
Lily membuka mata dan tersenyum melihat sosok pria yang ia cinta tertidur dengan kepala bersandar di pinggir ranjangnya. Lily mengusap kepalanya dengan perlahan, sengaja agar Brian terbangun namun berusaha tidak mengagetkan karena tak ingin membuat kepala Brian pusing.
"Sudah bangun?" tanya Brian dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hhmm.....Mau turun," ucap Lily manja membuat Brian tersenyum dengan mengucek mata.
"Mau kemana? Kan belum boleh banyak gerak kata dokter." Brian beranjak untuk mengecek jam di ponselnya kemudian kembali memfokuskan diri pada Lily.
"Mau buang air kecil apakah harus di kasur juga?"
Brian tertawa mendengarnya, dengan cepat ia mengangkat tubuh Lily membuat wanitanya terkejut dan buru-buru mengalungkan tangannya di leher Brian.
"Nggak ada aba-aba gini sih kak, kalo aku jatuh gimana?" sewot Lily namun menikmati sikap perhatian Brian yang membuatnya semakin sayang. Sejak dulu memang Brian selalu perhatian kepadanya meski diam-diam Lily bersikap cuek dan bodo amat. Tapi Brian tidak pernah surut memberi perhatian-perhatian kecil yang akhirnya membuat Lily semakin jatuh cinta. Tapi mendengar Kakaknya pun mencintai pria yang sama membuat ia harus memendam rasa. Hingga kini begitu terharu bisa di cintai secara terang-terangan dan membalasnya tanpa menutupi rasa apapun.
"Makin jatuh cinta loh kamu kalo nggak kedip gitu!"
Lily segera membuang muka, setelah tertangkap basah memandangi wajah Brian kini wajahnya berubah merona. Namun kecupan Brian di pipinya membuat Lily semakin tak kuat jika terus menahan senyum.
"Mau turun atau di gendong pipisnya?" goda Brian saat keduanya sudah sampai di kamar mandi.
"Emang bisa?" tanya Lily tanpa melihat ke arah Brian.
"Kalo nanya tuh lihat ke orangnya, aku bukan tembok! Emang segitu menariknya tembok kamar mandi yang bertuliskan jangan buang pembalut sembarangan?"
"Kak Brian!" kesal Lily yang tak tahan terus di goda. Brian tertawa melihat Lily salah tingkah. Rasanya begitu menggemaskan dan tak rela jika harus melepas tubuh Lily. Jika bisa sambil di gendong kenapa nggak.
"Turunin kak!"
"Iya...Iya." Brian segera menurunkan Lily tepat di depan kloset duduk. Namun tidak kunjung keluar malah diam mengamati Lily yang melihatnya dengan wajah bingung.
"Kakak ngapain masih disini? Nggak harus di tungguin juga kak. Ayo keluar!" ucap Lily dengan gemas, rasanya ia ingin memukul kepala Brian yang menatapnya dengan lekat.
__ADS_1
"Bisa?"
"Apanya yang nggak bisa? Tinggal keluarin, aku bukan anak kecil kak!" ucap Lily mengingatkan, rasanya sudah di ujung tapi Brian malah mengulur waktu.
"Yang pipis kan bertiga sekarang."
Wajah Lily sudah semerah tomat saat ini, Brian benar-benar menguji kesabarannya. Pasti di otak pria itu telah tertata sesuatu yang ambigu.
"Keluar atau aku pukul kepala Kakak pakai gayung?" ancam Lily dengan tatapan sengit. Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya berpikiran yang mengundang emosi. Lily pikir Brian masih diam di kamar mandi karna mengkhawatirkannya tapi ternyata dia salah.
"Iya...Iya, aku keluar tapi jangan di kunci ya pintunya! Dan teriak kalo butuh pertolongan! Oke?" ucap Brian serius.
"Hhmm....." Lily hanya berdehem, dia sudah menggigit bibir bawahnya menahan rasa yang sudah ingin di lepaskan. Tapi Brian penuh drama membuatnya harus terus menahan.
"Jangan di gigit nanti sakit, aku lumaat aja nanti setelah pipis," ucap Brian dengan senyum mengembang.
"Kakak!"
Maka dari itu sikap Brian begitu posesif karena tak ingin kecolongan lagi. Meskipun ucapan Papahnya masih membuatnya kepikiran dan berpikir keras, tapi menjaga Lily adalah prioritas yang utama. Meski ia tau Aara pun membutuhkannya saat ini. Sampai pagi ini Brian tidak tau kondisi Aara yang semalam sempat membuat panik kedua mertuaya. Setelah dari taman, Brian segera masuk ke ruangan Lily untuk menjaga Lily dan beristirahat. Hingga saat ini Brian masih betah menemani Lily.
"Kakak!"
Brian hampir saja menabrak tubuh Lily karena tubuhnya oleng saat Lily membuka pintu dengan tiba-tiba. Dia yang sejak tadi menempelkan telinga di pintu kamar mandi untuk lebih bisa mendengarkan kegiatan Lily. Justru berujung memancing kekesalan wanita itu.
"Kakak nguping?" tanya Lily dengan tatapan penuh selidik.
"Nggak, cuma mau dengerin kamu pipis, sama nggak kalo pas lagi kelu...."
"Kak Brian!" sentak Lily.
"Eh ...Eh salah bukan begitu maksudnya, maksud aku tuh takut kamu kenapa-kenapa atau butuh pertolongan makanya aku tempelin kuping aku takut nggak denger Sayang." Brian mencoba menjelaskan agar Lily tidak salah paham. Lagian ini mulut pake kepleset segala. Kan jadi gagal paham.
__ADS_1
Lily tidak menghiraukan bahkan tangan Brian yang hendak merangkul saat Lily berjalan kembali ke ranjang segera di tepis begitu saja. Sebenarnya Lily tidak sepenuhnya kesal, tapi lebih tepatnya malu setelah mendengar kallimat pertama yang keluar dari mulut Brian. Kata orang kalimat pertama itu yang sebenarnya di pikirkan, setelah itu ya hanya alasan semata untuk meyakinkan.
"Sayang jangan marah donk.... Nanti nggak gitu lagi, janji."
Brian dengan cepat membantu Lily untuk naik ke ranjang dan membenarkan selimutnya. Melihat Lily yang masih bungkam membuat Brian menghela nafas berat.
"Sayang...."
"Laper." Lily mengusap perutnya yang semakin besar.
"Mau makan apa? Biar Kakak beli ke luar."
Lily tidak langsung menjawab, dia memikirkan makanan apa yang enak untuk sarapan. Kemudian menoleh ke arah Brian dengan senyuman yang menular ke lawan bicaranya.
"Lily mau sarapan omlet buatan Mommy," ucapnya denagn mata berbinar.
"Tapi Mommy kan lagi di ruangan Aara, mau masaknya juga gimana? Mommy belum bisa pulang. Yang lain saja gimana?"
Lily lupa jika Mommynya masih sibuk dengan Aara, dia pun baru ingat jika sejak semalam Brian tidur di ruangannya. Berarti Brian belum mengunjungi istrinya dan malah sibuk dengan adik ipar. Bahkan sejak semalam mereka tertawa lepas tanpa memikirkan hati Aara dan kondisinya.
Lily yang tadi sempat menyurut senyum kini mencoba untuk tersenyum kembali, dia memasang puppy eyes membuat Brian gemas dan mencubit pipinya.
"Mmmhhh....Kakak!"
"Gemesin banget sich!"
"Kakak aku mau makanan buatan Mommy, boleh ya? Tolong sampaikan saja ke Mommy," pinta Lily lagi yang seakan melupakan penjelasan Brian.
Brian menarik nafas dalam sebelum akhirnya menganggukan kepala, kemudian segera beranjak dari duduknya untuk pergi ke ruangan Aara. "Kamu anteng-anteng di sini ya!"
Lily menganggukkan kepala dengan memamerkan senyuman.
__ADS_1