
Brian mengecup kening sang istri, berawal di atas sofa cinta berakhir di atas ranjang yang luas. Di rumah baru dan kamar baru, mereka bercumbu rayu.
"Anak-anak Kak," ucap Lily mengingatkan Brian karena hampir dua jam mereka menyatu tanpa ada gangguan suara tangis kembar.
"Iya Sayang, kamu istirahat dulu saja. Kakak mau bersih-bersih setelah itu baru ke kamar kembar." Brian mengusap pipi Lily setelah wanita itu menganggukkan kepala dan memejamkan matanya kembali. Lily memang sangat butuh istirahat. Sejak semalam Brian menggempurnya hingga tubuh Lily seperti digebuki oleh orang sekampung.
Setelah rapi dengan pakaiannya, Brian masuk ke dalam kamar kedua putranya. Dia tersenyum melihat Brilly dan Lian masih tertidur nyenyak. Brian mengecek popok mereka yang ternyata masih kering.
"Semoga kalian betah ya Nak!"
Dari kamar kedua anak kembarnya, Brian membuka aplikasi hijau untuk memesan makanan dan juga memesan beberapa cemilan dan apapun yang dibutuhkan sampai malam nanti.
Belum ada stok makanan di kulkas dan baru besok Brian berniat untuk mengajak Lily berbelanja. Pria itu menyajikan makanan yang baru datang, setelah itu kembali ke kamar utama untuk membangunkan Lily.
"Sayang..." Dengan lembut Brian mengecup pipi Lily berulang kali hingga wanita itu merasa risih.
"Kaaak," rengek Lily kemudian menarik selimutnya. Namun, dengan gemas Brian menarik kembali selimut Lily hingga wanita itu tak kuat menahannya dan selimut terlepas.
"Makan dulu Sayang! Nanti tidur lagi, tetapi jangan lupa memompa ASI kamu dulu sebelum kembali beristirahat biar Kakak nanti tidak membangunkan kamu jika kembar bangun."
Perlahan Lily beranjak bangun setelah mengingat kedua bayi kembarnya. Dia lupa jika kedua bayinya butuh ASI.
"Mereka sudah bangun Kak?" tanya Lily yang tiba-tiba mengawatirkan kedua anaknya, terlebih lagi mereka yang tidur beda kamar.
"Mereka aman Sayang, jika kamu khawatir tengah malam, kamu bisa melihat di layar ini. Kakak sudah memberikan Cctv di kamar anak kita." Brian memberikan sebuah smartphone yang terhubung langsung dengan Cctv di rumah nya.
Lily bernafas lega, dia menggelengkan kepala saat menyadari Brian sedetail itu menyiapkan semuanya. Dia sendiri saja tidak kepikiran sampai ke sana. Mungkin karena rumah yang besar dan Brian tidak ingin Lily kesulitan.
"Mulai besok pun ada asisten rumah tangga yang akan membantu kamu. Jadi kamu hanya fokus mengurus anak-anak saja tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah."
__ADS_1
Lily menganggukan kepala, tak banyak komentar untuk masalah itu karena Lily pun sadar diri jika dia tidak mungkin bisa mengerjakan semua sendiri.
"Oh iya Kakak hampir lupa, besok juga ada scurity yang akan bekerja menjaga rumah ini. Aku ingin kalian aman dan aku bisa tenang dalam bekerja."
"Makasih ya Kak!" Lily mengecup pipi Brian lalu segera turun dan berlari masuk ke kamar mandi tanpa selembar kain.
Brian mengusap pipi yang tadi Lily kecup dan tertawa kecil melihat tingkah Lily yang melesat masuk ke kamar mandi.
"Menggemaskan sekali," lirih Brian geregetan. Pria itu melangkah mendekati kamar mandi dan mendekatkan wajahnya di pintu. "Aku tunggu di bawah Sayang. Jangan lama-lama mandinya!" seru Brian, kemudian segera melangkah menuju kedua putranya yang kebetulan sudah bangun. Memandikan mereka bergantian dan segera membawa mereka turun setelah rapi. Brian mendadak jadi Ayah siaga dan pandai mengurus anak hingga membuat Lily terkejut melihat kedua putranya sudah rapi dan wangi.
"Anak-anak Bunda mandi sama Ayah? Ayahnya pintar sekali ya mengurus kalian," puji Lily saat melihat kedua putranya sudah rapi.
"Tinggal diberi ASI, Bunda," sahut Brian. "Kamu menyusui mereka, nanti kamu aku suapi. Bagaimana? Kasihan mereka haus, tidurnya terlalu nyenyak sampai baru bangun."
"Iya Kak, sok atuh suapin Neng. Bundanya anak-anak juga laper habis menyusui bayi besar," celetuk Lily. Dia mengulum senyum melirik sang suami yang menggaruk tengkuknya kemudian Brian segera mengambil makan untuk Lily.
"Laper banget ya Sayang?" tanya Brian meledek.
"Aku menyusui tiga orang Kak, jelas aku lapar." Lily melangkah menuju kamar untuk memindahkan Lian ke kamar. Brian pun mengekor dengan menggendong Brilly. Kedua anak mereka kembali masuk ke dalam boks setelah itu Lily dan Brian masuk ke kamar utama.
"Rumah sudah dikunci kan Kak? Aku mau istirahat lagi," tanya Lily kemudian masuk ke kamar mandi untuk sikat gigi.
"Sudah Sayang, tinggal istirahat saja. Besok ada rencana mau pergi?" tanya Brian mengekor dan berdiri di depan wastafel ikut membersihkan giginya juga.
Setelah kumur dan bersih-bersih Lily menoleh ke arah Brian yang masih sibuk membersihkan giginya dengan larutan yang menyegarkan mulut.
"Kita belanja saja Kak, aku mau stok bahan makanan semua siap sedia jika aku ingin memasak. Kakak mau mengantar?"
Brian mengeringkan mulutnya dan mencolek hidung. "Tentu Sayang, dua hari ke depan Kakak masih cuti. Jadi bisa full main sama kamu dan anak-anak. Oh iya, ada rencana mau honeymoon?" Brian mengamati wajah sang istri yang tampak berfikir.
__ADS_1
"Memang masih pantas?"
Brian mengulum senyum kemudian merangkul pundak Lily dan mengajaknya kembali ke kamar lalu duduk di peraduan yang masih berantakan.
"Memang siapa yang akan bilang tidak pantas? Kita baru menikah, wajar bukan?"
"Tapi anak-anak?" tanya Lily dengan perangkat ragu. "Diajak kan?"
Brian menghela nafas berat sebelum kembali menatap sang istri. Honeymoon itu berdua bukan berempat tetapi Brian pun memikirkan bagaimana dengan kedua putranya. Tidak mungkin dia menitipkan untuk kepentingan pribadi. Apa lagi ini hanya kepentingan bersenang-senang.
"Berarti namanya diganti Sayang, bukan honeymoon melainkan piknik keluarga karena kita akan berangkat berempat dan menyewa kamar pun satu kamar untuk berempat."
Lily menahan tawa, dia tau jika Brian keberatan pergi bersama anak-anak tetapi mau bagaimana lagi. Mereka sudah memiliki buah hati.
Lily hanya menyunggingkan senyum kemudian segera merebahkan tubuhnya.
"Tidur Kak! Tidak perlu terlalu dipikirkan."
"Apa kamu tidak ingin kita pergi berdua?" tanya Brian dengan gemas.
"Tentu saja, tapi kan harus memikirkan anak-anak."
"Kakak ada ide!" Brian tiba-tiba tersenyum dengan mata berbinar. Dia seperti mendapatkan ide brilian sebagai solusi pembahasan mereka.
"Apa Kak?" tanya Lily penasaran.
Brian mendekati wajahnya ke telinga Lily dan membisikkan sesuatu yang membuat mata Lily membola. "Kakak yakin?"
"Hhmm...."
__ADS_1