
"Jadi Kak Aara akan berangkat ke Amerika di temani dengan Wahyu? Kakak yakin? Memangnya Wahyu mau?" Lili memberondong pertanyaan kepada kakaknya.
Malam ini Lily menginap di rumah sang kakak karena Mommy dan Daddy tidak tega membiarkan Lily di rumah sendirian. Tentunya di antar oleh Brian, sore tadi sepulang kerja dan mereka kini tengah makan malam bersama.
"Hhmm..."
"Loe yakin?" tanya Brian memastikan.
"Kenapa? Loe cemburu?" tanya Rafkha asal membuat mata Brian mendelik.
"Hati Abang cuma ada neng Lily seorang, nggak ada yang lain. Gue cuma nggak yakin aja kalo Aara mau sama Wahyu, mereka nggak seakur itu." Brian beberapa kali melihat Aara berdebat dengan Wahyu dan tidak yakin jika Aara akan menyetujui pergi bersama dengan pria itu.
"Awalnya menolak tetapi mana berani dia kalo gue udah kasih keputusan, toh untuk kebaikan dia juga. Gue nggak tega biarin dia hidup sendirian. Di sana Daddy sudah menyiapkan apartemen untuk mereka. Tinggal bersebelahan, setidaknya nggak buat orang tua kepikiran. Kalian tau sendiri kondisi Aara masih sangat lemah. Butuh perhatian dan pengawasan."
Lily mengangguk paham, setidaknya dia pun lega karena Aara tidak sendirian. Harapan dan doa dia panjatkan semoga Aara benar-benar terlepas dari penyakit yang hampir merenggut nyawanya dan bisa kembali menata hidup dengan baik.
Lily menoleh ke arah Brian, pandangan keduanya saling bersinggungan dengan senyum yang saling bersambut.
"Legalkan dulu baru pandang-pandangan! Awas sampe nyolong start lagi, gue nggak acc pengajuan lamaran loe!" ketus Rafkha. Biarkan dia terkesan galak tetapi, itu caranya menyayangi sang adik, terlebih Rafkha yang sudah pernah dikecewakan.
"Raf, urusan kita sudah kelar. Surat pengadilan besok sudah turun. Ya meskipun ada campur tangan bokap loe, tetapi kan persyaratan dari loe udah beres semua, tinggal lanjut KUA." Brian jelas bangga karena dia bisa cepat mempersunting Lily setelah ini. Urusannya dengan Rafkha sudah selesai dan tidak ada lagi kekhawatiran yang akan membuat Rafkha ragu.
"Sudah Kak, restui mereka! Memangnya kamu nggak kasian dengan mereka yang ingin seperti kita?" tanya Tiara yang tiba-tiba datang setelah selesai menyusui putranya.
Rafkha pun akhirnya menganggukkan kepala, jika sudah istrinya yang meminta dia tidak mungkin bisa menolak.
"Tunggu sampai Lily melahirkan!" tegas Rafkha yang kemudian mengajak kembali Tiara untuk masuk ke dalam kamar. "Pulang jangan malam-malam! Adik gue butuh banyak istirahat," sambungnya.
"Iya siap!" Brian tersenyum menoleh ke arah Lily, kemudian mengajak Lily untuk pindah ke ruang keluarga agar lebih nyaman.
"Mau rumah atau apartemen?" tanya Brian tiba-tiba membuat Lily yang baru saja duduk di sofa mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Lily tidak mengerti.
"Setelah menikah mau tinggal di rumah atau tinggal di apartemen Sayang?" tanya Brian lagi. "Kakak ingin kita mandiri seperti Rafkha dan Tiara. Jadi, dari sekarang Kakak mau mempersiapkan semuanya." Brian mencubit hidung Lily membuat si empunya merengek.
"Sstt... Iseng dech," ucap Lily dengan mengerucutkan bibir.
"Jangan gitu Sayang bibirnya, bikin nggak kuat lihatnya!" Brian menghela nafas kasar, selalu saja jika berduaan Lily membuatnya gagal fokus. "Ayo di jawab!" Brian kembali fokus dengan pembahasan sebelumnya agar otak tidak kembali tercemar.
"Rumah saja tetapi, tidak perlu yang mewah, sederhana yang penting nyaman. Kondisikan dengan kantong Kakak, Lily tidak memaksa." Lily tidak mau memaksakan Brian harus membuatkan rumah mewah seperti milik Daddy dan Kakaknya. Bagi Lily, bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang di tempat yang nyaman sudah membuatnya bahagia.
Brian menyandarkan tubuhnya di sofa, dia akan memikirkan betul-betul keinginan Lily. Kelak ini akan menjadi kado pernikahan yang akan dia berikan pada Lily. Meskipun Lily meminta yang sederhana tetapi, Brian akan mempertimbangkan keinginan Lily. Dia tau Lily tidak ingin memberatkan karena wanita itu tau jika dia baru menghandle perusahaan sendiri.
Setelah pembahasan itu, Brian pun pamit pulang. Tidak lupa dia meninggalkan jejak sayang di kening dan segera masuk ke dalam mobil.
Keesokan harinya, Wahyu menunggu kedatangan Aara dan keluarga di bandara. Hari ini dia dan Aara akan pergi ke Amerika. Keluarganya pun sudah menyetujui tanpa mempersulit langkahnya. Wahyu pikir mungkin karena, dia yang ingin kembali meneruskan studinya. Jadi, dengan mudah Wahyu mendapatkan ACC dari kedua orangtuanya, tanpa Wahyu tau jika Rafkha telah menemui orang tuanya sebelum dia menyetujui keputusan Rafkha.
Rafkha pun telah menjelaskan secara detail tujuannya meminta Wahyu menemani Aara, tanpa ada yang di tutupi dan ternyata, keluarga Wahyu begitu baik. Meraka menyetujui tanpa banyak pertimbangan yang memberatkan dan tidak lupa mendoakan Aara. Mereka berharap kehidupan Aara kelak lebih sehat dan bisa menata kembali hidupnya.
"Bagaimana, sudah lengkap semuanya?" tanya Rafkha pada Wahyu, dia ingin memastikan tentang kesiapan berkas-berkas keberangkatan keduanya.
"Sudah, tinggal menunggu keberangkatan pesawatnya saja. Sekitar lima belas menit lagi," jawab Wahyu dengan melihat ke arah jam tangannya.
"Titip adek gue! kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi gue! Dan inget, di sana kalian nggak hanya berdua. Jadi, jangan coba mau macem-macem sama Aara!"
"Loe ikut aja kalo nggak percaya sama gue, jagain bini orang aja gue amanah gimana jagain yang masih perawan," celetuk Wahyu membuat Rafkha yakin jika keputusannya sudahlah benar.
Sedangkan Aara kini tengah menenangkan Mommy dan juga Lily yang menangis sesenggukan memeluknya. Aara sebenarnya tidak sekuat itu menahan tangis, dia pun begitu berat untuk berpisah karena, selama ini dia tidak pernah hidup berjauhan dari keluarganya. Namun, mengingat keputusannya sudah bulat. Dia pun tidak ingin mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Mom, Ly, nanti kita bisa vidio call setiap saat, kalian pun bisa menyusul ke sana sekalian liburan. Jadi jangan bersedih seperti ini!" ucap Aara lembut, dia mengecup kening mommy dan juga adiknya lalu mengusap air mata keduanya.
"Doakan Aara kembali sehat dan bisa kembali dengan membawa kebahagiaan buat keluarga yang selama ini Aara siakan. Jangan menangis lagi, Mommy dan Lily harus bahagia setelah ini. Kita bahagia bersama meski berjarak." Aara berusaha mengukir senyum sedangkan Mommy dan Lily sibuk untuk menangkan diri.
__ADS_1
"Brian, titip keluarga gue! Titip Mommy dan Daddy, begitupun dengan Lily. Jaga mereka karena gue tau Kakak gue sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya, " ucap Aara dengan melirik ke arah Rafkha, sengaja menggoda Rafkha yang diam-diam sangat memperhatikan rencana kepergiannya.
"Pasti, loe nggak usah khawatir!" jawab Brian dengan merangkul pundak Lily.
"Dan ini, surat hasil dari pengadilan." Aara menyerahkan berkas dari pengadilan yang menerangkan jika keduanya telah resmi bercerai.
"Gue tunggu kabar dari kalian!" ucapan Aara lagi dengan melihat ke arah Lily dan Brian. Kemudian dia mengusap perut Lily dan beralih ke Daddy yang sejak tadi diam memperhatikan.
"Tidak ingin naik jet pribadi Daddy saja?"
Aara menggelengkan kepala, kemudian memeluk Daddy. "Aara ingin menikmati perjalanan Dad, terimakasih atas semuanya dan apartemen yang telah Daddy siapkan. Jaga Mommy ya Dad! jangan buat Mommy marah-marah karena Daddy telat pulang!"
"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik! Doa Daddy selalu menyertai langkahmu Nak!" lirih Daddy dengan menahan air matanya. Sesak sekali rasanya, padahal dulu dia pun merasakan saat Rafkha ingin pergi bersekolah di luar negeri. Namun, kali ini rasanya berbeda, lebih berat dan hampir membuatnya tidak sanggup menahan air mata.
Aara pun beralih dengan keluarganya yang lain, Om Andika dan juga Tante Erna. Di lanjut dengan mantan mertuanya kemudian Gibran.
Gibran memeluk Aara dengan erat, Gibran pun merasa sangat kehilangan. Terlebih semenjak Aara sakit, dia lah yang mengurus serta menemani Aara sebelum akhirnya keluarga mengetahui penyakitnya.
"Kenapa nggak ngajak gue?"
"Karena Wahyu lebih original dari pada loe predator darat!" celetuk Aara dengan diiringi tawa kecil untuk mengalihkan hatinya yang sedih.
Kemudian beralih ke sang Kakak yang tiba-tiba melerai pelukan keduanya. "Lama!" ketus Rafkha dan meraih tubuh Aara dan memeluknya dengan erat. Sedangkan Gibran hanya mampu menggelengkan kepala melihat kelakuan sepupunya.
"Jaga diri! Gue udah izinkan loe pergi tetapi, jangan buat gue kecewa! Loe harus bangkit dan percaya jika jalan hidup loe akan indah ke depannya!"
"Makasih Kak, maafin gue dan salam buat Tiara. Maaf gue belum sempat menengok keponakan gue. Semoga mereka sehat-sehat."
"Hhmm..."
Semua melambaikan tangan dengan air mata tak tertahan. Mereka melihat Wahyu telah membawa Aara menjauh dan bersiap masuk pesawat. Mau tak mau harus ikhlas dan mendoakan yang terbaik untuk Aara.
__ADS_1