LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 31


__ADS_3

Sore ini Brian pulang membawa sesuatu untuk Lily, ia menepati janjinya yang tadi mengatakan akan membawa oleh-oleh untuk bumil itu. Mobilnya terparkir berbarengan dengan Aara yang juga baru datang. Sama-sama keluar dari mobil namun diam tak menyapa.


Dapat Aara lihat Brian membawa bungkusan yang ia tau makanan kesukaan Lily dan pasti hanya untuk Lily. Kemudian Aara melangkah lebih dulu mencoba tak peduli dengan apa yang Brian lakukan sekarang. Dia berjalan melewati Brian dan memilih segera masuk ke dalam kamar.


Brian pun segera masuk kedalam dan langsung menuju dapur, kebetulan di sana ada Lily yang sedang mencari sesuatu. Bibirnya basah dengan wajah sedikit pucat. Dapat Brian tebak jika Lily baru selesai muntah.


"Nyari apa?"


Lily terjingkat dan melangkah mundur hampir saja terjatuh jika Brian tidak cepat meraih pinggulnya. Jantung Lily berdebar saat kedua pasang mata bertemu dan ingatan akan kebersamaan dulu dengan rasa indah yang bersemayam di dada kembali terbayang.


Dengan cepat Lily membenarkan posisinya dan berdiri dengan benar, ia pun melepas pelukan Brian dan berusaha untuk menghindar. Rasa yang ada harus segera di lepaskan. Walaupun saat ini rasa ingin selalu dekat karena bayi yang ada di kandungannya seperti ingin menunjukkan siapa ayahnya.


"Gue bawain makanan kesukaan loe, di makan ya! Mungkin bisa ngilangin rasa mual loe saat ini!" Brian memberikan bungkusan yang berisi salad buah, di dalam nya banyak apel dan anggur kesukaan Lily.

__ADS_1


Ingin rasanya Lily menolak tapi entah mengapa dia tiba-tiba membayangkan betapa segarnya makanan itu jika sudah masuk kedalam mulut. Brian yang mengerti segera meraih tangan Lily dan memberikan bungkusan tersebut lalu segera meninggalkan Lily agar Lily tidak risih.


Karena Brian tau, Lily gengsi menerima tapi wajah nya tak bisa bohong apa lagi binar matanya yang begitu menginginkan. Dan benar saja, setelah Brian pergi dari sana Lily segera membuka bungkusan itu dan melahapnya dengan senyum mengembang.


"Enak, seger....hhhmmmmm nyammy...."


Brian mengulum senyum, pria itu tidak benar-benar meninggalkan Lily. Dia ingin memastikan apa yang ia belikan di makan. Dan kini ia lega meski harus menahan diri untuk tidak menghampiri Lily lagi.


"Loe gemesin banget sich Ly, kalo bukan di rumah mertua udah gue kekepin loe sekarang juga!"


Aara yang sadar akan kedatangan Brian segera menoleh dan beranjak dari depan meja rias. Dia menoleh ke arah Brian dengan berulang kali mengerjabkan mata. Membenarkan lagi handuknya dan melangkah meninggalkan Brian lalu masuk ke kamar mandi.


Brian diam menatap Aara yang kini telah menutup pintu kamar mandi. Dia membuka dasi dan kedua kancing lengan kemejanya. Brian menghela nafas panjang dan memilih menunggu giliran karena Aara yang ia tahu sudah selesai mandi, tapi kini kembali lagi masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa sikapnya aneh dan....."


Brian tak kembali meneruskan kata-katanya saat melihat Aara keluar dari kamar dengan rambut tergerai. Tatapan Brian mengarah pada Aara, ntah mengapa ada sesuatu yang membuat Brian tak ingin mengalihkan pandangannya.


"Loe kenapa? baru sadar kalo gue cantik?" tanya Aara yang kini tiba-tiba sudah berada di hadapan Brian. Pria itu melangkah mundur selangkah demi selangkah karena Aara yang semakin melangkah maju. Brian sempat gelagapan menghadapi Aara yang tiba-tiba mendekat. Tapi yang membuat Brian heran kenapa dirinya justru menghindar.


"Ehemmmm....." Brian menghentikan langkahnya begitupun dengan Aara. "Loe kenapa?"


"Kenapa? Kenapa apanya? Emang ada yang aneh sama gue?" tanya Aara balik.


"Ada yang loe sembunyikan dari gue?" tanya Brian dengan menatap lekat wajah Aara. Ntah mengapa Brian curiga jika ada yang berbeda dengan Aara saat ini. "Loe..." Brian mengulurkan tangannya ke wajah Aara dan ingin menyentuh pipi Aara. Namun dengan cepat Aara menepis dan membuat Brian terkejut.


"Ra..."

__ADS_1


Aara melangkah mundur dan segera keluar dari kamar.


__ADS_2