
"Kita ketemuan hari ini ya, aku rindu."
Pesan singkat dari Wahyu membuat Aara kembali bersemangat. Dia yang malas-malasan pagi ini segera turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi setelah membaca pesan singkat dari sang kekasih.
Sehari tak bertemu serasa hilang sudah semangat hidup. Memang semua keluarga Baratajaya akan menjadi bucin jika sudah bertemu dengan orang yang mereka cinta. Begitu dengan Aara, padahal dia tidak tau Wahyu akan menemuinya jam berapa, tetapi dia sudah lebih dulu merias diri untuk menyambut kedatangan pria itu.
"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Mommy dengan tersenyum senang melihat perubahan dari putrinya. Beliau bersyukur melihat Aara kembali bersemangat lagi.
Aara mengulum senyum, dia menunduk malu dan segera meraih piring untuk sarapan pagi yang hampir kesiangan.
"Mau ada yang apel? Atau ngajak ngedate?" tanya Mommy lagi begitu penasaran.
"Ikh Mommy kok kepo sich?" jawab Aara yang membuat sang Mommy justru tertawa. Beliau senang Aara mulai bar-bar. "Malah ketawa, selucu itu Aara Mom? Seperti melihat badut saja!" lanjut Aara dengan mengerucutkan bibirnya dan segera melahap makanan yang sudah memenuhi piring.
"Melebihi dari badut malahan, eh itu nasi habis nggak? Kamu nggak seperti biasanya atau mungkin karena sedang jatuh cinta membuat nafsu makan kamu bertambah?"
"Mommy sayang... Makan sedikit khawatir, makan banyak ditanyain. Terus bawa-bawa jatuh cinta segala lagi, kalo patah hati justru aku akan makan lebih dari ini. Makan orangnya sekalian biar nggak terus nyakitin!" Aara segera menggigit paha ayam setelah menyelesaikan ucapannya.
Andini menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Namun, Andini sangatlah bahagia melihat Aara kembali seperti dulu lagi. Bar-bar dan semangatnya datang kembali.
"Bagaimana dengan Wahyu? Apa benar kamu sudah menerima Wahyu dan kini kalian menjalani hubungan?" tanya Andini dengan tatapan menyelidik. Kabar itu memang sudah sejak kemarin dia dengar. Namun, belum puas jika tidak mendengarnya langsung dari mulut putrinya. Meski saat makan siang dia mendengarkan perbincangan Wahyu dengan suaminya. Tak menyurutkan dirinya untuk mencari informasi langsung dengan Aara.
__ADS_1
Aara menghentikan makannya, dia menoleh ke arah sang Mommy dengan ragu. Aara khawatir Mommy memiliki pemikiran yang sama dengan Daddy dan Rafkha.
"Mom... Jika itu benar, apa Mommy akan menghalangi langkahku seperti Daddy dan Kak Rafkha?" tanya Aara perlahan. Dalam hati dia berharap Mommy mengerti dan tidak mempermasalahkan.
Andini menyunggingkan senyum, dia paham akan kekhawatiran yang putrinya rasakan saat ini. Tangan beliau terulur mengusap lembut rambut Aara dan menatap aura kebahagiaan dari wajah putrinya.
"Mommy setuju," ucap Mommy Andini membuat Aara tersenyum lebar.
"Sungguh?"
"Hhmm... Kamu berhak bahagia dan dicintai oleh seorang pria yang setia. Jangan khawatir dengan Daddy dan Rafkha yang terkesan menyulitkan. Mereka hanya tidak ingin kamu mengalami kejadian yang sama. Mereka sayang sama kamu, tidak menginginkan perceraian terulang lagi dalam pernikahan kamu. Terlebih kamu paham akan kekuranganmu, Mommy harap Aara mengerti dan berdoa jika Wahyu pria yang terbaik untuk menemani hidup kamu."
...****************...
"Pah, Mah, ada yang ingin Wahyu bicarakan dengan kalian."
"Ada apa Nak? Papah sudah ingin berangkat karena ada meeting penting pagi ini," ucap sang Papah yang sudah menyelesaikan makannya sedangkan Mamah menatap putranya yang terlihat sangat serius.
"Ada apa Nak?" tanya Mamah dengan lembut.
"Wahyu ingin menikah Mah, Pah dan Wahyu janji, setelah menikah nanti Wahyu akan menggantikan Papah mengurus perusahaan."
__ADS_1
Papah dan Mamah jelas terkejut, bahkan sang Papah mengurungkan niatnya untuk berangkat. Beliau kembali duduk dan lebih tertarik dengan ucapan Wahyu dari pada meeting pagi yang dapat menghasilkan uang ratusan juta. Selama ini Wahyu sangat sulit untuk diminta menggantikan posisinya tetapi kali ini putranya mau tanpa paksaan.
"Kamu serius? Papah sangat senang jika itu benar. Jika perlu sore ini kita datang melamar wanita itu dan secepatnya kalian menikah." Papah begitu antusias sekali, matanya berbinar dengan senyum mengembang. Begitu juga dengan sang Mamah yang sejak tadi sudah tersenyum lebar.
"Siapa Nak wanita yang akan menjadi menantu Mamah?"
"Aara, anak dari keluarga Baratajaya. Wanita yang selama ini dekat denganku dan aku jaga saat di Amerika. Wanita yang membuatku ingin kembali ke tanah air dan mengurungkan niat untuk kembali meneruskan sekolah. Aku mencintainya, Mah Pah."
Senyuman di wajah kedua orangtuanya tak lagi bersinar. Bahkan sang Papah menghela nafas berat mendengar pengakuan cinta dari putranya.
"Kenapa harus dia? Wanita di luaran banyak, tetapi mengapa harus wanita tak berahim itu?" tanya sang Papah. Walau bagaimanapun beliau jelas memikirkan akan keturunan keluarganya kelak. Cucu yang kelak akan menjadi pewaris kekayaan yang beliau miliki. Jika Aara tak bisa memberikan keturunan lalu siapa penerus keluarganya kelak?
Wahyu menoleh ke arah sang Papah dengan wajah tak terima. Dia sadar bahkan sudah menerima kekurangan Aara. Wahyu pun akan tetap membela Aara meskipun kedua orangtuanya tak suka.
"Banyak cara untukku memiliki anak dan memberikan Papah dan Mamah cucu. Aku mencintai Aara justru setelah aku tau kekurangannya. Aku tau pasti sulit meyakinkan kalian tetapi ini pilihanku Mah Pah. Aku butuh dukungan kalian, bukan penolakan!" tegas Wahyu. Dia tau saat ini sikapnya tidaklah benar. Wahyu sedikit keras dengan kedua orang tuanya tetapi itu karena mereka yang memandang Aara hanya sebelah mata. Menganggap wanita yang tak bisa memiliki keturunan bukanlah pilihan yang tepat. Sementara jodoh telah ditentukan oleh sang Kuasa dan Wahyu yakin, keluarganya kelak akan bahagia. Meski harus memiliki keturunan bukan dari rahim sang istri.
"Papah harap kamu memikirkan kembali keputusan kamu! Jika memang ini benar-benar yang kamu mau, Papah akan merestui tetapi dengan satu syarat. Kamu bisa memberikan Papah cucu dari darah dagingmu sendiri. Jika kamu tidak setuju, buang jauh-jauh keinginanmu untuk menikahi wanita itu. Papah mengijinkanmu dekat dengannya hanya dalam pekerjaan dan rasa kemanusiaan. Bukan malah kamu terbawa perasaan dan akhirnya jatuh cinta!" ucap Sang Papah tak kalah tegas. Beliau segera pergi meninggalkan Wahyu dan juga sang istri tanpa pamit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya up nya tidak seperti biasanya, tapi aku akan usahakan nanti up lagi. Jangan lupa dukungannya, makasih man-teman 🤗🤗🤗
__ADS_1