
Setelah menyusui kedua putranya, Lily segera membereskan tempat tidur yang berantakan. Brian pun sudah memesan makanan dan menunggu Lily di sofa. Pria itu pun sudah mengambil koper Lily yang tertinggal di kamar sebelumnya.
Lily segera mendekati sang suami setelah berpakaian rapi dan merias sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat. Kegiatan semalam membuat tubuh wanita itu remuk redam dan auranya sekaan di sedot habis oleh Brian.
"Sini Sayang! Kok lemes gitu, kenapa hmm?" Brian meraih tangan dan meminta Lily untuk duduk di sebelahnya.
"Masih capek," jawab Lily kemudian meraih jus mangga yang tadi dia pesan. Rasanya segar sekali, perutnya pun sudah berdendang minta diisi. Tanpa menunggu lama Lily memakan makan yang sudah tersedia di depan mata tanpa menunggu Brian, karena suaminya masih sibuk menatapnya dan membelai surai hitam yang sudah tertata rapi.
"Makan yang kenyang ya Sayang, maaf Kakak membuatmu kelelahan. Kamu begitu legit di makan Sayang." Brian mengecup pipi Lily yang mengembang karena sedang mengunyah makanan dengan begitu lahap. Bagaimana tidak, setelah dihabiskan tenaganya Lily harus menyusui kedua jagoannya hingga mereka kembali kenyang dan tertidur pulas.
"Makan dulu Kak!" perintah Lily karena merasa sang suami terus saja merusuh. Lily sampai heran, tidak lelahkah pria itu. Auranya semakin cetar dan wajahnya begitu segar. Jauh berbeda dengan dirinya yang terlihat sayu. Bahkan rasanya Lily ingin kembali tidur.
Brian pun menurut, ia segera makan dan tidak lagi mengganggu istrinya. Keduanya menghabiskan makanan yang lumayan banyak. Terlebih Lily tidak canggung menghabiskan dua porsi makanan. Ibu menyusui itu nampaknya benar-benar kelaparan hingga lupa badan. Brian pun tidak melarang dan justru senang melihat Lily makan banyak.
"Mau menginap lagi atau pulang Sayang?" tanya Brian setelah tadi sempat membereskan bekas makan dan meminta pihak hotel untuk mengambilnya kembali.
"Pulang saja Kak, aku penasaran juga sama rumah baru yang sudah Kakak sediakan. Kak Aara dan Wahyu sudah kesana. Masak aku belum tau rumah itu," jawab Lily. Memang wanita itu sangat penasaran sekali, terlebih melihat ekspresi Brian saat tau Aara dan Wahyu sudah masuk ke dalam kamar utama tanpa meminta ijin.
"Ya sudah setelah ini kita berkemas ya, akan Kakak bawa kamu ke rumah baru kita." Brian mengusap pipi Lily dan menyambut senyum sang istri dengan kecupan gemas di bibir wanita itu.
Ketukan pintu kembali terdengar, kali ini dengan cepat mereka membukanya. Mommy dan Daddy berdiri di luar kamar. Sekarang Lily pun tidak malu lagi menampakkan diri. Dia sudah berpakaian rapi, memakai dress selutut dengan leher tinggi. Aman dari mata keluarga, setidaknya dia tidak lagi digoda karena ulah sang suami.
__ADS_1
"Kami mau pamit pulang, kalian mau ikut pulang atau menginap lagi di sini?" tanya Mommy memperhatikan sepasang pengantin baru yang sudah terlihat rapi dan bertenaga kembali. Terlebih Lily yang tadi sudah merias wajahnya.
"Kita mau pulang juga Mom, tetapi Brian akan membawa Lily dan kembar ke rumah baru," jawab Brian.
"Mau langsung pindah?" tanya Daddy seakan masih berat jika harus berjauhan dengan putri dan cucunya.
"Iya Dad, rumahnya tidak jauh dari rumah utama. Jadi Lily bisa main sewaktu-waktu ke sana." Brian paham kegelisahan kedua mertuanya. Sejak awal Brian sudah memperhitungkan, dia membeli rumah dan memilih untuk tinggal terpisah dengan keluarga namun tetap dekat. Agar tidak menyulitkan jika mereka ingin bertemu dengan orang tua.
"Ya sudah, tetapi Mommy dan Daddy tidak bisa mengantar kalian kesana. Mungkin besok Mommy akan menengok rumah baru kalian. Mommy ingin cepat beristirahat apalagi Daddy besok sudah kembali bekerja."
"Tidak apa-apa Mom, di sana juga pasti belum tersedia makanan. Besok saja ya, nanti Lily bisa menyuguhkan Mommy dengan masakan Lily," sahut Lily. Ya, kedua putri Baratajaya sudah pandai memasak. Jika Aara belajar dengan banyak menonton video di YouTube, berbeda dengan Lily yang langsung diajari oleh Mommy.
"Ya sudah, Mommy dan Daddy pulang duluan ya. Oh iya tadi orang tua kamu menitipkan salam buat kalian. Papah kamu buru-buru pulang karena ada panggilan mendesak dari rumah sakit. Mungkin ada yang butuh penanganan serius. Jadi tidak bisa menemui kalian dulu."
"Ya sudah Mommy dan Daddy pulang ya, pasti sepi sekali dech tidak ada suara tangis kedua cucu Mommy." Mommy mendadak mellow, Lily dan Brian pun mempersilahkan Mommy dan Daddy untuk pamitan dengan kedua cucu mereka. Tampak haru sekali, terbiasa bersama harus terpisahkan karena Lily yang sudah menikah.
"Jangan sedih Mom, Dad, Lily akan sering main membawa mereka ke rumah!" ucap Lily menenangkan kedua orang tuanya.
"Hhmm... Jaga diri kamu baik-baik ya, sudah menjadi istri sekarang. Jangan banyak ngembeknya!" ucap Daddy mengingatkan dan Lily pun hanya tertawa kecil kemudian menoleh ke arah Brian yang kemudian mencubit pipinya.
Setelah menghujani banyak kecupan pada dua bocil yang masih tidur, Mommy dan Daddy pun segera pulang.
__ADS_1
Lily dan Brian segera berkemas lanjut pulang menuju kediaman baru mereka. Namun saat sampai di lobby hotel, Lily seperti melihat Gibran yang sedang berjalan bersama seorang wanita. Dia menghentikan langkahnya membuat Brian yang sedang mendorong stroller jadi penasaran.
"Ada apa Sayang?" Brian pun ikut menghentikan langkahnya dan mendekati sang istri.
"Aku seperti melihat Gibran Kak, tadi dia berjalan masuk lift. Bener Gibran bukan ya Kak? Kok mirip, tapi kenapa dia nggak datang kemarin?"
"Mungkin kamu salah lihat, dengar-dengar dia sedang keluar kota. Makanya nggak datang, ayo kita pulang! Sekalian mampir beli makanan buat makan malam nanti."
Lily menganggukan kepala dan kembali melangkah menuju mobil. Mereka memesan taksi online karena kemarin Brian datang dengan mobil sang Papah begitupun dengan Lily.
Sampai di sebuah komplek perumahan yang lumayan elit, meskipun tak seelit milik Daddy dan Kak Rafkha namun, Lily cukup bangga karena di tahun pertama Brian menjadi pemimpin perusahaan, sudah bisa membeli rumah yang cukup mewah.
Tepat di depan salah satu gerbang, Brian meminta sopir untuk menepikan mobilnya. Mereka keluar dan tak lupa memberikan upah taksi pada sang sopir. Brian kembali memasang stroller untuk kedua putranya dan membantu Lily membawa koper.
"Ini rumahnya Kak?"
"Iya, semoga kamu suka dan kalian betah tinggal di sini ya." Brian mengajak Lily untuk memasuki gerbang dan melangkah menuju pintu masuk rumah.
"Ini besar Kak, ada tamannya juga. Pemandangan halaman terlihat indah dan adem, Lily suka." Lily melihat sekeliling halaman yang tampak asri meskipun ini termasuk bangunan baru dengan model modern.
"Syukurlah, ayo kita masuk ke dalam sayang. Nggak sabar kan lihat dalamnya?" Brian membuka pintu rumah dan mempersilahkan Lily untuk masuk. Dia membuat sang istri terkesima dengan dekor interior dari rumah baru itu. Ini komplek baru, perumahannya pun baru, pembangunan dan desain dalamnya juga modern. Baru masuk saja, ruangan dengan dinding putih membentang luas.
__ADS_1
Lampu kristal menjuntai menambah nilai estetika dari rumah itu. Tangga dengan balutan kaca dan kitchen set luas beserta meja bar terlihat modern. Sofa di ruang keluarga dan meja makan mereka pun terlihat rapi dan besar. Tak banyak sekat membuat kesan luas. Belum lagi saat Brian membuka gorden bagian belakang. Hamparan halaman belakang dengan taman dan kolam renang terlihat jelas dari kaca besar yang menjadi sekat.
"Suka?"