LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)

LILY ( Kakak Iparku, Ayah Dari Anakku)
Bab 66


__ADS_3

Melihat suaminya yang mendadak mellow meski berusaha meledek Lily, membuat Tiara berusaha mencairkan suasana.


"Eh iya lupa, gue bawa makanan spesial loh Ly. Tadi Mommy nyuruh gue buat beliin loe sarapan. Tapi pas banget di rumah gue masak. Biasa Kakak loe udah candu sama makanan gue."


Lily menoleh ke arah Tiara, dia melihat bumil yang satu itu sedang membuka tempat makan yang dia bawa dengan sajian yang membuat mata Lily berbinar.


"Loe masak steak?" tanya Lily dengan sangat antusias. Akhirnya setelah ribut perkara steak bersama dengan Brian, pagi ini Lily bisa makan steak tanpa harus susah payah menunggu Brian membelikan siang nanti.


"Iya, loe mau nggak? Atau mau yang lain? gue bawa perkedel juga nich, tadi gue kasih ikan dan sayur biar sehat. Mau nggak? Dua-duanya juga boleh biar ponakan aunty gembul-gembul." Tiara menawarkan kedua masakannya, kebetulan dia membawa banyak karena tadi dia dan suaminya pun belum sarapan. Mereka sengaja ingin makan bersama Lily dan juga Brian.


"Mmmm...... Dua-duanya sepertinya enak." Kemudian Lily menoleh ke arah Brian yang sejak tadi memperhatikan dari sofa. "Kakak mau yang mana?" tanya Lily yang kasihan melihat Brian sejak tadi diam saja, sepertinya pria itu masih kepikiran dengan ucapan Rafkha.


"Kamu aja dulu makan, nanti aku gampang. Yang terpenting itu kamu dan baby twins." Brian tersenyum hangat, dia berusaha menunjukkan jika dia baik-baik saja. Brian tidak ingin Lily merasa kasihan dan berujung kepikiran. Walaupun kenyataannya Brian sedang memikirkan bagaimana jika usahanya untuk bisa menikahi Lily gagal.


Jaman sudah semakin canggih, wanita sudah banyak yang berkarir. Bahkan single mother sekarang banyak sekali. Bukan suatu yang tidak mungkin jika Lily mengikuti saran Rafkha, lalu terlalu lama menunggu dan nyaman dengan hidupnya tanpa suami, Lily pun akan berpikir ingin menghidupi kedua anaknya sendiri. Oh ....Jangan sampai hal itu terjadi. Tapi Brian pun tidak ada pilihan lain selain menunggu Aara dalam ketidakpastian.


Lily melirik Rafkha dan Tiara secara bergantian, dalam hati dia memohon untuk keduanya mengerti akan situasi.


"Makan Kak! Tugas loe masih banyak, loe nggak cuma jagain calon istri tapi juga kedua ponakan gue. Kalo loe sampe sakit, adik gue bisa gundah gulana galau merana!" celetuk Tiara dengan menatap tajam Brian. Dia mengerti maksud Lily, kemudian menyenggol lengan sang suami untuk memberikan makanan pada Brian.


"Kalian kan Upin Ipin, jadi harus akur jangan malah kayak Tom and Jerry!" sewot Tiara yang kesal karena Rafkha tidak tanggap malah diam saja melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Rafkha berjalan mendekati Brian dengan membawa dua porsi makanan. Kemudian memberikan kepada Brian salah satunya.


"Makan dulu! Menunggu butuh ketenangan dan perut yang kenyang, kalo perut laper bisa makin puyeng!" celetuk Rafkha, kemudian duduk di samping Brian setelah makanan yang dia berikan di ambil oleh pria itu.


Lily dan Tiara tersenyum melihat kedua pria yang bersahabat itu akhirnya bisa duduk bersama lagi. "Doain yang terbaik buat semuanya ya Ra....," lirih Lily.


"Pasti," jawab Tiara. "Ayo makan! Apa masih minta di suapi sama Ayahnya?"

__ADS_1


"Mereka tau Ayahnya nungguin terus, makanya bisa makan sendiri." Lily tersenyum menoleh ke arah Brian yang sedang makan dengan lahapnya. Lily lupa kapan terakhir dia melihat Brian makan. Lily juga tidak pernah melihat Brian makan selama merawatnya di rumah sakit atau mungkin pria itu tidak makan. Pipi Brianterlihat sedikit tirus, mungkin karena terlalu banyak masalah membuat Brian tidak nafsu makan.


Sore ini Lily sudah di perbolehkan untuk pulang, baby twins sehat dan Lily pun sudah semakin membaik. Brian segera membereskan semua pakaian dan barang-barang milik Lily lalu mengantarnya untuk pulang.


"Kakak sudah mengabari Mommy dan Daddy?"


"Sudah, kamu tenang saja! Ayo Kakak bantu!" Brian membantu Lily untuk turun dari ranjang lalu membantu Lily untuk berpindah ke kursi roda.


"Padahal Lily bisa jalan sendiri," ucap Lily. Dia merasa sudah sehat dan bisa jalan sendiri, tapi Brian memaksa agar Lily tetap menggunakan kursi roda.


"Aku tidak ingin kamu kelelahan atau mau Kakak gendong saja?" tanya Brian dengan mengulum senyum.


"Ayo jalan!" titah Lily yang membuat Brian tertawa kecil. Brian tau sekali jika Lily tidak akan mau dia gendong.


Brian mendorong kursi roda Lily dengan dua tas yang berada di kedua lengannya. Brian terlihat sekali kerepotan, tapi entah mengapa hatinya senang karena Lily sudah bisa pulang ke rumah.


"Kak, mampir ke ruangan Kak Aara boleh?"


Wajah Lily terlihat sendu, ia rindu akan Aara dan setelah pulang nanti pasti Lily akan sulit keluar rumah lagi. Lily menggenggam tangan Brian dengan tatapan memohon.


"Lihat dari luar saja, Lily ingin melihat Kak Aara."


Brian menghela nafas berat, kemudian segera mendorong kembali kursi roda Lily menuju ruangan dimana Aara di rawat. Brian lemah jika sudah melihat wajah Lily yang memelas memohon sesuatu.


Lily beranjak dari kursi roda, dia berjalan menuju pintu yang terdapat kaca untuk bisa melihat Aara. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir, Lily tak sanggup melihat Aara yang semakin kurus kering dengan rahang yang terlihat hanya tulang dan kulit.


"Kak Aara.....Ya Tuhan berikan keajaibanmu, berikan jalan yang terbaik untuk Kak Aara....Hiks....Hiks....Lily sayang Kakak."


Brian menarik tubuh Lily kedalam pelukan, dia tau Lily tidak mungkin kuat melihat kondisi Aara yang semakin hari semakin memburuk. Dia mengusap lembut punggung Lily mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan padanya.

__ADS_1


"Kita pulang ya, kapan-kapan Kakak ajak kamu kesini lagi untuk menjenguk Aara. Sudah jangan menangis lagi!" Brian mengusap air mata Lily dan membantunya untuk kembali duduk di kursi roda.


Sesampainya di rumah, Lily di sambut oleh Mommy dan juga Daddy, bahkan Mommy sudah memasakkan makanan yang banyak untuk menyambut pulangnya Lily.


"Sayang akhirnya kamu pulang Nak." Mommy memeluk Lily dan mengajaknya menuju meja makan. "Kalian pasti lapar kan, ayo makan dulu! Setelah itu baru beristirahat."


Daddy pun mengajak Brian untuk makan bersama, keduanya kini menyusul Mommy dan Lily setelah memasukkan barang-barang Lily dari rumah sakit.


"Mommy masak banyak banget, Mommy mau buat Lily buncit?" tanya Lily dengan mata berbinar melihat meja makan yang di penuhi dengan beraneka ragam masakan.


"Kan memang sudah buncit! Sudah seperti balon, besar sekali. Tapi Lily tetap cantik kok, malah imut makin chubby."


"Mommy...." Lily merengut mendengar ucapan Mommynya.


"Sudah jangan merengut gitu, nanti di sengat tawon bibir kamu kalo kelamaan cemberut!" goda Mommy sambil melirik ke arah Brian.


Brian yang sadar akan candaan Mommynya hanya menggelengkan kepala kemudian melirik Lily yang sudah menundukkan kepala.


"Emang loe bikin gemes Ly!"


Mereka semua menikmati makan malam, Lily pun dengan lahap mencoba semua masakan Mommy. Lily juga masih menerima suapan dari Brian, entah mengapa setelah kehamilannya semakin membesar dia begitu doyan makan. Bahkan makanan di piring Brian lebih banyak dimakan oleh Lily dari pada yang punya.


Setelah makan Brian pun pamit pulang, dia merasa sudah tidak pantas untuk tinggal di rumah itu karena hubungannya dengan Aara yang sudah berakhir. Meskipun sangat berat bagi Brian untuk meninggalkan Lily dan menghentikan kebiasaannya melihat Lily sebelum tidur. Tapi Brian tau aturan dan tau diri siapa dia saat ini.


"Mom, Dad, Brian akan beres-beres barang Brian dan pulang ke rumah Papah. Brian rasa sudah tidak pantas jika Brian masih tinggal disini, jadi Brian ingin pamit pulang Mom, Dad..."


Dengan cepat Lily menoleh ke arah Brian, dia sedikit terkejut karena sebelumnya Brian tidak memberitahu jika akan meninggalkan rumahnya. Lalu bagaimana jika dia sedang membutuhkan pria itu? Apakah kedua anaknya sudah mau menerima makanan tanpa ada Ayahnya di dekat mereka?


"Daddy tidak bisa melarang kamu untuk hal itu, tapi memang lebih baik begitu agar semua terjaga dengan baik. Mungkin kamu bisa tinggal disini lagi jika sudah menikah dengan Lily." Sudah berbulan-bulan Brian tinggal bersama di keluarga Baratajaya membuat Raihan pun berat melepasnya kembali pulang. Terlebih sekarang sudah tidak lagi satu kantor karena Brian yang akan kembali fokus dengan perusahaannya.

__ADS_1


"Main kesini setiap hari juga boleh, apa lagi sepertinya anak Mommy begitu sedih kamu pulang. Mommy harap hubungan kalian cepat bersatu dan bisa kembali tinggal bersama dalam satu atap."


Brian menoleh ke arah Lily yang segera membuang muka saat tertangkap basah menatapnya dengan tatapan sendu. Brian tersenyum tipis kemudian menggenggam tangan Lily yang berada di bawah meja makan. Lily pun segera menoleh ke arah Brian membuat pandangan keduanya bertemu.


__ADS_2