
"Gue yang udah naro obat di minuman itu."
deg
Brian begitu terkejut, ia segera menoleh ke arah Gibran dengan menganga tak percaya. Bagaimana mungkin Gibran, sepupu dari Lily dan Aara tega melakukan itu. Satu hal yang sangat membahayakan dan masa depan taruhannya.
"Aara yang nyuruh gue!" Gibran menoleh ke arah Brian. " Dia tau kalian saling mencintai, dia melihat kalian berciuman di hari pertunangan loe. Niat dia awalnya baik, ingin menyatukan kalian karena hidupnya yang sudah tidak lama lagi."
__ADS_1
"Aara menyingkirkan rasa cintanya sama loe, dengan memberikan jalan untuk kalian berdua bersatu. Tapi setelah dia tau justru Lily mau mengalah dan menolak loe. Di situ dia merasa Lily telah menyiakan kesempatan dan mau berkorban demi dia."
"Dan keegoisan Aara pun muncul, akhirnya dia mengambil kesempatan yang ada dan memanfaatkan situasi itu. Dengan tetap menikah dan jika Lily hamil maka bayi Lily akan dia angkat menjadi anaknya."
Brian nampak tertegun dan begitu tak percaya jika semua sudah di rencanakan. Benar memang ia korban meskipun dia akan tetap salah karena tidak tegas dalam bersikap. Tapi betapa hancurnya Lily jika tau semua ini. Di tambah lagi kondisi Aara yang semakin kritis.
"Kenapa loe diem aja? sejak kapan loe tau kalo Aara sakit?" tanya Brian lagi.
__ADS_1
"Aara minta gue buat rahasiakan semuanya, tapi bukan berarti gue langsung setuju dengan permintaan konyolnya. Gue udah bujuk dia mati-matian. Tapi dia tetap pada pendiriannya, dia ingin semua terbongkar setelah dia nggak ada. Dia nggak mau buat keluarganya sedih. Makanya sejak saat itu dia menjauhi Lily karena dari kedua saudaranya Lily lah yang paling dekat dengan Aara."
"Aara nggak mau Lily merasa sangat kehilangan di saat dia sudah tiada. Dan mulai saat itulah Aara terkesan berubah. Mungkin hal itu sangat nyakitin Lily, tapi itulah maunya Aara. Gue udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Gue cuma bisa dampingi dia sebagai kakak. Dari awal dia melakukan upaya pengobatan sampai kemarin dia melakukan kemo yang sangat menyiksa dia. Hal itu Aara lakukan hanya untuk bertahan sampai anak Lily lahir. Dia ingin menimang bayi. Makanya dia melakukan serangkaian kemo, untuk sekedar memperpanjang usia."
Brian menghela nafas berat, Aara pandai menyembunyikan semuanya. Sampai Brian yang bisa dikatakan dekat dengannya saja tidak tau apa-apa. Brian pun sama sekali tidak curiga saat Aara tiba-tiba menghilang. Tapi setelah tau kondisi Aara, Brian paham kemana perginya Aara selama ini. Yang tidak lain adalah untuk melakukan pengecekan. Karena Aara memilih untuk rawat jalan.
"Tanpa kalian berpikir bagaimana dengan Lily?"
__ADS_1
"Dan loe juga nggak mikirin gimana perasaan Aara saat tau pria yang dia sayang ternyata mencintai adiknya?" Tanya Gibran membalikkan pertanyaan. Dari sisi Gibran pria itu tidak membela siapapun. Tapi menurut dia kedua saudaranya sama-sama salah karena tidak ada yang mau jujur satu sama lain. Hasilnya mereka hanya saling menyakiti.
"Dari awal gue memang nggak suka dan nggak ada hubungan apapun sama Aara. Meskipun saat itu gue nggak pernah bilang mencintai wanita lain.Dan Aara kekeh sampai akhirnya orang tua merencanakan perjodohan bodoh itu!" Brian beranjak dari duduknya dengan perlahan, semua yang terjadi seperti petir di siang hari. Di sini dia lah yang paling bersalah, karena tidak tau tentang Aara. Di tambah lagi keluarga sudah tau jika anak yang di kandung Lily adalah anaknya tanpa ia mengucapkan apapun.