LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 106


__ADS_3

Brian menurunkan Lily di dalam kamar pengantin. Lily yang ingin protes dan marah seakan tertunda saat matanya dijamu dengan dekor kamar pengantin yang indah. Ntah siapa yang mendesain dan mempersiapkan ini semua. Yang jelas Lily suka hingga menatap takjub.


Brian mengulum senyum melihat Lily yang terpanah melihat kamar pengantin mereka. Dia mengikuti langkah Lily yang terus masuk dan menyapu pandang setiap sudut kamar yang begitu wangi aromaterapi. Kamar pengantinnypengantin mereka begitu tenang, sampai Lily melupakan kejengkelannya pada Brian.


"Kamu suka?"


"Hhmm..." Lily tersenyum tanpa menoleh ke arah Brian. Dia mendekati balkon kamar dan membuka gorden, betapa terkejutnya Lily melihat pemandangan malam yang begitu indah.


Brian membuka pintu balkon itu dan mempersilahkan Lily untuk keluar. Lily tak menyangka dirinya kini kembali berjalan di red karpet menuju meja yang sudah dilengkapi makanan dan lilin kecil. Tanpa ada cahaya lampu, hanya bermodalkan lilin dan sinar rembulan, keduanya menduduki kursi di bawah langit malam.


"Siapa yang menyiapkan Ini semua Kak?" Mata Lily terjamah dengan bunga mawar merah yang sejak masuk ke dalam kamar sampai dirinya berdiri di balkon kamar, tertata rapi di setiap sisi ruangan.


"Suamimu... "


Lily menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia seakan tak percaya jika Brian yang menyiapkan ini semua. Lily pikir Mommy dan juga Mamah mertua, tetapi ternyata suaminya yang begitu romantis menyiapkan semuanya.


Brian meraih tangan Lily, menekuk sebelah kakinya dan mengeluarkan cincin pernikahan yang belum mereka sematkan. Ini lah alasan Brian mengajak Lily segera masuk ke kamar. Ini juga kenapa pernikahan mereka tak sama dengan pernikahan pada umumnya. Brian seakan melupakan cincin pernikahan. Padahal ini semua sudah ia rencanakan sebelumnya.


Brian ingin hal yang berbeda, ini momen di mana dia akan melamar Lily dengan benar. Bukan sebagai pacar atau istri, melainkan menjadi teman hidup sampai maut memisahkan.

__ADS_1


"Maaf, jika aku tidak seromantis pria lain. Aku tidak menyiapkan acara lamaran atau pertunangan dengan benar. Maaf jika aku menikahimu dengan cara yang terkesan biasa."


"Sekarang, ijinkan aku untuk melamar mu dengan benar. Mau kah kamu menjadi wanita istimewa dalam hidupku? Menjadi teman hidup yang menemani di saat suka maupun duka. Tanpa ada kata pisah meskipun lika liku rumah tangga terkadang menyeramkanmenyeramkan," ucap Brian dengan tatapan serius.


Lily seakan tak bisa berkata apapun, air matanya mulai mengalir membasahi pipi. Menikah dengan Brian saja sudah membuatnya bahagia dan kini Brian memperlakukannya dengan sangat baik. Itu semua membuat Lily merasa sangat dicintai. Sudah lama dia memimpikan momen ini.


Lily menganggukkan kepalanya dengan isakan kecil. Brian yang tidak tega segera bangun dan memeluk Lily dengan erat.


"Jangan menangis Sayang! Ini hari bahagia kita, terimakasih telah menerimaku. Aku sangat mencintaimu..." Brian mengusap punggung Lily, menenangkan sang istri agar tidak lagi menangis.


"Aku juga sangat mencintai Kakak," lirih Lily dengan membalas pelukan Brian.


Di bawah langit yang cerah keduanya saling mengutarakan cinta. Brian menyematkan cincin pernikahan di jemari tangan Lily begitupun sebaliknya. Dia mengecup tangan Lily kemudian bibir ranum wanita itu dengan lembut.


"Kita makan dulu Sayang!" Brian berbisik di telinga Lily. Mengecup lagi bibir ranum itu dan berakhir mengecup kening sang istri.


Wajah Lily kembali merona, nafasnya tersengal dengan menyembunyikan wajahnya di dada Brian. Dia meraup banyak-banyak udara kemudian mengangkat wajahnya sehingga kedua pasang mata kembali beradu.


"Haruskah malam ini?" tanya Lily penuh makna.

__ADS_1


"Hhmm... Aku sudah sangat rindu." Brian mengecup pipi Lily dengan gemas dan kembali menatap wajah cantik di bawah sinar rembulan. "Tapi kita harus makan malam dulu, karena kita harus bertenaga sebelum bercinta."


Lily menundukkan kepala, malu rasanya melihat tatapan Brian yang berbeda. Pancaran cinta dan nafsu menjadi satu. Lily pun tau saat Brian memeluknya dengan erat, ada yang terjaga di balik celana pria itu. Apa lagi Lily tak sepolos wajahnya karena, ini bukan pengalaman yang pertama bagi wanita itu. Bahkan Lily masih teringat jelas bentuk dan ukuran yang membuatnya tiba-tiba bergidik ngeri.


"Ayo Sayang makan dulu! Jangan terlalu dipikirkan, kamu cukup tau enaknya saja!" ucap Brian dengan tatapan menggoda lalu mengedipkan sebelah mata.


Kini keduanya menikmati makan bersama, sesekali Brian menyuapi Lily dengan makanannya. Mereka begitu lahap hingga piring mereka bersih tanpa sisa.


"Aku butuh pompa ASI dulu Kak sebelum tidur," keluh Lily yang kembali merasakan penuh di dadanya. Kini keduanya telah berada di dalam kamar dan siap bersih-bersih.


"Siapa yang mau tidur? Bukannya kamu sudah tau jika si Joni sudah bangun? Dia mengajak begadang Sayang."


Lily menghela nafas berat, menikah ternyata membuat hati tak tenang. Bahkan bergerak sedikit saja tak bebas karena terus mendapat perhatian.


"Tidak usah mencari pompa ASI, apa kamu lupa ada aku?" tanya Brian lembut.


Lily tak menghiraukan ucapan Brian, dia melenggang dan masuk ke dalam kamar mandi. Anak soang yang satu ini tak akan ada hentinya jika terus ditanggapi.


Brian mengulum senyum melihat Lily yang memilih untuk kabur. Pria itu mengetuk pintu kamar mandi dengan berseru membuat Lily yang berada di dalam sana menghela nafas berat dengan menatap jengah ke arah pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Jangan lama-lama Sayang! Nanti kita akan mandi lagi," seru Brian.


"Ya Tuhan... Kenapa dia berubah menjadi mengerikan seperti ini?" lirih Lily dengan memijit pelipisnya. Brian benar-benar meresahkan. Wanita itu segera bersih-bersih sebelum suaminya kembali berteriak.


__ADS_2