LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 92


__ADS_3

Aara mengikuti langkah Wahyu yang sudah keluar dari dalam lift. Rasanya seperti mimpi jika masih ada pria yang mau menikahinya Dengan segala kekurangan yang di miliki dan scandal yang dia buat sampai membuat keluarga kecewa.


Perlahan langkahnya mendekat, dengan ragu Aara masuk ke dalam mobil yang sudah Wahyu bukakan pintunya. Pria itu pun bersikap biasa dengan tatapan datar. Tetap perhatian dengan melindungi kepalanya agar tidak terkena atap mobil.


Wahyu mengantar Aara sampai di kampus, tidak ada lagi yang mereka bahas. Keduanya saling diam dengan fokus mereka masing-masing.


Wahyu menepikan mobilnya, hanya sekitar dua puluh menit keduanya sudah sampai di depan pagar kampus. Aara pun bersiap ingin turun, dia membuka safety belt dan menoleh ke arah Wahyu yang masih tampak diam dengan memandang keluar jendela.


Aara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar setelah melihat sikap Wahyu yang kembali menyebalkan. Dia memilih untuk segera turun dari pada terus berdua dalam keadaan canggung. Melihat Wahyu yang diam saja Aara pun enggan membuka suara. Tanpa mengucapkan apapun Aara segera membuka pintu mobil namun, tasnya seakan begitu berat membuat tubuhnya sulit bergerak. Aara pun mengurungkan niatnya untuk keluar mobil, dia ingin mengecek kembali apa yang membuat tasnya menghalangi dirinya.


"Tersangkut apa sich?"


Aara meneliti tali tasnya, dia memasang wajah datar dan menoleh ke arah Wahyu yang sengaja menggenggam erat tali tas miliknya. Aara tidak mengerti apa maksud Wahyu. Pria itu diam dan enggan melihat tetapi sengaja menahannya tanpa Aara tau maksud dan tujuan pria itu.


"Gue mau masuk," ucap Aara dengan menarik tasnya tetapi Wahyu tak kunjung melepaskan.


"Gue serius dengan ucapan gue tadi." Wahyu menghela nafas panjang kemudian menoleh ke arah wanita yang mampu menggantikan posisi Tiara di hatinya. "Masih mau masuk?" tanya Wahyu dengan menatap lekat mata Aara.


"Gue nggak sempurna buat loe Yu. Loe bahkan paham dan nggak perlu gue jelasin lagi. Mungkin untuk sekarang oke gue udah sehat karena Tuhan baik banget sama gue tetapi, gue nggak bisa kasih seperti apa yang semua pria inginkan. Loe nggak akan bisa menjadi Ayah dan itu jelas akan membuat keluarga loe kecewa. Inget Yu, loe anak tunggal! Pewaris kekayaan yang sudah pasti mengharapkan keturunan."


Aara tidak lagi ingin egois. Menikah bukan hanya menyatukan dua kepala tetapi menyatukan dua keluarga. Dia tidak mau lagi membuat beban dan membuat masalah baru buat orang lain. Aara tidak ingin Wahyu hanya menginginkannya sesaat dan dia kembali akan merasakan perceraian karena tidak mampu memberikan yang terbaik untuk Wahyu dan keluarganya.

__ADS_1


"Gue nggak pernah memutuskan sesuatu tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Begitupun saat gue memutuskan untuk mengajak loe serius. Gue tau bersama loe banyak resikonya, gue tau menjalani rumah tangga sama loe nggak akan semudah yang di bayangkan tetapi, bagaimana jika gue yakin dengan hati gue? Kalo gue suka sama loe!"


Aara terdiam menatap sepasang mata yang menyiratkan kejujuran dan ketulusan. Dia yang tadi begitu ragu mulai tumbuh keyakinan jika Wahyu benar-benar serius. Tinggal hatinya yang perlu dipertanyakan, sendiri atau menerima seseorang yang tulus menerima segala kekurangannya.


Wahyu pun tau masih ada keraguan di hati Aara. Wahyu paham menaklukkan wanita dari keluarga Baratajaya tidaklah mudah. Terlebih Aara yang memiliki masa lalu yang buruk dan hingga kini masih menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh. PR baginya untuk meyakinkan Aara dan membuat Aara luluh lalu menerima.


cup


"Jangan melamun!" ucap Wahyu yang berubah menjadi lembut. Perlakuan dan sikapnya yang berubah tiba-tiba membuat Aara tertegun melihatnya. Wahyu pun mampu membuat Aara tersipu malu. Hanya dengan mengecup tangan Aara, wanita itu sudah seperti salah tingkah dan membuat Wahyu mendadak gemas.


Pertama kali dalam hidup Aara di perlakukan lembut oleh seorang pria yang menyukainya.


Wahyu tersenyum melihat Aara yang kini membuang muka padanya. Wahyu tau Aara malu dan itu artinya dia berhasil menjinakkan kucing anggora yang sedang mengamuk.


"Ck, tuh kan gue tau loe tuh nggak serius. Loe cuma bercanda dan memang nggak niat sama gue," ucap Aara kemudian mengerucut bibirnya.


"Eh... Kata siapa? Masalah cinta gue serius. Loe mau gue nikahin di sini sekarang? Ayo! Gue nggak main-main Ra!" tegas Wahyu dengan sikap yang melembut.


Wahyu menarik tangan Aara dan meraih tubuhnya . Untuk kali ini dia tanpa ragu memeluk Aara dan beruntungnya Aara tidak menolak. Wahyu mendekapnya dengan erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Aara dan merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak ia dapatkan. Kali ini dia bisa memeluk mesra tubuh seorang wanita. Tanpa ada rasa takut dan ragu.


"Meskipun gue belum tau apakah sudah ada cinta di hati ini tetapi, rasa sayang gue buat loe besar Ra. Gue ingin memiliki loe seutuhnya dan gue mohon, pertimbangkan keinginan gue untuk masuk lebih jauh lagi ke dalam hidup loe," bisik Wahyu tepat di telinga Aara.

__ADS_1


Wanita itu masih diam meresapi hatinya, mengartikan rasa yang ada, dan memahami situasi saat ini. Ada rasa yang tak biasa, kenyamanan yang hampir sama saat Daddy memeluknya. Rasa yang belum ia dapatkan dari siapapun. Getaran yang sama saat dia dekat dengan Brian tetapi ini jauh lebih besar.


"Bagaimana dengan kekurangan gue?"


"Itu yang gue terima pertama kali sebelum memutuskan ingin menikahi loe Ra." Wahyu melepas pelukannya, dia merangkum kedua pipi Aara dan menatapnya dengan lekat. "Kekurangan loe justru yang menjadi point utama. Masalah itu jangan terlalu di pikirkan, banyak cara untuk memiliki keturunan. Yang terpenting bagaimana kita sama-sama saling menerima."


Aara mulai mengukir senyum, matanya yang sejak tadi berkaca-kaca kini tak dapat menahan air mata.


"Yakin?" lirih Aara.


"Harus dengan apa lagi gue meyakinkan loe?"


Aara tidak lagi menjawab, dia terisak dan masuk ke dalam pelukan Wahyu. Keputusan sudah bulat, dia memilih untuk dicintai dan diinginkan dengan sepenuh hati. Hatinya menghangat dan begitu bahagia. Dia tidak menyangka akan menerima pria yang dulu dia jodoh-jodohkan dengan adiknya. Dia pun tidak mengira jodohnya begitu dekat.


Wahyu merenggangkan pelukannya, dia menatap Aara dan mengusap air mata wanita itu. Senyumnya terukir begitu tulus, matanya pun terus menatap lekat mata indah Aara. Keduanya saling menyelami perasaan masing-masing, hingga kedua bibir mereka menyatu dengan hembusan nafas yang saling beradu.


Lembut, manis, dan begitu kenyal di nikmati. Wahyu mulai menyesaap dan memberikan gerakan lembut agar Aara membuka akses dan membalasnya.


Ini pengalaman pertama bagi keduanya, masih sama-sama amatir tetapi Wahyu lebih tertarik untuk memulai sesuatu yang mungkin akan membuat candu. Tangannya menelusup ke tengkuk Aara dan menekannya dengan perlahan hingga Aara membuka mulut untuk Wahyu perlahan menerobos masuk.


Saling membalas dalam perasaan yang baru di mulai. Saling meresapi dengan sensasi yang begitu mereka nikmati hingga Wahyu melepaskan dengan memberi kesempatan untuk Aara mengatur nafas.

__ADS_1


Tangan Wahyu mengusap lembut bibir Aara yang basah dan menatap pipi Aara yang begitu merona.


"Gue sayang sama loe, manis."


__ADS_2