
"Bagaimana?"
"Kenapa loe mempersulit diri loe sendiri sich Ra? Loe nggak kasihan sama mereka berdua? Ra, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Gue minta loe jangan pesimis!"
Aara menghela nafas berat menatap pria yang selalu menemaninya selama ini. Sejak pagi ia hanya mendengarkan ocehan hingga telinganya serasa panas.
"Loe kalo nggak mau nemenin gue balik aja sana! Gue capek dengar ceramah loe yang nggak ada habisnya!"
Pria itu berdecak dan segera pergi dari sana, sudah lelah dia tiap hari menasehati dan memberi masukan pada Aara. Mengingatkan jika apa yang ia lakukan tidaklah benar.
"Loe beneran mau pergi?"
"Mau loe apa sich?" tanyanya balik. "Tadi loe ngusir gue, sekarang loe nanya! Aara, nggak semua yang loe mau itu harus. Loe buang-buang waktu tau nggak! Coba kalo dari awal loe dengerin kata gue, fokus Ra! Fokus! Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini!"
"Tapi gue juga mau ngerasain semua yang di rasakan sama wanita di dunia ini Gibran!"
__ADS_1
"Bukan dengan loe merusak kebahagiaan Lily!" sentak Gibran yang sejak awal menahan sabar dan kini rasanya ia sudah begitu geram.
"Karena cuma Lily yang bisa ngerti, karena cuma Lily yang bisa ngelakuin apapun demi gue!"
"Dan cuma Lily yang bisa loe peralat!" pungkas Gibran.
"Gue cuma mau ngerasain, gue nggak akan menyita kebahagiaannya terlalu lama. Hanya sebentar Gibran dan gue tau loe paham!" Aara tak sanggup membendung air matanya, dengan cepat Gibran pun segera merengkuh tubuh Aara dan memeluk gadis itu.
"Please ngertiin gue Gibran! Cuma loe....Cuma loe yang ngerti!"
"Kalo cuma gue kenapa loe malah nikah sama Brian yang nggak akan ada buat loe!" celetuk Gibran membuat Aara melepaskan pelukannya.
"Ck, terserah loe lah! Stok cewek banyak, gue nggak akan kehabisan. Tapi loe tau sendiri cewek jaman sekarang matre, mereka cuma lihat harta gue. Apa lagi setelah mereka tau gue CEO di perusahaan besar. Auto ngejar ampe cepirit-cepirit di celana! Kalo sama saudara sendiri kan kagak, apa lagi sama-sama kaya. Kalo bisa gue numpang hidup aja sama loe sekalian!"
"Dasar laki nggak mau rugi!" ketus Aara dengan memejamkan mata. Dia tak lagi memikirkan cinta, awalnya memang iya. Saat ia baru menikah dengan Brian, harapannya Brian bisa memberi sedikit kasih sayang meskipun ia tau Brian hanya mencintai adiknya.
__ADS_1
Tapi Brian terlalu kuat menanggul hatinya, memberi batasan yang membuat Aara sulit menerjang dan akhirnya ia menyerah. Meski begitu ada rasa lega di hati Aara, karna pria yang mencintai adiknya benar-benar tulus bahkan bisa menjaga hati dan diri khusus untuk Lily.
"Sampai kapan loe begini?" Gibran kembali duduk di samping ranjang Aara.
"Sampai waktunya tiba..." jawabnya dengan wajah sendu. Aara melihat Gibran menggenggam jemarinya dan menoleh ke arah Gibran yang kini menatapnya lekat.
"Gue nggak ngerti jalan pikiran Loe, gue cuma berharap loe bahagia suatu saat nanti."
Aara tersenyum dengan pipi yang basah, Gibran pun dengan perlahan mengusap air mata yang kembali jatuh sia-sia.
"Jangan kebanyakan drama, ntar jatuh cinta beneran sama gue repot urusannya!" celetuk Aara dengan terkekeh melihat wajah bete Gibran.
"Loe yang nggak usah kebanyakan drama, fokus sama diri loe dan ikut gue!" Gibran melepas genggaman tangannya kemudian duduk di sofa dan menyeruput kopi.
"Nggak akan!"
__ADS_1
"Batu!"
"Jangan marah mulu, kangen sama gue mampus loe!" ketus Aara yang mulai beranjak dan meraih tasnya karena sudah hampir siang dan ia harus segera berangkat ke kantor. "Ayo bapak CEO, loe mau kerja apa mau terus-terusan disini?" tanya Aara kemudian keluar dari ruangan melewati Gibran yang hanya menggelengkan kepala lalu segera menyusul Aara.