
Malam ini, malam pengantin yang sudah lama dinantikan oleh Wahyu. Dia begitu bersemangat mengunci pintu setelah semua keluarga pamit pulang. Wahyu melangkah panjang saat sadar jika Aara tak ada lagi di sana. Sudah dapat dipastikan sang istri saat ini telah berada di dalam kamar.
"Malam pertama... Malam pertama... Malam pertama..."
Wahyu bersenandung riang seperti anak kecil yang mendapatkan es krim dari tetangga. Tak hanya itu, pria 26 tahun itu bergerak seperti sedang berdansa dan berputar-putar sebelum menaiki anak tangga.
"Belah duren di malam hari, paling enak dengan istri sirih, eh salah! Sembarangan istri sirih, istri sah loh." Wahyu memukul bibirnya yang salah berucap. Namun, sesaat kemudian dia kembali bernyanyi dengan melangkah menaiki anak tangga.
"Oh asyiknya... Oh asyiknya... Aduh Asyiknya... Betul! Betul! Betul! Betul!" Wahyu menyanyikan lagu ala bocah kembar botak yang tak pernah naik kelas.
"Benar-benar menikah buat gue gila, rasanya pasti memabukkan. Yahuuutt! Lupakan desakan Papah, malam ini malam panjang buat gue dan Aara. Bismillah nyari jalan belut buat masuk kandang. Semoga diperlancar dan golll!!!" sorak Wahyu dengan mengangkat kedua tangannya lalu segera berlari menuju kamar.
Dia begitu bahagia, terlebih impiannya terwujud dengan menikahi sang kekasih dan sebentar lagi akan menjadikan sang istri milik dia seutuhnya.
"Njir... Ngapa gue deg-degan ya. Jon! Loe udah siap belum? Gue mau masuk tapi mendadak ngeper nich. Udah kayak mau ketemu sama peri tau nggak?" Di depan pintu kamar, Wahyu justru terdiam dan tak kunjung membuka pintu. Dia menunduk berbicara pada makhluk yang sebentar lagi akan menunjukkan aksinya.
"Widih... Belum juga lihat udah bangun aja loe! Pala loe minta dicuci dulu Jon! Dasar otak kotor!" oceh Wahyu menepuk pangkal pahanya yang membuat dia meringis menahan pegal.
Wahyu menarik nafas dalam sebelum tangannya menggenggam handle pintu. Pada saat pacaran tak ada rasa gemetaran giliran sudah sah malah ragu ingin memulai. Mendadak Wahyu panas dingin sendiri. Dia menggerakkan kedua tangannya dan kaki, melakukan pemanasan untuk menetralkan rasa gugup.
"Ayo Jon, kita siap ngereog sama bini gue yang cantik!"
__ADS_1
Wahyu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia mengerutkan dahi karena tak menemukan Aara. Kamar mandi pun terbuka dan sudah dipastikan Aara tak ada di sana.
"Bini gue kamana Jon? Jangan aja besok gue viral kayak yang lagi rame di berita. Baru nikah bini ngilang. Amit-amit jabang kodok!" Wahyu mengetuk kepalanya dan melangkah masuk mencari Aara.
BRAK
Wahyu terjingkat saat mendengar pintu kamar tiba-tiba tertutup keras. Pria itu membalikkan tubuhnya melihat ke arah pintu dengan hati penasaran.
"Astaghfirullah... Eh salah, Masyaallah... Bidadari surga dari mana ini? Eh tapi kok bajunya kurang bahan gini neng? Musik udah mulai belum? Yang jedag-jedug kayaknya seru Sayang!"
Wajah Aara sudah merona menahan malu dan kesal bersamaan, tetapi kali ini rasa kesal lebih mendominasi karena Wahyu yang akan ia beri kejutan begitu lama masuk kamar, dan sekarang justru berucap tak jelas membuat Aara gemas.
"Kok cemberut gitu? Mau menggoda tuh jangan nanggung-nanggung, Sayang! Yuk lah gas!"
"Sayang! Bikin kaget dech, kamu pikir aku karung beras! Kenapa angkat aku dipanggul begini? Nggak ada romantisnya benget sich!" sewot Aara dengan menghadap ke lantai karena Wahyu mengangkatnya seperti memanggul karung.
"Yang romantis sudah dimiliki oleh Rafkha dan Brian. Kali ini kita harus beda," jawab Wahyu kemudian merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Wahyu menatap Aara dengan mata penuh damba. Jika pasangan yang lain, malam pertama tampak malu-malu. Tidak dengan Aara dan Wahyu. Aara bahkan siap di eksekusi dengan tampilannya yang begitu sexy tanpa harus diminta.
"Buka kakinya Sayang! Kita mulai ya."
__ADS_1
Aara tercengang mendengar perintah dari Wahyu. Ingin berbeda tak mengapa, tetapi bukan berarti harus meninggalkan tatanan bercinta.
"Sayang! Kenapa ekstrim sekali sich? Nggak mau begitu!" Aara segera bangun dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Eh... Kok udah di buka malah mau di tutup lagi. Katanya mau banyak mendapat pahala dari suami, jangan di tutupi dong Sayang!" Wahyu menarik selimut yang Aara raih dan membuangnya ke lantai.
"Makanya yang bener! Ritualnya nggak gitu, cipook-cipook dulu kayak pas pacaran itu loh!" kesal Aara karena saat hari H Wahyu menjadi berubah hanya karena ingin berbeda dari Rafkha dan Brian.
Wahyu mengulum senyum dengan mengikis jarak, dia merangkak menaiki ranjang dan mulai mengukung tubuh Aara hingga wanita itu bergerak mundue.
Aara kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, karena satu tarikan tangan Wahyu di kakinya membuat Aara terjengkang.
"Sepertinya memang istriku sudah tak sabar dan sudah tau tata caranya tanpa aku arahkan. Oke kita mulai, mau slowly atau faster?"
"Wahyu!"
BRUK
"Akkh iya ampun Sayang!"
...****************...
__ADS_1
Karena aku Sayang kalain, aku tambahin tipis-tipis ya, semoga kalian suka🤗🤗🤗