
Brian terduduk di samping ranjang Aara, tangannya meraih tangan Aara dan menatap wajah pucat yang masih terlelap. Brian masih tidak percaya dengan kondisi Aara saat ini. Dan Brian pun menyesal telah bersikap terlalu cuek pada Aara. Meski bagaimanapun mereka pernah bersama menjadi sahabat dekat. Seharusnya dia lebih peka akan apapun tentang Aara.
Bohong jika Brian tidak mengkhawatirkan Aara, bahkan ia merasa tidak tega hingga air matanya tak dapat ia tahan. Andai tidak ada pernikahan, mungkin ia tidak akan menambah luka. Bisa lebih dekat tanpa ada percekcokan. Dan lebih bisa menghargai seperti dulu lagi.
"Maaf.....Maaf gue nggak ada saat loe butuh. Maaf gue nggak bisa seperti yang loe mau. Sampai kapan pun loe sahabat gue Ra, loe wanita kuat yang gue kenal. Bahkan loe bisa menutupi segala sakit loe di depan orang banyak."
"Loe harus kuat, loe harus bisa sembuh...Bukannya loe pengen jadi istri dan menjadi seorang Ibu? Sembuh Ra dan wujudkan itu semua, loe berhak atas kebahagiaan yang belum loe dapatkan meski bukan sama gue! Loe bisa dapatkan pria yang tulus sayang dan mencintai bukan pria brengs3k kayak gue! Dan masih banyak cara untuk loe bisa menjadi seorang Ibu."
Brian menyurut air mata, dadanya begitu sesak saat ia mengusap rambut yang masih tersisa namun terlepas bersamaan dengan tangannya yang ia angkat. Rambut Aara begitu rapuh hingga banyak sekali yang rontok ditangan Brian. Pasti berat melewati itu semua tanpa orang terkasih. Dan Aara menutupi semuanya dengan keegoisan dan sikap angkuhnya dia padahal hatinya remuk tak karuan. Brian tidak tahan akan itu, ia memilih untuk segera masuk ke dalam kamar mandi dan menangis di sana.
"Gue emang salah, gue sebagai suami nggak berguna. Tapi apa masih pantas gue membela diri?" Brian menghela nafas berat di depan cermin kamar mandi. Hidupnya semakin rumit saat ini, terlebih dia begitu khawatir jika Lily tau akan kondisi Aara. Lily pasti akan sangat bersalah dan entah akan seperti apa nantinya. Brian berharap Lily bisa menjaga emosinya agar dia dan kandungannya tetap baik-baik saja.
__ADS_1
...****************...
Pagi ini semua tampak bersiap ke rumah Tiara, begitupun dengan Lily yang sudah memakai pakaian yang Brian siapkan tempo hari. Lily begitu anggun, rambutnya di gerai dengan sedikit kepangan dan jepit cantik sebagai pemanis. Entah mengapa hati ini Lily terlihat begitu berbeda. Semakin cantik dengan pembawaan yang terlihat lebih dewasa.
Mommy dan Daddy yang sudah rapi pun begitu takjub melihat putrinya yang kini sedang menuruni anak tangga. Sebelumya raut wajah Lily selalu sendu, tapi kini terlihat lebih cerah dengan senyum yang mengembang.
Daddy dan Mommy saling memandang satu sama lain, mereka yang harus meninggalkan Aara di rumah sakit karena ada acara keluarga, begitu terlihat sekali raut wajah kesedihannya. Berbanding terbalik dengan Lily saat ini. Namun dengan cepat Daddy menganggukkan kepala agar Mommy bisa bersikap biasa dan tak memperlihatkan pada Lily akan kesedihan mereka.
"Sayang....Kamu cantik sekali nak." Puji Mommy yang kini terfokus pada dress panjang yang Lily kenakan. Begitu pas dan cantik membalut tubuh Lily. "Ini pakaian baru? Lily beli?" tanya Mommy memastikan karena dirinya yang kemarin ingin mempersiapkan pakaian untuk keluarganya, akhirnya tidak jadi karena pagi-pagi sudah mendapatkan kabar yang begitu tidak mengenakkan hati.
"Sudah Mom, kita berangkat sekarang. Keburu banyak para tamu yang datang!" ajak Daddy yang segera melangkah menuju mobil. Beliau paham kenapa Lily menjawab dengan gugup. Siapa yang menyiapkan pakaian cantik itu jika bukan Brian. Dan Daddy tidak mau membahas itu semua sekarang.
__ADS_1
Mommy pun segera menggandeng tangan Lily untuk masuk ke dalam mobil. Dan dengan lega Lily mengikuti langkah Mommynya.
Sampai disana Lily segera masuk ke kamarnya yang ia tempati setiap kali menginap di tempat Rafkha. Dia cukup sadar diri jika dirinya adalah sesuatu yang harus di sembunyikan. Jika tidak akan membuat malu keluarga di saat tamu mulai berdatangan.
Lily mendengarkan semua prosesi acara nujuh bulan Tiara, tangannya mengusap lembut perut yang semakin lama semakin membesar.
"Sabar ya nak, kita pasti kuat. Dan kekuatan bunda ada di kamu....Sehat terus permata hati Bunda." Mata Lily berkaca-kaca. Dia membayangkan ada di tengah-tengah acara dan di doakan oleh para tamu undangan. Di berikan selamat dan di usap perutnya dengan menyisakan kebahagiaan. Dan di dampingi oleh suami tercinta. Pasti sangat membahagiakan dan akan menjadi kenang-kenangan indah dalam keluarga kecilnya.
Lily mengusap air mata yang turun tanpa permisi, dia segera meraih ponsel dan meletakkan ponsel itu di depan cermin. Membuka kamera yang mengarah ke arahnya berdiri. "Kita buat kenang-kenangan sendiri ya sayang." Lily menekan tombol untuk memfoto dirinya dan dalam hitungan lima detik dia berpose dengan meletakkan kedua tangan di perut. Berulangkali ia lakukan sampai pintu kamar terbuka dan masuklah Tiara dengan senyum mengembang.
"Ly...."
__ADS_1
"Hhmm....."
Tiara memeluk tubuh Lily, rasanya Tiara sangatlah tidak tega dan tau benar apa yang Lily rasakan saat ini. Merasa di asing kan namun bagusnya Lily cukup mengerti dan tak mempermasalahkan akan itu. Meskipun Tiara sedikit tidak terima dengan sikap keluarga mereka.