
Wahyu membantu Aara menaiki pesawat, awalnya Aara menolak tetapi karena tubuhnya masih sangat lemah. Dia pun akhirnya mengalah dengan tubuhnya yang di angkat oleh Wahyu. Aara melirik ke samping, sempat terpekik karena Wahyu bertindak tanpa aba-aba.
"Pegangan Ra! Jangan sampe nanti loe jatuh dan gue yang kena amuk keluarga loe! Baru mau naik pesawat sudah buat anak gadis orang terluka."
Aara menatap sengit Wahyu tetapi dirinya tetap mendengarkan apa yang Wahyu katakan. Aara mengalungkan keduanya di leher Wahyu dan mengunci dengan erat. Perlahan tubuhnya naik dan memasuki pesawat dengan langkah Wahyu yang nampak gagah.
Aara diam, dia malas berkomentar dan memilih untuk membuang muka. Mulai hari ini hidupnya akan bergantung pada Wahyu dan itu di luar dari rencananya. Padahal dia hanya ingin sendiri tetapi, harus kembali menyusahkan orang lain.
Wahyu mendudukkan Aara di tempat duduk sesuai dengan data. Kursi yang empuk dan bisa menjadi tempat tidur sementara dalam perjalanan dengan fasilitas yang lengkap. Sedangkan Wahyu duduk di sebelahnya untuk menjaga Aara.
"Di bayar berapa sama Kakak gue?"
"Cuma-cuma, tetapi kalo loe mau bayar pakai rasa juga boleh!" jawab Wahyu asal dengan senyuman miring.
Aara menoleh dan menatap Wahyu dengan tatapan tak bersahabat. Dia tidak mengerti dengan apa yang Wahyu katakan dan memilih memasang head free berusaha tidak peduli.
Tidak lama Aara terlelap dengan damai, Wahyu pun tidak lepas penjagaan. Pria itu menarik selimut agar Aara lebih nyaman dan nyenyak. Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 21 jam membuat Wahyu harus ekstra bertenaga untuk terjaga. Takut-takut jika di tinggal tidur dia tidak tau keluhan yang Aara rasakan. Dan benar saja, tidak lama dia hampir memejamkan mata karena terbawa situasi dalam perjalanan, Aara melenguh membuka mata. Mungkin wanita itu lupa jika saat ini sedang berada di dalam pesawat.
"Mau minum?"
"Eh...Bikin kaget aja dech!" ketus Aara. Bagaimana tidak, saat kedua tangannya dia rentangkan siap menggeliat, di saat itu suara Wahyu membuatnya mati gaya.
"Jangan sewot terus! Loe harus bersikap baik sama gue! Tinggal sebatang aja mau berlaga, untung gue baik hati dan bersahaja. Jadi jangan galak-galak sama gue!" ucap Wahyu dengan menaik turunkan alisnya. Menghadapi Aara tidak bisa dengan sikap keras juga, wanita itu akan semakin keras jika tidak di bumbui dengan ledekan. Maka itu, Wahyu selalu berkata tegas namun santai.
"Loe pikir gue takut! Sono pergi! Gue masih punya kaki!"
"Oh, masih punya kaki..." Wahyu menganggukkan kepalanya berulang kali dengan bersedekap dada melihat penampilan Aara dari atas sampai bawah. "Montookin dulu kaki loe, baru mau bergaya di depan gue! Kali aja setelah itu malah jadi loe yang minta gendong sama gue!"
__ADS_1
Aara membuang muka, ingin kembali berdebat tetapi dia sadar diri akan tubuhnya yang memang masih ringkih. Berharap perjalanan cepat sampai dan dia bisa terlepas dari pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
Hampir satu hari di pesawat membuat Aara bosan, berulang kali melihat jam tangan namun jarum jam seakan tidak mau berjalan. Aara membuang nafas kasar, melirik ke sebelah terlihat Wahyu yang mulai terlelap. Diam-diam Aara memperhatikan, melambaikan tangan di depan wajah Wahyu, memastikan apakah pria itu benar-benar sudah tidur.
Aara kembali menyandarkan tubuhnya, dia bernafas lega saat Wahyu tidak merespon apapun. Rasanya Aara ingin protes pada Rafkha karena menyerahkannya pada pria yang tidak satu server dengannya.
"Lebih baik mengajak Gibran, setidaknya gue..."
"Bakal di makan juga sama dia!" sahut Wahyu dengan mata terpejam membuat Aara terkejut dan tidak lagi meneruskan ucapannya. Dengan cepat Aara menoleh ke arah Wahyu dan memukul dada pria itu yang mencoba mengerjainya.
Wajah Aara sudah merona dengan hati kesal, "buka mata loe! Pake pura-pura tidur loe! Mau loe itu apa sich? Lagian tuh mata nggak ngantuk apa?" sewot Aara dengan menatap sengit pria yang ada di hadapannya dengan suara tertahan.
"Itu lah gunanya gue!"
Aara kembali membuang muka dengan berulang kali mendengus kesal.
Sudah dapat di tebak, orang itu pasti suruhan dari Rafkha atau Daddy nya. Aara menoleh ke arah Wahyu yang membukakan pintu untuknya. Dengan perlahan Aara yang masih menggunakan kursi roda segera beranjak dan pindah ke dalam mobil dengan di bantu olah Wahyu.
"Loe tau jalanan di sini? Kenapa nggak minta orang itu aja buat jadi sopir kita? Awas loe ya kalo sampai nyasar!" Aara memperingati Wahyu setelah melihat pria itu masuk dan menduduki kursi kemudi.
Mendengar ucapan Aara membuat Wahyu terkekeh kecil, dia menoleh ke arah Aara kemudian mengikis jarak.
Mendadak jantung Aara berdegup tak beraturan, nyalinya terkikis dengan tubuh yang perlahan mundur hingga bersandar jok mobil. Mata Aara nampak waspada, di sini dia tidak mengenal siapapun dan di negara itu pergaulan bebas tak terbatas. Melihat Wahyu yang terus mendekat dengan pandangan mata tak biasa membangkitkan rasa ketakutan di dirinya. Takut Wahyu khilaf dan berbuat yang tidak-tidak. Terlebih saat ini posisi mereka semakin dekat dengan tatapan Wahyu yang semakin lekat.
Wahyu memiringkan kepalanya dengan pandangan turun ke bibir, hal itu spontan membuat Aara menggigit bibir bawahnya. Jarak yang hampir habis membuat Aara memejamkan mata. Sungguh Wahyu membuatnya tidak mampu melawan dan membuat resah dirinya yang masih awam.
"Jangan pernah meragukan gue! Dan jangan buat bibir loe berdarah karena gue belum bisa jadi obat!"
__ADS_1
Klik
Aara terhenyak dengan wajah merona, mendengar safety belt terpasang dengan rapi membuatnya malu setengah mati. Pikiran buruk yang tadi memenuhi otaknya auto bubar jalan masing-masing. Aara segera menoleh ke arah jendela tetapi lagi-lagi tindakan Wahyu membuatnya kesal. Wahyu menyodorkan tisu padanya tanpa bisa dia menolak.
Dengan terpaksa Aara segera meraih tisu itu namun, Wahyu kembali membuatnya geram. Pria itu menarik tisu dengan cepat hingga Aara tidak mampu meraihnya.
"Gue nggak butuh tangan loe buat ambil ini! Karena gue nggak mau dikhianati sama tisu ini setelah dia tau rasanya bibir loe!"
Aara menarik nafas dalam, baru kali ini dia menghadapi pria yang terlihat kalem tetapi ternyata pandai sekali menggoda. Tingkah bar-bar Aara seakan meronta, andai raganya sudah kuat mungkin dia akan melawan Wahyu dan membungkam mulut pria itu.
"Gue nggak butuh tangan loe!" Aara segera mengusap bibirnya dengan tangan kosong, kemudian kembali melihat keluar jendela yang baginya lebih indah dari pada pria tampan yang ada di sebelahnya.
Aara menghela nafas lega melihat mobil telah memasuki area parkir apartemen. Setelah melewati perjalanan panjang yang penuh drama, akhirnya dia bisa terlepas dari Wahyu dan beristirahat dengan tenang. Aara yakin jika sudah sampai di apartemen, Wahyu tidak lagi berusaha mengganggunya karena, Aara yakin Wahyu akan cepat terlelap setelah hampir satu hari tidak tidur.
"Mau pakai kursi roda atau gue gendong?" tanya Wahyu setelah membukakan pintu mobil untuk Aara.
Sebenarnya Aara ingin sekali bisa berjalan sendiri, dia merasa tubuhnya perlu banyak gerak. Namun, dayanya masih sangat minim membuat dia ragu dan takut di pertengahan jalan akan terjatuh.
"Lantai berapa?"
"Lantai 69, fokus dengan angkanya bukan posisinya!" ucap Wahyu asal namun mampu membuat Aara dengan cepat memukul lengannya.
"Kotor otak loe! Udah nggak tahan ya mau nikah lagi? Atau mau nyoba dulu?" tanya Wahyu dengan membungkukkan tubuhnya karena Aara yang masih duduk di dalam mobil dengan pintu yang terbuka.
"Loe yang kotor Wahyu! Dasar nggak waras!" ketus Aara, sepertinya dia tidak sudi berdekatan dengan pria itu. Aara berusaha untuk beranjak dari sana ingin menjauh dari Wahyu. Namun, tubuhnya lagi-lagi tidak bisa di ajak kerjasama, baru saja ingin berdiri tetapi tubuhnya oleng hingga jatuh di dekapan orang yang ingin ia hindari.
"Akhirnya gayung bersambut juga!" lirih Wahyu dengan tersenyum.
__ADS_1