisnya pun lebih gandang dari bayinya yang pertama. Senyuman disertai tawa kecil terdengar dari bibir Lily. Air mata pun mengalir deras membasahi pipi. Bahagia semakin ia rasakan, sungguh di balik cobaan selalu ada hikmah di dalamnya. Kedua bayi Lily terlahir dengan selamat.
"Sakit tetapi Lily bersyukur. Mommy maafkan Lily, sesakit ini pengorbananmu menjadi Ibu Mom, dan tidak akan aku bisa membalasnya."
Di luar sana, tampak ketiga orang mendudukkan diri di kursi tunggu dengan perasaan tegang. Senandung doa terus tiada henti dari bibir masing-masing. Bahkan ini kali pertama Brian kembali bersujud dan memohon untuk keselamatan wanita yang ia cinta dan kedua nyawa yang akan terlahir ke dunia.
Mereka begitu menantikan kabar baik dari Dokter yang menangani Lily. Rasanya sudah terlalu sakit jika terus mendapat kabar yang membuat hati teriris. Kali ini ketiganya berharap, secercah kebahagiaan mulai menghampiri. Pengorbanan yang selama ini Lily lakukan, mendapat hasil yang sesuai.
Suara pintu yang terbuka membuat ketiganya mengangkat kepala. Netra mereka fokus ke satu titik, wanita berjas putih keluar dengan peluh yang belum kering. Namun, senyumnya mengembang mengisyaratkan akan kabar keadaan di dalam.
"Sudah tegangnya Pak, Bu! pasien sebentar lagi akan di pindahkan ke kamar rawat inap. Sedangkan kedua jagoan yang telah lahir siap di azani setelah ini."
__ADS_1
Brian menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskan dengan perlahan. Dia mengusap wajahnya yang mulai basah air mata. Lega sekali saat mendengar kabar baik yang sangat di nantikan. Setelah menunggu begitu lama, sebentar lagi dia bisa menyapa Lily dan juga dua putranya.
Kedua orang tua Lily pun begitu bersyukur dengan saling berpelukan. Ketegangan mereda dan tidak sabar melihat keadaan Lily dan kedua cucunya. Raihan dan Andini kembali berbahagia karena menerima dua jagoan yang akan meramaikan keluarga mereka.
"Terimakasih ya Dok," jawab Brian mewakili Daddy Raihan.
Kini ketiganya melangkah menuju kamar Lily. Pemandangan yang begitu indah terlihat di depan mata. Mereka melihat Lily memeluk kedua putranya di atas ranjang berbalut kain putih. Senyuman mengembang dengan penampilan yang sudah rapi.
"Lily..."
"Mommy..." Lily merentangkan kedua tangan di atas kepala kedua putranya. Mommy melangkah panjang begitupun dengan kedua pria yang mengikuti di belakangnya.
"Sayang selamat ya," ucap Mommy, lalu beliau mengecup kening Lily. Sebagai ibu, beliau sangatlah bangga melihat Lily berhasil melewati semua ujian hidup dengan sabar.
"Begitulah pengorbanan seorang Ibu Nak, semua pasti akan merasakan. Yang terpenting sekarang, Lily sudah bisa melewatinya dan Mommy sudah memaafkan apapun itu kesalahan anak-anak Mommy." Mommy mengusap lembut pucuk kepala Lily kemudian pandangannya turun ke dua bayi yang berbalut kain bedong.
"Eh, cucu Mommy... Tampan sekali kalian Nak. Ini sich cetaknya Brian banget ya Dad," ucap Mommy kemudian meraih salah satu cucunya. Beliau menimang dengan sayang dan mengecup pipi merah hingga membuat cucunya sedikit gelisah.
Daddy pun mendekat saat sang istri sibuk dengan cucunya. Beliau mengusap kepala Lily dan mengecup dengan Sayang.
"Putri-putri Daddy selalu sukses membuat jantung Daddy berdebar. Selamat ya Sayang, kamu hebat! Cepat sembuh agar Daddy bisa secepatnya menjadi wali di hadapan penghulu," lirih Daddy dengan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Hal itu membuat pipi Lily merona, dia melirik ke arah pria yang sejak tadi memperhatikan tanpa menyurutkan senyum. Matanya pun begitu berbinar namun Brian belum berani mendekat karena, Brian merasa belum memiliki hak penuh melebihi orang tua Lily.
"Daddy..." Lily mendadak malu.
"Panggil sana! Kamu hampir membuat anak orang pingsan." Daddy meraih cucunya yang masih ada di dalam dekapan Lily kemudian melangkah mendekati Mommy.
Lily tersenyum dengan tangan melambai, dia meminta Brian untuk melangkah mendekat. Tak menunggu waktu lama Brian melangkah mendekati Lily dan duduk di samping ranjang Lily.
Kedua pasang mata saling bertemu, Brian segera meraih tangan Lily dan mengecupnya begitu dalam. Akhirnya hati Brian kembali tenang, ingin sekali memeluk Lily namun merasa tidak enak karena ada Daddy dan Mommy di sana.
" Sakit ya?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Brian membuat Lily hampir ingin tertawa. Brian pun tersenyum dengan mengusap kepala Lily. "Maaf ya, Kakak nggak bisa mendampingi kamu, bukan nggak mau tetapi, Kakak nggak berani karena hubungan kita yang belum sah. Kakak nggak enak sama Mommy dan Daddy."
"Iya Kak, Lily mengerti kok. Kata Daddy kakak hampir pingsan tadi. Benarkah?" tanya Lily memastikan.
"Pengaruh kamu melebihi apapun di dunia ini, Kakak nggak sanggup membayangkan kamu berjuang sendirian. Apa lagi tadi Kakak lihat kamu benar-benar kesakitan. Sekali lagi Kakak minta maaf ya..." Brian benar-benar menyesal. Sepintas menyayangkan akan perbuatannya tetapi, jika tidak ada benih itu tumbuh mungkin dia dan Lily tidak akan bisa bersama.
Lily membalas genggaman tangan Brian, dia menganggukkan kepala dan kembali menyunggingkan senyum.
"Brian, ayo kamu adzanin dulu mereka!" Daddy meminta Brian untuk mengadzani kedua cucunya.
"Boleh Daddy?" tanya Brian ragu, Brian tau itu anaknya tetapi hubungan dengan Lily belum terikat.
__ADS_1
"Tentu saja, mereka anakmu meski bernasab ibu."
Dengan senang hati Brian beranjak dari duduknya dan segera mendekati Daddy untuk mengadzani putranya satu persatu. Lantunan adzan diikuti Iqamah terlantun lirih di kedua telinga putranya. Ekor mata Brian basah dengan hati yang bergetar. Tak menyangka dia telah menjadi Ayah dan berharap kelak kedua putranya bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi semua orang.